Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kejutan


__ADS_3

Habibah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seorang wanita yang lebih muda dari Habibah membukakan pintu.


"Mau cari siapa?"


" Mamanya ada?"


" Ada. Masuk dulu dan tunggulah sebentar, aku panggil mamanya dulu." wanita itupun meninggalkan Habibah demi memberitahukan kedatangan Habibah pada mamanya.


" Ma.. ada yang cari tuh, perempuan bercadar sama anak kecil." ucapnya pada mamanya.


" Oh.. dia benar-benar datang.." ia bergegas menemui Habibah diruang tamu.


" Kamu datang nak.. mama senang kamu mau datang kerumah mama.." dia memeluk Habibah setelah itu menggendong Zain yang sedang duduk disamping Habibah. Zain terlihat senang saja dalam gendongannya.


" Ayo, ikut mama .." ajaknya sambil menarik tangan Habibah agar mengikutinya, Habibah hanya bisa patuh saja dengan keinginan mama nya itu.


" Ayo masuk, ini kamarnya Purnomo. Duduklah dulu.."


" Kenapa mama bawa saya ke kamarnya?" Habibah merasa tak nyaman berada di dalam kamar itu.


" Kamar ini sengaja mama kosongkan dan tak boleh ada yang menempati sampai yang punyanya pulang. Mama ada sesuatu yang mungkin kamu perlu untuk tau, karena bisa jadi kamu selama ini gak pernah tau hal itu." ibu Sofia mengambil sebuah kotak yang agak besar dari dalam lemari dan menyerahkannya pada Habibah. Habibah menerimanya dengan hati penuh tanda tanya. Apa ini? kenapa mama berikan ini padaku?


" Bukalah.."

__ADS_1


Habibahpun membukanya dengan perlahan. Ternyata didalamnya tersimpan banyak surat yang entah dari siapa dan untuk siapa. Tapi yang dia lihat itu tumpukan surat dan entah itu surat apa.


" Itu semua dia tulis untukmu, tapi tak pernah satupun yang dia sampaikan padamu. Mama tak tau apa yang dia tulis disana, mama hanya tau itu semua untukmu. Kamu bukalah.. mama akan bawa Zain main diluar dan kalau kamu haus itu sudah mama sediakan air dimeja, nanti jangan lupa diminum ya.. ayo sayang kita main diluar sama eyang..." kata ibu Sofia sambil menuntun Zain keluar dari kamar. Sementara Habibah masih belum tersadar dari rasa bingung dan tak percaya apa yang dia dengar tadi. Apa ini benar-benar untukku? Apa aku harus membuka dan membacanya?


Diambilnya amplop-amplop dari dalam kotak dipangkuannya itu dan dilihatnya disetiap amplop terdapat tanggal dan tahun surat itu ditulis. Dan dia sangat terkejut saat menemukan surat-surat yang ternyata ditulis saat sepuluh tahun yang lalu, saat dia meninggalkan kampung kekota untuk bekerja dulu. Dibukanya salah satu amplop itu dan dia mulai membacanya dengan tanpa sadar jantungnya berdegup dengan kencang dan tangannya sedikit bergetar.


Hai Nur..


Aku tau kamu mau pergi, tapi aku tetap tak bisa mempersiapkan diri dan hatiku untuk kepergianmu. Sekarang kamu sudah pergi, walau baru tadi pagi kamu pergi tapi aku sudah merasa sangat rindu. Aku harus bagaimana Nur? Nur, tak bisakah kamu merasakan rinduku ini?


Amplop kedua dibukanya.


Yang kurindukan Nur..


Surat ketiga.


Nur..


Bagaimana bisa kamu memintaku untuk dengan perempuan lain? Apakah kamu tak bisa melihat dan rasakan perasaanku ini Nur? Apakah masih kurang jelas Nur? Aku benar-benar tersiksa dengan perasaan ini. Aku hanya ingin sekali saja kamu jawab aku Nur. Ataukah ini bentuk dari jawabanmu Nur? Kamu meminta agar aku dengan yang lain karena kamu sama sekali tak ada rasa untukku?


Surat keempat.


Nur..

__ADS_1


Bolehkah aku pinjam bahunu untukku sebentar? Aku sudah ikuti keinginanmu untuk menerima dia dan bahkan kami sudah bertunangan. Aku juga sudah berusaha untuk menyukainya dan berbuat baik padanya. Tapi aku tetap tak bisa menyukainya dan sekarang dia malah mengkhianati aku. Pertunangan kami sudah berakhir. Sekarang aku harus bagaimana Nur. Aku merasa hatiku terluka, tapi aku tak tau pasti luka hatiku ini karena apa.. Bantu aku cari jawabannya Nur..


