
Dua hari kemudian, Nelly menyambangi rumah Habibah. Awalnya dia hanya ngobrol ringan dengan Habibah sambil membantu Habibah yang sedang sibuk membuat kue pesanan customer. Kemudian dengan malu-malu dia akhirnya menanyakan tentang Ricky pada Habibah. Habibahpun akhirnya menyadari tujuan sebenarnya Nelly datang menemuinya itu sebenarnya untuk mencari informasi tentang Ricky.
" Gak usah malu Nel, itu adalah hak kamu untuk tau orang yang akan berta'aruf denganmu. Saya mengenalnya saat saya sekolah SMK. Dia adalah satu-satunya teman terdekat saya bahkan hampir bisa dibilang dia adalah satu-satunya teman saya disekolah. Dia itu orang yang baik, dia humoris, dia juga setia dan penyayang. Jika pada teman dia bisa seperti itu, bisa hampir dipastikan dia juga akan seperti itu pada pasangannya bahkan bisa lebih. Nelly.. ketampanan dari wajah seseorang itu ada masanya ketampanannya akan memudar karena usia. Tapi ketampanan dari hatinya itu akan tetap tak akan memudar, bahkan bisa lebih tampan lagi kedepannya. Saya hanya ingin memperkenalkan dia, soal kamu nanti akan suka atau gak, mau atau gak sama Ricky itu hak kamu sepenuhnya. Gak akan ada yang bisa ganggu itu. Jadi kamu fikirkan pelan-pelan. Kalau kamu sudah siap bertemu, kamu baru bisa kasih tau mas Syafi'i biar nanti Ricky nya juga dikasih kabar kapan waktunya untuk kalian bisa bertemu. Nanti saya dan kak Muti' akan dampingi kamu. Jadi jangan khawatir ya.." ucap Habibah panjang lebar sambil menggenggam kedua tangannya Nelly.
" Apakah dulu kakak juga begitu?" tanya Nelly dengan polosnya.
" Sayangnya dulu saya gak begitu. Semua saya serahkan pada keluarga. Dulu saya gak berani mengatakan apa isi hati saya pada keluarga karena takut menyakiti atau mengecewakan mereka. Tapi pada akhirnya diri sendiri lah yang terluka. Untuk itu saya gak ingin kamu mengalami hal serupa dengan saya. Sebab itulah saya ingin kamu pelan-pelan aja memikirkannya, gak usah buru-buru." ucap Habibah lembut.
"Emm.. kak, apa dia... emm ganteng..?" tanya Nelly ragu-ragu.
" Kalau soal itu, kamu gak usah khawatir. Dia ganteng kok.." jawab Habibah sambil mencubit gemas kedua pipi Nelly. Seketika itu juga wajah Nelly merona karena malu. Habibah hanya tersenyum melihat Nelly yang menundukkan wajahnya karena menahan malu.
Tiga hari setelah nya, Ricky datang bertandang kerumah Habibah. Karena ternyata Ricky sudah diberi kabar oleh Syafi'i agar datang kerumahnya untuk bertemu dengan Nelly. Habibahpun segera memberi tahu Muti'ah agar menemaninya kerumah Syafi'i. Akhirnya merekapun menuju rumah Syafi'i yang tak lupa dikawal oleh Ridho suami Muti'ah. Dan anak-anaknya tentu tak ketinggalan,mereka jadi pengiring yang menggemaskan. Sesampainya di rumah Syafi'i, merekapun disambut oleh Syafi'i dan juga Ainun istrinya. Sambutan mereka benar hangat, hanya Nelly yang tak terlihat disana. Tanpa disadari Ricky sangat penasaran dengan sosok Nelly itu hingga matanya tak sadar mencari keberadaannya. Karena dia hanya melihat fotonya saja yang diberikan oleh Syafi'i. Habibah yang menyadari tingkah Ricky hanya bisa berdehem untuk mengingatkan Ricky. Ricky yang menyadari maksud dari Habibahpun akhirnya tertunduk malu.
"Sebentar ya, saya panggilkan dulu Nelly nya.." Syafi'i segera memanggil Nelly begitu menyadari kode-kode yang diberikan oleh tamunya itu. Tak berselang lama, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga. Dengan wajah tertunduk malu, Nelly menghampiri Ainun kakak iparnya dan duduk disampingnya.
__ADS_1
" Nah Rick, ini adalah adik kami Nelly.. dan Nelly ini sahabat saya Ricky. Orang tuanya tak bisa hadir disini karena berada dikota lain dan akan kesulitan jika harus datang. Jadi sementara kami yang mendampinginya. Dan untuk Ricky, Nelly sudah tak memiliki orang tua jadi keluarganya adalah Syafi'i kakaknya. Silahkan mas.." ucap Habibah membuka pertemuan itu serta mempersilahkan Syafi'i untuk bicara.
