Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Di taman


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Zelly bergegas menuju rumah Mia. Dia sangat ingin cepat melihat Habibah, meski dia tak tau harus berbuat apa jika sudah menemuinya. Ternyata, sesampainya dirumah Mia, sahabatnya itu sudah ada dirumah dan sedang berbincang dengan kedua orang tua Habibah.


"Hei...! Kamu gak salah jalan kan? Katanya perusahaan sudah siapkan tempat menginap yang nyaman untukmu di hotel berbintang, kenapa kau baliknya kesini lagi? Bukannya kamu bilang kalau tidur dirumahku ini gak nyaman? " ledek Mia begitu melihat Zelly didepan pintu rumahnya.


" Bawel banget sih kamu..! Aku cuma..."


" Cuma mau lihat dia aja kan?" potong Mia cepat.


" Kebetulan nak Zelly datang kesini. Bapak mau minta tolong boleh?" tanya pak Rukmana.


" Iya, boleh.. Kalau saya bisa bantu saya pasti akan bantu dengan senang hati." jawab Zelly sambil mendekat dan duduk disamping pak Rukmana.


" Begini, besok bapak rencana mau pulang karena ada pekerjaan yang harus bapak lakukan. Jadi bisa gak bapak minta tolong untuk antarkan ke terminal bus besok pagi?" tanya pak Rukmana.


" Cuma itu? Saya kira bantuan apa pak, kalau cuma itu insya Allah saya bisa pak." jawab Zelly yakin.


" Oh iya, kembali lagi mengenai perawatan Habibah. Saya perlu persetujuan dai bapak dan ibu dulu karena ini sangat penting.


Begini pak, buk.. Saya cuma bisa berusaha membantu anak ibu kembali pulih. jadi saya juga perlu kerja samanya dari anak ibu dan juga keluarganya. Dan sekarang saya ingin menanyakan, apakah bisa kalau cadarnya dilepas selama perawatan dirumah ini? Karena saya juga perlu mengamati ekspresi wajahnya." Mia menyampaikan maksudnya perlahan agar orag tua Habibah mengerti dan ta salah faham padanya.


pak Rukmana dan ibu Sumarni saling pandang seolah meminta pendapat satu sama lain.


" Sebenarnya kami gak bisa memutuskan soal ini, tapi demi kelancaran perawatannya bapak rasa boleh selama tak ada laki-laki lain yang melihatnya. bapak rasa dia juga gak keberatan." sahut pak Rukmana.


Secara refleks Mia melirik pada Zelly, entah kenapa Mia sangat ingin melihat reaksi dari wajah sahabatnya itu.


Setelah sarapan, pak Rukmana telah bersiap untuk berangkat ke terminal bus yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit dari kediaman Mia. Tak lama setelah pak Rukmana selesai sarapan Zelly datang menjemputnya.

__ADS_1


" Gak sarapan dulu Zell?" tanya Mia.


" Udah tadi sarapan di hotel.." jawab Zelly singkat.


Zelly bahkan tak masuk dulu kedalam rumah Mia. Dia hanya menunggu pak Rukmana didepan rumahnya Mia. Setelah pa Rukmana telah siap untuk berangkat, tanpa banyak kata lagi merekapun berangkat.


Dalam perjalanan pak Rukmana tak banyak bicara, begitupula dengan Zelly. Dia pun jadi bingung mau mencari topik pembicaraan apa. Baru kali ini Zelly merasa sangat canggung berhadapan dengan pak Rukmana. Zelly pun tau kenapa perasaan itu tiba-tiba menyelimuti hatinya. Dan itu rasanya jadi aneh banget😓😓


Sementara itu Mia sedang mencoba berinteraksi dengan Habibah dihalaman rumahnya. Mengajaknya bercerita tentang sosok almarhum suaminya Purnomo. Menunjukkan album foto milik Purnomo dan menunjukkan buku diary miliknya yang dulu ditemukan oleh Purnomo. Membacakan surat-surat yang pernah dituliskan oleh Purnomo untuknya. Mia melakukannya hingga pukul 10 pagi. Aktivitas itu di ulang hingga 3 hari berturut-turut.


