Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Murka


__ADS_3

Sudah satu Minggu Habibah dan bayinya pulang kerumahnya tanpa adanya Qodir. Habibah mengerjakan semua pekerjaan rumahnya sendiri meskipun seharusnya dia beristirahat pasca melahirkan. Setiap pagi Muti'ah datang untuk membantunya memandikan bayi nya dan membantu mencucikan pakaiannya. Untuk memasak dan membersihkan rumah sudah dikerjakan oleh Habibah setiap subuh. Meskipun Muti'ah sudah melarangnya untuk mengerjakan semua pekerjaan itu, namun Habibah tak mau terlalu merepotkan Muti'ah terlalu banyak. Muti'ah tak bisa berhenti untuk terus mengagumi kepribadian Habibah, baginya wanita seperti Habibah itu sangat jarang dan sudah pasti sangat susah untuk ditemukan.


Dua hari kemudian Qodirpun pulang dari luar kota, dan dia pulang bersama dengan Lina. Alangkah terkejutnya Qodir begitu sampai di terminal bandara, dia justru bertemu dengan kedua orang tuanya yang akan menjenguk Habibah.


" Qodir.. Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya ibunya saat melihat Qodir bersama dengan Lina di bandara, ditambah lengan Lina tak pernah melepaskan rangkulannya dilengan Qodir layaknya sepasang kekasih atau suami istri.


" Aku baru sampai dari luar kota ma.. Ada tugas diluar kota selama delapan hari dan hari ini baru pulang.." jawab Qodir gugup. Bahkan dia baru menyadari jika lengannya masih digelayuti oleh Lina. Dan Qodirpun melepaskan tangan Lina itu dari lengannya.


" Dengan dia juga? Apa kalian satu kantor?" selidik ibunya lagi.


" Gak ma.. kebetulan aja kami bertemu saat kami mau pulang.. Jadi kami memutuskan untuk pulang bersama.." jawab Qodir semakin gugup.


" Baiklah.. ayo kita pulang bersama.. Tapi bukannya rumah Lina bukan disini? Lalu apa yang dia lakukan disini?" tanya ibunya lagi.


" Dia mau menjenguk Habibah juga ingin melihat anak kami ma.. Sudahlah.. ayo kita pulang.." Qodir berusaha mengalihkan perhatian ibunya dengan segera mengajaknya pulang. Selama diperjalanan menuju rumah, mereka hanya diam bergelut dengan fikiran masing-masing.


" Assalamu'alaykum..!" sebuah seruan salam yang sangat familiar ditelinga Habibah, dengan segera Habibah membukakan pintu.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.." jawab Habibah seraya membukakan pintu. Alangkah terkejutnya dia begitu melihat kedua mertuanya itu datang mengunjunginya. Diciumnya punggung tangan kedua mertuanya dan memeluk mereka. Namun Habibah mengabaikan kedua orang yang lain, Lina dan Qodir. Habibah bersikap seolah tak melihat keberadaan mereka di sana. Hatinya sangat sakit setiap melihat keduanya bersama dan terlihat mesra.


" Maaf ya sayang.. mama dan papamu baru bisa jenguk sekarang, sebab kemarin lusa sepupunya Qodir nikah, jadi kesininya tertunda. Bagaimana keadaanmu? Siapa yang menemanimu disini?" celoteh ibu mertuanya memenuhi ruangan itu. Tak lama kemudian Muti'ah keluar membawa air teh hangat dan sedikit camilan untuk dihidangkan.


" Selama ini kak Muti' yang temani dan bantu saya ma.. Saya bersyukur ada kak Muti' di sini,kalau gak ada kak Muti' saya juga gak tau bagaimana nasib saya. Alhamdulillah Allah mengirimkan malaikat berbentuk manusia seperti kak Muti'.." Habibah memandang haru dan bangga pada Muti'ah.

__ADS_1


" Sudah kewajiban kita harus saling membantu sebagi tetangga juga sebagai saudara seiman kan Bu.. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuknya, lagipula Habibah sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan pada saya." jawab Muti'ah sambil menggenggam tangan Habibah.


Mereka bercengkrama cukup lama, sampai akhirnya Habibah harus menghentikan percakapan mereka karena sudah waktunya makan siang. Namun sebelum mereka makan siang, mereka shalat Dzuhur terlebih dahulu. Habibah menunggu dikamarnya sambil menyusui bayinya, karena sudah waktunya untuk tidur. Selang beberapa waktu pintu kamarnya dibuka seseorang dari luar. Dan ternyata Qodir yang masuk.


" Bisa kita bicara sebentar..? " ucap Qodir pelan.


" Apakah masih ada yang perlu kita bicarakan mas? Aku sudah mengatakannya dengan jelas sebelumnya, jangan bermain dibelakang saya. Saya gak akan melarang mas, tapi bukan dengan cara seperti ini mas. Kalau kalian saling mencintai saya gak melarang agar kalian segera menikah. Saya akan rela dimadu jika kamu memang mau, tapi kalau kamu gak bisa. Jangan seperti ini, saya yang akan mundur sebagai istrimu tapi jangan sakiti saya sampai sedemikian rupa. Karena saya gak bisa menerima kalau kamu berlaku curang seperti ini. Saya mengerti jika kalian saling mencintai, saya gak akan minta kalian berhenti. Tapi saya hanya ingin kalian bersikap jujur, bukan dengan menyakiti seperti ini. Apakah perkataan saya masih kurang jelas mas? Kalau mas ragu untuk memutuskan, biar saya yang akan memutuskannya. Setelah masa nifas saya berakhir. Saya yang akan ajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Dengan catatan hak asuh anak ada pada saya tentunya. Ini demi kebaikan kita bersama. Jadi, kamu bersabarlah.." ucap Habibah seraya bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu untuk keluar menemui kedua mertuanya. Namun begitu pintu terbuka, Habibah terkejut bukan main mengetahui ibu mertuanya tengah berdiri didepan pintu kamarnya dengan air matanya yang membasahi pipinya.


