Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
kepulangan Qodir


__ADS_3

Menunggu selama dua hari serasa berhari-hari lamanya bagi Habibah. Dia ingin secepatnya pergi dari rumah mertuanya itu. Bukan karena dia tak menyukai mertuanya, melainkan dia tak ingin istri-istri dari iparnya semakin cemburu padanya. Dia tak pernah meminta untuk diperlakukan istimewa oleh mertuanya itu. Tapi diapun tak bisa menolak kasih sayang yang diberikan oleh mertuanya itu pada dirinya. Satu-satunya cara untuk menghindari adanya konflik adalah dengan menghindarinya. Walaupun Habibah sangat khawatir bahwa keputusannya itu akan menyinggung hati mertuanya yang dia sendiri tau mereka tulus dengan kasih sayangnya. Dan dia merasa sangat beruntung juga bersyukur mendapatkan mertua yang menyayanginya.


Hari yang dinantikan Habibah akhirnya datang juga. Qodir datang menjemputnya setelah shalat Dzuhur, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat gembira dengan kedatangan Qodir kali ini. Mungkin karena rasa tak sabarnya yang ingin lekas pergi dari rumah itu.


" Mas, kenapa lama sekali datangnya?" tiba-tiba saja suara Habibah jadi terdengar seperti sedang merajuk. Padahal selama mereka menikah Habibah tak pernah bersikap seperti itu. Bahkan ekspresi wajahnya pun biasanya datar dan dingin. Hal itu membuat Qodir merasa terkejut dengan perubahan sikap istrinya itu.


" Iya, tadi pesawatnya sempat delay setengah jam waktu transit. Mangkanya terlambat sampai rumah." Qodir berusaha menjelaskan sedikit kendala yang dihadapi olehnya tadi.


" Kapan kita pulangnya? Besok ya mas..?" tanya Habibah setengah memohon.


" Kenapa harus buru-buru banget sih..? Aku masih ada waktu dua hari lagi untuk istirahat dirumah. " jawab Qodir. Dia sengaja mengatakan itu karena ingin melihat reaksi istrinya jika kepulangannya di tunda satu hari lagi.


" Kenapa gak besok aja sih mas? Istirahatnya di rumah aja. Saya sudah kangen sama rumah kita, pasti sudah sangat kotor." terlihat jelas kesedihan diwajah istrinya itu saat sedang berbicara, wajahnya hanya menunduk dengan air mata yang mulai turun perlahan.


Sejak kapan dia jadi seperti ini? Kenapa dia jadi mudah sekali menangis? Sejak kapan dia jadi ekspresif begitu? Tapi syukurlah dengan begitu aku jadi tau apa yang sedang dia rasakan dan fikirkan. Aku tak perlu menebak-nebak lagi. Gumam Qodir sambil memperhatikan wajah istrinya yang sudah berurai air mata.


Setelah makan malam Habibah langsung masuk ke kamarnya, dia tak mau berlama-lama berkumpul dengan yang lainnya. Habibah menyibukkan diri dengan membaca buku-buku kesayangannya. Setelah setengah jam berlalu, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Habibah hanya melirik sekilas lalu pandangannya kembali pada buku yang sedang dia baca sejak tadi.


" Baca buku apa sih kok serius banget..?" tanya Qodir seraya membaringkan tubuhnya di samping Habibah yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjangnya. Yang ditanya hanya diam saja bahkan seolah tak mendengar pertanyaan suaminya itu. Merasa istrinya tak ingin diganggu, Qodir pun menghadapkan tubuhnya pada Habibah lalu memeluknya dari samping seraya mengelus-elus perut buncit istrinya.

__ADS_1


" Kenapa dia gak bergerak ya.. ? Apa dia juga sudah tidur..?" Qodir meminta jawaban dari istrinya dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah Habibah seraya tangannya tak berhenti mengelus-elus perut Habibah.


" Sayang..." panggil Qodir lembut sambil mencium perut Habibah.


