
Setelah shalat subuh, Habibah sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju ke rumah sakit Bhakti tempat dimana Zain berada. Purnomo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat begitu tak sabarnya Habibah.
" Jangan buru-buru sayang, kita masih nunggu Nur siap-siap. Alon-alon asal kelakon sayang.." Purnomo menarik lembut tangan Habibah agar duduk bersamanya disisi tempat tidur sambil menunggu Nur Laily mandi dan bersiap-siap. Habibah hanya menurut walaupun hatinya ingin lekas pergi menemui Zain.
" Kalian mau pergi kemana sepagi ini?" tanya ibunya Habibah heran melihat menantu dan anaknya serta cucunya rapi sekali.
" Kami mau jemput Adek Zain nek." Nur Laily menjawab sambil mencium tangan neneknya.
" Betul ma, kami mau jemput Zain. Tadi mba Lina telpon minta agar Zain dijemput dirumah sakit Bhakti." Habibah menjelaskan.
" Zain kenapa? Apa dia terluka? atau..."
" Gak usah khawatir ma.. Zain ga apa-apa. Kita juga belum tau kenapa mereka ada disana, cuma tadi mba Lina bilang minta maaf dan janji gak akan ganggu kita lagi asalkan suaminya bisa bangun, jadi kemungkinan besarnya mas Qodir yang sakit." Habibah mencoba menenangkan ibunya yang terlihat khawatir.
Setelah mereka sarapan sekedarnya, merekapun akhirnya berangkat juga menuju rumah sakit Bhakti yang di maksud oleh Lina. Butuh waktu 45 menit untuk sampai disana. Sesampainya dirumah sakit, Habibah berjalan dengan terburu-buru. Rasa rindunya pada putra kesayangannya itu sudah tak bisa dibendung lagi. Bahkan dia tak menunggu Purnomo yang sedang memarkirkan mobil yang dipinjam dari ayahnya itu. Sedangkan nur Laily hanya bisa mengikutinya dengan berlari-lari kecil.
" Ma.. jangan terlalu cepat dong, aku gak bisa kejar Uma." seru Nur pada Habibah. Dan Habibahpun berhenti manakala dia tersadar jika ada gadis kecil itu bersamanya.
" Ya Allah, maafkan Uma sayang.. Uma lupa kalau ada kamu disini. Kalau gitu pegang tangan Uma ya, kita jalan sama-sama." Habibah mencium kening gadis kecil dihadapannya itu dengan lembut. Dan menggandeng tangannya, tapi kali ini dia berjalan lebih lambat menuju resepsionis rumah sakit itu demi menanyakan ruangan mana yang ditempati oleh Qodir.
Setelah menemukan ruangan yang ditunjukkan oleh seorang suster, Habibahpun mengetuk pintu, Habibah melongokkan sedikit kepalanya kedalam ruangan. Di dalam ruangan itu ada dua ruang bilik perawatan. Dan salah satunya adalah Qodir. Habibahpun masuk dan menjumpai Zain sedang tertidur di lantai beralaskan selimut. Habibahpun menghampiri mereka, dan saat Habibah melihat kondisi dari Qodir. Dia merasa kasihan dan tak tega.Ada beberapa alat terpasang ditubuhnya, ada selang oksigen untuk membantu pernafasannya dan selang infus disalah satu lengannya. Wajahnya nampak sangat pucat bagai tak ada darah yang mengalir ditubuhnya. Lina pun nampak tertidur disisi tempat tidur pasien dengan menggenggam erat tangan suaminya dalam posisi duduk dikursi. ruangan itu terasa sangat sunyi yang terdengar hanya suara dari mesin monitor hemodinamik dan saturasi yang memonitor detak jantung dari pasien.
Tak lama kemudian Purnomo pun masuk keruangan itu. Dia nampak heran melihat Habibah hanya terpaku diujung tempat tidur pasien. Dia baru mengerti setelah dia melihat kondisinya saat itu. Dirangkulnya pundak Habibah dengan lembut agar Habibah bisa lebih tenang. Dia mengerti, meskipun mereka telah bercerai namun tak akan menghilangkan rasa kemanusiaannya pada orang yang pernah hidup bersama dengannya. Dia bisa melihat betapa besar rasa cinta dan sayangnya Lina pada Qodir.
"Kita tunggu diluar dulu ya, mereka sedang istirahat. Mungkin ini terlalu pagi datang kemari. Zain juga sedang tidur, pasti dia kelelahan. Jadi biarkan dulu dia tidur. Ayo,. kita keluar dulu.." bisik Purnomo. Habibah hanya mengangguk tanda setuju. Mereka keluar dengan perlahan karena khawatir akan mengganggu pasien yang sedang istirahat.
__ADS_1
Purnomo, Habibah dan Nur Laily akhirnya duduk diluar kamar pasien yang memang disediakan oleh pihak rumah sakit. Habibah mengambil handphone nya dari dalam tas selempang yang dikenakannya. Dia mencari sebuah nomor dan menelponnya segera. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya disambut juga dan mendapat sapaan dari ujung telepon.
" Assalamu'alaykum.."
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.. Mama apa kabarnya? Mama masih ada di penginapan atau sudah pulang?" tanya Habibah.
" Mama masih dipenginapan.. Kami mau menunggu sampai Zain ditemukan baru kami pulang. Ada apa sayang?"
" Apakah mama bisa datang kerumah sakit Bhakti sekarang? Zain ada disini..."
