
Ba'da isya, semua keluarga Habibah berkumpul di ruang tamu. Tak ketinggalan sang ibu mertua yang seperti tak mau jauh dari menantu barunya, Limey mendominasi pada Habibah mengalahkan putra yang tak lain adalah Zelly yang kini berstatus sebagai suami Habibah.
" Ma, diakan istriku. Kenapa mama yang nempel sama dia terus sih? Kalau begini kan serasa masih jomblo." celetuk Zelly di tengah-tengah obrolan yang terjadi saat itu.
Yang mendengar protesan dari Zelly hanya bisa tertawa, apalagi kalau melihat mimik wajahnya yang terlihat sangat cemburu pada ibunya.
Namun berbeda dengan Habibah, dia justru melongo saat mendengar interupsi dari suaminya itu, dia benar-benar tak menyangka jika kalimat seperti itu bisa meluncur mulus dari bibir seorang Zelly.
" Mama kan gak lama juga Zell pinjam istrimu ini. Nanti kalau mama sudah kembali ke Sumatera kan gak bisa begini lagi sama menantu mama ini." Limey membela diri atas sikap posesif nya pada Habibah.
" Gak apa-apa lah bang, kan nanti malam juga di kembalikan lagi kak Bibah nya. Dan yang pasti dalam keadaan utuh tanpa lecet sedikitpun, iya kan Tante.." seloroh Dona sambil mengedipkan sebelah matanya pada Limey.
" Iya, Zell. Kamu jadi anak kok pelit banget sih? Mama tau kalau kamu tuh sayang banget sama istrimu ini, tapi kan dia juga menantu mama. Jadi boleh dong kalau mama Deket-deket sama dia?"
" Ya sudah, terserah mama aja deh. Asal mama senang,. aku ngalah. Yang penting jangan di bawa pulang aja nanti kalau mama pulang." sahut Zelly dengan wajah pasrahnya yang justru terlihat lucu Dimata orang-orang.
" Jadi, bagaimana rencana kedepannya? Nak Zelly mau tinggal di mana? Apakah mau tinggal di sini lagi atau mau boyong istri dan anak-anak pindah dari sini?" tiba-tiba pak Rukmana menyela di antara perebutan Habibah.
" Saya sudah bicarakan dengan Nur kalau kami akan tinggal di Samarinda saja. Dan anak-anak nanti akan sekolah di sana. Tapi itupun tergantung dengan anaknya mau ikut kami atau tidak.
Karena kami gak bisa memaksanya untuk ikut dengan kami. Kalau Zain pastinya akan ikut, tapi Nur Laily kami harus tanyakan juga bagaimana pendapat nya. Karena saya rasa dia sudah bisa menentukan pendapat untuk ikut dengan siapa. Ikut kami atau ikut eyangnya." terang Zelly.
" Jadi bagaimana, kamu mau ikut siapa sayang?" tanya Habibah pada gadis kecilnya yang masih terlihat berfikir.
" Uma... Boleh gak, kalau aku tanyakan eyang dulu." tanyanya pada Habibah.
" Boleh dong sayang, lagi pula masih ada waktu kok. Kita gak terlalu buru-buru juga. Jadi kamu bisa tanyakan apapun yang ingin kamu tanyakan dan bicarakan dengan eyang. Karena Uma gak berhak untuk menentukan masa depan kamu, sayang. Yang lebih berhak itu eyang bukan Uma atau nenek dan kakek mu disini." Habibah mencoba menjelaskan posisinya yang hanya berstatus sebagai ibu sambung, dan itupun saat Purnomo masih ada.
Tapi kini, dia hanya janda dari almarhum ayahnya yang tak ada hubungan darah sama sekali dengannya. Walaupun rasa sayang yang di miliki Habibah padanya itu sudah seperti pada anak kandungnya sendiri.
" Benar kata Uma mu Nur, kami gak bisa memutuskan masa depanmu karena memang eyang mu yang lebih berhak dari pada kami disini. Walaupun kami sayang sama kamu, tapi kami tak bisa melangkahi wewenang yang mu.
