
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Purnomo masih belum bisa fokus sepenuhnya ke mengemudi. Dia masih teringat akan hasratnya yang belum terpenuhi.
" Sayang.. apa perlu kita pindah rumah secepatnya aja ya?" Purnomo membuka percakapan.
" Kenapa mendadak begini sih mas? Ada apa?" tanya Habibah heran kenapa tiba-tiba suaminya berubah fikirkan.
" Aku sudah benar-benar gak tahan deh sayang.. Masa sudah mau 2 Minggu kita menikah aku masih serasa jadi jomblo gini..?" keluh Purnomo. Habibah hanya menanggapinya dengan senyuman, walaupun wajahnya sedikit merona dengan ucapan suaminya itu.
" Sabar dong mas, mati juga keturutan.."
" Iya.. Tapi kan sayang, aku bakal pergi dalam waktu 3 hari lagi." wajahnya nampak sangat memelas. Habibah masih menanggapinya hanya dengan senyuman.
" Jawab dong sayang, kok cuma diam aja?" Purnomo merasa kesal karena merasa dicuekin Habibah. walaupun sebenarnya gak, hanya saja Purnomo yang tak bisa melihat senyuman dari istrinya itu.
" Iya deh, ntar malam ya kalau gak capek.." jawab Habibah dengan malu. Jika saja wajahnya saat itu bisa terekspos, wajahnya mungkin sudah terlihat warna-warni karena saking malunya.
" Hehehe.. Beneran ya ntar malam, nanti aku tagih lho sayang gak ada alasan." jawab Purnomo sambil melirik istrinya yang kini terlihat membuang muka kearah jendela.
" Udah mas, fokus nyetir aja. Jangan mikir yang lain-lain terus. Gak malu apa sama anak-anak?" protes Habibah masih dengan posisi yang sama
Entah kenapa Purnomo kini sangat suka menggoda istrinya itu.
" Sayang.. Kamu tau gak, kalau aku tuh sekarang seneng banget..? Rasanya aku gak percaya kalau lihat kamu yang sekarang. Perubahannya hampir 180° dari kamu yang aku kenal dulu. Aku senang sekarang kamu gak sedingin dulu dan gak secuek dulu. Aku sekarang bisa merasakan hangatnya kasih sayang dan perhatian darimu. Memang benar ya kata orang tua dulu, jika waktu adalah guru yang sesungguhnya. Karena dengan berjalannya waktu hati manusia pun bisa berubah. Aku bisa melihatnya sekarang darimu.." Purnomo mengutarakan isi hatinya panjang lebar tentang perasaannya. Habibah masih tetap diam hanya mendengarkan dengan setia.
" Papa.. Memangnya Uma dulu seperti apa?" celetuk Nur Laily dari kursi belakang.
" Mau tau dulu Uma tersayangmu ini seperti apa?" tanya Purnomo pada anaknya.
__ADS_1
" Hemm.."
" Dengar baik-baik ya.. Dulu dia itu perempuan paling cantik yang papa tau, tapi sayang dia dulu itu seperti macan yang cantik. Dia itu galak, pendiam tapi buat rindu banyak orang. Uma dulu sangat susah mau di ajak bicara, masih bagus gong dipukul mau bersuara. Kalau Uma tercintamu ini kadang biar sudah dipukul gak mau juga bersuara. Apalagi matanya... hiiihhh...! Persis kayak macan.. Biar gak ada mengaum tapi lihat matanya aja udah bikin lemes orang. Mau tau apa julukannya dulu waktu sekolah?" Purnomo cerita panjang lebar.
" Udahlah mas.. Senang betul buka aib istri sendiri.." Habibah kelihatan sangat malu dengan menutupi wajahnya dari pandangan suami dan anaknya dengan sebelah tangannya serta menghadapkan wajahnya kesamping.
" Apa julukan Uma dulu pa.. Ayo kasih tau aku..! Kasih tau aku..!" seru Nur Laily penasaran.
" Gak usahlah.. lain kali aja. Lihat Uma tersayangmu sudah malu.. hehehe.."
" Yaaaaahhh..." rengut putri tercintanya seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran jok yang ia duduki. Purnomo hanya tersenyum melihat betapa lucu dan imutnya wajah Nur Laily saat merajuk begitu. Sementara Zain yang tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orangtuanya dan kakak perempuannya itu hanya duduk manis disamping Nur Laily.
Tak terasa mereka telah sampai dirumah sakit yang dimaksud. Mereka turun dan berjalan beriringan menuju ruangan dimana Qodir sedang dirawat.
" Assalamu'alaykum.." sapa Habibah begitu memasuki ruang inap Qodir. Disana masih ada ibu Masurai dan Lina. Sedangkan pak Yusuf sudah pulang dari beberapa hari yang lalu karena harus mengurus pekerjaan.