" Aku kangen.. apa kamu gak kangen.." ucapnya sambil meraih buku yang ada ditangan istrinya lalu menyimpannya dimeja yang ada di samping tempat tidur. Habibah hanya diam tak menyahuti perkataan suaminya itu. Tanpa di sadari Habibah ucapan suaminya itu membuatnya merinding. Karena dia selalu merasa suaminya itu seperti orang asing, itu sebabnya dia masih tak terbiasa dengan sikap mesra dari suaminya itu. Bukan tanpa alasan Habibah menganggap suaminya itu asing, selain belum ada rasa dalam hatinya ditambah lagi kata-kata kakak ipar keduanya terus terngiang-ngiang dibenaknya. Mengingatkan siapa dirinya bagi Qodir. Walaupun Habibah tak tau bagaimana perasaan suaminya pada dirinya, tapi dia sendiri masih kesulitan menerima kehadiran Qodir dalam hatinya.


" Apa yang kamu lamunkan, hem...?" tanya Qodir seraya mencolek ujung hidung mancung milik istrinya.


" Gak ada apa-apa kok mas.."


" Ayo istirahat.. Besok kita harus berangkat pagi-pagi.." kata Qodir seraya menarik selimut dan menutupi tubuh mereka. Habibah yang tak bisa mendapatkan posisi yang nyaman karena kehamilannya yang sudah besar itu, terlihat gelisah. Qodir yang menyadari kegelisahan istrinya itu pun akhirnya membuka matanya yang sudah dia pejamkan beberapa menit lalu.


" Mas.. bolehkah saya tanya sesuatu pada mas?"


" Ya.. Tanyakanlah.." Jawab Qodir masih tak menghentikan tindakannya yang mengundang rasa itu.


" Apakah mas bahagia menikah dengan saya?" tanyanya pelan.


" Tentu saja.. Kenapa? Apakah kamu tak bahagia?" tanya Qodir dengan memperhatikan wajah istrinya itu.

__ADS_1


" Apakah saya jadi beban buat mas?" tanya Habibah lagi tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


" Apakah kamu merasa kamu sudah menjadi beban untukku?" ucap Qodir, kali ini dia duduk dengan menatap lekat wajah istrinya.


" Sayang.. Aku siap menikahimu berarti aku siap menanggung beban dan tanggung jawab yang baru di pundakku. Asalakan kamu bisa senang , aku tak pernah merasa keberatan sama sekali dengan semua beban ini. Karena itu amanah yang harus aku terima dari konsekuensi menikah. Apakah ini yang selalu mengganggu fikiranmu?" tanya Qodir serius.


" Terimakasih kalau mas tak merasa keberatan.. Sekarang tidurlah.." ucap Habibah lirih.


Tiba-tiba air matanya mengalir tanpa dikomando. Dadanya terasa sesak mendengar penuturan suaminya itu. Sementara Qodir sendiri masih merenungi semua yang diucapkan istrinya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada sesuatu yang terjadi tanpa dia tau? Ataukah ada yang mengatakan sesuatu padanya? Kenapa dia tak pernah mengatakannya.. Kenapa harus dia simpan sendiri, dan membuat aku selalu menerka-nerka apa yang terjadi. Tak bisakah kamu bersikap terbuka padaku? Baru tadi aku merasa gembira melihat bagaimana sikapmu yang ekspresif, tapi sekarang kamu kembali seperti orang asing disisiku. Tak sekalipun kamu menceritakan apa permasalahan yang kamu hadapi padaku. Habibah.. Aku memilihmu untuk menjadi teman hidupku karena aku mengagumi semua yang kamu miliki. Bahkan sikap dinginmu ini yang membuat aku semakin ingin bersamamu. Semoga aku adalah orang yang bisa membuatmu bahagia.


Diciumnya kening Habibah dengan lembut. Dibenahinya selimut yang menutupi tubuh Habibah, diciumnya perut buncit istrinya itu dengan membisikan sesuatu. Sayang Abi, jangan membuat umi mu merasa tak nyaman ya sayang.. biarkan umi istirahat dengan nyaman jangan buat umi gelisah. Anak Abi yang Sholeh..


Qodir memejamkan matanya tanpa tahu apa yang akan terjadi dihari esok. Mungkin hari ini dia bisa bersikap manis pada Habibah , tapi tak ada yang tau besok akan seperti apa. Sementara Habibah sendiri masih belum bisa memejamkan matanya. Fikirannya masih melayang-layang entah kemana. Banyak hal yang berkecamuk dalam benaknya, namun dia tak tau harus berbuat apa dengan semua itu. Yang bisa dia lakukan hanya menjalani semuanya tanpa banyak mengeluh.


***


menikah karena dijodohkan itu mungkin kesulitannya ini ya🤔🤔jangan lupa like dan komennya ya juga vote nya.. terimakasih 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2