Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
keputusan Qodir


__ADS_3

Setelah kepergian kedua orang tua Qodir dari rumah Habibah, suasana didalam rumah itu menjadi terasa sangat canggung. Muti'ah yang paling merasakan kecanggungan itu, sebab dia merasa sebagai orang luar yang terpaksa menyaksikan kejadian yang memalukan itu. Sementara Habibah hanya bisa terduduk dilantai tepat didepan pintu rumahnya. Seolah kekuatan tubuhnya seketika itu juga lenyap dari seluruh bagian tubuhnya. Dia benar-benar tak menyangka jika pembicaraannya didengar oleh ibu mertuanya. Ya Allah.. ujian apa yang sebenarnya sedang Kau ujikan pada hambamu ini.. Apa yang harus aku lakukan sekarang ini ya Allah.. apa yang harus aku sampaikan pada keluargaku nanti? Bantu aku ya Allah.. tambahkan lagi kekuatan sabar dalam hatiku ini.. lembutkan lagi hatiku dan juga perangaiku.. agar aku bisa tegar menghadapi semua ujian ini..


Muti'ah yang melihat Habibah masih berada ditempatnya terduduk tadi,. segera menghampiri dan membawanya kembali ke dalam kamarnya. Muti'ah hanya membawanya sampai kedepan pintu kamarnya, namun dia meminta agar Habibah segera masuk ke dalam kamarnya. Sementara dia sendiri bergegas pulang kerumahnya yang jaraknya hanya sekitar sepuluh meter saja dari rumah Habibah. Sementara Lina ditinggalkan sendirian diruang tamu tanpa ada yang menemaninya. Benar-benar terabaikan, dan itu membuatnya merasa sangat kesal. Namun dia pun enggan untuk meninggalkan rumah itu.


" Mulai besok, aku akan pindah dari sini. Mungkin kita perlu waktu untuk memikirkan masalah ini dengan tenang. Maafkan aku kalau aku sudah menyakiti hatimu. Sungguh aku tak bermaksud untuk begitu, tapi aku juga tak mampu untuk terus membohongi hatiku sendiri. Jadi maafkan aku.." Qodir memecah kesunyian yang mencekam di kamar itu. Habibah hanya diam tak menanggapi. Qodirpun segera pergi meninggalkan Habibah dikamar itu sendiri. Dan saat keluar dari kamar, dia baru menyadari keberadaan Lina dirumah itu. Dia baru ingat bahwa dia membawa serta Lina saat dia pulang pagi tadi. Lina yang melihat Qodir keluar dari kamarnya mencoba tersenyum semanis mungkin, dia berusaha menenangkan hati Qodir yang sedang kalut melalui senyumannya. Qodirpun membalas senyumannya itu meski dengan senyuman patah. Entah apa yang ada dalam benaknya saat itu. Dia belum bisa berfikir jernih tentang istrinya atau gadis yang dia cintai yang saat itu tepat berada dihadapannya.


Lina bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Qodir yang tertunduk lesu di kursinya. Tak ada percakapan sepatah katapun yang di ucapkan, bibirnya seakan terkunci rapat hanya menyisakan kegalauan diwajahnya. Lina meraih tangan Qodir dan menggenggamnya dengan erat seolah ingin memberi kekuatan pada Qodir yang saat itu tampak begitu lemah. Qodir hanya diam menerima perlakuan dari Lina, dia masih memikirkan kedua orang tuanya yang mendadak kembali pulang padahal baru beberapa jam berada di rumahnya. Dia merasa sangat bersalah akan hal itu. Apakah membawa Lina pulang adalah kesalahan yang tak termaafkan? Mungkin seharusnya aku tak melakukan semua ini, mungkin seharusnya aku bisa lebih menahan diri lagi. Bagaimana bisa aku melupakan semuanya? Qodir menggerutu dalam hati.


Sementara itu Habibah duduk termenung dikursi yang berada di dekat jendela kamarnya. Dia memikirkan bagaimana perasaan kedua orang mertuanya saat itu. Apa yang harus dia jelaskan pada kedua orang tuanya nanti jika mengetahui keputusannya untuk mengajukan gugatan cerainya pada Qodir. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya setelah dia bercerai nanti. Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi fikirannya. Dipandanginya wajah bayi laki-laki yang baru dilahirkannya sepuluh hari yang lalu itu dengan pandangan mata yang berkabut. Dia tersenyum pahit menatap kepolosan wajah malaikat kecilnya itu. Senyum kepedihan dan kebahagiaan menjadi satu menghiasi wajahnya yang muram. Disentuhnya pipi lembut milik putranya yang memang tampan itu dengan bisikan lembut mengiringi setiap usapan dari jari Habibah. Sayang.. jadilah anak umi yang Sholeh.. yang pintar.. yang cerdas.. yang baik dan lembut hati.. yang banyak rizki.. semoga kelak jadi seorang hafidz dan alim.. umi akan berusaha untuk mendidikmu dengan kemampuan yang umi miliki. Maafkan umi, jika umi bukan seorang ibu yang luar biasa dan hebat untukmu. Maafkan juga jika kelak umi tak mampu memberikan kehidupan yang layak dan tak bisa memenuhi semua harapanmu. Tapi umi berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik untuk masa depanmu..

