Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Zain menghilang


__ADS_3

Qodir meninggalkan rumah Habibah lebih dulu, dia tak sanggup berada disana lebih lama lagi. Sementara Lina masih ada disana karena masih menikmati rasa irinya pada Habibah. Kini Habibah dan Purnomo duduk berdampingan diruang tamu. Habibah nyaris tak mengangkat wajahnya karena malu dan juga bahagia. Nur Laily duduk disamping Habibah sambil tak melepas pelukannya dari Habibah. Dia nampak bahagia karena akhirnya kini Habibah telah resmi menjadi ibunya. Begitu pula dengan Zain, yang sejak tadi duduk dipangkuan Purnomo. Diapun tampak bahagia karena kini dia telah memiliki seorang ayah. Pemandangan itu sungguh sangat indah dipandang. Purnomo tak henti-hentinya mengumbar senyum bahagianya yang membuat wajah tampannya terlihat semakin cerah karenanya. Bahkan sebelah tangan Purnomo tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Habibah yang membuat Habibah malu dipandang banyak orang.


" Mas Pur.. Udah dong mas, gak usah dipamerin terus mesranya. Kita tau kok kalau kak Bibah sekarang punya mas Pur, jadi gak usah dipegangin terus itu tangannya. Gak ada juga yang mau ambil kak Bibah, gak takut apa kalau tangan kak Bibah jadi keram digenggam terus begitu? Liat tuh kak Bibah sampai malu gitu.. Hahaha.." Dona mulai menjahili mereka.


Purnomo yang di ejek bukannya melepaskan tangan Habibah, melainkan semakin menggenggam erat tangannya dan menciumnya lagi didepan banyak orang. Dan hal itu membuat suasana jadi riuh demi melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Purnomo. Disaat suasana riuh itu datang seorang lelaki tampan menghampiri keduanya.


" Selamat ya, semoga kalian bahagia selalu sampai maut yang memisahkan kalian berdua. Maaf kami baru datang jam segini, karena tadi masih menunggu teman kami yang dari gereja." ucapnya sambil menyalami Purnomo.


" Terima kasih sudah berkenan hadir, maaf kami cuma merayakannya dengan sederhana saja jadi hidangannya juga sederhana. Silahkan dinikmati." balas Purnomo sambil mempersilahkan tamu-tamunya yang datang itu untuk menikmati hidangan yang telah disediakan di meja prasmanan.


" Terima kasih pak, sudah mau datang." ucap Habibah singkat.


" Iya sama-sama, terima kasih juga sudah mengundang kami. Aku turut bahagia untukmu." Zelly meninggalkan Habibah dan Purnomo. Dan Purnomo sangat memperhatikan wajah dari Zelly, dia bisa melihat kesedihan juga kebahagiaan dimatanya. Dan itu membuat Purnomo merasa salut pada Zelly.


Waktu shalat Dzuhur telah tiba, Habibah dan Purnomo beranjak dari tempat duduknya untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Dan mereka melakukannya berjamaah dikamar Habibah yang kini pun telah resmi menjadi kamar Purnomo. Ini pertama kalinya bagi mereka melakukan shalat bersama sebagai imam dan makmum. tak lupa nur Laily dan Zain pun ikut shalat bersama mereka. Suasana itu terasa sangat syahdu, pemandangan yang sangat menyejukkan mata dan menentramkan hati. Setelah usai shalat, Habibah meraih tangan Purnomo dan menciumnya. Purnomo membalasnya dengan meletakkan tangannya di pucuk kepala Habibah dan membacakan sebait doa lalu mengecupnya dengan takdzim. Habibah merasakan kedamaian yang luar biasa dalam hatinya saat Purnomo melakukannya. Kemudian disusul oleh nur Laily dan Zain, merekapun mendapatkan perlakuan yang sama dari Purnomo.


Waktunya makan siang, semua makan siang bersama-sama. Purnomo tak pernah mau jauh dari Habibah, dia tak perduli walaupun ditempat dia duduk hanya ada dia seorang yang laki-laki. Selama dia bersama Habibah itu tak jadi soal untuknya. Saat itu Habibah sedang menyuapi Zain, tiba-tiba datang Nuraini menghampirinya.


" Sini biar aku yang suapi Zain. Kamu makan aja dengan tenang." ucapnya. Habibah tak bisa menolaknya karna saat itu kondisinya banyak orang lain. Karena memang mereka ada di ruangan dalam yang semuanya wanita kecuali Purnomo. Habibah membuka cadarnya dan makan bersama yang lain. Mereka terpana dengan wajah cantik Habibah. Karena sangat jarang bisa melihat wajah Habibah. Hanya beberapa orang saja yang pernah melihat wajahnya sejak dia mengenakan cadar. Meski Habibah hanya mengenakan riasan yang sangat tipis dan natural, tapi itu sangat cantik bagi mereka. Jika melihat wajahnya tak akan ada yang menyangka jika Habibah telah menikah dan memiliki seorang anak berumur 4 tahun. Dia masih memiliki wajah seperti anak SMA. Mungkin karena dia memiliki tubuh dan wajah yang imut sehingga dia jadi terlihat jauh lebih muda dari usianya.


