
Purnomo duduk bersandar dikamar kost nya sambil memandangi buku diary dalam genggaman tangannya. Angannya menerawang jauh entah kemana. Bodohnya aku.. bagaimana aku bisa tak pernah menyadari perasaan dia? Bagaimana bisa aku tak merasakan perasaan dia padaku? Bagaimana bisa aku tak membantunya untuk menyadari tentang perasaannya padaku aku justru mengecewakan nya. Dia menghindari ku karena rasa hatinya padaku tapi aku justru membuat dia semakin jauh, seharusnya aku menyadari sikapnya itu karena rasa cinta dalam hatinya yang belum dia sadari dan membantu dia untuk menyadari hal itu. Tapi aku justru pasrah menerima kehadiran Ririn dan sekarang aku benar-benar kehilangan dia. Bukan dia yang membuat aku seperti ini, tapi aku sendiri yang melakukannya. Dan aku justru bertanya padanya dan marah padanya. Ini semua salahku.. Ini kebodohanku.. Senyumnya begitu getir saat memikirkan semua itu. Bahkan dia telah menyesali persyaratan yang dia minta pada gadis itu. Dia sungguh takut bila dia benar-benar tak bisa bertemu lagi dengan gadis itu.
Sejak kepulangan Purnomo dari rumah majikan Habibah. Gadis itu menangis semalaman, dadanya terasa sakit hatinya begitu terasa seperti telah hancur berantakan dan tak berbentuk. Benar-benar terasa luluh lantak semua rasa yang ada dalam hatinya. Dia menangis sampai tak bisa mengeluarkan air mata lagi namun hatinya masih terus merintih.
Tok..tok...tok...
Suara ketukan terdengar di pintu kamarnya
" Habibah... Habibah.." suara Ririn terdengar memanggil namanya didepan pintu. Karena yang di panggil tak menjawab, akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Habibah. Dan betapa terkejutnya dia begitu menyentuh tubuh gadis itu, ternyata dia sedang demam tinggi. Segera dia berlari memanggil majikan perempuannya dengan wajah cemasnya.
" Bu.. Ibu.." serunya sambil mengetuk pintu kamar majikannya dengan tak sabarnya.
" Ada apa Rin, pagi-pagi begini kamu ribut kayak ada yang mau melahirkan aja" gerutu Meylan begitu membuka pintu kamarnya dan mendapati Ririn yang kecemasan.
" Itu Bu, Habibah badannya panas banget." ucapnya dengan tak sadar dia meraih tangan majikannya itu dan membawanya menuju kamar Habibah. Meylan pun hanya mengikutinya sampai di kamar pembantunya itu. Begitu memasuki kamar Habibah dia pun menempelkan punggung tangannya di kening gadis itu.
__ADS_1
" Rin, kamu ambilkan pengukur suhu tubuh di kotak P3K yang ada di dapur cepat.." pinta Meylan pada Ririn dengan agak panik saat mengetahui pembantunya itu demam tinggi. Ririn pun segera kembali dengan membawa alat pengukur suhu tubuh lalu menyerahkan pada Meylan.
" Rin, tolong kamu siapkan baju ganti untuk Habibah, kita akan bawa dia kerumah sakit. Suhu tubuhnya sangat tinggi ini. Ibu mau ganti baju dulu." kata Meylan begitu melihat angka yang terlihat di alat pengukur suhu tubuh 45° . Ririn pun bergegas mengambil pakaian ganti untuk Habibah. Setengah jam kemudian mereka pun sudah berada di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Habibah segera di tangani oleh dokter.
" Bagaimana dengan dia dok?" tanya Meylan pada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Habibah.
" Detak jantungnya tak stabil, dan menurut hasil pemeriksaan ini gadis ini memiliki riwayat gejala lemah jantung. Tapi biasanya kalau baru gejala itu tak sampai seperti ini. Apakah belakangan ini dia ada masalah berat? Karena detak jantungnya sangat tidak stabil. Seperti baru saja dapat tekanan yang berat." ucap dokter itu lagi.
" Saya gak tau dok, sebab kemarin dia masih baik-baik aja dan juga dia gak pernah ngeluh tentang apapun. Selain itu dia memang cukup tertutup dok." ucap Meylan
" Mungkin sebaiknya nanti coba diajak bicara dan tanyakan apakah dia ada masalah atau tidak. Karena jika tekanan itu terus ada, bisa-bisa status gejala itu jadi meningkat." dokter itu keluar dari kamar pasien yang sedang dirawat Setelah dokter itu pergi, Meylan segera membawa Ririn menjauh dari tempat tidur Habibah.
