
Disisi lain Lina masih kebingungan untuk melakukan apa pada anak kecil seperti Zain. Dia membawa pulang kerumah orang tuanya dikampung halamannya. Jarak rumah orag tuanya dengan rumah kediaman keluarga Habibah itu lumayan jauh, sekitar 6 jam perjalanan darat. Zain sudah sadarkan diri sejak tadi, tapi dia masih tampak bingung karena dia bersama dengan Lina. Zain berkali-kali menanyakan ibunya dan yang lainnya, namun Lina beralasan jika mereka akan pergi jalan-jalan.
" Tante.. Kita mau kemana? Uma Zain mana? " pertanyaan itu terus berulang kali ditanyakan oleh Zain.
" Uma kamu lagi sibuk." jawab Lina singkat.
" Kalau papa?"
" Sama sibuk juga."
" Kakak Lili?"
" Lagi main."
" Eyang?"
" Sudah ya Zain."
" Kalau nenek?"
" Kamu bisa diam gak sih Zain? Tanya-tanya terus dari tadi. Yang jelas sekarang kita akan pergi kerumah nenek dan kakek Zain yang lain." Lina mulai kehilangan kesabarannya. Zain terlihat ketakutan dan menundukan wajahnya.
Sementara Yusuf yang merasa sangat marah pada Nuraini istrinya kembali ke kamar adiknya dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Nuraini.
" Apa maksudnya ini? Dia menyerahkan Zain pada orang lain? Siapa? Siapa suf..!?" ibu Sumarni dan yang lainnya sangat panik mendengar perkataan dari Yusuf tadi.
" Aku rasa aku faham apa yang di maksud mba Aini, kalau dia bilang Zain bukan hanya milik Nur seorang maka orang lainnya tentulah ayahnya. Mungkin dia menyerahkan Zain pada ayahnya. Karena tak ada orang lain yang lebih berhak selain ibunya dan ayahnya. Iya kan?" Purnomo berusaha berfikir dengan tenang dalam menghadapi akan hilangnya Zain.
" Kamu benar.. Aku akan menelpon Qodir dan menanyakannya." ibu Masurai menimpali perkataan Purnomo dan segera menghubungi anaknya yang sudah lama tak dihiraukannya itu. Namun ibu Masurai hanya terpaku saja saat telponnya telah tersambung.
" Halo ma, apa ini mama?" tanya Qodir berulangkali saat mengetahui nomor yang menghubunginya itu adalah nomor ibunya. Dia tak menyangka jika ibunya akan menelponnya lebih dulu tapi dia bingung karena ternyata ibunya belum mengatakan sepatah katapun setelah tersambung beberapa saat
" Bu.. Ada apa?" tanya Purnomo menyadarkan ibu Masurai.
" Gak ada apa-apa, kamu saja yang bicara, aku mau ketoilet dulu." ibu Masurai menyerahkan handphone nya pada Purnomo lalu pergi keluar kamar.
__ADS_1
" Halo.." sapa Purnomo.
" Kamu siapa?"
" Saya Purnomo suaminya nur Habibah, Saya mau tanya apakah Zain ada bersama mas Qodir?" tanyanya sopan.
" Zain? Bagaimana bisa Zain ada bersamaku? Bukankah Zain bersama kalian?"
" Baiklah, boleh saya tau dimana mas Qodir dan istri mas sekarang?" tanyanya lagi.
" Aku dirumah.. Tapi istriku masih belum kembali sejak pagi. Ada apa sebenarnya ini? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Zain?"
" Iya, Zain hilang. Dan dari apa yang disampaikan oleh orang yang berkaitan dengan masalah ini kemungkinan besarnya adalah Zain bersama kalian."
"Zain bersama kami? Siapa yang mengatakan hal konyol itu? Bisakah aku bicara dengan orang yang kamu maksud itu?"
" Baik, tunggu sebentar." Purnomo memandang Yusuf dan menyerahkan handphone itu padanya.
" Dia ingin bicara dengan mba Aini." Yusuf segera menerimanya dan bergegas kembali kekamarnya.
" Halo.."
"Siapa ini?"
" Aku Nuraini istrinya mas Yusuf."
" Oh mbak Aini. Apakah mba yang bilang kalau Zain sekarang bersamaku? "
" Kenapa? Apakah aku salah? Bukankah istrimu sudah membawanya sejak siang tadi? Kamu jangan akting ya, Aku sudah bantu kalian untuk bisa mendapatkan anakmu lalu sekarang kamu mau akting tak berdosa?"
" Lina? Lina belum kembali sampai sekarang, astaghfirullah hal'adziim.. Apa yang sudah kalian lakukan padanya? Dia hanya anak kecil, bagaimana bisa mbak melakukan itu mbak?"
Tut..Tut..Tut..
Panggilan terputus dan kini Nuraini baru menyadari jika didalam ruang kamarnya itu ada banyak pasang mata yang menatapnya tajam. Seolah mata-mata itu siap menelannya hidup-hidup.
