Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Jatuh sakit


__ADS_3

Seketika Nuraini ambruk dibawah kaki suaminya, bagai petir yang menyambar hatinya saat mendengar suaminya menjatuhkan talaq dihadapan semua keluarganya. Dia menangis sejadi-jadinya, dia tak perduli jika dirumah itu masih banyak tamu. Dia terus memohon pada Yusuf agar dia menarik kata-katanya. Namun Yusuf tak bergeming, dia telah membulatkan tekadnya untuk melepaskan istrinya itu secepatnya. Yusuf segera meninggalkan ruangan itu dan pergi meninggalkan rumah untuk menenangkan diri. Dia merasa sangat bersalah sekali pada Habibah, karna hari ini hari bahagianya api karena perbuatan istrinya telah menghancurkan semua itu. Dia melakukan mobilnya tanpa arah tujuan.


Sementara telah terdengar orang-orang mulai membicarakan tentang Yusuf yang menceraikan istrinya. Pak Rukmana yang menyadari akan hal itu segera mengakhiri acara yang seharusnya membahagiakan itu dan meminta para tamu untuk pulang. Berapa malu hatinya , dia tak pernah menyangka Nuraini akan berbuat sampai sejauh itu.


Habibah menangis tak henti-henti dalam diamnya. Purnomo hanya bisa mencoba menghiburnya semampunya agar Habibah tak semakin larut dalam kesedihan.


" Sayang.. Jangan menangis terus. Yakinlah kalau tak akan terjadi apapun pada Zain. Kita ambil wudhu yuk, kota salat hajat untuk keamanan Zain. Yakinlah Allah melindungi anak kita dengan aman se aman-amannya. Yuk.. Biar kamu juga bisa lebih tenang.. Ayo sayang.." Bisik Purnomo sambil memeluk Habibah penuh dengan kehangatan. Habibah merasakan sangat sejuk dalam hatinya mendengar perkataan Purnomo. Dan diapun menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Mereka mengambil wudhu dan melakukan shalat hajat bersama-sama, mereka meminta pada Allah agar menjaga Zain dengan sebaik-baiknya serta mengembalikannya kepada mereka dalam keadaan yang baik juga. Air mata Habibah tak bisa berhenti mengalir sepanjang doa dipanjatkan. Tapi hal itu membuat hatinya merasa semakin ringan dalam menghadapi masalah yang tengah dihadapinya.


* * *


" Kamu dimana?" tanya Qodir dari ujung telepon.


" Aku dirumah mama, ada apa?" Tanya Lina.


" Apa yang sudah kamu lakukan pada Zain? kembalikan dia pada ibunya sekarang." ucap Qodir tanpa berbasa-basi.


" kamu tau Zain bersamaku? Tapi maaf mas, aku gak akan kembalikan Zain pada mereka. Kita juga punya hak untuk merawatnya kan mas? Dia juga kan anakmu mas? Mereka gak punya hak untuk melarang kita melakukannya."


" Kamu jangan keterlaluan Lina, aku mungkin ayah kandungnya. Tapi aku sekarang tak merasa punya hak itu lagi. Semua yang dikatakan Habibah itu benar, Zain memang darah dagingku, tapi aku kehilangan hak sebagai seorang ayah karena kesalahanku sendiri. Sejak dia lahir hingga saat ini aku belum pernah menyentuhnya walau hanya sehelai rambutnya. Selama 4 tahun aku meninggalkannya tanpa pernah bertanya kabar dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah padanya. Biarkanlah dia bahagia Lina, jangan ganggu mereka lagi. Sekarang aku mohon padamu kembalikan Zain pada mereka." ucap Qodir lemah.


" Jadi kamu akan terima-terima saja dengan semua yang dikatakan oleh Habibah? Gak mas, aku akan lakukan apa saja agar Zain bisa bersama dengan kita. Aku akan bawa Zain ke orang pintar dikampungku agar dia melupakan mereka dan memilih hidup dengan kita. Supaya hidup kita juga gak sepi lagi kan mas? Siapa tau kalau Zain bersama kita, kita bisa punya anak kita sendiri nantinya." Lina bersikeras dengan keinginannya.


" Jangan Lina, aku gak setuju. A.. ah..aahh...!" tiba-tiba Susana menjadi hening.


" Mas, mas.. kamu kenapa mas.. mas jawab aku mas..! Mas...!" Lina sangat panik karena tiba-tiba Qodir berhenti bicara dan tak menjawab panggilannya. Lina segera membawa Zain untuk segera kembali kerumah Qodir.

__ADS_1


" Non Lina mau kemana? ibu dan bapak belum pulang kok non Lina sudah mau pergi lagi? Katanya mau nginap non?" tanya asisten rumah tangga orang tua Lina.


" Aku mau pulang bi, karna mas Qodir tiba-tiba kambuh sakitnya. Lain kali aja aku kesini lagi dan nginap." jawab Lina sambil meninggalkan kediaman orang tuanya. Sepanjang perjalanan kembali Lina merasa sangat gelisah, karena Qodir tak menjawab panggilan telponnya. Hingga untuk yang kesekian kalinya Lina menghubunginya baru ada yang menyambutnya. Tapi sayangnya bukan Qodir, melainkan orang lain yang menerimanya dan memberi kabar bahwa pemilik handphone sekarang sedang berada dirumah sakit dan masih tak sadarkan diri. Rasa lelah ditubuhnya tak lagi dirasakannya. Walupun dia baru saja sampai dirumah orang tuanya setelah perjalanan panjang selama 6 jam dan kini dia harus kembali lagi menempuh perjalanan yang sama. Untungnya Zain gak rewel dan menjadi anak yang patuh selama perjalanan. Sehingga tak menyulitkan bagi Lina.


