Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Ramadhan


__ADS_3

Ayu dan Rani terlihat tak henti-hentinya menggosok telapak kaki dan tangan Ririn dengan minyak telon. Berharap Ririn cepat siuman. Sementara ibu Sofia duduk didekat Ririn sambil memangku Zain yang nampak kebingungan dengan apa yang telah dia saksikan. Habibah hanya bisa memperhatikannya dari pintu yang jadi pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga. Dia benar-benar merasa bingung dengan keadaan saat ini, sebab dia teringat dulu pernah mengatakan pada Ririn jika dia tak menyukai Purnomo dan tak akan bersama dengannya. Tapi pada kenyataannya, saat ini statusnya adalah sebagai calon istri dari Purnomo.


Apakah ini termasuk aku mengkhianati Ririn? Jika nanti dia mengenaliku, lalu apa yang harus aku katakan padanya? Ya Allah.. aku harus bagaimana ******sekarang******.?


Lima belas menit kemudian, Ririn akhirnya siuman juga. Ayu dan Rani yang menjaga Ririn akhirnya bisa bernafas lega, mereka sungguh khawatir dengan keadaan Ririn yang cukup lama tak sadarkan diri itu.


" Aahh.. akhirnya dia bangun juga. Bikin orang khawatir aja." celetuk Ayu sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


" Mba Ririn sebaiknya minum air putih dulu. Kali sudah merasa baikan baru mba Ririn pulang ya. Karena gak ada gunanya juga mba Ririn seperti sekarang. Karena aku yakin gak akan ada orang yang perduli." ucap Rani sambil menyerahkan segelas air putih pada Ririn.


" Aku tau.." jawab Ririn lemah.


" Aku tau kalian tak akan memaafkan aku semudah itu. Tapi setidaknya biarkan aku untuk bertemu dengan anakku. Aku benar-benar ingin melihatnya." mata Ririn mulai basah oleh air matanya. Dia benar ingin melihat anak yang selama ini dia abaikan.


" Kenapa baru sekarang mba ingat sama anak mba? Mba, anak mba sudah berumur berapa sekarang? Sudah Delapan tahun..! Lalu selama delapan tahun ini mba kemana saja? Apakah mba benar-benar ibu kandungnya yang sudah melahirkan dia?" sela Ayu ketus. dia benar-benar kesal pada Ririn.


" Iya .. Aku tau jika aku selama ini telah melakukan kesalahan yang sulit untuk di maafkan. Tapi aku benar-benar ingin bertemu dengan anakku." jawab Ririn semakin sendu.

__ADS_1


" Kalau begitu mba harus sabar menunggu kurang lebih satu bulan lagi. karena anak mba gak ada disini sekarang. Oke.. kalau mba sudah baikan sebaiknya mba pulang sekarang, karena kami masih banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan." ucap Ayu masih dengan nada ketusnya dan mengusir Ririn dengan halus.


Ririn pulang dengan langkah yang gontai. Jauh-jauh dia datang ke kampung halaman Purnomo tapi harus kembali dengan membawa rasa malu dan juga perasaan bersalah yang cukup dalam. Dia benar-benar tak menyangka jika sekarang Purnomo telah memiliki seorang disisinya dan bahkan telah memiliki seorang anak. Sedangkan dia, dia yang baru menyadari betapa bodohnya dirinya yang telah meninggalkan Purnomo yang lemah lembut walaupun terlihat dingin tapi tak pernah menyakitinya hanya demi mengejar kebahagiaan yang semu dari seorang lelaki yang terlihat hangat dan romantis tapi ternyata adalah seorang lelaki yang kasar dan ringan tangan.


Aku tinggalkan dia demi memilih seorang penipu. Dan dengan susah payah aku bisa terbebas darinya hanya berharap untuk bisa melihatmu dan anak kita. Tapi ternyata aku terlambat bahkan sangat terlambat. Kamu sudah punya seseorang yang bisa membuatmu benar-benar bahagia disisimu. Mas.. Jika kita bertemu lagi, apakah kamu memaafkan semua kesalahan yang sudah aku lakukan padamu? Apakah aku boleh memeluk anak kita dan meminta maaf padanya karena aku telah mengabaikannya selama ini?


Ririn terus merenungi kesalahannya yang telah dia lakukan sepanjang perjalanannya kembali kerumahnya. Kakaknya sangat terheran-heran melihat adiknya pulang dengan keadaan yang lunglai seperti itu.


" Kamu kenapa Rin?" tanyanya begitu Ririn masuk kedalam rumah. Namun Ririn hanya berlalu melewati dirinya tanpa memperdulikannya seolah dia tak melihat dan mendengar pertanyaan yang diajukan oleh kakaknya.