Di akhir pekan, Zelly dan Bu Sumarni membawa Habibah jalan-jalan ke taman ditepian sungai Mahakam. Suasana akhir pekan yang ramai di tepian Mahakam adalah hal baru yang ditemui oleh mereka. Karena kegiatan inipun adalah untuk pertama kalinya bagi mereka. Disaat Zelly sedang memesan minuman dingin dari pedagang kaki lima yang mangkal di lokasi tepian itu, tiba-tiba ada sebuah mobil ambulance yang melintas dengan sirine yang berbunyi nyaring. Hal itu ternyata membuat Habibah seperti tersadar akan sesuatu. Seketika itu juga Habibah bangkit dari kursi roda yang didudukinya dan berlari menuju ke arah ambulance itu melaju. Hal itu sontak mengejutkan ibu Sumarni juga dengan Zelly yang sedang mengantri minuman. Dan tentu saja ibu Sumarni dan Zelly pun spontan mengejar habibah.


" Ibu tunggu saja kami disini, saya akan bawa Nur kembali. Tolong jagakan kursi rodanya dan pesanan minumannya. Sampai saya kembali." pinta Zelly pada ibu Sumarni.


Habibah berlari cukup jauh, dia berlari sejauh kurang lebih sekitar 200 meter. Zelly menemukannya dalam posisi terduduk di rerumputan ditepian itu. Dia menangis tersedu-sedu seorang diri. Banyak orang yang berlalu lalang yang hanya memperhatikannya.


Maaf Nur...


Aku terpaksa melakukan ini. Maafkan aku tuhan.. Jika ini adalah sebuah dosa, tapi aku tak bisa membiarkannya duduk disana lebih lama lagi.


Ya Allah....


Sadarkanlah dia, kembalikan dia seperti semula. Aku sungguh tak bisa melihatnya seperti ini. Jika saja aku bisa menggantikan segala kepedihan dan dukanya, aku rela menggantikannya.


Sepanjang perjalanannya kembali ketempat awal Habibah lari, mereka menjadi perhatian banyak orang yang mereka lalui. Sedangkan Zelly seperti bukan sedang membopong tubuh seorang manusia, tapi seperti sedang membopong tubuh boneka. Yang hanya diam tanpa ekspresi apapun diwajahnya walaupun wajah itu sedang dibasahi oleh air mata.


" Ya Allah, nak... Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa lari kesana? Apa dia baik-baik saja?" ibu Sumarni memberondong Zelly dengan banyak pertanyaan begitu melihat Habibah datang dengan dibopong oleh Zelly.

__ADS_1


" Dia gak apa-apa Bu. Cuma saya juga gak faham apa yang membuatnya tiba-tiba lari sampai sejauh itu. Dan saya juga gak tau apa yang membuatnya menangis begini, maaf..." ucap Zelly penuh penyesalan. Dia benar-benar menyesal karena dia tak tau kenapa Habibah sampai bisa menunjukkan reaksi yang sebesar itu. Dan sayangnya hal itu terjadi saat tak ada yang memperhatikannya. Zelly merasa kesal pada dirinya sendiri karena menganggap dirinya telah ceroboh.


" Sepertinya istri bapak tadi itu mengejar ambulance yang lewat tadi itu pak, kalau saya gak salah lihat tadi istri bapak seperti terkejut waktu mendengar suara sirine ambulance tadi." tiba-tiba terdengar seorang pengunjung menjelaskan apa yang jadi pertanyaan dari ibu Sumarni dan Zelly barusan.


" Begitukah?" Zelly mengerutkan dahinya saat mendengar orang itu bicara, seolah-olah tak percaya.


" Sepertinya dia ingat waktu suaminya di antar pakai ambulance waktu itu. Mungkin itulah sebabnya dia jadi seperti ini." ibu Sumarni akhirnya mulai mengerti situasi apa yang baru saja terjadi.


" Baiklah... Kalau begitu sebaiknya kita harus segera pulang dan memberi tahukan pada Mia. Setidaknya kita tau kalau saat ini sudah ada kemajuan sebab akhirnya ada reaksi yang benar-benar berarti darinya." Zelly mengajak ibu Sumarni untuk membawa Habibah pulang dan mendiskusikan lagi langkah apa yang harus mereka lakukan setelah mendapatkan reaksi besar dari Habibah mengenai mobil ambulance ini.


