
Setelah Habibah membersihkan rumah dan menata pakaian dan beberapa barang pada tempatnya, Habibah membaringkan tubuhnya yang sangat lelah karena mengerjakan semua itu sendirian. Tak terasa Habibah pun tertidur di kamarnya sampai dia tak menyadari kedatangan suaminya. Qodir memperhatikan Habibah yang tertidur karena kelelahan. Entah apa yang dia fikirkan saat itu. Kenapa jadi begini? Disaat aku berusaha untuk mencintainya dan menyayanginya dengan sepenuh hati, justru malah seperti ini sekarang. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Qodir duduk disamping istrinya yang sedang tertidur, dia perhatikan istrinya dengan seksama. Dia mulai menyayangi istrinya itu, apalagi sekarang sedang mengandung anak pertama mereka. Hal itu membuat hatinya semakin gelisah. Tak lama handphonenya berdering yang membuat Habibah terbangun karena terkejut mendengar suara handphone berdering. Yang membuat Habibah lebih terkejut lagi begitu matanya menangkap sosok suaminya sedang duduk disampingnya. Yang spontan membuatnya bangun dari tidurnya.
"Kamu kapan datang mas?"
" Baru aja.."
" Emm.. Jam berapa sekarang?"
" Jam satu.. Bangunlah, kamu belum shalat kan?"
" Emm.. iya" Habibah menjawabnya dengan singkat. Habibah segera bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi. Sementara Qodir masuk kedalam kamar dan menaruh kopernya di samping lemari pakaiannya. Lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya dengan lamunan yang menerawang jauh entah kemana. Sementara Habibah sudah selesai mandi dan shalat, dia belum beranjak dari atas sajadahnya. Dia merasa sangat canggung dengan keadaan saat itu. Dia tak berani menerka terlalu jauh dengan hubungan antara Qodir dan Lina. Hanya saja dia meyakini bahwa hubungan mereka tak sesederhana itu, mengingat apa yang sudah dia lihat dua hari yang lalu itu sudah sangat cukup membuatnya mengerti apa posisi dia dihati suaminya. Meski ada kasih sayang ditunjukan oleh suaminya, namun itu hanya sekedar kewajibannya sebagai seorang suami kepada istrinya. Mungkin keadaan kita sama, sama-sama ada seseorang dalam hati kita. Mungkinkah anak ini akan lahir dari sebuah kesalahan? Kenapa dulu aku tak mencegah kehamilan ini? Dulu aku berharap dengan adanya anak akan ada perasaan cinta dan sayang yang tulus padanya, bukan karena kewajiban sebagai seorang istri pada suaminya ataupun sebaliknya dari seorang suami kepada istrinya. Lalu sekarang, jika benar Lina adalah cinta mas Qodir lalu aku harus bagaimana? Berjuang mempertahankan dia, tapi atas dasar apa aku harus memperjuangkannya? Hati ku juga hatinya sama-sama masih ada nama orang lain. Apakah anak ini pantas jadi alasannya? Ya Allah... apa yang harus aku lakukan, Berikan aku petunjukmu untuk jalan keluar dari masalah ini..
Disisi lain, Lina menatap handphone di dalam genggamannya. Dia memanggil sebuah nama dari kontak yang tersimpan di handphone miliknya. Setelah lama menunggu, akhirnya panggilannya diterima juga.
" Halo mas, kamu dimana sekarang?" tanya Lina manja.
__ADS_1
" Dirumah. Ada apa?"
" Aku kangen. Kita bisa ketemuan gak?"
" Maaf Lina. Aku dirumah kontrakan dekat tempat kerjaku. Dan aku jauh sekarang, jadi gak bisa ketemu." sahut Qodir sembari menguap, sebab tadi dia terbangun dari tidurnya saat handphonenya berdering.
" Kirim aja alamatnya, nanti aku kesana."
" Jangan, aku gak ingin ada masalah nantinya."
" Masalah apa sih mas, aku kan cuma kangen aja sama kamu kok bisa jadi masalah..?" tanya Lina heran.
" Aku tahu kamu sudah menikah. Tapi aku gak perduli, aku hanya ingin ketemu kamu karena aku kangen sama kamu. Apakah istrimu perempuan yang sedang hamil itu? Apakah kamu cinta dia sebab itu kamu mencegah aku untuk bertemu dengan kamu? Atau karena dia sedang hamil anakmu sebab itulah kamu mau menjauhiku?"
" Emm.. aku.."
" Sudahlah mas, coba kamu tanya dia. Apakah dia keberatan atau gak kalau aku ketemu dengan kamu? Tanya dia, apakah dia benar-benar cinta dan sayang atau gak sama kamu? Kalau dia gak bisa jawab juga sebagaimana kamu sekarang, berarti gak ada alasan untuk aku rindu dan ketemu dengan kamu."
__ADS_1
" Baiklah.. Aku akan tanyakan itu padanya nanti. Aku akan tutup telfonnya sekarang, assalamu'alaykum."