__ADS_1
Emosi Yusuf benar-benar sudah tak terkontrol. Satu tamparan yang keras mendarat dipipi istrinya hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah. Jika saja tak ada yang menahannya, mungkin lebih dari satu tamparan yang akan diterimanya dari Yusuf.
" Sabar suf, jangan pakai kekerasan. Kekerasan tak akan menyelesaikan masalah. Malu sama orang, ingatlah.. ini hari penting adikmu." ibu Sumarni mencoba menenangkan Yusuf.
" Bagaimana bisa kamu berbuat sampai serendah ini hah..! Kurang sabar bagaimana aku ini menghadapimu? Dia itu hanya anak kecil yang tak tau apa-apa. Dia itu keponakanmu juga..."
" Dia bukan keponakanku tapi keponakanmu. Dia gak ada hubungan apapun denganku..."
Plak..
" Keterlaluan itu ada batasnya Aini..! Tapi apa yang kamu lakukan dan katakan benar-benar sudah diluar batas." amarah ibu Sumarni akhirnya meledak juga.
" Yang ada Dimata kalian hanya Habibah dan Habibah saja. Tapi pernahkah kalian melihatku? Kenapa harus dia yang selalu bersinar dirumah ini? Kalian tak pernah menganggap ku.."
" Benarkah? Kamu ingin membandingkan dirimu dengan Habibah? Kamu pernah fikirkan atau tidak antara dirimu dan dia? Salah satunya, pernahkah dia membalas apapun yang kamu lakukan padanya? Pernahkah dia melakukan hal buruk padamu? Hanya masa lalu Yusuf dan Hani yang membuat kamu jadi gila seperti ini. Tapi apa hubungannya dengan Habibah?" ibu Sumarni belum bisa memahami apa masalah menantunya yang sebenarnya.
" Apa salahnya? Karena mas Yusuf masih berhubungan dengan wanita murahan itu melalui dia..'
" Cukup..! Sudah cukup keributan dan masalah yang kamu buat Aini, dan sekarang untuk kamu Yusuf. Kamu masih mau pada wanita ular seperti ini itu silahkan, tapi sebaiknya kalian pergi dari rumah ini dan Jangan pernah kembali. Dan kalau sampai Zain gak kembali dan terjadi sesuatu padanya, jangan salahkan aku yang akan lupakan status antara kita. Aku sudah cukup sabar selama ini menyaksikan ulah istrimu ini. Semua pilihan ada di tanganmu." ibu Sumarni meninggalkan kamar itu dan diikuti oleh yang lainnya juga. Ibunya telah memberi pilihan pada Yusuf agar memilih antara istrinya dan keluarganya. Dan tentu dia akan memilih keluarganya, walaupun dia menyayangi istrinya tapi dia tak ingin kehilangan keluarganya.
" Apa kamu mau membuang ku sekarang mas? Apa hanya seperti ini posisiku dalam hatimu dan keluargamu? Aku melakukan ini semua karena aku juga ingin kalian melihat keberadaan ku disini. Aku juga ingin kalian perlakukan aku seperti kalian perlakukan Habibah. Dia selalu mendapatkan segalanya, tapi aku?" Nuraini mulai menangis, dia ingin meluluhkan hati suaminya lagi. Tapi sayangnya Yusuf pun sudah merasa lelah menghadapi sikap istrinya itu.
" ikut aku.." Yusuf membawa istrinya menemui keluarganya didalam kamar Habibah yang kebetulan sudah siuman. Yusuf meminta semua keluarganya berkumpul di ruangan itu karena dia ingin mengumumkan sesuatu. Mulai dari kedua orang tuanya sampai adik dan ipar juga mertua Habibah semua ada.
Aku yakin mas Yusuf gak akan meninggalkan aku. Aku tau mas Yusuf sangat sayang padaku jadi tentu dia akan mempertahankan aku.
Nuraini sangat yakin jika dia sudah bisa meluluhkan hati suaminya.
" Maafkan aku, aku meminta semuanya hadir diruangan ini untuk mengumumkan sesuatu. Dan terkhusus pada mama dan papa juga pada Habibah, aku benar-benar minta maaf pada kalian. Mungkin karena ketidakberdayaan aku yang membuat kalian Seung terluka dan tersakiti. Tapi emo Allah aku tak pernah mengharapkannya. Dan aku juga minta maaf jika hari bahagiamu hancur hanya karna kesalahanku ini. Karena itulah hari ini aku akan mengumumkan bahwa aku Yusuf Rukmana Putra mentalaq istriku Nuraini . Aku berharap kami bisa saling instrospeksi diri atas kesalahan-kesalahan kami. Dan aku berjanji akan membawa Zain pulang kerumah ini lagi." Yusuf mengatakan semuanya dengan penuh keyakinan. Dia sudah bertekad untuk melepaskan istrinya itu,dia tak mau jika keluarganya semakin tersakiti jika dia terus mempertahankannya.
***
cemburu itu sewajarnya, jangan sampai cemburu itu menguasai hati dan pikiranmu.
Jangan lupa terus dukung author dengan jempol, komen dan juga votenya ya.. terima kasih 🥰🥰🙏
__ADS_1