" Mama..." Habibah melangkah mundur dan menundukkan wajahnya. Dia tak berani menatap wajah ibu mertuanya itu. Sementara Qodirpun spontan berdiri begitu menyadari jika ibunya mendengar semua perbincangan tadi.


" Jadi, ini yang kamu lakukan pada menantuku? Kamu bisa Setega itu meninggalkan istrimu sendiri disaat dia sangat membutuhkan dukungan darimu sebagai suaminya. Kamu justru bersenang-senang dengan wanita lain..! Kamu bahkan masih berani membawanya datang kerumah ini?" suaranya bergetar menahan amarah di dadanya.


"Papa..Pa...Papa..!!" seru ibunya memangil ayah nya Qodir. Ayahnya segera menghampiri ibunya dengan tergopoh-gopoh.


" Coba kamu lihat laki-laki yang ada disana itu, apakah benar dia anakku?" tunjuk istrinya pada Qodir yang masih tak bergerak dari tempatnya berdiri.


" Ya itu anak kita ma.. ada apa?" tanya pak Yusuf tak mengerti.


" Tapi aku rasa aku tak punya anak seperti dia.. dia pasti bukan anakku.. dia pasti bukan anakku pa.." tangisnya tiba-tiba pecah membuat pak Yusuf semakin panik.


" Hei.. ada apa ini? Apa yang terjadi? Tak adakah yang bisa menjelaskannya? Qodir..!? Bibah....!?" tanya pak Yusuf seraya mendekap tubuh istrinya yang terduduk dilantai.


" Maafkan saya pa.. ini salah saya.. semua ini gara-gara saya.. Maafkan saya ma.. tak ada maksud untuk menyakiti hati mama dan papa.. " Habibah bersimpuh dihadapan kedua mertuanya itu dengan air mata yang menetes di pipinya. Dia menyesali semua perkataannya tadi, dia lupa jika dirumah itu bukan hanya ada mereka berdua saja melainkan ada kedua orang tuanya Qodir disana.

__ADS_1


" Kesalahan apa yang sudah kamu lakukan nak.. jelaskan dengan benar agar papa faham apa yang terjadi." ayah mertuanya masih meminta penjelasan dari Habibah.


" Saya akan menggugat cerai setelah masa nifas saya berakhir pa.. maafkan saya.. mungkin tak seharusnya saya membicarakan ini...."


" Apa...! Cerai...! Apakah kamu sadar dengan yang kamu katakan ini nak..!? Kamu baru satu Minggu melahirkan bayi kalian.. bagaimana bisa sudah ada perkataan semacam ini hah...!" seru ayah mertuanya yang tak bisa mengontrol rasa keterkejutannya. Bahkan itu membuat air mata istrinya semakin deras membasahi pipinya. Sementara Habibah hanya tertunduk tak berani menatap wajah kedua mertuanya itu.


Plak...Plak...


Dua tamparan yang keras terdengar sangat jelas sampai keruang tamu dimana Lina dan Muti'ah berada. Lina yang sempat mendengar teriakan ayahnya Qodir tadi juga terkejut mengetahui jika Habibah akan mengajukan gugatan cerai secepat itu. Ada rasa bahagia juga rasa bersalah menyelimuti hatinya. Dia merasa bahagia karena Qodir tak terdengar memberi pembelaan diri untuk membantah perkataan Habibah. Merasa bersalah karena dia telah membuat orang tua Qodir semarah itu bahkan sampai memberinya dua tamparan yang pasti keras. Hal itu membuatnya gugup sekali sampai membuat kedua telapak tangannya berkeringat.


" Maafkan aku ma.. pa.. aku gak bermaksud untuk menyakiti siapapun.. termasuk dia.. tapi.. "


Plak...


" Cukup... aku gak butuh penjelasanmu.. Kamu benar ma.. dia bukan anak kita.. kita tak pernah memiliki anak seperti dia. Ayo kita pulang sekarang.." ayahnya nampak sangat syok mengetahui jika anaknya bisa melakukan perselingkuhan dan bahkan tega melakukannya saat istrinya sangat membutuhkannya.


" Ma.. pa.. jangan pulang dulu.. mama dan papa baru sebentar disini. Apakah kalian tak ingin berlama-lama bersama cucu kalian?" Habibah berusaha mencegah kedua mertuanya itu pulang.


" Kau... Aku tak menyangka kalau gadis sepertimu, yang cantik dan berpendidikan tinggi bahkan terlihat seperti wanita baik-baik ini.. Bisa-bisa punya hati yang busuk. Kalau kamu mengharapkan kami menerima kamu sebagai menantu kami, itu hanya ada dalam mimpi kamu saja. Ingatlah baik perkataan ku ini baik-baik. Walaupun Habibah kelak bercerai dengan Qodir, selamanya yang kami anggap sebagai menantu kami hanya dia bukan orang lain. Camkan itu..!" ucap ibunya Qodir pada Lina sebelum keluar dari rumah Habibah. Kepergian mereka benar-benar tak bisa dihentikan, meski Habibah memohon sekalipun mereka tetap pergi.


***


jiwa pelakor emang gitu ya🤔🤔🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2