" Oke, wa'alaykumussalam"
Habibah hanya mematung dibalik pintu kamarnya. Dia tak sengaja mendengar percakapan antara suaminya dengan Lina saat dia akan kembali ke kamarnya. Perasaannya campur aduk, antara sedih dan kecewa. Dia merasa sedih karena pernikahannya benar-benar saling tak ada rasa cinta dan sayang. Kecewanya karena ternyata suaminya akan bisa berbuat seperti itu dibelakangnya. Meski mereka tak saling memiliki rasa, namun Habibah selalu berusaha untuk tak berhubungan dengan pria lain selain suaminya. Dielus perut buncitnya dengan hati yang perih, tak terasa air matanya mengalir dipipi lembut miliknya. Dia merasa berdosa pada anak yang ada didalam kandungannya itu. Kamu dia hadir ditengah-tengah keadaan orang tuanya masih asing satu sama lain.
Habibah akhirnya melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air minum berharap air itu mampu sedikit meredakan gejolak dalam dadanya. Diusapnya air matanya dengan perlahan, dia menarik nafasnya dalam-dalam berharap melegakan dadanya yang serasa sempit menghimpit hingga membuatnya sulit bernafas. Dipandanginya dapur kecilnya itu dengan hati yang merintih pilu. Dulu aku berharap jika aku menikah, tempat ini akan menjadi tempat terindah selain tempat tidurku. Dulu aku membayangkan tempat inilah tempat dimana aku akan memanjakan suamiku dan juga anak-anakku dengan rasa kasih sayangku melalui masakanku yang aku sajikan untuk mereka. Tapi sekarang, semua itu hanya sebatas mimpi saja. Mimpi yang semakin lama semakin menjauh dari nyata. Mimpi yang hanya akan tetap menjadi sebuah mimpi tak akan menjadi sebuah kenyataan.
Tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan seseorang yang sangat dia kenal dan dekat dengan hatinya. Yah, Purnomo tiba-tiba menghampiri ingatannya. Entah setan mana yang sedang membisikan rindu dalam hatinya, membuat Habibah kembali meneteskan air matanya. Habibah segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju wastafel untuk mencuci wajahnya. Dia istighfar berkali-kali menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Mengingat dan merindukan pria lain selain suaminya itu adalah sebuah kesalahan meski hanya sekejap.
Setelah makan malam, Habibah tak beranjak dari tempatnya duduk. Dia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dengan suaminya.
" Mas, boleh saya tanya sesuatu pada mas?" tanya Habibah sedikit ragu.
" Ya, tanyalah apa yang ingin kamu tanyakan."
" Mas.. Apakah kamu sangat mencintai perempuan yang hari itu datang kerumah mama? Jika ya, kamu boleh menikahinya jika dia mau. Saya gak akan pernah memaksakan orang lain untuk menyukai saya dan hidup dengan saya. Saya bebaskan mas untuk memilih yang menurut mas terbaik. Mas tak perlu khawatirkan saya dan anak ini. Kami akan baik-baik saja. Jika mas khawatir dengan orang tua kita, biar saya yang akan bicara dengan mereka. Tapi saya mohon sama mas, jangan melakukan sesuatu yang salah dibelakang saya. Jika kalian sama-sama tulus saling mencintai, maka jangan sembunyi-sembunyi dibelakang saya. Karena saya tak akan pernah keberatan untuk kalian bersama, asalkan jangan seperti sekarang. Ingat mas, kamu sudah menikah, dia bukan mahram kamu maka jika kalian terus melakukannya maka kalian akan terus mengumpulkan dosa dan saya juga merasa ikut berdosa dengan yang kalian lakukan dibelakang saya. Atau jika mas merasa tak mampu untuk berpoligami, maka saya akan mundur sebagai istrimu. Saya akan mengajukan cerai setelah saya melahirkan nanti. Tapi saya mohon jangan lakukan hal yang tak diridhoi Allah mas. Mungkin kita tak saling mencintai dan menyayangi sebagai kekasih. Tapi bukan berarti mas boleh berbuat begitu pada saya, saya berusaha untuk tak melukai siapapun dalam pernikahan kita ini. Maka saya mohon kamu juga melakukan hal yang sama, jangan lukai saya dengan hal seperti ini. Sekarang pilihannya ada di tanganmu mas, fikirkan dengan tenang dan beritahu saya keputusannya jika kamu sudah tau apa yang menurutmu itu yang terbaik. Maka saya akan menerima dengan lapang dada." Setelah mengatakan semua yang ingin dia tanyakan dan sampaikan, Habibahpun meninggalkan Qodir yang masih terdiam ditempatnya. Qodir tak menyangka jika istrinya bisa mengatakan semua itu padanya. Bahkan dia tak bisa menjawab sepatah katapun dari sekian banyak yang diucapkan oleh istrinya. Dia tak menyangka, jika Habibah memiliki hati yang selapang itu untuk mengatakan hal yang dia tau itu sangat dibenci oleh para wanita. Namun istrinya itu mengatakannya dengan sangat tenang seakan itu tak ada pengaruhnya untuk dirinya, namun dia yakin istrinya terluka apalagi saat itu dia sedang mengandung anak dari dirinya. Sedikit banyak pasti terluka, tapi istrinya masih bisa mengatakan semua itu dengan sangat tenang. Ini sangat membingungkan... Bathin Qodir.
__ADS_1
***
disaat cinta harus memilih🤭🤭