Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kabar duka


__ADS_3

Benci..?


Sepertinya bukan benci yang dulu dirasakan oleh Habibah pada Zelly, melainkan hanya perasaan tak suka saja. Tak suka bukan berarti benci kan?


Hari demi hari terasa berlalu dengan sangat lama di rasakan oleh Zelly dan juga Habibah. Sejak Zelly tak pernah ada kabar dalam beberapa hari ini, hati Habibah mulai merasa gelisah. Ada rasa khawatir tumbuh dalam hatinya, bahkan timbul beberapa pertanyaan dalam benaknya.


Apakah dia berubah fikiran?


Apakah dia dalam masalah sampai tak sempat memberi kabar?


Apakah dia baik-baik saja, dia gak lagi sakit?


Dan beberapa pertanyaan lain yang sama sekali ga bisa dia jawab.


Sedangkan Zelly semakin merasa tak karu-karuan menahan betapa rindunya dia pada calon istrinya itu. Dia jadi sering melampiaskan kekesalannya pada Zacky yang menjadi asistennya.


Kalau rindu ya tinggal datangi kerumahnya atau telepon orangnya kan bisa, kenapa harus uring-uringan begini sih bos?


Maka aku lagi yang jadi sasarannya, apa-apa salah dan salah.


Kalau gak ingat dia itu bos ku sudah aku ceramahin dia. Sayangnya dia juga bosbku, takutnya dia jadi kalap, nanti malah dia mecat aku kan bisa gawatπŸ˜”πŸ˜”.


Seperti itulah gerutuan dari Zacky setiap kali Zelly melampiaskan kekesalannya pada Zacky hanya karena rindu yang tak tersampaikan πŸ˜‚πŸ˜‚.


πŸ€πŸ€πŸ€


Tiga hari lagi, hari pernikahan Habibah akan berlangsung. Di rumah Habibah sudah ramai dengan ibu-ibu yang bantu-bantu ( rewang kata orang Jawa 😁). Ada pun bapak-bapak yang memasang tenda di pelataran rumah nya yang memang cukup luas.


Drtt.. Drtt.. Drtt...


Terdengar getaran handphone diatas meja makan di dapur, yang samar-samar terdengar oleh beberapa orang ibu-ibu yang sedang bekerja didapur itu sambil ngobrol kesana-kemari.


Getaran handphone Habibah terdengar hingga beberapa kali, sampai ada seorang ibu-ibu yang bersuara.


" Mba Habibah, itu ponselnya dari tadi nggeter-nggeter.. Ada yang nelpon kayaknya.." ucap si ibu pada Habibah yang sedang asyik dengan sayuran yang sedang dipotong-potong nya.


" Oh, iya Bu.. Terima kasih." jawab Habibah sambil beranjak dari tempat duduknya dan meraih ponselnya.


" Assalamu'alaykum.." ucap Habibah begitu benda pipih itu di letakkan di sisi telinganya.


" Wa'alaykumussalam.. Habibah,. ini aku Rina .. Aku cuma mau mengabarkan kalau mama meninggal subuh tadi. Mama meninggal di rumah, jadi pagi ini sekitar jam 10 nanti di makam kan nya. Kalau bisa kamu datang ya.." terdengar sebuah suara dari ujung telepon sambil terisak-isak.

__ADS_1


" Innalilahi wa Inna ilaihi Rooji'un..! Mama kenapa kak, apa mama sakit? Kenapa gak ada yang kasih kabar sama Bibah? Dimana mas Qodir? " tak sadar Habibah berbicara dengan setengah berteriak.


" Iya, mama sakit. Sudah dua tahun ini mama sakit. Mama sering tanya kamu kapan datang, karena mama ingin sekali bertemu denganmu. Setelah dengar suami mu meninggal dulu, mama mulai murung. Kita juga gak ada yang tau apa penyebab mama berubah jadi pemurung begitu. Tapi kita sih mikirnya kalau mama itu kepikiran sama kamu terus, mangkanya mama sampai sakit begitu.


Aku udah pernah coba telepon ke no kamu ini, cuma katanya juga dalam ke adaan yang juga sama gak baik. Katanya waktu itu kami juga baru saja kecelakaan dan kehilangan bayimu, jadi kami gak bisa ganggu kamu dengan kabar sakitnya mama.


Tapi asal kamu tau, seminggu sebelum mama meninggal. Dia selalu bilang kalau kamu dan juga anak kamu akan datang. Sampai setiap hari mama selalu duduk di teras rumah dari pagi sampai Dzuhur cuma untuk nunggu kamu aja,. bahkan setelah shalat ashar sampai menjelang Maghrib pun begitu.


Aku kadang sampai gak percaya kalau mama bisa sampai lupa, kalau kamu dan Qodir sudah bercerai. Sebab setiap ada yang lewat depan rumah dan bertanya pada mama kalau mama sedang apa duduk di teras rumah selama itu, kamu tau apa jawab mama? Mama bilang... Aku lagi nunggu anakku, anak sama cucuku mau pulang. Mangkanya aku nunggu disini, sebentar lagi mereka datang..


