
Habibah sudah mulai dengan aktivitas barunya yaitu sekolah, setiap hari dia harus berangkat sekolah bersama dengan Alvian yang juga harus ke kampus setiap hari. Pelan tapi pasti Alvian sudah banyak mengetahui tentang gadis itu , karena setiap hari pasti ada saja yang dia tanyakan padanya yang berkaitan dengan dirinya. Walau dengan jawaban yang masih singkat-singkat tapi itu sudah cukup buat alvian. Daripada gak dijawab sama sekali, gak apa-apa biar singkat-singkat juga. Toh dari yang sedikit-sedikit itu nanti jadi banyak juga. Bathinnya sambil tersenyum melihat gadis yang di boncengnya dari kaca spion. Sayang jarak rumah ke sekolahnya hanya sekitar lima menit . Ingin rasanya dia perlambat waktunya dan berharap bisa lebih berlama-lama dengannya.
" Terimakasih mas" begitu sampai di depan pintu gerbang sekolanya. Disana sudah tampak ramai oleh siswa siswi yang sudah berdatangan. Tak sedikit yang memperhatikan mereka sebab keduanya memang cukup mengundang perhatian dengan ketampanan dan kecantikan yang mereka miliki.
" Tunggu...!!" seru Alvian. Habibah pun menoleh dengan heran.
" Gak Salim dulu" ujarnya sambil tersenyum. Habibah hanya mendelikan matanya lalu meninggalkan Alvian yang tertawa karena gemas melihat ekspresi wajah gadis itu. Mulai sekarang aku akan sering-sering godain dia. Dan diapun meninggalkan sekolah Habibah dan melanjutkan perjalanan menuju kampus nya setelah gadis itu benar-benar tak terlihat lagi.
Karena masih masa-masa pengenalan jadi waktu pulang sekolah di percepat hanya sampai jam 10 pagi. Sepulang sekolah Habibah menunggu angkot yang biasa dia tumpangi tak jauh dari gerbang sekolah. Tiba-tiba ada yang menghampirinya dan menyapanya.
"Hai.." sapanya mengejutkannya. Gadis yang disapa hanya menoleh sekilas lalu meluruskan kembali pandangannya.
" Kamu kok sendirian? Mana temanmu? " tanyanya tak memperdulikan orang yang di tanya terganggu atau tidak.
"Rumah kamu dimana? Emang gak ada yang jemput ya setiap hari kamu slalu naik angkot kalau pulang?"tanyanya lagi, walaupun orang yang di tanya tak menjawab sepatah katapun.
"Oh ya, kenalin namaku Ricky..Aku satu kelas sama kamu. Namamu cantik kayak orangnya, aku boleh gak panggil kamu Nur? Biar beda dari yang lain.. " ocehnya lagi. Semua teman dikelasnya tau nama Habibah sebab dari awal masuk memang sudah saling mengenal kan diri masing-masing. Jadi wajar kalau Ricky juga tau namanya. Tak lama angkot yang ditunggu pun datang, dia meninggalkan Ricky yang masih berdiri mematung melihat kepergian Habibah yang ternyata sangat sulit dia dekati. Dia tak menyangka akan ada gadis seperti Habibah itu. Menarik.. gumamnya sambil tersenyum.
Sesampainya dirumah setelah ganti baju, Habibah membantu Ririn membersihkan teralis jendela- jendela dirumah dua lantai itu. Hingga tak terasa waktu sudah tengah hari. Merekapun memutuskan untuk istirahat dulu, tak lupa mereka menyiapkan makan siang seperti biasa. Setelah siap, Habibah pergi mandi dan shalat dhuhur. Setelah makan siang Habibah dan Ririn melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai tadi.
***
Ting tong.. Ting tong..
Suara bel berbunyi cukup nyaring, Habibah yang baru usai menunaikan shalat isya bergegas keluar membukakan pintu dengan masih mengenakan mukenanya. Begitu pintu terbuka betapa terkejutnya dia begitu melihat siapa yang ada di depan pintu.
__ADS_1
" Hai... Kamu kenapa? Kayak lihat setan aja.. !" Kata Alvian sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Habibah.
