
Habibah benar-benar tak menyangka jika orang-orang yang selama ini dekat dengannya malah ada hati padanya. Sementara dia sendiri masih tak bisa move on dari perasaannya terhadap Purnomo. Nama pria itu masih melekat dalam hatinya. Dia tak bisa menyingkirkan nama itu dari hidupnya. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa, satu sisi Ririn adalah temannya yang sudah dia anggap sebagai saudara disisi yang lain adalah ternyata dia mencintai Purnomo sejak lama. Walaupun dia terlambat untuk menyadarinya, tapi itu cukup mengguncang jiwanya. Ricky adalah satu-satunya teman terdekatnya di sekolah, tapi dia pun ternyata jatuh hati padanya. *Mungkin memang benar tak bisa bersahabat dengan lawan jenis, karena akhir dari persahabatan itu adalah luka*. Gadis itu mengingatkan dirinya tentang persahabatannya dengan laki-laki yang hampir mustahil berakhir baik.
Pagi itu dia tak pergi ke sekolah karena berfikir kalau dia tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja. Saat Habibah sedang asyik menyetrika pakaian, tiba-tiba saja Ririn datang menghampiri.
" Bibah..." sapanya seraya memeluk Habibah dari samping.
" Kelihatannya kamu lagi senang ya? Boleh bagi-bagi gak senangnya?" ucap Habibah tanpa menghentikan aktivitas nya.
" Nanti malam mas Pur mau datang kerumah untuk melamar ku, apa kamu bisa datang?" ucapnya sambil memperhatikan wajah Habibah. Dia ingin melihat reaksi gadis itu, apakah biasa saja atau ada reaksi yang lain. Tapi ternyata gadis itu tetap dengan ekspresi awalnya, biasa saja. Apa mungkin dia gak ada rasa dengan mas Pur? Apakah selama ini hanya mas Pur yang menyukainya? Gumamnya dalam hati.
" Syukurlah kalau begitu, berarti dia sungguh-sungguh sama kamu. Dan sebagai teman saya ikut senang mendengarnya." imbuhnya lagi tanpa menoleh pada Ririn yang masih memeluknya.
" Terimakasih kamu selalu mendukung aku dan selalu kasih tau aku banyak mengenai mas Pur hingga aku bisa lebih mengerti dia. Kamu memang teman terbaikku." ucap Ririn sambil mempererat pelukannya karena bahagia.
Sementara hati Habibah tiba-tiba seakan menangis mendengar perkataan Ririn tadi. Dia sudah mau bertunangan, dia akan benar-benar jadi orang asing untuk mu. Selamanya dia hanya akan jadi orang asing. Rintihnya dalam diam.
__ADS_1
Setelah semua pekerjaannya telah selesai dia mengunci diri di dalam kamarnya. Entah kenapa dia hari itu ingin menangis. Dia diam-diam menangis sendiri tanpa suara. Entah kenapa dia tak bisa menghentikan air matanya untuk terus mengalir membasahi pipinya. Sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Diapun terperanjat dan spontan berdiri dan setengah berseru.
" Siapa...!?" serunya sambil bergegas membuka pintu.
" Kamu lagi ngapain sih dari tadi aku panggil- panggil gak di sahuti?" sungut Ririn kesal karena temannya itu tak menggubris panggilan nya hingga berkali-kali.
" Iyakah? Maaf Rin tadi tertidur karena tadi tiba-tiba kepala pusing jadi di bawa baring dulu, eh malah ketiduran." sahut Habibah memberi alasan.
" Aku mau ajak kamu makan, kamu belum ada makan apa-apa dari pagi. Mumpung ada mas Alvian, biar rame kita makan bareng yuk.." ajak Ririn lagi.
" Nanti aja saya makannya, kepala masih agak berat ini. Nanti kalau udah enakan saya cari sendiri makanannya.." ucapnya lagi berbohong. Dia hanya tak ingin suasana hatinya dilihat oleh orang lain. Dia benar-benar ingin sendiri saat itu.
Hari yang dinanti- nanti akhirnya datang juga, pengumuman kelulusan disekolah telah terpampang di papan pengumuman. Dengan langkah gontai Habibah melangkahkan kakinya menuju kerumunan teman-temannya yang sedang berdesak-desakan demi mencari nama mereka di daftar nama-nama siswa-siswi yang terpampang di sana. Ricky yang sudah berada di sana sejak pagi segera menghampiri Habibah yang tengah mendekati kerumunan.
" Tunggu dulu..! Saya belum lihat pengumumannya.." seru gadis itu sambil menahan tarikan tangan Ricky.
" Gak usah kamu lihat lagi, aku sudah lihat tadi.. Kamu lulus dengan nilai yang bagus lebih bagus dari nilaiku. Kerja kerasmu gak sia-sia, meski kamu sekolah sambil bekerja tapi nilaimu tetap lebih baik dariku. Aku salut sama kamu Nur, kamu hebat..!" selorohnya penuh rasa kagum.