__ADS_1


Hatinya terasa perih menyadari semua hal yang terjadi saat ini. Dia tak pernah menduga jika hal buruk ini akan datang secepat itu menghampiri kehidupannya. Tadinya dia berharap bisa menyembunyikan semua itu dari mertua dan orang tuanya. Tapi ternyata Tuhan memiliki rencananya sendiri. Bahkan dia tak menyangka sama sekali jika ternyata suaminya tak berusaha membela diri atau berusaha menutupi hal itu malah justru mengakuinya dengan tidak langsung pada kedua orang tuanya jika dia menjalin kasih dengan Lina. Malah semakin menegaskannya dengan kata maaf yang dia ucapkan pada mereka meski dia tau jika ucapannya itu akan sangat melukai hati kedua orang tuanya. Dia benar-benar tak perduli akan hal itu. Ah.. mas Qodir kenapa harus secepat ini sih mas..? Apa yang sekarang difikirkan oleh orang tua kamu mas? Kenapa kamu gak buat pembelaan diri untuk menutupi semua itu? Kenapa kamu malah membenarkannya dengan kata maafmu.. Apa yang harus aku lakukan sekarang mas? Rasanya aku sudah tak bisa berhadapan dengan mereka, karena keadaan ini bisa terjadi karena salah satu kesalahanku juga, aku telah gagal menjadi istri yang baik untuk kamu.


Malam itu, Qodir tidur di salah satu kursi tamu panjang yang ada diruang tamu. Sementara Lina tidur dikamar tamu, karena kebetulan rumah kontrakan Habibah memiliki dua kamar tidur. Dan biasanya salah satu kamarnya dijadikan sebagai kamar tamu. Habibah yang melihat suaminya tidur dikursi tamu seperti itu segera menghampirinya.


" Mas, bangun.. Jangan tidur disini, nanti badanmu sakit. Masuklah kekamar." kata Habibah lembut sembari menepuk lembut pundak suaminya.


Qodirpun terbangun dari tidurnya, dan ditatap wajah istrinya yang masih berada disampingnya.


Habibah bukannya masuk kembali ke kamarnya seperti yang diminta suaminya. Dia malah duduk disalah satu kursi terdekat dengan kursi yang sedang digunakan Qodir tidur.

__ADS_1


"Mas, saya gak minta apapun dari mas. Saya hanya ingin kamu jaga Marwah saya sebagai istrimu. Saat ini dirumah ini bukan hanya ada kita berdua, tapi ada orang lain juga. Saya tau kamu gak bisa menerima keberadaan saya dalam hidup juga hati kamu. Tapi setidaknya kamu jaga Marwah saya walaupun itu dihadapan orang yang kamu cintai. Dengan kamu tidur disini apakah masalah kita akan selesai? Tidak mas, justru akan menambah masalah baru terutama buat saya. Dimata orang lain saya hanya sebagai istri yang tak diharapkan. Saya hanya ingin meskipun kita nanti harus berpisah, tapi jangan biarkan orang lain memberi nilai buruk pada hubungan kita. Saya khawatir itu akan mempengaruhi pada psikologi anak kita disuatu hari nanti. Saya meminta kamu tidur dikamarnu bukan agar kita tak berpisah. Melainkan saya tak mau kamu sampai sakit karena tidur disini. Selain itu saya mengharap kamu mau membantu saya untuk menjaga Marwah saya sebagai istrimu. Tapi saya tak akan memaksamu, kalau kamu masih bersikeras untuk tidur di sini tak apa." kata Habibah sambil berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Qodir sendiri yang masih terpaku setelah mendengar ucapan dari istrinya. Apa aku telah melakukan hal yang keterlaluan. Kenapa rasanya aku jadi orang yang kejam dan tak berperasaan begini sih. Ah... Sialan..


Ini niech yang namanya lina



Dan ini Qodir..


__ADS_1


***


racun pelakor itu lebih berbahaya dari pada bisa ular paling berbisa sedunia🤭🤭


__ADS_2