Tapi sayangnya, sampai mama meninggal ke inginannya untuk bertemu kamu dan anakmu gak kesampaian.. Jadi, bisakah kamu datang Bibah..?"


" Tapi kak...." Habibah tak bisa menyelesaikan kalimat yang ingin dia ucapkan. tiga hari lagi dia akan menikah, Tapi sekarang ibu mertuanya meninggal. Habibah benar-benar tak tau harus berbuat apa. Bahkan saat ini habibah sudah tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya sendiri setelah mendengar perkataan dari kakak iparnya tadi. Sekarang Habibah tengah terduduk di pojok meja tempat tadi dia meletakkan ponselnya.


Semua yang ada di dapur seketika itu juga menjadi hening. Mereka memang tak mendengar jelas apa yang di katakan oleh orang yang ada di ujung lain dari sambungan seluler tadi, tapi mereka tau apa yang sedang Habibah dan si penelepon itu bicarakan saat ini.


Habibah hanya bisa menangis tanpa suara, tubuhnya seketika lemas bagai tak ada tenaga tersisa dalam tubuhnya. Bahkan hanya untuk terus menggenggam ponsel pun dia sudah tak mampu, sebab ponsel itu kini sudah tergeletak manis di samping tubuhnya meski orang yang ada di ujung telepon itu masih belum mengakhiri panggilannya Bakan masih terdengar berbicara.


" Kamu ngapain duduk disitu Bibah?" tanya kakakny Nia. Bahkan Nia heran melihat dapur menjadi hening sekarang.


Semua orang yang ada di dapur hanya bisa saling pandang satu sama lain begitu mendengar pertanyaan itu.


Sementara Habibah masih diam dengan air mata yang masih terus mengalir membasahi kedua pipinya yang tembem.


" Mama sudah pergi kak, mama sudah pergi...😭😭😭" sahut Habibah masih dengan tnangisannya yang kini mulai bersuara.


" Mama pergi? Pergi kemana? Mama gak kemana-mana Bibah, mama ada di depan..." Nia terlihat bingung dengan perkataan adiknya itu.


" Mama Masurai sudah pergi, mama Masurai kak.." tapi Nia masih tak memahami maksud dari perkataan Habibah.


" Maksudnya meninggal mba Nia.." salah seorang tetangganya yang ada di dapur itu menimpali.


" Meninggal..? Kapan?" Nia terkejut mendengarnya.


" Tadi subuh kak.. "


" Ya sudah, ayo kita ke kamar kamu dulu. Jangan njogrog di pojokan gitu.. Ayo bangun.." kata Nia sambil meraih lengan adiknya agar bangun dari tempat duduknya.


__________


" Gak bisa Bibah, kita ga bisa kesana sekarang. Kalaupun kita sekarang kesana, kita tetap gak akan sempat menyaksikan pemakaman. Dari sini ke sana itu perlu waktu 4 jam lho bukan 4 menit.. Nanti aja hari ke tujuh nya kita kesana, Kalau sekarang kita pergi bagaimana dengan pernikahan kamu? Masa mau di tunda? Kamu lihat sendiri tetangga kita sudah mulai mengerjakan persiapan pernikahan kamu. Jangan buat keluarga kita jadi bahan gunjingan orang dong sayang.." ibu Sumarni menasehatinya anaknya agar menunda keinginannya untuk pergi ke pemakaman ibu mertuanya.

__ADS_1


Habibah hanya diam mendengar nasehat dari ibunya itu, tapi wajah kesedihannya begitu terlihat jelas di wajahnya. Bahkan bukan hanya kesedihan yang terlukis diwajahnya, tapi juga rasa bersalah yang dalam juga terpampang jelas di sana.


*Mama..


Maafkan Bibah ma..


Bibah gak ada di waktu mama butuhkan Bibah.


Bibah gak ada disaat hari-hari terakhir mama.


Mama...


Maafkan Bibah yang sudah melupakan mama.


Seandainya Bibah mengingat dan menelpon mama lebih awal, mungkin kita masih bisa bertemu .


Dan Bibah juga tau kalau mama lagi sakit..


Tapi ..


Sayangnya Bibah lupa sama mama..


Mangkanya Bibah gak pernah telepon mama sejak Bibah sembuh waktu itu.


padahal mama begitu perduli pada Bibah.


Mama...


Maafkan Bibah ma..😭😭😭*.


Habibah sungguh tak menyangka jika dia harus menerima kabar di saat-saat seperti ini bukan hanya kabar sederhana yang dia terima, melainkan kabar duka dari orang yang sangat penting untuk nya.


" Assalamu'alaykum..." terdengar sebuah suara asing di ambang pintu kamar Habibah.


***


Hai, Hai, hai...


Udah lama ya gak ngingetin untuk klik like dan komennya . Juga Jagan lupa vote nya juga ya teman-teman πŸ₯°


Biar author lebih semangat lagi untuk UP episode selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih πŸ₯°πŸ™


__ADS_2