" Mama apa kabarnya? Bagaimana dengan mas Qodir? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Habibah seraya mencium punggung tangan ibu mertuanya lalu mencium kedua belah pipinya. Diapun menyalami Lina yang terlihat sangat canggung menerima uluran tangan dari Habibah.
" Mama baik-baik saja, dan Qodir keadaannya sudah stabil hanya saja entah kenapa dia belum bangun juga." ucap ibu Masurai dengan wajah yang penuh rasa khawatir.
" Nenek..!" panggil Zain dengan suara beningnya yang imut.
" Ah sayang.. Nenek kangen sekali sama cucu Neneng yang ganteng ini.. Halo juga sayang.." ucap ibu Masurai sembari mencium kedua pipi Zain dan Nur Laily yang sebelumnya mereka mencium punggung tangan ibu Masurai.
" Ibu.." sapa Purnomo sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya.
" Jangan panggil ibu, panggil aku mama. Kamu aalah sami dari menantuku jadi panggil aku mama jangan jadikan aku orang asing untukmu." pinta ibu Masurai pada Purnomo.
__ADS_1
" Baiklah, Mama.." ulang Purnomo sambil tersenyum.
Habibah mendekat kesisi sebelah kanan Qodir berbaring tepat berhadapan dengan Lina yang duduk di sebelah kiri Qodir.
" Mas.. Bangunlah.. Jangan biarkan semua orang-orang yang menyayangimu terus merasa khawatir dengan keadaanmu. Saya yakin kamu bisa mendengar perkataan kami, untuk itu bangunlah mas. Bukankah kamu bilang ingin bertemu dengan anakmu? Sekarang dia ada disini untuk bertemu denganmu." Habibah mencoba memancing kesadaran Qodir dengan mengatakan hal-hal yang begitu di inginkan oleh Qodir. Habibah menggendong Zain dan mendudukkannya disamping Qodir.
" Sayang.. Coba pegang tangan Abah dan panggil dia ya.." pinta Habibah lembut pada Zain yang nampak masih bingung. Tapi Zain mengikuti apa yang dipinta ibunya untuk memegang tangan ayahnya dan memanggilnya.
" Abah.. Ini Zain.. Abah.. Ini Zain.." panggil Zain dengan suara khas anak-anak yang polos. Walaupun dia tak mengerti siapa yang ada dihadapannya itu, entah kenapa genggaman tangannya tak dia lepaskan malah justru diulurkan sebelah tangannya yang lain untuk menggenggam tangan Qodir.
" Uma.. Dia gak mau bangun juga.. Zain sudah panggil tapi gak bangun." tanya Zain heran karena orang yang dipanggilnya Abah itu tak bangun juga setelah dia mencoba memanggilnya berkali-kali.
" Sabar sayang.. Coba panggil lagi dan minta pada Allah supaya dia bangun." ucap Habibah dengan selembut mungkin. Zain memperhatikan wajah Habibah dengan pandangan mata yang penuh tanda tanya, hanya saja dia tak tau cara mengungkapkannya. Lalu dipandangi lagi wajah Qodir yang masih terpejam dengan pucatnya.
" Abah.. Abah bangun.. Ini Zain.. Zain datang.. Zain pegang tangan Abah, Abah ayo bangun.. Ya Allah.. bangunkan Abah.. " ucap Zain dengan kepolosannya. Habibah mencium kening Zain begitu Zain usai mengatakan permintaannya pada Allah.
Selang beberapa menit, terlihat salah satu jari Qodir bergerak, dan tak lama kemudian matanya mulai terbuka perlahan. Qodir mengerjapkan kedua belah matanya karena berusaha untuk mengadaptasikan matanya yang masih silau dengan cahaya. Tak ada yang menyadari jika Qodir telah membuka matanya, hingga terdengar suaranya yang parau.
" Ma.." Qodir memanggil ibunya dengan suara yang parau dan lemah.
" Alhamdulillah ya Allah...! Kamu sadar nak..! Tunggu sebentar, mama panggil dokter dulu..!" seru ibu Masurai sambil bergegas lari keluar untuk mencari dokter.
" Mas ..! Kamu sudah sadar mas..! Alhamdulillah..!" Lina meraih tangan Qodir dan menggenggamnya erat serta menciuminya dengan air mata yang bercucuran tanda bahagianya.
" Uma.. Abah bangun..!" seru Zain seraya menunjuk Qodir.
Qodir yang mendengar suara kecil Zain perlahan mengalihkan pandangannya ke arah suara yang dia dengar. Begitu matanya menangkap sesosok wajah yang selama ini dia rindukan.
__ADS_1
" Zain...!" ucapnya lemah. Perlahan air matanya mengalir, dia tak menyangka jika anak yang selama ini dia rindukan ada di dekatnya dan sedang menatapnya bahkan memanggilnya dengan Abah..