Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Terharu


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, Nur Laily harus kembali ke kampung untuk mengambil ijazah nya. Karena sehari sebelumnya eyangnya sudah memberitahunya jika sudah ada pemberitahuan dari sekolah untuk pengambilan sidik jari dan legalisir ijazahnya.


Meskipun dengan berat hati, gadis remaja itupun tetap harus kembali. Karena dia juga masih sangat membutuhkan ijazahnya untuk bisa melanjutkan pendidikannya di kota Samarinda.


Nur Laily sangat ingin pulang bersama Habibah. Tapi sayang, keadaan Habibah tak memungkinkannya untuk bisa pergi bersama Nur Laily. Akhirnya, Nur Laily di antar oleh Zacky atas perintah dari Zelly tentunya.


" Hati-hati ya sayang di jalan. Jangan lupa untuk berdzikir selama perjalanan. Agar kalian selamat sampai tujuan dengan aman atas perlindungan dari Allah. Istirahatlah jika di rasa lelah atau mengantuk. Jangan memaksakan diri kalau sudah lelah. " pesan Habibah pada Nur Laily dan Zacky.


" Baik Uma. Insyaallah aku akan ingat pesan Uma." jawab Nur Laily.


" Insyaallah Saya akan hati-hati nyonya, kan kata pepatah juga " alon-alon asal kelakon". Jadi, saya juga nanti akan pelan-pelan aja kok nyonya yang penting selamat sampai tujuan." Zacky menimpali.


Habibah hanya tersenyum mendengar ucapan dari Zacky. Sementara Zelly sudah menatapnya dengan tajam, tanda dia tak menyukai jika Zacky berbicara dengan akrab dengan Habibah.


" Aish... Tenanglah bos. Masa cuma gitu aja udah cemburu? Gak asik tau..!" cela Zacky sambil melengos menuju mobil yang akan membawa mereka ke kampung halaman Nur Laily.


" Jangan lupa sampaikan salam Uma pada semuanya ya, maaf juga kalau Uma gak bisa kasih oleh-oleh yang bagus untuk mereka. Semoga semuanya senang menerima oleh-oleh sederhana dari Uma ini." ucap Habibah pada Nur Laily seraya memeluk erat anak remajanya.


" Apapun pemberian Uma pasti mereka akan senang, jadi jangan fikirkan itu. Nanti Uma mau di bawakan apa dari sana? " tanya Nur Laily sambil mengelus lembut perut Habibah yang membuncit.


" Uma gak minta apa-apa, cukup kalian kembali dengan selamat saja sudah lebih dari cukup buat Uma." sahut Habibah sambil melepas pelukannya dari tubuh kecil Nur Laily.


Setelah kepergian Nur Laily ke kampung halamannya. Rumah Habibah terasa sepi tanpa ada keceriwisan dari bibir mungil Nur Laily.


Bahkan, Zelly yang beberapa hari ini sangat berselera makan dari masakan Nur Laily. Kini nampak ogah-ogahan untuk makan masakan dari asisten rumah tangga mereka.


" Mas gak suka sama makanannya? Kok makannya sedikit banget?" tegur Habibah saat melihat makanan di piring suaminya masih tampak utuh.

__ADS_1


" Bukan gak suka, sayang. Tapi perutku rasanya sulit untuk menerima makanan ini." jawab Zelly sambil menjauhkan piringnya dari hadapannya.


" Jadi, mas mau makan apa? Nanti biar saya masakan." tanya Habibah menawarkan diri.


" Belum tau mau makan apa. Nanti ajalah, kalau aku mau makan aku kasih tau. Sekarang aku cuma mau minum susu hangat aja." ucap Zelly sambil menyandarkan tubuhnya di sasaran kursi.


" Sebentar saya buatkan dulu ya, mas tunggu sebentar di sini." kata Habibah seta beranjak menuju dapur demi membuatkan susu hangat untuk suaminya


Setelah beberapa saat, Habibah pun kembali dengan segelas susu hangat di tangannya dan menyerahkannya pada Zelly yang terlihat lesu di meja makan.


" Ini mas susunya. Ayo, cepat diminum mumpung masih hangat. Kalau udah dingin nanti gak enak." kata Habibah sambil menarik tangan Zelly agar menerima gelas susu yang di bawanya.


Dengan malas, Zelly menegakkan tubuhnya dan menerima susu hangat yang di bawa istrinya. Lalu meminumnya dengan perlahan. Baru setengah gelas yang diminumnya, Zelly sudah meletakkan gelas susu dan bergegas ke kamar mandi.


