Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Sahabatku..


__ADS_3

Setelah 10 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Tempat itu berada agak jauh dari pusat kota, sebuah tempat yang cukup jauh dari kebisingan dan kesibukan dari ibu kota Kalimantan. Tempat yang masih sangat asri, jauh dari polusi dan sangat cocok untuk merawat pasien seperti Habibah itu.


Ting tong..! Ting tong...!


Beberapa kali bel berbunyi nyaring dikeheningan malam itu membuat siapapun akan terbangun dari tidurnya. Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu dengan wajah yang layu karena menahan katuk.


Ceklek...!


Pintu terbuka, dan muncullah seorang wanita dengan mengenakan baju daster panjang dan mengenakan jilbab ukuran sedang melongokkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengganggu waktu istirahatnya ditengah malam itu.


" Assalamu'alaykum.." sapa Zelly, ibu Sumarni dan pak Rukmana hampir bersamaan.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..." wanita itu mencoba mengenali siapa yang ada dihadapannya itu.


" Sorry ya Mia, aku ganggu kamu tengah malam begini. Aku terpaksa ganggu kamu tengah malam karena aku harus antar mereka kesini dengan segera." Zelly maju selangkah agar berhadapan dengan tuan rumah.


" Kamu Zell? Aku kira besok kamu baru datang, kenapa harus tengah malam begini sih..? Dasar..!


Ayo masuk dulu, kita bicarakan didalam aja. Masa mau ngobrol depan pintu begini, ayo masuk dulu ." ajak Mia.


Mia adalah sahabat dari Zelly yang sebenarnya satu kampung dengan Zelly di Sumatera. Mereka bersahabat sejak duduk di bangku SMA dan merekapun kuliah di universitas yang sama hanya beda jurusan saja. Dan saat mengajukan lamaran pekerjaan mereka terpisah, karena sesuai dengan jurusan. Mia masuk kesebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di Samarinda dan Zelly mendapat tugas disalah satu anak cabang dari perusahaan sawit disalah satu kecamatan di Kalimantan timur itu.


Walaupun mereka lama tak bertemu, namun komunikasi di antara mereka cukup terjalin dengan baik. Mia sudah berkeluarga dan memiliki 2 orag anak yang sudah cukup besar. Yang pertama sudah duduk di bangku SMA tingkat akhir dan yang ke 2 duduk dibangku SMP kelas VIII Suaminya sendiri adalah seorang dokter spesialis jantung yang bertugas dirumah sakit yang sama dengan Mia.

__ADS_1


" Ayo, silahkan duduk dulu. Sebentar saya ambil air minum dulu." Mia mempersilahkan tamu-tamunya itu untuk duduk. Sementara dia sendiri menuju dapur untuk mengambil air minum dan beberapa makanan ringan, lalu menghidangkannya dimeja tamu.


" Asisten rumah tangga mu mana, kok kamu kerjakan semuanya sendiri?" tanya Zelly yang heran melihat sahabatnya itu me nyediakan sendiri air minum untuk mereka yang seharusnya dilakukan oleh asisten rumah tangga nya.


" Kira-kira dong Zelly, masa iya aku mau bangunkan asisten rumah tangga ku dijam segini cuma untuk nyiapkan air minum untuk kamu? Gila aja.. Aku gak sekejam itu tau..!" protes Mia pada Zelly.


" Okelah.. Kalau begitu, aku mau bicarakan soal kedatangan kami kemari. Seperti yang sudah aku bicarakan denganmu di telepon kemarin. Ini adalah temanku lebih tepatnya mantan pegawaiku dulu namanya Nur Habibah, dan ini adalah orang tuanya pak Rukmana dan ibu Sumarni. Aku hanya ingin kamu bantu mereka untuk memulihkan dia seperti sedia kala dengan metode yang paling baik yang kamu miliki. Dia masih punya anak-anak yang harus dia rawat, kalau keadaannya seperti ini bagaimana dia bisa merawat anak-anaknya? Aku percaya dengan metode yang kamu miliki dia akan bisa cepat pulih."


" Aku akan coba dengan segala kemampuanku. Tapi aku tak bisa melakukannya sendirian, aku perlu bantuan orang-orang terdekatnya untuk membantu membangkitkan kembali segala perasaannya yang saat ini sedang tertidur. Dan itu sangat penting, karena yang harus kita bangunkan adalah jiwanya bukan tubuhnya."


" Baiklah... Aku percayakan segalanya padamu.. Tapi bisakah izinkan mereka istirahat dulu? Mereka sudah sangat kelelahan karena perjalanan yang panjang. Besok aku akan kembali kemari lagi."


" Kenapa gak nginap disini saja Zell? Ini sudah sangat larut, bukan larut lagi Sekarang sudah dini hari. Besok saja kamu perginya, kamu juga pastinya lelah sudah menyetir selama itu kan? Ayo, aku gak terima penolakanmu sekarang. Kamu memikirkan orang lain tapi kamu tak boleh lupakan dirimu juga kan?" Mia menaikan dagunya sembari mengedipkan salah satu matanya pada Zelly. Dan itu sudah cukup untuk membuat Zelly salah tingkah.


" Baiklah... Kamu antar mereka dulu ke kamarnya, aku ambil barang dari mobil dulu." Zelly pergi meninggalkan Mia dengan mengusap-usap tengkuknya. Mia yang melihat wajah Zelly yang merona hanya bisa tersenyum.


Bagaimana bisa kamu jatuh hati pada wanita yang nyata-nyata sangat mencintai suaminya hingga seperti ini dan kamu bahkan masih memperdulikannya?