" Benarkah..!? Dia benar-benar bereaksi seperti itu..!?" Mia berseru tak percaya.


" Iya.. Dan banyak yang menyaksikannya disana, aku malah tak tau apa penyebabnya dia tiba-tiba lari sejauh itu. Tapi tadi ada pengunjung yang memperhatikannya, katanya dia melihat Nur seperti terkejut saat mendengar sirine ambulance itu waktu melintas tak jauh dari kami. Dan tiba-tiba Nur lari begitu saja. Saat itu aku tak memperhatikannya karena aku sedang memesan minuman dan posisi ibu dibelakang kursi rodanya, jadi kami ta tau saat reaksi itu terjadi. Tapi syukurnya ada pengunjung lain yang memperhatikannya." Zelly menjelaskannya lagi seolah dia sedang meyakinkan dirinya sendiri kalau hal itulah yang terjadi.


" Baiklah.. kalau hal-hal yang menyakitkan seperti ini yang membuatnya bereaksi, kita harus mencobanya lagi."


" Apa maksudnya dengan mencobanya lagi? Hanya dengan ini saja dia sudah terlihat sangat menderita, masa kamu tega buat dia merasakan hal yang seperti itu lagi?" Zelly merasa keberatan dengan usulan dari Mia.


" Tapi ini penting Zelly... Aku sudah mencoba membangkitkan kesadarannya dengan cara mengingatkannya pada hal-hal manis padanya, tapi tak ada satupun yang berhasil untuk menarik reaksinya sama sekali. Tapi saat dia mendengar suara sirine ambulance,. reaksi dia sangat besar bahkan dia sampai lari untuk mengejarnya. Berarti hal yang berkesan padanya adalah hal-hal yang berkaitan dengan kematian suaminya. Karena hal inilah yang menyebabkannya jadi seperti sekarang ini." terang Mia pada Zelly.


" Tapi Mia... Disaat dia menangis tanpa ada ekspresi kesedihan diwajah nya, bagaimana itu bisa terjadi? Bahkan dia tak mengatakan satu katapun saat aku bicara dengannya. Kenapa hal itu bisa terjadi?" tanya Zelly penasaran.


" Kepergian suaminya itu benar-benar sebuah guncangan yang besar baginya. Dia belum siap menerima guncangan sebesar itu dalam hidupnya. Apalagi hal itu terjadi saat dia benar-benar merasa sangat bahagia, hal itu tentu sulit untuk dihadapi. Saat kejadian itu terjadi, posisi dia itu sedang berada dipuncak. Baik kebahagiaan ataupun rasa percaya dirinya, semua sedang berada dipuncak. Dan dengan tiba-tiba dia harus jatuh dengan kerasnya kedasar yang begitu gelap dan putus asa. Dia dipaksa untuk melepas semua hak yang membuatnya bahagia dan percaya diri setelah begitu lama dia berjuang untuk bisa meraihnya. Jiwanya baru saja bisa merasakan kedamaian setelah sekian lama dia berjuang sendirian untuk meraihnya. Dan hal itulah kenapa dia mengunci dirinya sendiri untuk tak mengharapkan apapun lagi dalam hidupnya. Dia tak memiliki keyakinan lagi dalam menatap masa depan karena dia percaya itu akan berakhir sama yaitu hancur. Dia telah kehilangan rasa percaya dirinya, dia tak yakin dia akan bisa hidup dengan bahagia tanpa orang yang sangat penting dalam hidupnya itu." Mia menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi kejiwaan Habibah yang saat ini sedang rapuh.


" Apakah jika ada yang bisa membuatnya percaya jika dia masih bisa bahagia dan dia ta sendirian didunia ini, dia bisa pulih?" tanya Zelly.


" Aku rasa begitu, karena yang jadi penyebab utamanya adalah rasa kehilangan. Jika saja dia bisa menemukan kepercayaan itu kembali, aku sangat yakin dia akan pulih. Tapi yang harus kita usahakan sekarang adalah mencari dimana letak kepercayaan itu berada." Mia tampak sedang berfikir keras, mencari kemungkinan yah paling tepat untuk menemukan kepercayaan Habibah kembali.

__ADS_1


__ADS_2