Sekilas terdengar suara Zelly memuntahkan apa yang baru saja masuk kedalam perutnya. Tak terkecuali susu hangat yang baru saja dia minum pun sudah terbuang habis.


" Mas istirahat aja dulu. Nanti saya buatkan madu hangat biar mas Segeran. Hari ini mas gak usah kerja aja dulu. Nanti saya telpon ke kantor kalau mas hari ini gak enak badan." ucap Habibah sambil memapah Zelly ke kamar tidurnya.


.Ternyata sangat gak enak jadi wanita saat hamil begini. Begitu susahnya dia kalau saat ini dia yang merasakan semua ini.


Membawa tubuhnya saja dia sudah kepayahan, bagaimana kalau di tambah dengan semua yang aku rasakan sekarang ini?


Sekarang ini mungkin aku adalah laki-laki yang beruntung bisa merasakan masa-masa yang dirasakan oleh wanita hamil seperti ini.


Kalau aku tak merasakannya, mungkin aku akan meremehkan apa yang dia rasakan sekarang.


Bersyukur aku di beri kesempatan untuk bisa merasakan semua ini. Aku jadi tau bagaimana perjuangan dia selama mengandung anak-anak ini.

__ADS_1


Zelly merenungi apa yang di alaminya sembari memperhatikan Habibah yang sedang sibuk memijat kepalanya agar mengurangi rasa pusing yang di deritanya.


Habibah yang merasa di perhatikan oleh suaminya, mendadak menghentikan kegiatan memijatnya.


" Ada apa mas? Apa yang mas rasakan selain pusing? Atau ada yang mas inginkan sekarang?" tanya Habibah penuh perhatian.


" Gak ada kok sayang. Aku hanya sedang berfikir aja. Apakah seperti ini juga yang kamu rasakan saat kamu hamil Zain dulu? Atau lebih parah dari ini yang kamu rasakan? Ternyata perjuanganmu menjadi seorang ibu itu sangat berat. Tak seringan yang terlihat.


Aku bahkan tak pernah tau kalau wanita hamil itu akan mengalami banyak hal seperti ini. Tadinya aku tak percaya kalau semua yang aku rasakan sekarang ini adalah hal yang biasa dirasakan oleh wanita-wanita hamil pada umumnya.


Aku saja merasa sangat payah, apalagi kalau kamu yang mengalami semua ini. Sudahlah kamu harus mengandung, juga harus mengalami hal-hal yang sangat gak mengenakan ini. Bukankah itu sangat luar biasa?" ucap Zelly panjang lebar mengungkapkan isi hatinya.


" Saya senang mas bisa berfikir seperti itu. Walaupun pada kenyataannya sangat jarang bisa difikirkan oleh para suami-suami di luaran sana.


Mungkin saya yang beruntung bersuamikan mas, Allah takdirkan mas untuk bisa merasakan apa yang seharusnya saya rasakan saat hamil seperti ini. Sehingga mas tau bagaimana perjuangan saya untuk jadi seorang ibu dari anak-anak yang saya lahirkan nanti.


Entah saya harus bersyukur atau bersedih dengan mas yang seperti ini. Tapi demi Allah, saya bahagia mendengar perkataan mas tadi. Yang berarti mas sangat menghargai saya sebagai seorang istri sekaligus ibu dari anak yang saya kandung sekarang.


Terima kasih mas, terima kasih karena sudah mau mengerti segala kesusahan yang saya alami." balas Habibah sembari tak terasa air mata haru menetes tepat mengenai pipi sang suami yang ada dalam pangkuannya.


" Kamu tahu? Kamu adalah segalanya untukku. Jadi aku gak mungkin akan membiarkan kamu kesusahan. Apalagi saat kamu menjadi istriku. Apapun akan aku lakukan untuk bisa membahagiakan kamu dan anak-anak.


Kamu harus ingat, senyum dan tawa kalian adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Apapun yang aku peroleh gak akan ada artinya kalau aku gak bisa buat kalian tersenyum dan tertawa bahagia.


Jadi teruslah bahagia bersamaku. Kalau ada hal yang tak kamu sukai kamu harus bilang sama aku. Maka aku akan berusaha untuk membuang apa yang tak kamu sukai itu dari hidupmu.." ucap Zelly seraya mengusap lembut perut Habibah yang ada tepat di hadapannya.


Rasa haru dalam hati Habibah semakin membuncah. Membuat air mata Habibah semakin deras mengalir.

__ADS_1


__ADS_2