" Saudara Ricky ini adalah adik perempuan saya satu-satunya. Dia kini berusia 20 tahun .Dia hanya gadis lugu yang tak begitu mengetahui dunia luar. Keseharian adik saya ini hanya dirumah dan kalaupun dia keluar rumah mungkin hanya kerumah Habibah saja. Orang bilang adik saya ini kuper, karena memang ruang lingkup pergaulannya hanya disekitar sini saja. Tapi saya coba mendidiknya untuk bisa menjadi seorang wanita yang baik, saya mendidiknya agar kelak jika dia berumah tangga bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya juga ibu yang teladan bagi anak-anaknya. Kami tak membekali dia dengan harta benda, kami hanya membekalinya dengan sedikit ilmu saja. Jika saudara Ricky tak keberatan dengan keadaan adik saya ini, maka silahkan saudara Ricky melihat wajah adik saya ini.."
Ricky tak pernah merasakan rasa malu seperti saat ini, entah mengapa dia tiba-tiba merasa gugup dan malu untuk melihat Nelly. Mungkin karena cara bertemunya yang berbeda dari biasanya dia bertemu dengan gadis-gadis yang sudah ditemuinya. Saat ini dia bertemu dengan Nelly dengan Susana yang berbeda, bahkan merekapun bertemu dengan didampingi oleh kerabat masing-masing. Dengan sama-sama gugup dan malu, Ricky dan Nelly pun saling memandang wajah satu sama lain. Ricky dan Nelly sama-sama saling tertegun.
Ternyata dia cantik juga, meski gak secantik dan seimut Habibah. Sial.. Kenapa disaat seperti inipun harus dibandingkan dengan Habibah siech.. Ricky dengan segera menundukkan wajahnya. Dia benar-benar malu, dia malu pada dirinya sendiri. Karena ternyata disaat seperti itu dia masih tak bisa menyingkirkan nama Habibah dari hatinya, hingga tak sadar membandingkan Nelly dengan Habibah.
Waah.. Masya Allah.. ternyata benar kata kak Habibah, dia memang ganteng dan manis.
" Jadi bagaimana? Saudara Ricky? Apakah saudara Ricky bersedia menerima keadaan adik saya atau tidak..?" Syafi'i tiba-tiba membuyarkan lamunan Ricky yang mulai melayang.
" Ehm.. Saya gak keberatan sama sekali, dan saya bersedia melanjutkan ta'aruf ini ketahap yang selanjutnya." ucap Ricky sungguh-sungguh. Dalam hatinya dia juga berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ini yang terbaik bagi dirinya. Karena dia tak akan mungkin bisa bersama dengan Habibah. Dia berharap dengan adanya Nelly, dia bisa melupakan perasaannya yang selama ini ada pada Habibah.
Tak apalah walau kami hanya akan jadi teman dan saudara disini, itu lebih daripada cukup untukku..
__ADS_1
" Bagaimana denganmu Nelly?" tanya Syafi'i pada adik kesayangannya.
" Nelly ikut kata mas aja, jika mas merestui maka Nelly bersedia." ucap Nelly pelan. Dia sungguh merasa malu untuk mengatakan itu semua. Namun dia lega setelah mengatakannya.
"Alhamdulillah.." ridho, Muti'ah, Habibah dan Syafi'i terdengar hampir serempak mengucapkan kalimat itu.
" Semoga kedepannya semakin dilancarkan segala urusannya, aamiin.." ucap Ridho ditengah suasana yang mulai mencair, karena tadi suasananya sangat serius. Kini semuanya merasa lega dengan jawaban keduanya yang bersedia melanjutkan ke tahap selanjutnya.
Setelah berbincang-bincang agak lama, akhirnya Habibah, Muti'ah, Ridho dan juga Ricky akhirnya pamit undur diri .
Sepanjang perjalanannya kembali ketempatnya bekerja, Ricky terus merenungi keputusannya untuk melanjutkan ta'aruf nya dengan Nelly ke tahap selanjutnya. Apakah keputusanku itu sudah tepat? Bisakah aku mencintainya sebagaimana aku mencintai Habibah? Bagaimana bisa nama itu terus ada dalam hati dan kehidupanku, sementara dia sudah menjadi milik orang lain? Ya Allah.. buatlah hatiku ini benar-benar bisa mencintai Nelly dengan sepenuh hatiku jika benar nanti dia yang jadi jodohku. Namun jangan jodohkan aku dengan Nelly , jika nanti aku tak bisa mencintai dia dengan sepenuh hati. Karena aku tak ingin menyakiti hatinya..
***
kenapa aku ikut deg-degan yaðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1