Pukul 02.00 dini hari Lina baru sampai di rumah sakit tempat Qodir dirawat. Hanya ada teman kerja Qodir yang menemaninya disana.


" Bagaimana keadaannya?" tanya Lina sesampainya diruangan Qodir dirawat.


" " Dia baru saja melewati masa kritisnya. tapi dia masih belum sadar." jawab teman Qodir yang menjaganya.


" Apa yang sebenarnya terjadi sampai dia seperti ini?" tanya Lina lagi.


" Mag dan asam lambungnya kambuh secara bersamaan dan dia juga menderita gejala jantung. Dan tadi hasil tes lab menunjukan juga jika Qodir menderita penyakit diabetes. Dan yang menyebabkannya belum sadar hingga saat ini adalah diabetes nya. Dan semua penyebab semuanya ini bisa terjadi bersamaan adalah karena stres yang tinggi yang sudah masuk pada tahap depresi. Ini laporan labnya, tolong diperhatikan itu pesan dokternya. Sekarang saya permisi pulang dulu, insya Allah besok akan saya jenguk lagi kesini."


Maafkan aku mas, aku lupa dengan keadaanmu yang tak boleh stres. Bagaimana bisa gula darahmu sampai 450mg/dl? Ayo bangun mas, aku janji aku akan menuruti permintaanmu untuk tak mengganggu Habibah lagi. Tapi kamu harus bangun..!


Lina tak henti-hentinya menangis, dia benar-benar tak menyangka jika kenekatan yang dilakukannya akan berakibat seburuk ini. Zain hanya duduk memperhatikan Lina yang menangisi Qodir yang terbaring di hadapannya dengan bebrapa alat bantu terpasangl ditubuhnya. Alat monitor hemodinamik dan saturasi, terletak di dekat Qodir menambah kesedihan bagi Lina. Setiap kali alat itu berbunyi terasa pedih hati Lina seolah-olah suaminya akan pergi untuk selamanya.


Handphone Habibah berdering cukup keras hingga mengejutkannya yang tengah tertidur diatas sajadahnya. Purnomo tidur dikasur bersama Nur Laily putri semata wayangnya. Di lihatnya jam dinding yang menunjukan pukul 04.00 0agi.


Diraih ponselnya dan diterima panggilannya dengan bertanya dalam hati siapa yang menelponnya sepagi ini.


" Habibah... Tolong aku.. Aku gak mau dia pergi.. Habibah doakan suamiku agar dia cepat sadar.. Ampuni aku.. huhuhu.."


terdengar suara tangisan dari ujung telepon. Dia tak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh si penelpon itu.

__ADS_1


" Maaf ini siapa ya? Dan apa yang mba bicarakan, saya gak ngerti?" Habibah mencoba mengenali suara yang menelponnya itu.


" Aku Lina.. Aku mengaku salah, tapi tolong jangan hukum suamiku.. Ambilah anakmu dirumah sakit Bhakti. Aku ada disini bersama anakmu. Aku tak menginginkan anak lagi, aku hanya ingin suamiku..."


suara isak tangis Lina terdengar sangat pilu. Habibah sampai tak tega untuk mendengarnya.


" Baiklah, ba'da shalat subuh akan kami jemput."


" Berjanjilah kalau kamu mau memaafkan aku juga suamiku. Aku berjanji tak akan mengganggu kalian lagi..."


Tut..Tut..Tut..


Panggilan terputus, sepertinya Lina menutupnya tanpa permisi. Sementara Habibah masih seperti mimpi mendengar jika Zain dalam keadaan baik-baik saja dan dia diminta untuk menjemputnya.


" Mas...!" panggil Habibah pada Purnomo yang ternyata sudah bangun dan duduk disisi tempat tidurnya. Dia terbangun saat mendengar suara dering handphone Habibah berbunyi.


" Iya. Kita akan menjemputnya setelah shalat subuh. Sudah jangan menangis lagi. Kalau kamu seperti ini bisa-bisa kamu nanti sakit. Kan aku sudah bilang, Allah akan jaga anak kita dengan sebaik-baiknya."


Iya. Dia baik-baik saja.." ucap Habibah sambil tersenyum. Purnomo mengusap air mata Habibah yang membasahi pipinya dengan lembut. Dipegangnya kedua pipi Habibah dengan kedua tangannya yang hangat dan dikecupnya kening Habibah dengan khidmatnya. Dia benar-benar ingin memberitahukan pada Habibah jika dia adalah seorang suami yang akan memberikan perlindungan dan kehangatan dalam rumah tangganya. Dia ingin menunjukan bahwa Habibah kini tak sendiri lagi. Dan memang benar, Habibah merasakan kedamaian setiap kali Purnomo memeluk dan menciumnya seperti itu.


"Terima kasih mas.."


***


Rizki itu sudah ada takarannya masing-masing dari Tuhan, jadi jangan coba-coba mencuri rizkinya orang lain. Karena kalau itu dilakukan maka kita akan kehilangan lebih banyak dari yang kita curi.

__ADS_1


__ADS_2