Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Ricky, cowok ganteng yang ceria dan cuek yang suka nemenin Habibah dengan paksa di sekolah



Ririn, teman kerja Habibah yang cantik, lembut tapi cemburuan.



Disaat ada waktu luang, Habibah selalu menyibukkan diri dengan belajar di kamarnya. Apalagi sejak Purnomo tinggal dirumah itu, dia semakin banyak menghabiskan waktu luangnya dikamar. Jika sudah bosan lelah belajar, dia akan membuka buku diary nya untuk sekedar dibaca apa yang sudah dia tulis atau mengisinya dengan berbagai tulisan baru. Mulai menulis puisi, lagu atau isi hati nya .. Semua tentang isi hatinya. Tempat curhat teraman baginya hanya buku diary nya itu.


Sementara itu, Purnomo semakin merasa tak nyaman dengan sikap Habibah yang semakin tertutup bahkan terkesan menjauh. Selain itu Alvian juga seakan terus mengarahkan dia supaya lebih dekat dengan Ririn.


" Mas Pur, bisa nggak kita ngobrol sebentar?" tanya Ririn pada Purnomo saat Ririn selesai merapikan meja makan dan Habibah mencuci piring.


" Ada apa? Tumben mau ngobrol sama aku?" tanya Purnomo seraya melirik Habibah yang melewati mereka dan masuk kedalam kamarnya.


" Ada sesuatu dong mas, kita ngobrol nya di depan aja yuk mas biar lebih nyaman." ajak Ririn sembari menarik lengan Purnomo keluar rumah dan menuju gazebo di taman.

__ADS_1


" Oke, kita udah sampai disini. Sekarang kamu mau ngomong apa.?" tanya Purnomo merasa tak nyaman dan tak sabar.


" Sabar sedikit dong mas, gak ada basa-basi sama sekali sih..!" Ririn menggerutu sambil menghempas pelan tangan Purnomo yang tadi dia pegang.


" Ya sudah, kita mau ngobrolin apa sekarang." akhirnya Purnomo mengalah dan duduk disalah satu kursi lalu menyandarkan punggungnya dengan malas.


" Aku mau tanya, mas sama Habibah udah lama berteman ya? Tapi dia gak pernah mau cerita tentang mas sama aku walaupun aku tanya. Padahal aku ingin tau banyak tentang kamu mas, tapi dia gak pernah mau kasih tau apapun." Ririn memulai pembicaraannya.


" Kenapa kamu mau tau tentang aku?" tanya Purnomo seraya memandang kelap kelip lampu yang terlihat dari kejauhan di sepanjang sungai dan pelabuhan. Yang nampak indah saat di lihat saat malam hari.


" Aku ingin tau lebih banyak karena aku suka sama kamu mas." ucap Ririn dengan yakin sambil menatap lekat wajah Purnomo.


" Rin, kamu jangan sembarangan kalau mau bercanda jangan dengan hal yang seperti ini." balas Purnomo menutupi keterkejutannya.


" Aku serius mas, aku suka sama kamu dari awal aku lihat mas tempo hari. Aku gak minta kamu jawab aku cepat, tapi paling gak biarkan aku mengenal kamu lebih banyak lagi dan kamu mengenal aku juga." ucap Ririn masih dengan yakinnya.


" Tapi aku gak bisa menjanjikan apapun sama kamu. Tapi aku hargai kejujuran kamu saat ini. Baiklah, aku rasa ini sudah larut, sebaiknya kita kembali." ucap Purnomo sambil bangkit dari duduknya dan berjalan kedalam rumah. Ririn pun mengikuti langkah Purnomo dengan hati berbunga-bunga. Dia tak menyangka kalau akhirnya dia bisa mengatakan perasaannya itu dengan yakin malam ini. Dia bertekad untuk bisa mendapatkan hati pria pujaannya itu.

__ADS_1


Hari-hari dilalui Purnomo dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Kehadiran Ririn di hari-hari yang ia lewati menjadikan waktu terasa sangat lama berlalu. Ingin rasanya dia kembali ke kostan tapi apa daya dia sudah menyanggupi untuk menemani Alvian pada Richard dan Meylan. Meski dia sering mencari-cari alasan agar tak bertemu dan berdekatan dengan Ririn, tapi itu sangat sulit untuk terus bisa menghindarinya. Hingga suatu hari Ririn izin tak masuk kerja sebab kakaknya sakit, membuat Habibah mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri. Saat makan malam telah selesai dan gadis itupun telah menyelesaikan semua pekerjaannya dan bersiap untuk masuk kamarnya. Segera dia mengikutinya dan membawanya ke dalam kamar gadis itu. Betapa terkejutnya dia dengan kenekatan Purnomo yang menyeretnya ke dalam kamarnya. Dengan sekuat tenaga dia melepaskan tangannya dari genggaman Purnomo.