Sementara Zain dibawa oleh Nuraini keluar dari ruangan itu. Dan setelah keluar dari ruangan itu Nuraini membawanya kesamping rumah yang ternyata ada Lina yang telah menunggunya. Tanpa banyak basa basi dibekapnya mulut dan hidung Zain dengan sebuah sapu tangan yang ternyata sudah diberi obat bius. Lina membawa Zain bersamanya menjauh dari kediaman Habibah.


Sudah 1 jam berlalu, Habibah gelisah karena belum melihat Zain sejak Nuraini membawanya. Dan Purnomo melihat kegelisahannya itu.


" Ada apa? Kamu kelihatan gelisah sekali?" tanyanya pada Habibah dengan berbisik.

__ADS_1


" Itu mas, Zain.. Saya belum melihatnya dari tadi, kira-kira kemana ya?"ucapnya dengan kegelisahan yang sangat jelas. Dan dilihatnya Nuraini yang akan melewatinya.


" Mba Aini, mana Zain?" tanyanya pada Nuraini.


" Mana aku tau, kan kamu yang punya anak bukan aku." jawabnya santai dan berlalu meninggalkan Habibah. Habibah yang mendapatkan jawaban yang tak memuaskan seperti itu tentu tak puas hati, diapun mengejar Nuraini hingga kekamarnya.


" Kamu ini ya gak ada sopan santunnya sama sekali, masuk kamar orang yang lebih tua tanpa izin dan permisi seenaknya.."


" Saya cuma mau tau mana Zain?" jawab Habibah memotong kalimat Nuraini.


" Dia gak ada sama aku, dia sudah bersama dengan orang yang memang punya hak untuk bersamanya. Memangnya kamu fikir anak itu hanya milikmu? Dia itu bukan hak milik dari kamu karena anak itu ada bukan dari kamu seorang..."


" Mba...!!!" tiba-tiba Habibah tak sadarkan diri karena menahan emosinya yang tiba-tiba memuncak dalam keadaan fikiran yang kalut. Ada beberapa orang yang mendengar teriakan Habibah segera datang menghampiri kamar Nuraini. Dan mereka terkejut saat mendapati Habibah telah terbaring dilantai kamar.


" Kenapa dia mba Aini? Bagaimana dia bisa pingsan begini?" tanya Dona yang juga mendengar teriakan Habibah.


Seseorang telah memanggil Purnomo, dan Purnomo segera menghampiri tubuh mungil istrinya itu dan membopongnya serta membawanya kedalam kamar tidurnya. Ibu Sofia, ibu Masurai dan juga ibu Sumarni sudah berkumpul dikamar Habibah. Semua bertanya kenapa Habibah bisa pingsan di kamar Nuraini. Yusuf yang yang mendengar adiknya itu tak sadarkan diri dikamar Nuraini segera menghampiri istrinya untuk meminta penjelasan.


" Apalagi yang sudah kamu lakukan pada adikku? Bagaimana bisa dia pingsan disini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Yusuf mengajukan beberapa pertanyaan pada istrinya.


" Bisa gak kalau tanya itu biasa aja? Lagian apa sih yang harus diributkan? Dia itu cuma pingsan bukan mati. Nanti juga bangun lagi sadar lagi. Kayak ditinggal mati aja sih sampai heboh gitu." Nuraini menanggapinya dengan santai sekali.


" Kamu...!" Yusuf pergi meninggalkan Nuraini yang tersenyum puas..


Habibah masih belum sadarkan diri. Purnomo dan yang lain masih tetap berada dikamarnya.

__ADS_1


" Apa katanya suf?" tanya Ibu Sumarni


" Dia gak bilang apa-apa.." jawab Yusuf lesu.


" Apakah ada yang lihat Zain?" tanya Purnomo.


" Zain..? Astaghfirullah hal'adziim..! Ia mana Zain aku belum lihat dia.." seru ibu Sofia.


" Mas Yusuf coba tanyakan mba Aini, sebab tadi saat makan siang dia yang membawa Zain dari kami. Dan kami belum melihatnya sejak itu dan itulah yang membuatnya cemas sejak tadi." ucap Purnomo pada Yusuf.


" Aini? Astaghfirullah hal'adziim.. Aini..!" Yusuf seperti tersadar akan sesuatu dan berlalu kemudian kembali menemui istrinya


"Aini.. Apa yang kamu lakukan pada Zain? Dimana dia sekarang? Ayo jawab..!" Yusuf mencengkram kedua pundak Nuraini dengan kuat. Karena dia tau persis seperti apa istrinya itu.


" Tenanglah mas..! Dia baik-baik saja. Dia sekarang berada ditempat yang seharusnya dia berada. Karena anak itu bukanlah hak milik adikmu seorang." jawabnya masih dengan santainya seolah-olah tak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya.


" Apa maksudmu hah..!" tanya Yusuf tak sabar.


" Nanti kalian juga akan tau sendiri.." Nuraini masih belum mau menjelaskannya.


" Kalau sampai ada apa-apa pada zain, aku bersumpah tak akan pernah memaafkanmu..!" Yusuf benar-benar sangat marah.


***


Ada yang tau gak kira-kira Zain dibawa kemana?

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan votenya ya.. terima kasih 🥰🥰🙏


__ADS_2