Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
jadi Mak comblang Ricky


__ADS_3

Setelah Habibah kembali, semua aktivitas nya kembali seperti semula. Kesibukannya kini dia tambah lagi dengan menjahit. Walaupun semua hanya berawal dari hobinya menjahit, dan itupun dia pelajari secara otodidak saat dulu dia bekerja sebagai baby sitter. Disetiap waktu luangnya dia selalu menyempatkan diri untuk membuatkan pakaian untuk baby Bisma, atau sekedar membuat pakaian hari-hari untuk dirinya sendiri. Dan terkadang diapun dimintai tolong oleh Anton atau Annisa untuk menjahitkan pakaian mereka yang robek, atau hanya sekedar untuk mengecilkan pakaian saja. Tapi dia sangat senang melakukannya.


Dan kini urusan membuat kue dia sudah resmi memiliki karyawan tetap dua orang dan satu orang lagi sebagai jasa kurir. Jadi Habibah lebih banyak waktu untuk mengembangkan bakat menjahitnya. Yang pertama-tama dia buat adalah baju-baju gamis untuk hari-hari. Selain modelnya lebih simpel juga tak butuh waktu lama untuk menjahitnya. Dan Muti'ah tetaplah bagai asisten pribadi. Anak Muti'ah juga setiap hari bermain dirumah Habibah. Hafidz dan Bilal. Hafidz berusia 4 tahun dan Bilal berusia 2 tahun. Habibah sudah menganggap mereka seperti anak sendiri. Jika Zain memiliki mainan, maka merekapun akan memiliki mainan yang saya. Jika Zain dibelikan atau dibuatkan baju baru maka merekapun akan mendapatkannya. Mereka selalu mempunyai barang yang sama seperti anak kembar. Dan itu sangat menyenangkan bagi Habibah. Begitu juga dengan Muti'ah, dia akan selalu memiliki barang yang sama dengan milik Habibah. Karena Habibah tak pernah melupakan Muti'ah saat dia berbelanja sesuatu atau saat membuat sesuatu. Jadi tak heran jika mereka memiliki pakaian atau barang yang sama saat mereka pergi keluar rumah.


Pagi itu seperti biasanya, Habibah dan dua karyawannya sedang sibuk membuat kue pesanan customer. Tiba-tiba datang seseorang yang entah datang dari mana mengucapkan salam didepan rumahnya. Muti'ah yang sedang menjaga anak-anak diruang tamu segera menjawab salam dan membukakan pintu.


" Cari siapa?" tanya Muti'ah.


" Nur nya ada?" tanya tamu itu.


" Ada perlu apa mas? Apakah penting?" Muti'ah merasa heran karena tak biasanya ada lelaki yang mencari Habibah apalagi dengan panggilan yang berbeda juga.


" Lumayan penting.." jawabnya singkat.


" Baiklah. Tunggu sebentar, saya panggilkan dulu orangnya.." Muti'ah segera menghampiri Habibah yang sedang berada di dapur kesayangannya.


" Habibah.. ada tamu buat kamu. Orangnya nunggu didepan.." Muti'ah memberitahukan Habibah jika ada tamu untuk nya.


" Oh ya, terimakasih kak.." Habibah bergegas mencuci tangannya dan segera menghampiri tamu yang dimaksud Muti'ah.


" Siapa ya..?" tanya Habibah terheran karena ternyata yang mencarinya adalah seorang lelaki. Dan tamu itupun berbalik menghadap Habibah.


" Hai Nur.. apa kabarmu?"


" Kamu....?" Habibah mencoba mengingat siapa lelaki yang sedang berdiri di hadapannya itu.


" Aku Ricky.. teman sekolahmu dulu.. sudah ingat?" ucap Ricky mengingatkan Habibah tentang siapa dirinya.


" Oh... Ricky.. emm.. ada apa ya Rick? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Habibah canggung. Sebab dia sudah lama tak berhubungan dengan laki-laki secara pribadi.

__ADS_1


" Gak ada, aku cuma sengaja mau main dan ketemu kamu aja. Aku datang kerumah orang tuamu, tapi katanya kamu sudah lama gak tinggal disana. Dan aku dikasih alamat rumahmu disini. Jadilah aku kesini, karena kebetulan aku juga kerja di tambang batu bara didaerah didekat sini. Kalau aku tau kamu disini aku gak akan jauh-jauh datang kerumah orang tuamu. By the way... aku gak dipersilahkan duduk dulu gitu..? Aku capek lho Nur.. perjalanan jauh sampai sini gak dipersilahkan duduk pula.." celoteh Ricky dengan sikapnya yang masih belum jauh berubah. Masih ada manja-manja nya.


" Oh ya.. duduk dulu sini.. sebentar saya ambilkan dulu minum.." Habibah tersipu dengan teguran Ricky yang tak mempersilahkannya duduk.


Habibahpun segera menghampiri Muti'ah dan memintanya agar mencarikan orang yang bisa menemani Ricky. yang tentunya seorang laki-laki. Muti'ah segera menelepon Ridho suaminya agar mencari laki-laki yang bisa menemani Ricky ngobrol. Selang lima belas menit, Syafi'i pun datang.


" Assalamu'alaykum.." ucapnya begitu tiba didepan rumah Habibah.