Kegilaan apa yang telah terjadi padamu? Sebesar itukah cintamu yang kamu miliki padanya? Sampai tak ada tempat sedikitpun untuk orang lain lagi dihatimu.


Apakah ini yang disebut cinta itu buta? Cinta telah membutakan akal sehat dan logika dalam kehidupan. Bahkan karena cintamu ini, kamu bisa melemparkan segala harapan dari orang tuamu.


Mia membawa Habibah dan orang tuanya ke lantai 2, kamar Habibah dan kamar kedua orang tuanya terpisah. Habibah berada dikamar yang bersebelahan dengan kamar anak Mia yang pertama, sedangkan orang tuanya berada di kamar yang bersebelahan dengan kamar tamu yang akan ditempati oleh Zelly.

__ADS_1


Zelly membawa masuk semua barang bawaan untuk kebutuhan selama perawatan Habibah. Seperti yang diarahkan oleh Mia.


" Sini aku bantu bawa." Mia menawarkan bantuan.


" Gak usah, kamu istirahat aja. Aku bisa sendiri kok." tolak Zelly.


" Ayolah... Bagaimana aku bisa istirahat kalau tamuku masih sibuk begini? Sini, biar kita bisa sama-sama istirahat." Mia merebut paksa koper dan satu tas jinjing yang ada di tangan Zelly. Zelly mau tak mau harus mengalah karena dia tau benar bagaimana watak dari sahabatnya itu. Mereka melangkah beriringan menuju lantai 2 rumah Mia.


" Jadi dia wanita itu? " tanya Mia tiba-tiba. Entah kenapa dia ingin bertanya pada Zelly walaupun dia sudah tau jawabannya.


" Apa?"


" Jangan pura-pura bodoh Zell, apakah dia wanita yang sudah membuatmu masih melajang hingga saat ini?"


Zelly menghentikan langkahnya, dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskan ya dengan berat.


" Kenapa?" tanya Mia begitu menyadari reaksi dari Zelly.


" Bukan dia yang membuatku begini, tapi aku sendiri yang memilih seperti ini. Aku juga gak tau kenapa, tapi aku benar-benar tak bisa melawan hatiku. Mungkin aku terlihat sangat bodoh dan gila. Tapi aku sendiri tak tau kenapa aku bisa mengambil keputusan seperti ini. Dia bukan cinta pertamaku, tapi aku tak pernah merasa jatuh cinta seperti ini. Aku sudah mencoba berkali-kali melepaskan diri dari perasaan ini, tapi entah kenapa aku tak bisa. Dua kali dia menikah dihadapanku, dua kali aku patah hati karenanya. Tapi dua kali juga aku melihat dia terpuruk dan kali ini yang terparah. Dan aku tak bisa untuk tak perduli padanya. Kami tak pernah dekat sejak aku mengenalnya hingga saat ini. Kedekatan kami dulu hanya sebagai atasan dan bawahan saja, dan itupun tak seperti antara atasan dan bawahan pada umumnya. Kami selalu bertengkar dan beradu mulut setiap hari. Seperti tak ada kecocokan di Antara kami. Tapi tanpa sadar aku telah terikat padanya, berkali-kali aku memungkiri jika aku telah jatuh hati padanya. Tapi sialnya, semakin aku pungkiri aku semakin terikat padanya. Dan parahnya lagi, hanya aku yang merasakan hal itu, sedangkan dia? Dia tak pernah merasakan sedikitpun perasaan yang aku miliki ini. Coba katakan padaku, apa yang harus aku lakukan Mia? Walaupun aku tau itu tak mungkin, tapi aku tetap tak bisa melepaskan ikatan hati ku ini darinya. Dia benar-benar berarti untuk ku." Zelly terduduk disalah satu anak tangga dengan wajah yang muram. Mia benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Dia tak menyangka jika sahabatnya itu bisa mencintai wanita hingga seperti ini.


" Jika saja yang mati itu aku, mungkin itu lebih baik.." keluh Zelly lemah.


" Zelly, jangan bicara sembarangan. Kalau kamu bicara begitu, berarti kamu gak bersyukur dengan kehidupan yang sudah Allah berikan untukmu. Aku rasa wanita yang kamu cintai itupun tak akan mau mendengar ucapanmu yang seperti ini. Aku mungkin tak mengerti apa yang membuatmu begitu mencintainya, tapi aku bisa memastikan jika diapun tak ingin kamu seperti ini. Aku percaya jika wanita yang bisa membuatmu seperti ini adalah wanita yang tak biasa. Karena hanya wanita yang hebat saja yang bisa menaklukkan laki-laki seperti kamu ini. Bahkan aku tak menduga jika wanita itu bukan hanya sekedar menaklukkan mu tapi menguasai hidupmu tanpa kamu sadari. Tapi yang ingin aku tanyakan adalah, sampai kapan kamu akan seperti ini? Kasihan orang tuamu Zell. Mereka sangat berharap agar kamu cepat menikah dan punya keturunan. Usiamu sudah tak muda lagi, teman-teman sebayamu sudah memiliki anak yang tak lama lagi akan menikah. Sedangkan kamu? Jangankan menikah, dekat dengan wanita saja tak ada. Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuamu saat ini."

__ADS_1


" Aku juga gak tau Mia, tapi yang aku tau sekarang adalah aku ingin dia pulih seperti semula dan itu sudah cukup untukku." Zelly mengatakannya dengan yakin, dan itu cukup mengejutkan bagi Mia. Dia benar-benar tak menyangka jika laki-laki yang terkenal cuek dan dingin pada wanita ini bisa seperti itu sekarang.


Manusia bisa berubah kapan saja, dan dia adalah bukti yang paling nyata sekarang.


__ADS_2