Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Liburan


__ADS_3

Berhari-hari Habibah dan Muti'ah mencari informasi tentang tempat liburan yang bagus dan berada didekat tempat tinggal mereka. Mereka mengumpulkan informasi yang direkomendasikan oleh beberapa orang pada mereka. Sambil menunggu waktu yang pas bagi mereka untuk pergi liburan bersama-sama. Hingga sampailah disatu akhir pekan, tiba-tiba Ridho mengatakan bahwa dirinya ada libur selama dua hari, walaupun sebenarnya bukan libur melainkan pesantren mengadakan kegiatan belajar outbound disebuah daerah lembah yang ada air terjunnya. Sambil belajar mereka sambil liburan gitu, terdengar menarik bagi mereka. Apalagi Habibah dan Muti'ah belum pernah melihat langsung seperti apa itu yang namanya air terjun.


Ricky yang kebetulan pulang akhirnya bisa ikut kegiatan itu walau dadakan, tapi tetap antusias. Walaupun dia hanya bisa mengikuti kegiatan itu selama satu hari saja.


Merekapun berangkat setelah shalat Dzuhur, mereka berangkat menggunakan lima bus pariwisata dan ada juga yang menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih dua jam setengah. Dua karyawan Habibah diajak serta, kegiatan usaha Habibah sementara ikut libur. Habibah ingin semuanya bisa ikut merasakan liburan agar mereka juga jadi lebih fresh, agar kejenuhan aktivitas yang monoton berganti dengan semangat baru juga inspirasi yang baru juga setelah mereka pulang nanti. Habibah satu bus dengan para santriwati yang sepanjang jperalanan bersenandung sholawat dengan serempak. Mereka nampak berbahagia sekali dengan adanya kegiatan outbound itu. Sedangkan Nelly dan Ricky mengendarai sepeda motor, Muti'ah dan ridho beserta anak-anaknya juga dengan sepeda motor. Syafi'i dan Ainun dengan mobil pribadi salah satu pengurus pesantren.


Begitu sampai ditempat tujuan, Habibah sangat takjub dengan pemandangannya. Dilembah sebuah bukit yang masih sangat asri karena memang tempat itu dirawat oleh penduduk setempat agar nyaman dikunjungi. Disana selain disediakan sebuah aula yang cukup besar, ada juga sebuah mushola yang benar-benar bersih. Udara disana sangat sejuk, dengan anak sungai yang mengalir dari aliran air terjunnya yang sangat dingin. Benar-benar tempat yang sangat cocok untuk outbound dan Habibah sangat bersyukur bisa berada disana saat itu. Bahkan diapun pergi ketempat itu bukan hanya liburan tapi ikut mendengarkan pengajian dari istadz-ustadz yang bertugas saat itu. Mia dan dan Airin dua karyawan Habibah ikut mengawasi Zain bermain. Tempat itu memiliki dataran yang cukup luas, sehingga cukup nyaman bagi anak-anak bermain.


Setelah shalat isya, mereka mulai memasak. Ada beberapa santri dan santriwati yang bertugas untuk memasak saat itu. Walau begitu tempat masak mereka agak berjauhan, karena mereka dilarang untuk berkumpul jadi satu. Begitupun saat pengajian berlangsung, santriwati berada dibagian belakang para santri putranya. Begitupula saat kegiatan masak memasak mereka terpisah. Habibah membantu para santriwati itu memasak, dan mereka sangat senang karenanya. Walaupun Habibah jarang bicara, namun perhatian yang ditunjukan Habibah dari tindakannya membuat mereka menyukai Habibah. Dan merekapun belajar banyak hal soal memasak pada Habibah. Setelah semua hidangan telah selesai mereka masak, mereka sajikan pada nampan-nampan bundar yang ukurannya agak besar, yang bisa digunakan untuk lima orang dalam satu nampannya. Yah.. mereka makan bukan menggunakan piring melainkan nampan. Kebayangkan bagaimana serunya makan pakai nampan tanpa sendok ya🥰🥰


Jam sembilan malam akhirnya mereka makan bersama., bayangkan saja dengan orang yang sebayak itu mereka makan menggunakan nampan😳😳. Yang otomatis mereka akan langsung membuat lingkaran-lingkaran kecil tanpa harus diatur-atur lagi. Karena kegiatan makan yang seperti itu sudah biasa dilakukan di pesantren itu.

__ADS_1


Disisi lain, tanpa sadar ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Habibah, mulai sejak dia membantu para santriwati memasak sampai saat mereka makan. Yah.. dia adalah Ricky. Dia awalnya tak sengaja ingin memperhatikan wanita itu. Hanya saja saat dia sedang mengambil wudhu kesungai yang kebetulan tempat memasak para santriwati itu didekat sungai. Dia tak sengaja melihat wanita itu baru saja mselesai mencuci bahan-bahan yang akan mereka masak malam itu. Ada sayuran dan lauk pauknya. Tanpa dia sadari rasa kagumnya semakin mendalam pada Habibah, karena ternyata wanita yang selama ini dia cintai itu memiliki rasa sosial yang tinggi walaupun dia terkesan cuek karena sedikitnya dia berbicara.