Kalaupun nanti keputusan eyang, kamu gak boleh ikut. Bukan berarti kami akan berhenti sayang sama kamu dan kamu akan berhenti jadi cucu kami. Kamu tetap cucu yang kami sayangi. Dan anak pertama dari Uma kamu." pak Rukmana menimpali demi meyakinkan pada Nur Laily bahwa dia akan tetap mendapatkan kasih sayang dari keluarga Habibah.
" Benar sayang, apa yang di bilang sama kakek itu benar. Kamu tetap anak pertama Uma, jadi jangan khawatir. Dengan siapapun nanti kamu tinggal, kamu tetap anak gadis kecil tersayang Uma." hibur Habibah.
Sementara Nur Laily masih tampak bingung. Satu sisi dia ingin ikut kemanapun Habibah pergi, tapi dia juga sadar jika dia bukanlah anak kandung dari Habibah bahkan tak ada ikatan darah sama sekali dengannya.
Di sisi lain ada eyangnya yang memang ada ikatan darah dengannya tapi dia merasa nyaman jika dia berada dekat dengan Habibah dan tak ingin kehilangan sosok Habibah sebagai ibunya.
__ADS_1
" Uma... Kalau seandainya nanti aku gak bisa ikut lagi sama Uma, Uma janji ya jangan lupakan aku. Dan nanti masih mau nengokin aku kan Uma? Aku masih anak Uma? Selamanya kan Uma?" tanya Nur Laily sendu.
Habibah yang melihat anak gadisnya menatapnya dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya jadi tak tega. Direngkuh tubuh kecilnya dan di peluknya dengan penuh kehangatan, membuat yang di peluknya malah menangis dalam pelukannya.
Habibah hanya bisa mengusap lembut belakang kepalanya dan punggungnya dengan lembut. Itulah salah satu caranya untuk menyampaikan bahwa dia sangat menyayangi anak itu.
Yang ada di ruang tamu itupun tak bisa menahan air mata haru mereka. Mereka tahu dan mengerti betapa Nur Laily sangat membutuhkan Habibah sebagai ibunya.
Dia sangat membutuhkan kasih sayangnya yang tak pernah dia dapatkan dari ibu kandungnya. Dan Habibah adalah sosok ibu yang selalu di rindukannya siang dan malam. Jadi mereka mengerti mengapa anak itu sangat takut kehilangan Habibah.
💮💮💮💮💮💮💮💮
" Aku maunya anak itu ikut kita, tapi kita gak bisa sesuka hati untuk membawanya. Dan aku merasa gak yakin kalau dia akan di perbolehkan untuk ikut dengan kita." Zelly membuka percakapannya dengan Habibah begitu mereka tengah bersiap untuk tidur.
" Iya mas, saya gak berhak atas anak itu. Saya cuma mantan ibu sambungnya saja, tapi mungkin karena dia sudah merasa nyaman dengan saya mangkanya terus ingin tinggal dengan saya. Tapi selama ini dia kan hanya di sini gak pergi jauh. Tapi kalau dia harus ikut ke Samarinda saya juga gak yakin kalau keluarga mas Pur akan izinkan." jawab Habibah pelan.
Terlihat jelas ada kesedihan dan ke khawatiran dalam matanya. Sebenarnya Habibah juga tak ingin meninggalkan gadis kecilnya. Bagaimana tidak, dia sudah merawat anak itu selama bertahun-tahun. Tentu saja akan sangat berat jika tiba-tiba harus meninggalkannya.
" Baiklah, jangan difikirkan lagi soal itu. Sekarang yang harus kita fikirkan adalah, kita akan terus duduk disini atau kita ke "kasur"?" ucap Zelly sambil tersenyum penuh arti
" Kan kita juga sudah duduk di ranjang mas? Apa bedanya kita duduk disini dengan di tempat tidur? Kan sama-sama di atas ranjang juga... " tanya Habibah yang belum menangkap maksud dari ucapan suaminya itu.
" Oohh..."