"Mau sampai kapan kamu menghalangi jalan? Aku mau masuk gimana lewatnya kalau kamu halangi jalan begitu. Buka dulu pintunya lebar-lebar biar aku bisa lewat." ucap Alvian yang heran dengan reaksi Habibah yang masih mematung di tempatnya berdiri. Yang membuatnya terkejut bukanlah Alvian melainkan orang yang ada di belakang Alvian.
"Assalamu'alaykum.." sapanya mengucapkan salam pada Habibah.
" Wa'alaykumussalam.. " seketika itu juga dia menyingkir dari hadapan keduanya dan meninggalkannya dengan sedikit tergesa-gesa. Dia kembali ke kamarnya lalu menutup pintu dan berdiri menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamarnya. Entah kenapa jantung nya seperti akan lepas dari tempatnya karena saking kerasnya jantung itu berdetak, sampai dia merasa dadanya sakit oleh debaran yang tak wajar itu. Kenapa dia bisa ada disini? tanyanya berulang-ulang pada dirinya sendiri.
Tok tok tok...!!
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar.
" Habibah..!! Boleh minta tolong gak?" serunya dari luar kamar.
" Ada apa mas?" sambil membuka pintu sebatas wajahnya saja.
" Baik.." jawab Habibah lalu menutup pintu kembali. Kenapa harus aku sih? kan bisa Ririn? gerutu Habibah sambil melepas mukena nya dan melipatnya. Setelah itu dia menuju dapur untuk membuatkan teh hangat manis yang diminta oleh Alvian tadi. Setelah selesai diapun mengantarkannya ke kamar Alvian yang juga berada di lantai bawah.
Tok tok tok...
" Masuk aja, gak dikunci ..!" seru Alvian dari dalam kamarnya.
" Ini tehnya mas, mau di taruh dimana?" ucap Habibah dengan menundukkan wajahnya.
" Taruh sini aja." tunjuk Alvian ke arah meja belajarnya.
__ADS_1
Setelah menaruh gelas teh itu, Habibah pun bergegas menuju pintu.
" Tunggu..!" seru Alvian menghentikan langkah kaki gadis itu.
" Kamu gak nyapa dia? Kamu gak mungkin lupa sama diakan?" tanyanya heran , sebab yang dia tau gadis itu dan temannya sudah saling mengenal dan berteman.
"Kalian gak lagi bertengkar kan?" tanyanya lagi.
"Boleh aku pinjam dia dulu sebentar gak Al?"ucap temannya pelan.
" Boleh, tapi jangan sampai lecet ya?" sambung Alvian sambil tertawa pelan.
"Siap..!"
Diapun berdiri dan menghampiri Habibah yang masih didepan pintu lalu meraih tangannya dan menariknya keluar rumah hingga ke halaman. Kemudian dia melepaskan tangan Habibahyang entah kenapa mendadak jadi dingin dan bergetar.
" Kamu kenapa? Kamu gak senangkah lihat aku ada di sini? Kenapa kamu gak mau nyapa aku?" tanya nya pelan.
" Coba kamu lihat aku, kenapa kamu gak mau lihat aku?" tanyanya lagi dan tanpa sadar kedua tangannya memegang kedua pipi gadis itu dan di hadapkan padanya agar gadi itu mau melihatnya. Sementara gadis itu mendadak kaku dan dingin seluruh tubuhnya dan matanya terbuka lebar karena terkejut akan perlakuan dari orang yang ada di hadapannya saat ini.
" Kamu kenapa sih Nur?" tanyanya lagi dengan nada yang berubah jadi khawatir karena gadis yang di tanya belum membuka suara sama sekali. Tangannya masih berada di kedua belah pipi tembem gadis itu.
Tiba-tiba Habibah melangkah mundur hingga terlepas dari jangkauan tangan pria yang ada di depannya.
" Maaf mas, bukan gak mau nyapa. Saya cuma kaget aja tiba-tiba mas ada disini." kata Habibah dengan suara bergetar. Entah karena apa diapun tak mengerti.
__ADS_1
**"
KIRA-KIRA ADA YANG TAU GAK YANG DATANG ITU SIAPA??🤔🤔🤔