Astaghfirullah.. bagaimana ini? Kenapa disaat aku berusaha keras untuk melupakannya rasa kagumku padanya justru bertambah. Semakin aku menjauhinya, semakin banyak hal baru yang aku tentang dirinya. Dan semua hal baru itupun semakin membuatku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Ya Allah... bantu aku untuk menghadapi ujian ini..😪😪


Setelah semuanya telah selesai makan, mereka berebut untuk mencuci nampan yang telah mereka gunakan makan bersama tadi. Dan bis dibayangkan bagaimana riuhnya suasana saat itu. Yang mereka perebutkan bukan makanannya tapi bekas makannya🤔. Setelah semua selesai, mereka beristirahat sejenak. Ada yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, ada yang bersholawat, ada yang berdiskusi dan lain sebagainya. Mereka membuat kelompok-kelompok kecil selama masa istirahat itu berlangsung. Sedangkan Habiba dan Muti'ah tak bisa mengikuti kegiatan selanjutnya karena mereka harus menidurkan anak-anak mereka. Mereka sudah masuk kedalam tenda-tenda yang mereka bawa dari rumah. Didalam tenda, Habibah sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Dia hanyut dengan lamunannya untuk pengalamannya saat itu.


Alangkah bahagianya jika aku bisa ikut kegiatan ini dengan seseorang. Seseorang yang sungguh-sungguh menyayangiku dan Zain. Yang mau membawaku pergi ketempat-tempat yang indah seperti ini sambil menuntut ilmu. Ya Allah... Apakah hari itu bisa aku temui dan rasakan?


Waktunya shalat subuh telah tiba, Habibah yang terbangun bergegas keluar dari tendanya dan menuju sungai untuk berwudhu. Syukurlah masih sunyi, jadi tak terlalu khawatir ada yang melihatnya berwudhu. Itulah yang difikirkan oleh Habibah saat itu. Namun dia tak tau jika saat dia sedang berwudhu, ada orang yang terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi ke sungai demi melihatnya sedang berwudhu. Dia tak ingin membuat kesalahan meski itu hanya melihat Habibah berwudhu. Tak lama beberapa orang yang lain mulai keluar dari tendanya terpaksa diminta untuk menahan diri agar tak pergi kesungai dulu sampai Habibah selesai berwudhu. Setelah Habibah kembali kedalam tendanya untuk shalat subuh disana, barulah mereka menuju sungai untuk berwudhu. Karena diantara semua wanita yang ada disana, hanya Habibah saja yang mengenakan cadar. Jadi sangat mudah untuk dikenali.


Jam enam pagi Habibah sudah mulai sibuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk sarapan mereka. Pagi itu hanya santriwati yang bertugas untuk memasak. Jadi mereka memasak untuk sekian banyak orang. sedangkan mereka akan sarapan pada jam delapan pagi. Habibah yang sudah terbiasa memasak untuk porsi besar bertindak sebagai kepala dapurnya. Sedangkan Zain diurus oleh Mia, sedangkan Airin membantu Habibah bersama dengan beberapa santriwati. Mereka terkagum-kagum dengan keahlian Habibah dalam memasak. Dia sangat cekatan sehingga bisa menghandle beberapa masakan dalam satu waktu.p Walaupun itu semua tak terlepas dari bantuan dari yang lain, namun Habibah bisa mengkoordinir santriwati yang bertugas saat itu dengan baik. Tepat jam delapan kurang lima belas menit, semua sudah selesai disiapkan. Jika yang menanganinya bukan orang yang berpengalaman tentu waktu dua jam itu tak akan cukup untuk memasak dalam porsi besar. Tapi berkat batuan dari tangan Habibah itu bisa mereka lakukan dengan menyisakan waktu lima belas menit dari waktu yang ditentukan. Semua mengakui keahlian Habibah dalam memasak. Dan itu membuat Habibah gembira karena sudah bisa memberikan usaha terbaiknya dalam memasak untuk mereka yang ada disana.

__ADS_1


" Kakak hebat, semua orang suka masakan kakak. Lain kali aku boleh ya kak belajar sama kakak, biar nanti kalau aku nikah gak malu sama suami dan mertua karna gak bisa masak." ucap salah seorang santriwati yang tadi sempat membantunya memasak.


" Iya boleh.. kapanpun boleh kok." jawab Habibah sambil menggendong Zain yang baru saja datang menghampirinya.


Habibah merasa waktu libur dua hari itu kurang. Rasanya dia masih ingin tinggal ditempat itu lebih lama lagi. Namun itu tak bisa dia lakukan. Setelah selesai berkemas, Habibah bersiap untuk naik ke dalam bus yang dinaikinya saat berangkat dua hari yang lalu. Tiba-tiba Nelly datang menghampirinya.


" Kak, boleh aku bareng kakak gak? Aku sendirian, mas Ricky udah balik kemarin karena harus masuk kerja. Boleh ya kak..?" pinta Nelly sambil memegang salah satu lengan Habibah dengan kedua tangannya.


" Iya boleh... inikan bus umum bukan bus pribadi Nell, jadi ngapain kamu harus izin dulu sama saya? Ayo naik.." Habibah mengajak Nelly agar duduk disampingnya. Dan Nelly tersenyum senang karena bisa duduk bersama Habibah saat itu.


***

__ADS_1


kapan bisa liburan begini ya😭😭


__ADS_2