" Gak tau Bu, kelihatannya gak ada masalah apa-apa. Tapi gak tau juga sih, dia kan gak pernah cerita juga kalaupun ada masalah." jawab Ririn pelan.
Tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya dia boleh pulang. Walaupun belum begitu pulih, tapi dia memilih untuk beristirahat di rumah. Sesampainya di rumah, Habibah masuk ke dalam kamarnya. Tapi baru saja dia membaringkan tubuhnya, pintu kamarnya sudah di ketuk dari luar. Saat di buka ternyata Ririn, Purnomo dan Alvian telah berdiri di depan pintu kamarnya itu. Dengan terpaksa dia mempersilahkan mereka masuk kedalam kamarnya. Mereka duduk di lantai, karena memang tak ada kursi didalam kamar itu.
__ADS_1
" Maaf baru datang menjenguk. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih ada yang kamu rasa gak nyaman?" tanya Purnomo lembut sembari duduk di samping Habibah, sikapnya itu tentu mengejutkan bagi Ririn juga Alvian. Bahkan mereka berdua seakan tak ada di dalam kamar itu. Yang tentu membuat Habibah merasa tak nyaman. Diapun tak menyangka jika pria itu akan bersikap seperti itu di hadapan tunangan juga sahabatnya.
" Ehm... Terimakasih sudah datang menjenguk saya, saya Udah baikan kok mas, cuma masih agak lemas aja. Dibawa istirahat aja pasti cepat pulih." jawabnya canggung. Bahkan dari wajah Ririn sangat jelas sekali kecemburuan itu. Ririn tak pernah menyangka jika tunangannya itu akan bersikap lembut dan penuh perhatian seperti itu pada Habibah bahkan di hadapannya.
Apakah kamu masih menyukai Habibah mas? Bahkan kamu tega menunjukkannya dihadapan ku secara terang-terangan. Bathin Ririn menyaksikan tunangannya itu yang seakan menganggap dia dan Alvian tak ada disana.
Ririn akhirnya keluar dari dalam kamar itu karena kesal. Setelah sedikit berbasa-basi, Alvian pun mengikuti Ririn keluar dari kamar Habibah dengan alasan ada yang harus dia kerjakan. Purnomo bukan tak menyadari keadaan itu, tapi dia benar-benar tak perduli.
" Mas, bisakah mas juga keluar sekarang? Maaf mas, bukan mau ngusir, tapi gak baik mas bersikap seperti ini pada saya. Apalagi didepan tunangan mas dan sahabat mas sendiri." ucap Habibah pelan.
" Memang kenapa kalau mereka itu tunangan dan sahabatku? Bukankah kamu juga sahabatku? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita akan tetap bersahabat dimanapun kapanpun dan dalam keadaan apapun? Lalu kenapa aku gak boleh bersikap seperti ini sekarang?" ucapan Purnomo tak bisa dia bantah lagi. Sebab itu adalah janjinya dulu. Dan itu sangat membuatnya merasa bersalah pada Ririn. Entah harus bagaimana dia akan menjelaskannya pada Ririn nanti.
Sementara Ririn merasa benar-benar marah dengan sikap Purnomo. Karena pria itu bahkan mengabaikannya demi Habibah, bahkan tak menyusulnya keluar saat dia pergi meninggalkan mereka tadi. Begitu juga dengan Alvian, dia baru menyadari sesuatu yang selama ini dia tak tau, dia mulai meyakini bahwa gadis yang selama ini dimaksud oleh Purnomo selama ini adalah Habibah. Gadis yang dicintainya sejak gadis itu masih anak-anak. Dia menertawakan kebodohannya sendiri karena tak menyadari sikap Purnomo selama ini. Yang dia sangka sebagai sikap persahabatan dengan gadis itu. Tapi sekarang dia meyakini bahwa sikapnya selama ini bukan sekedar persahabatan saja. Alvian tak tau harus merasa sedih atau kecewa. Semuanya terasa sangat mengejutkan baginya, dia benar-benar tak pernah siap dengan hal sebesar itu. Dia bahkan merasa jika dia sangat konyol selama ini , bagaimana tak merasa konyol? Dia meminta Purnomo sahabatnya untuk jadi Mak comblang Antara dirinya dengan Habibah yang ternyata telah dicintai oleh Purnomo sejak gadis itu masih anak-anak.
Gila banget gak aku ini. Pekiknya dalam hati.
__ADS_1
***
selalu dan selalu dukung aku ya.. dengan cara klik jempol dan tentu komentarnya juga. aku tunggu ya.. terimakasih 🥰 🥰🙏