Habibah tak melanjutkan untuk membuka amplop surat yang lain. Air matanya sudah membasahi cadar yang dikenakannya. Dia merasa sangat bersalah pada Purnomo. Dia sering terluka karena dirinya tanpa dia sadari. Maafkan aku mas.. Ternyata selama bertahun-tahun aku sudah menyakitimu sampai sekarang. Aku fikir semua yang aku lakukan demi kebaikanmu karena aku merasa tak pantas untukmu. Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Tapi ternyata yang aku fikir itu terbaik untukmu malah melukaimu selama ini. Tapi kenapa kamu selalu mengikuti apa yang aku katakan mas? Seharusnya kamu menolaknya jika memang kamu tak suka, kenapa masih kamu paksakan untuk melaluinya?


Dirapikannya kembali semua amplop-amplop surat itu dan ditutupnya dengan rapat.


Dipandanginya kotak yang berada dipangkuannya itu dengan tatapan mata yang nanar. Dadanya bergemuruh dan terasa sesak karena perasaan menyesal yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Diletakan nya kembali kotak itu kedalam lemari dimana ibu Sofia tadi mengambilnya. Dan saat meletakkan kotak itu kembali ke tempat semula, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang diletakan di dalam lemari itu juga, namun bingkai itu diletakkan dengan posisi dibalik. Entah kenapa Habibah merasa sangat penasaran dengan bingkai foto itu. Diambilnya dan dibaliknya bingkai foto itu agar dia bisa melihat foto siapa yang ada didalamnya. Dan betapa terkejutnya dia begitu mengetahui bahwa foto yang berada dibingkai itu adalah foto dirinya. Dia ingat, foto itu diambil saat awal-awal dia dekat dengan Purnomo. Dan ternyata di bawah bingkai itu diletakkan ada sebuah album foto yang besar yang pastinya bisa untuk menyimpan banyak foto. Diambilnya album foto itu dan dia membukanya dengan hati-hati. Ternyata semua foto yang ada didalam album foto itu seluruhnya foto dirinya. Yang dia sendiri pun tak tau kapan foto itu diambil. Foto saat dia belum mengenal Purnomo sampai saat terakhir mereka bertemu ada didalam album itu. Habibah benar-benar tak pernah menyangka jika Purnomo mengoleksi foto dirinya saat dirinya masih jadi anak yang tomboy sampai dirinya menggunakan cadar pun Purnomo punya. Yang tentunya foto-foto itu diambil oleh Purnomo tanpa sepengetahuan dirinya. Kamu benar-benar mengejutkanku mas Pur..


Setelah Habibah berhasil menenangkan diri,. Habibah bergegas beranjak keluar dari kamar itu dan mencari Zain. Setelah menemukan keberadaan Zain, Habibah pamit pulang pada ibu Sofia.


" Kami pulang dulu ma.. Sudah mau Maghrib.. Lain kali jika ada waktu kami datang lagi.." ucap Habibah pelan.


" Kenapa gak maghriban disini aja, mama kan belum sempat ngobrol sama kamu." cegah Bu Sofia.


" Insyaallah lain kali kita ngobrol nya. Tapi sekarang kami benar-benar harus pulang. Insyaallah saya akan sempatkan main kesini sebelum kami kembali kerumah kami." jawab Habibah membujuk Bu Sofia agar tak mencegah kepulangan mereka.


" Kamu mau pergi lagi? Kenapa gak tinggal disini aja lagi? Kapan rencana mau kembali lagi." Bu Sofia nampak sekali bahwa dia keberatan untuk kepergian Habibah dan Zain kembali ke rumah mereka sendiri.


" Sekitar tiga hari lagi ma.. Insyaallah masih ada waktu untuk kita ngobrol nanti.. Tapi sekarang kami harus pulang dulu." ucap Habibah sambil memeluk Bu Sofia yang masih enggan melepaskan Habibah dan Zain untuk pulang.


Setelah sampai di rumah, Habibah melaksanakan shalat Maghrib dikamarnya. Setelah selesai shalat, entah kenapa tiba-tiba dia teringat kembali dengan kejadian dikamar Purnomo sore tadi. Dia ingat semua kata-kata yang ditulis oleh Purnomo pada surat-surat nya yang dibaca Habibah tadi. Bahkan foto-foto dirinya yang begitu banyak dimiliki oleh Purnomo membuatnya benar-benar syok. Dia ingat, dulu dia hanya memiliki sebuah foto dirinya bersama Purnomo saat tahun baru yang dibingkai warna ungu. Itu sudah dia kembalikan pada Purnomo saat Purnomo menikah dengan Ririn dulu. Sekarang dia tak memilikinya sama sekali. Dia merasa selama ini sangat egois pada Purnomo. Semakin diingat semakin bertambah dalam rasa bersalah yang dimilikinya pada Purnomo.


***

__ADS_1


penyesalan itu sangat menyakitkan😢😢😢


__ADS_2