" Kok cuma Oohh...?" tanya Zelly yang melihat Habibah masih tak beranjak dari duduknya.
" Saya mau ganti baju dan sholat dulu. Kalau mas mau tidur duluan silahkan, tapi kalau mau nunggu juga boleh .." kata Habibah sambil menuju lemari pakaiannya untuk mengambil baju tidurnya.
" Aku tunggu aja ." sahut Zelly sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Dia itu ya...
Dia sadar gak sih kalau ini malam pertama kita?
Apa karena dia masih terfikir soal anak itu sampai dia gak sadar kalau ini momen penting kita?
Kalau nanti dia sudah sadar kalau ini malam pertama kita, bagaimana ya kira-kira ekspresi nya🤔🤔
Aahhh.....!
__ADS_1
Aku benar-benar gak sabar...
Setelah selsai dengan kegiatan ganti baju dan shalatnya, Habibah tampak tertegun melihat ke arah tempat tidurnya.
Tiba-tiba dadanya terasa menghangat saat dia menyadari jika malam ini adalah malam pertama mereka.
*Aduh, aku lupa kalau ini malam pertama kami.
Kira-kira nanti dia ngapa-ngapain aku gak ya?
Kok rasanya aku masih takut untuk melakukan itu.
Rasanya masih aneh aja kalau sekarang tiba-tiba dia sudah jadi suamiku.
Apalagi sekarang dia sudah sangat banyak berubah, gak seperti dulu.
Sekarang dia sudah pandai bicara manis dan bersikap hangat.
Rasanya aku bagai mengenal orang yang sama tapi dengan jiwa yang baru*.
"Masih ngelamunin apa sih sayang ..?" tiba-tiba Zelly sudah berdiri tepat di hadapan Habibah membuat Habibah terlonjak dan memekik pelan karena rasa terkejutnya.
" Aku dah nunggu lama, eh kamu malah asyik ngelamun disini. Gak capek apa berdiri kayak patung disini. Sini, biar cepet, aku bantu kamu."
"Ah ..!" pekik Habibah karena tiba-tiba saja Zelly sudah membopongnya ke tempat tidur sebelum dia sempat menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena terkejut tadi.
Zelly membaringkan Habibah dengan hati-hati. Seolah dia sedang meletakkan barang antik yang sangat berharga yang mudah tergores dan pecah.
" Kamu tau gak, aku seperti mimpi bisa meluk kamu dan bahkan bisa tidur satu ranjang sama kamu sekarang. Kamu bisa bayangkan gak, betapa hidupku saat ini sangat bahagia. Rasanya sudah gak ada lagi yang aku inginkan di dunia ini. Kamu sudah menutup semua impianku.
Sayang, aku ingin bilang jujur sama kamu.. Sebenarnya aku.... Aku... Aku belum pernah melakukan itu, boleh gak aku melakukan itu sama kamu sekarang?" Zelly bisa melihat jika Habibah terkejut dengan kejujurannya, kalau dia belum pernah melakukan hubungan intim sama sekali.
"Apa? Mas belum pernah.. Itu..? Kok bisa? Kan mas udah pernah nikah? Kok bisa belum pernah? Bo'ong kan mas?" kata Habibah tak percaya.
Dia berusaha mencari kebohongan di kedua mata suaminya itu, tapi dia tak melihat sedikitpun.
" Kamu gak percaya? Aku masih "perjaka tiang-tiang" lho sayang..."
Seketika wajah Habibah memerah mendengar ucapan Zelly yang terdengar menggoda itu. Suhu ruangan seketika menjadi gerah dan menghangat. Seiring aliran darah yang terpompa lebih cepat ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Malam itu Zelly bisa melepaskan label perjaka tiang-tiang nya dengan bahagia. Meski dia harus melakukannya dengan sangat lembut karena dia juga takut menyakiti istrinya. Meski hal itu bukan hal pertama kali untuk habibah, tapi Habibah juga sudah tak melakukannya selama bertahun-tahun. Jadi dia takut jika Habibah akan merasakan sakit atau tak nyaman jika dia tak melakukannya dengan lembut.