" Ada apa dengan Zain? Apa dia terluka..."
" Jangan khawatir ma.. Zain baik-baik saja. Tapi ada hal lain yang membuat kami ada disini sekarang. Jadi kalau bisa mama dan papa segera kemari."
" Baiklah.. Sekarang kami akan berangkat" Ibu Masurai memberitahukan suaminya tentang keberadaannya Zain saat ini. Dan merekapun bergegas menuju rumah sakit yang dimaksudkan Habibah.
" Mungkin dia gak perhatian gaya hidup dan pola makannya, karena penyakit itu biasanya datang dari gaya hidup dan pola makan yang buruk. Itu sebabnya kita harus benar-benar perhatikan kedua hal itu, jaga sampai kita menyesal dikemudian hari. Mudah-mudahan dia cepat sadar."
" Benar.. Yang mas katakan semua itu benar. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang bisa kita lakukan untuknya sekarang?"
" Tak ada. Hanya doa saja yang bisa kita lakukan untuknya sekarang."
Suasana kembali sunyi. Semua larut dalam lamunannya masingmasing.
" Bibah.. mana Zain?" sebuah suara yang sangat dikenal mengejutkannya dari lamunan.
__ADS_1
" Dia ada didalam.."
Tanpa Ba- bi - Bu mereka langsung masuk kedalam ruang perawatan pasien. Habibah, Purnomo dan Nur Laily mengikuti dari belakang. Dan setelah masuk ternyata Zain sudah bangun dari tidurnya.
" Uma... Papa... kakak Nur..?" Zain segera menghambur kedalam pelukan Habibah. Habibah menyambutnya dengan sebuah pelukan yang erat, diciuminya wajah pangeran kecilnya itu sampai puas dengan air mata yang bercucuran karena bahagia.
" Uma.. jangan cium lagi.. Uma jorok..! Muka Zain jadi basah nih.." Rajuk Zain karena diperlakukan seperti itu oleh Habibah.
" Papa gak dipeluk nih?" tanya Purnomo yang berpura-pura ngambek.
" Iya.. aku peluk juga.." ucap Zain dengan wajah yang menggemaskannya. Dan Nur Laily ikut memeluknya dari belakang, dan keduanya mendapatkan pelukan dan ciuman dari Habibah dan Purnomo. Sementara ibu Masurai dan pak Yusuf masih tertegun melihat kondisi anaknya yang selama ini mereka bangga-banggakan kini terbaring lemah tak berdaya. Pak Yusuf mendekap tubuh istrinya yang tiba-tiba akan ambruk.
" Pa.. Apakah kita sedang bermimpi? Ini gak nyata kan pa..? Dia akan baik-baik saja kan?" ibu Masurai sangat syok melihat keadaan anaknya itu. Semenjak Qodir meninggalkan Habibah dulu dia telah memutuskan tak akan perduli lagi padanya. Namun melihat kondisinya saat ini, jiwanya sebagai seorang ibu tak bisa menolak untuk perduli padanya. Lina yang menyadari kedatangan mertuanya itu hanya bisa berdiri di salah satu sudut tempat tidur pasien. Dia tak punya keberanian untuk membuka suara sama sekali.
" Jadi ini caramu merawat suamimu? Sejak kapan dia punya penyakit yang membuatnya sampai seperti sekarang? Jika kamu merawatnya dengan baik tentu dia akan baik-baik saja kan?" Hardik pak Yusuf pada Lina. Lina sama sekali tak bisa menjawab dan diapun tak pernah berani untuk menatap wajah mertuanya itu.
" Selamat siang semuanya..!" tiba-tiba seorang dokter masuk keruangan untuk mengontrol kondisi pasien. Setelah memeriksa pasien yang berada di bilik sebelah, dokter itu kemudian memeriksa kondisi Qodir.
" Maaf dok, bagaimana keadaan anak saya? Apa yang sebenarnya yang terjadi padanya? Penyakit apa yang dideritanya?" ibu Masurai mengajukan beberapa pertanyaan dengan tak sabar.
" Begini Bu.. Pasien saat dibawa kemari dalam kondisi sudah tak sadarkan diri. Penyebabnya penyakit mag dan asam lambungnya kambuh secara bersamaan. Dan setelah kami cek lab, putra ibu juga menderita diabetes melitus dengan kondisi gula darah yang mencapai 450mg/dl. Selain itu putra ibu juga sudah mengalami komplikasi yaitu darah tinggi dan gejala jantung. Dan dia juga sudah mengalami kerusakan pankreas yang menyebabkan kerusakan pada hatinya. Dengan kondisinya yang seperti ini tentu penangananya sudah harus secara khusus. Dan jika pasien nanti bangun. Mohon jangan biarkan dia mengalami stres. Karena selain dari pola makan, stres adalah hal yang paling cepat membuat penderita seperti putra ibu ini mengalami drop. Dan itu bisa saja membahayakan nyawanya."
Penjelasan dari dokter itu seperti membuat ibu Masurai tak menapakkan kaki di bumi. Dia seperti melayang dan berada didunia lain. Mendadak semuanya menjadi kosong. Bahkan dia sudah tak bisa lagi mendengar perkataan dokter itu sampai selesai.
***
__ADS_1
Jangan pernah menyia-nyiakan apa yang telah kita miliki dan syukuri yang ada. Jangan mengejar sesuatu yang belum tentu baik bagi kita, karena itu bagai mengejar sebuah bayangan. Melelahkan namun tak dapat diraih.