
Seminggu telah berlalu, namun Qodir masih belum sadar juga. Bahkan sejak Habibah pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu itu, Qodir hampir setiap malam menggumamkan sesuatu yang membuat hati tersayat mendengarnya. Walaupun matanya terpejam, namun dia sering mengatakan kata maaf berulang kali dalam ketidak sasarannya. Ibu Masurai kembali menghubungi Habibah dan memintanya untuk bisa datang kerumah sakit tempat Qodir dirawat.
" Bagaimana mas, mama minta saya untuk datang menjenguk mas Qodir. Apakah boleh pergi?" tanya Habibah pada suaminya. Karena dia tak akan pergi jika suaminya tak mengizinkannya.
" Iya, boleh. Tapi nanti perginya barengan sama aku aja. Gak baik kalau kamu pergi sendiri. Takut ada apa-apa dijalan dan juga gak enak kalau buat orang salah faham kan? Oh ya, masa cutiku tinggal 3 hari lagi. Lalu bagaimana denganmu? Apakah mau ikut bersamaku atau kamu akan tetap tinggal disini?" tanya Purnomo.
" Bagaimana ya mas, saya ingin ikut. Tapi bagaimana dengan usaha saya disini? Kalau saya tutup, kasihan orang yang sudah kerja dengan saya. Nanti mereka kerja apa? Mas tau sendiri, cari kerjaan dizaman sekarang ini agak susah. Apalagi untuk wanita-wanita yang memang punya anak kecil seperti mereka. Kalau mereka kerja dengan saya, anak-anak mereka insya Allah aman. Karena mereka masih tetap bisa mengawasi anak-anak mereka sambil mereka bekerja. Jadi menurut mas, solusinya bagaimana?" Habibah balik bertanya pada suaminya.
" Iya juga ya, hitung-hitung kita membuka lapangan pekerjaan untuk mereka. Tapi aku nanti bagaimana kalau jauh dari kamu? Aku juga belum dapat "jatah" dari kamu. Jadi kapan nih sayang? Nanti keburu ngebatu lho.." kata Purnomo sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Habibah.
" Ih.. mas ini ngomong apaan sih.? Kita lagi bicara yang penting, mas larinya kemana-kemana." jawab Habibah menahan tubuh suaminya agar menjauh darinya dengan wajah yang merona. Purnomo bisa melihat dengan jelas wajah malu istrinya itu.
" Sayang.. Kenapa aku kalau lihat kamu itu bawaannya gemes melulu ya? Apalagi kalau lihat pipi kamu yang merah seperti ini, rasanya..."
" Udah ah.. Malas bicara sama mas lagi. Lebih baik saya keluar bantu kerjaan didapur." Habibah beranjak dari tempat duduknya dan berniat meninggalkan Purnomo. Tapi Purnomo dengan sigap menarik tangan Habibah dan mendudukkannya dalam pangkuannya.
" Mas..!" pekik Habibah terkejut.
" Mau kemana? Memangnya aku sudah izinkan kamu keluar dari kamar ini? Aku masih belum selesai berurusan dengan istriku yang cantik ini. Bagaimana bisa mau kabur seenaknya gitu." kata Purnomo sambil menyentuh pipi Habibah yang memerah.
" Mas, ini sudah pagi. Saya harus siapkan sarapan nanti kesiangan." Habibah mencoba mencari alasan agar tak berlama-lama lagi dikamar.
" Ok, sebentar ya." Purnomo membopong tubuh mungil Habibah dan berjalan ke arah pintu lalu mengucinya dan kembali ketempat tidur dan membaringkan Habibah dipembaringan.
" Mas, mau ngapain sih. Kenapa pintunya dikunci?" wajah Habibah semakin memerah, perasaannya sudah gak karu-karuan. Sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
" Sstt.. Kamu tadi subuh kan sudah shalat, berarti sudah bisakan? Tiga hari lagi aku pergi lho sayang, dan kita bakal lama gak ketemunya. Jadi.." suara Purnomo sudah mulai berubah bergetar menahan hasratnya yang sudah tertahan selama satu Minggu ini.
" Tapi ini pagi mas, gak enak sama mama kalau saya gak bantu mama." jawab Habibah dengan memalingkan wajahnya dari Purnomo. Dia tak tahan melihat sorot mata suaminya yang sudah dipenuhi oleh hasrat yang membara. Purnomo tak mengatakan apapun, dia hanya menciumi wajah Habibah dengan lembut. Mulai dari keningnya, kedua pipinya, dan ditatapnya dalam-dalam Habibah dan mencium ujung hidung Habibah. Habibah bisa merasakan betapa hangat nafas yang di hembuskan oleh Purnomo. Sesaat disentuhnya bibir mungil Habibah dan baru saja dia akan mengecupnya, tiba-tiba terdengar suara Nur Laily memanggil Habibah dan mengetuk pintu berkali-kali.
__ADS_1
Purnomo merasa sangat kesal, dipeluknya Habibah.
" Percuma pintu dikunci kalau begini, tetap gak bisa tenang sama sekali." bisik Purnomo dalam kekesalannya. Habiba hanya bisa tertawa melihat betapa kesalnya Purnomo. Habibahpun berusaha bangun dan turun dari kasur dengan memberikan sebuah kecupan dipipi Purnomo sebelum dia meninggalkannya dan hilang dibalik pintu.
Kayaknya harus cepat-cepat membawanya pergi dari sini dan hanya berdua. Jangan bawa anak-anak juga, susah kalau ada mereka. Mereka lebih berkuasa daripada aku.