" Benarkah? Alhamdulillah kalau nilainya gak mengecewakan. Saya jadi gak malu saat pulang nanti." ucapnya lega. Tanpa dia sadari ucapannya telah menghilangkan senyum diwajah Ricky . Seketika itu juga tangannya yang sejak tadi memegang tangan Habibah itu ia lepaskan dengan lemah.
__ADS_1
" Kamu benar-benar mau pulang nur?" tanyanya pelan.
" Iya, bagaimana pun juga saya tetap harus pulang Rick. Disana ada orang tua saya, keluarga saya dan kampung saya. Kalau bukan kesana lalu kemana lagi saya mau kembali?" Dia masih tak mengerti mengapa Ricky begitu keberatan jika dia pulang.
" Ya, aku tau itu. Cuma nanti kalau aku kangen kamu bagaimana? Di kampungmu belum ada jaringan handphone. Kalau aku kesana juga sangat jauh harus 10 jam perjalanan. Kalau surat berminggu-minggu baru sampai, itupun kalau kamu langsung balas suratku kalau kamu lama baru balas bagaimana? Kamu tau hal yang paling aku gak bisa tahan selama kenal kamu adalah saat aku rindu sama kamu." keluhnya panjang lebar.
" Tenanglah.. nanti saya telpon kamu dari wartel. Disana ada wartel, insya Allah setiap Minggu saya telpon kamu. Bagaimana?" hibur Habibah sambil tersenyum gemas. Ekspresi wajah cemas Ricky yang terlihat lucu baginya karena selama mereka berteman tak pernah ekspresi wajah itu menghiasi wajah ganteng Ricky.
Sepulang sekolah, saat sedang menunggu angkot seperti biasanya tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya dan dia sangat mengenal orang itu. Yah, dia adalah Purnomo. Pria yang sangat dia hindari dan jauhi, pria yang ingin dia lupakan dari hatinya dan hidupnya. Kini tiba-tiba datang menghampirinya.
" Tunggu Nur..!" saat gadis itu hendak pergi meninggalkan tempat dia berdiri tadi. Gadis yang dia panggil tak menghiraukan seruannya. Dia tetap melangkah menjauh yang mau tak mau diapun mengejarnya dan meraih tanganny serta menghentikan langkah gadis itu.
" Kenapa kamu pergi? Aku hanya ingin bicara dengan kamu, kenapa kamu malah menghindari ku Nur?" tanyanya dengan kesal juga sedih.
" Maaf mas, mas Pur itu sudah bertunangan dengan Ririn. Harusnya mas bisa jaga perasaan dia juga kepercayaan dia. Ingat mas , saya hanya orang lain yang gak pantas mas temui di belakang Ririn. Jangan sampai nanti ada salah faham karena saya." sahutnya datar tanpa menoleh sedikitpun pada Purnomo. Pria itupun melepaskan tangannya dari tangan Habibah dengan kesedihan yang nampak jelas di wajahnya.
" Apakah kita benar-benar gak bisa seperti dulu lagi? Apakah semua yang sudah aku lakukan ini tak ada artinya untukmu? Aku ada di posisi dan statusku sekarang semua karena kamu. Apakah kamu masih belum mengerti juga Nur? Hatiku benar-benar sakit melihat kamu seperti sekarang ini padaku. Aku harus bagaimana agar kamu bisa kembali seperti dulu Nur? Tolong bicaralah.." ucapnya sendu.
" Maaf mas, saya gak bisa bilang apa-apa. Saya hanya ingin mas baik-baik lah dengan Ririn. Dan saya gak mau ada kesalah fahaman di antara mas dengan Ririn karena saya. Dia benar-benar menyukai mas, jadi jangan sakiti dia hanya karena saya yang cuma teman." hatinya menjerit sakit saat mengatakan semua itu. Terdengar bijak bagi orang yang mendengarnya tapi bagai sembilu yang menusuk kalbunya. Dia meninggalkan Purnomo dengan menahan air matanya yang nyaris tumpah. Maaf mas Pur, saya benar-benar minta maaf karena telah menyakitimu. Saya juga merasakan sakit ini, tapi saya gak bisa berbalik dan mengecewakan lebih banyak orang. Suatu saat nanti mas akan mengerti bagaimana hati saya yang sebenarnya. Bisiknya lemah yang hanya dia sendiri yang tau. Sementara Purnomo hanya terpaku menatap punggung Habibah yang terus menjauh dan menghilang. Jika saja dia seorang gadis tentu sudah menangis tersedu-sedu, dia merasakan dadanya sangat perih menghadapi kenyataan bahwa gadis yang selama ini dia cintai kini bagai orang asing yang belum pernah saling mengenal.
__ADS_1
***
mohon dukungannya selalu ya.. dengan like dan komennya, terimakasih 🥰🙏