Sementara dirumah Purnomo, ibu Sofia sedang sibuk mempersiapkan beberapa menu masakan untuk acara Munggahan untuk menyambut hari pertama di bulan Ramadhan. Dan Habibah dibantu oleh dua orang saudara ipar dari Purnomo membuat beberapa jenis kue tradisional. Kesibukan yang mereka lakukan sungguh bisa melupakan kejadian dipagi hari tadi. Seorangpun tak ada yang membahas dan menyinggung soal kedatangan Ririn pagi itu. Semua seolah-olah tak pernah terjadi.


Hari-hari mereka lalui layaknya sebuah keluarga besar, setiap hari mereka saling mengirimkan makanan untuk sahur atau berbuka. Bahkan mereka sering melakukan buka puasa bersama baik itu dilakukan di kediaman keluarga Habibah atau sebaliknya dikediaman keluarga Purnomo. Saudara-saudara ipar Purnomo yang awalnya tak menyukai keberadaan Habibah, lambat laun mulai bisa menerimanya. Mereka tak bisa terus menolak kenyataan jika memang Habibah jauh lebih baik dari pada mereka dalam banyak hal. Tak ada alasan bagi mereka untuk terus menolak dan iri atas perlakuan mertua mereka pada Habibah yang terlihat lebih istimewa. Karena mereka sendiri perlahan-lahan mulai mengakui jika Habibah memanglah wanita yang istimewa. Dan mereka tak bisa bahkan tak akan pernah bisa seperti Habibah.


Pagi itu seperti biasanya, Habibah mempersiapkan bahan-bahan yang akan dia gunakan untuk membuat kue dan takjil. Habibah membuat lapak kecil didepan rumahnya, karena sedang bulan Ramadhan maka dia hanya membuka lapaknya disore hari setiap ba'da ashar. Dia dibantu oleh ibunya atau kadang juga oleh adiknya Dona. Yang sudah merasakan hasil buatan Habibah bahkan bisa memesannya secara online, dan ada seorang tetangga Habibah yang menjadi kurir tetapnya. Bulan Ramadhan kali ini memang membawa berkah tersendiri bagi Habibah dan orang disekitar Habibah. Ada juga yang memesannya untuk dijual kembali dan biasnya daerah nya yang agak berjauhan dengan tempat tinggal Habibah. Pelanggan tetap Habibah naik secara drastis dibulan Ramadhan. Bahkan banyak yang memesan dibuatkan untuk hari raya dari jauh-jauh hari. Yang mau tak mau habibah harus mencari tenaga lain untuk membantunya dalam memenuhi pesanan-pesanan itu. Selain ibu dan adiknya, dia juga merekrut beberapa orang tetangganya untuk membantunya.


Hari-hari menjelang hari raya menjadikan Habibah sangat sibuk, namun dia tak pernah melupakan janjinya untuk melakukan panggilan video call nya dengan Nur kecilnya.

__ADS_1


" Halo sayang.. Bagaimana puasa hari ini? Masih semangat kan ya?" sapa Habibah pada Nur yang sebelumnya mengucapkan salam terlebih dahulu. Walau begitu tangan Habibah tak berhenti beraktivitas.


" Masih semangat dong.. Tadi papa masakan omelette kesukaanku. Jadi tentu saja semangat puasaku gak kurang. Oh iya, Mama.. Apa yang mama buat hari ini? Mama kenapa sibuk banget sekarang? Apa mama gak capek?" tanya Nur prihatin melihat Habibah yang terlihat sangat sibuk.


" Gak kok sayang.. Kan banyak yang bantu, coba lihat banyak yang bantu kan?" ucap Habibah sambil mengarahkan kamera handphone nya pada orang-orang yang sedang bekerja membantunya.


" Nanti kalau mama sudah nikah sama papa, mama gak usah capek-capek lagi cari uang ya?" mata kecil milik Nur berkaca-kaca karena mengira Habibah kesusahan dalam hal keuangan.


" Hehehe.. Kenapa harus nangis? Mama suka pekerjaan ini, supaya mama bisa bantu banyak orang nantinya. Dan bisa belikan apapun yang diinginkan oleh anak-anak mama. Selain itu, mama ingin punya rumah sendiri nanti, jadi harus nabung dari sekarang kan sayang? Dan kita bisa buat rumah sama-sama, jadi kita cepat punya rumahnya." Habibah mencoba menghibur Nur dengan hal yang masuk akal dan bisa diterima oleh otak kecilnya.


" Oke.. Mati aku juga mau nabung yang banyak buat bantu mama buat rumah untuk kita." Ucap Nur penuh semangat. Habibah dan orang yang ada bersamanya hanya bisa tersenyum mendengar perkataan dari gadis kecil itu.


***


Menabung itu pangkal kaya, tapi juga gak boleh pelit.


jadi jangan pelit untuk kasih like, komen dan juga votenya ya 🤭🤭

__ADS_1


Terima kasih 🥰🥰🙏


__ADS_2