Ah..! Bagaimana aku bisa tahan dengan istri yang seimut dia didekatku? Melihatnya dari kejauhan saja sudah buat aku ingin memakannya utuh, apalagi kalau sedekat ini. Banyak sekali pengganggunya...
Purnomo hanya bisa memeluk bantal guling dan membenamkan wajahnya disana.
" Kamu kenapa Bibah? Kamu sakit?" tanya ibunya.
" Gak, Bibah baik-baik saja kok ma." jawab Habibah.
" Tapi wajahmu merah sekali, apa kamu sedang demam?" tanya ibunya sambil menempelkan punggung telapak tangannya dikening Habibah.
" Gak ma, mungkin karena gerah aja.. Emm.. jadi kita mau buat sarapan apa sekarang?" Habibah mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sarapan telah siap dimeja makan, Habibahpun segera memanggil Purnomo yang ternyata baru keluar dari kamar mandi.
" Lho mas, mandi lagi? Kan gak ngapa-ngapain kenapa harus mandi?" tanya Habibah heran.
" Kalau gak dibawa mandi, kamu mau lihat "senjataku" berdiri dilihat orang lain?" sungut Purnomo dengan wajah yang kusut.
" Mas gak "itukan" mas?" tanya Habibah serius.
" Gak usah mikir yang aneh-aneh deh.. Akal sehatku masih normal, kalau ada kamu ngapain aku harus begitu? " sahut Purnomo sambil mengenakan pakaiannya.
" Jadi dulu selama mas sendiri suka gitu?" tanya Habibah dengan sorot mata menyelidik.
__ADS_1
" Astaghfirullah hal'adziim, gak lah sayang.. Dulu aja aku gak suka begitu masa sekarang sudah ada kamu aku mau begitu? Jangan ngada-ngada deh..!" kata Purnomo sambil mencubit gemas kedua pipi istrinya.
" Sudahlah...! Ayo kita sarapan, dari pada nanti dia "bangun" lagi, memangnya kamu mau tanggung jawab?" goda Purnomo yang seketika membuat wajah Habibah merona. Dicubitnya pinggang Purnomo dengan keras yang membuat Purnomo meringis menahan sakit. Tapi dia tetap tertawa melihat wajah istrinya yang merah karena malu. Diapun mengikuti Habibah menuju ruang makan, yang mana sudah ada ayah dan ibu mertuanya juga Nur Laily serta Dona yang sudah menunggunya.
" Pagi yah, ma.. Pagi sayang.." sapa Purnomo sambil mengecup kening putri kesayangnnya juga Zain.
" Aku gak disapa mas?" protes Dona karena dia merasa dilewatkan dari sapaan pagi Purnomo.
" Oh iya, pagi Dona. Maaf tadi gak lihat." canda Purnomo yang membuat Dona merengutkan wajahnya karena kesal.
" Aku Segede gini ga kelihatan..!? Terlalu..!" sungut Dona sambil menyantap sarapannya dengan tetap merengut. Yang lain hanya tertawa melihat Dona yang merajuk.
" Oh ya ma, yah.. Setelah sarapan kami mau pinjam mobil ayah lagi boleh gak? Tadi subuh neneknya Zain telpon minta kami datang untuk menjenguk mas Qodir. Katanya ada hal penting yang harus Bibah tau. Mumpung mas Pur juga belum kembali ketempat kerjanya, jadi biar ada yang ngantar." Habibah memulai pembicaraan dengan ayahnya. Walaupun bicara saat makan itu sangat jarang terjadi, tapi Habibah merasa tak ada waktu lagi selain saat seperti ini untuk bicara dengan ayahnya.
" Ya sudah pakai saja, yang penting kalian hati-hati saja. Apa anak-anak juga ikut?" tanya ayahnya lagi.
" Mungkin sebaiknya mereka gak usah ikut, perjalan jauh nanti mereka kecapean." ibunya meyarankan.
" Nggak ma, mereka akan ikut. Sebab Zain harus bertemu dengan Abahnya. Siapa tau jika nanti Zain mau bicara dengan mas Qodir, masa Qodir akan cepat sadar." harap Habibah.
" Jadi orang jangan terlalu baik kak, kenapa kakak harus capek-capek cuma untuk perduli sama dia? Dia sendiri bagaimana pada kakak dan Zain? Bahkan istrinya tega nyulik Zain dari kakak. Masa kakak sudah lupa itu?" protes Dona.
" Jangan suka nyimpan dendam dalam hati Dona, itu gak baik. Nanti hati kita akan rusak karena rasa benci. Insya Allah kakak sudah maafkan mereka . Karena keburukan tak akan berubah jadi kebaikan kalau dibalasnya dengan keburukan juga. Tapi keburukan insya Allah akan berubah jadi kebaikan jika kita membalasnya dengan kebaikan dan maaf." ujar Habibah.
" Ah.. Kakak ini. Bisa-bisanya kakak berhati lembut begitu? Kali aku yang jadi kakak, Sudah aku penjarakan mereka."
Sudah.. Sudah..! Habiskan sarapanmu lalu bereskandan cuci piring kotornya. Jangan mengandalkan kakakmu terus, lagi pula dia harus cepat pergi kerumah sakit. Jadi gak bisa bantu-bantu lagi." potong ibunya mengakhiri percakapan pagi itu.
***
__ADS_1
Sabar ya mas Pur, resiko kalau udah punya anak dan ada dirumah keluarga ya gitu🤭🤭
Jangan lupa terus dukung author dengan like komen dan votenya ya.. terimakasih 🥰🥰🙏