" Wa'alaykumussalam.." Ricky menjawab salam Syafi'i dan menjabat tangannya. Kemudian dia duduk kembali dibarengi oleh Syafi'i. Tak lama Muti'ah dan Habibah keluar membawa beberapa gelas teh hangat dan kudapan hangat yang memang belum lama dibuat oleh Habibah. Ricky duduk bersanding dengan Syafi'i, Habibah bersanding dengan Muti'ah. Mereka duduk di teras rumah Habibah yang kebetulan dijadikan kios kue mini oleh Habibah, maka disediakan kursi dan mejanya untuk tamu yang datang.


" Apa kegiatanmu Sekarang Nur? " tanya Ricky ditengah-tengah perbincangannya dengan Syafi'i.


" Membuat jajanan dan melayani catering." jawab Habibah singkat.


" Apakah ini suamimu?" tanya Ricky seraya menunjuk pada Syafi'i.


" Bukan.. Dia tetangga kami disini.." jawab Habibah jujur.


" Ada apa kamu tanya suami saya?" jawab Habibah datar.


"Gak apa, hanya ingin kenal saja. "


" Kenapa kamu gak tanya anak saya aja..?" tak lama selepas Habibah mengatakannya pada Ricky, Hafidz keluar bersama Bilal dan Zain.


" Nah, ini dia anak-anak saya.. Apakah kamu sudah menikah?" tanya Habibah.


" Aku belum menikah. Jangankan nikah, pacar aja aku gak punya.." jawab Ricky getir. Bagaimana bisa aku nikah, aku aja belum bisa move on dari kamu. Bathinnya.


" Mas Syafi'i bisa bantu kamu cari calon istri kalau kamu mau.." ucap Habibah.

__ADS_1


""Apa..!? Aku..!? Kok jadi aku siech..? " Syafi'i terkejut dengan ucapan Habibah yang menjadikannya sebagai Mak comblang.


" Gak apa-apa lah mas, hitung-hitungan bantu orang untuk tujuan ibadah." Muti'ah menimpali.


" Wah.. kalian ini ya.. benar-benar dech.. Nantilah kalau gitu, saya tanya dulu yang lain siapa tau ada yang bisa bantu." jawab Syafi'i.


" Kenapa gak Nelly aja mas? Dia jugakan masih single.. siapa tau jodoh. Kan Rick..?" ucap Habibah.


" Aiihh.. Nur... Aku datang kesini bukan mau minta carikan jodoh.. aku kesini karena aku kangen sama kamu.."


"Astaghfirullah Rick.. istighfar ih.. kamu gak boleh bilang begitu lagi lain kali.. sebab kita sudah gak boleh begitu lagi. Kamu dulu sahabat saya, tapi sekarang persahabatan kita sudah gak berlaku. Sebaiknya kamu cepat cari istri supaya ada yang bisa kamu rindukan nanti." Habibah memotong perkataan Ricky yang belum selesai diucapkan. Dan Ricky hanya tertegun mendengar apa yang diucapkan oleh Habibah.


Mungkin benar apa yang dikatakan Habibah, kalau aku sebaiknya mencari seseorang yang bisa mengalihkan perasaanku ini. Toh dia sudah menikah dan memiliki anak dengan orang lain, lalu aku mau sampai seperti ini? Dia sudah benar-benar berubah jauh lebih mengagumkan daripada dulu.


" Baiklah.. aku gak akan keberatan asalkan kamu yang carikan aku calon istri, maka aku akan percaya padamu." Ricky akhirnya menyetujui saran dari Habibah itu. Meski berat, tapi mungkin itu lebih baik untuknya. Hanya itu yang ada dalam benak Ricky saat itu.


" Nah.. mas Syafi'i.. sudah dengarkan apa yang dia bilang? Bagaimana kalau saya minta Nelly aja mas yang jadi kandidatnya?" kata Habibah pada Syafi'i.


" Baiklah.. nanti saya akan coba bicara dengan Nelly." jawab Syafi'i akhirnya.


" Tapi ingat ya Rick, ta'aruf itu gak boleh terlalu lama. Paing gak tiga bulan sudah ada keputusan antara iya dan gaknya. Jangan pernah berfikir untuk yang namanya pacaran,. karena pacaran itu pintunya zinah. Dan saya gak akan biarkan kamu melakukan itu." kata Habibah layaknya memberi wejangan pada anaknya saja.


" Baik ustadzah.. aku ikut apa kata ustadzah aja. Yang penting carikan aku wanita yang baik yang mau sayang sama aku juga keluargaku. itu yang terpenting. Kalau bisa yang Sholeha macam kamu." kata Ricky.


" Jika kamu ingin mendapatkan yang terbaik, maka kamu harus mempersiapkan diri untuk jadi yang terbaik juga buat calon istrimu. Karena yang jadi jodoh kita itu layaknya cerminan diri kita Rick, dalam hal akhlak nya.. bukan fisiknya.


" Baiklah.. aku faham.." jawab Ricky lemah. Yah... mungkin karena aku gak seperti kamu, mangkanya aku gak bisa berjodoh dengan kamu, alangkah bahagianya orang yang telah memiliki kamu..


Tak terasa waktu terus bergulir dan mendekati waktu shalat Dzuhur. Dan Ricky pun pamit undur diri yang sebelumnya Syafi'i meminta nomor handphone miliknya agar mudah berkomunikasi untuk selanjutnya. Dan Ricky pun pergi dengan membawa kegundahannya sendiri tentang perasaannya juga tentang semua yang telah diucapkan oleh Habibah.

__ADS_1


***


Rasanya dicomblangi itu gimana ya🤔🤔


__ADS_2