" Mas..!!!" seru Habibah dengan setengah berteriak, dia menahan suaranya karena takut ada yang mendengarnya dan salah faham. Selain itu juga dia merasa sangat takut dengan sikap pria itu yang tiba-tiba seperti itu.


" Maaf Nur.. Aku hanya ingin bicara dengan kamu. Aku terpaksa seperti ini karena kamu semakin menjauh dari aku. Bahkan sejak aku ada disini kamu seperti ingin jauh dan menganggap aku gak ada. Aku gak tau harus bagaimana agar bisa bicara sama kamu. Aku rindu sama kamu yang dulu. Yang gak pernah sulit untuk di ajak bertemu, yang gak pernah menghindari ku meski kamu jarang bicara denganku. Tapi itu sudah cukup untuk aku merasa sangat senang dan nyaman. Walaupun aku berharap kamu mau dan bisa seperti teman-teman yang lain, ngobrol-ngobrol dan bercanda seperti yang lain, tapi aku tak pernah merasa keberatan dengan kamu yang sedikit bicara dan sulit tersenyum apalagi tertawa. Aku sudah senang Nur itu cukup untuk ku. Tapi sekarang? Kamu menjadikan aku sebagai orang asing padahal setiap hari kita berdekatan, tapi untuk bisa bicara dengan kamu aja aku susah." dengan pandangan mata yang berkaca-kaca Purnomo menumpahkan semua isi hatinya pada gadis yang berdiri di sudut kamar karena merasa takut. Betapa sedih hatinya menghadapi gadis yang sejak lama dia cintai dan tunggu itu menjauhinya. Dia menatap lekat wajah gadis itu dengan wajah yang sendu.


" Maaf mas, saya bukan mau jauhin mas. Saya cuma gak ingin orang lain salah faham nantinya. Selain itu Ririn juga sangat menyukai mas, saya gak mau menyakiti dia.. Dia sudah saya anggap sebagai saudara saya. Mas sahabat saya yang terbaik yang pernah saya punya. Ririn itu juga orangnya baik, saya yakin mas gak akan kecewa sama dia." ucap Habibah dengan menundukkan wajahnya. Dia tak sanggup untuk memandang wajah pria yang sedang menatapnya sejak tadi.


Begitu kecewanya hati Purnomo mendengar penuturan gadis itu, mungkin jika dia seorang gadis pasti dia sudah menangis sejak tadi. Purnomo berdiri dan berjalan mendekati Habibah yang semakin menunduk ketakutan. Hanya berjarak dua langkah saja di depan Habibah,Purnomo menghentikan langkahnya dan meraih tangan Habibah yang dingin dan gemetaran.


" Nur, itukah yang kamu mau? Aku sudah bilang aku mau menunggu kamu tapi sekarang kamu bilang seperti ini. Apa kamu yakin ini yang kamu mau? Apakah kalau aku dengan Ririn kamu akan senang?" suaranya terdengar bergetar menahan kesedihan hatinya.


" Coba kamu lihat aku Nur, kamu bilang sama aku kalau kamu mau aku benar-benar dengan teman kamu itu. Kalau seandainya itu bisa buat kamu senang aku akan lakukan demi kamu. Asalkan kamu berhenti untuk bersikap seperti ini, jangan abaikan aku dengan cara begini. Aku mohon.." begitu perih hatinya saat kalimat-kalimat itu keluar dari mulutnya. Dia sendiri tak yakin dengan kata-katanya barusan. Dia hanya ingin gadis yang dia cintainya itu kembali seperti dulu. Dia tak bisa memikirkan hal lain lagi selain itu.


" Sebaiknya mas Pur keluar sekarang mas, saya takut ada yang tau mas disini dan jadi masalah nantinya." ucap Habibah pelan. Dia tak berani mengangkat wajahnya. Bahkan dia tak berani melepaskan tangannya dari genggaman tangan pria itu. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin menangis mendengar semua yang di ucapkan oleh Purnomo tadi. Hatinya terasa perih seperti ada pisau yang menyayat dadanya. Dengan sangat lesu Purnomo melepaskan tangan Habibah dan keluar dari kamarnya. Hati dan fikirannya sangat kacau, tiba-tiba semuanya hilang dan kosong. Begitupun dengan Habibah, dia bahkan terduduk lemas karenanya. Dia tak tau apakah yang dia katakan tadi pada Purnomo adalah benar-benar yang dia inginkan atau bukan. Tapi pada kenyataannya kalimat itulah yang dia ucapkan.


***

__ADS_1


mulai lagi dech aku🙄🙄


__ADS_2