Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Hamil


__ADS_3

Setelah satu bulan menikah, mereka pindah ke rumah sendiri. Walaupun statusnya masih mengontrak, tapi itu lebih baik bagi mereka. Namun baru saja dua bulan pindah, tiba-tiba Habibah mulai terlihat berbeda dari biasanya. Yang biasanya selalu diam dan dingin, kini temperamennya mulai berubah. Entah kenapa Habibah mudah sekali untuk marah, apalagi pada suaminya Qodir. Qodir selalu saja terlihat salah dimatanya. Bahkan tiba-tiba saja semua yang berbau harum dia buang semua diganti dengan yang berbau herbal. Sabun mandi herbal, shampo herbal dan pengharum ruangan pun herbal. Tak ada bau parfum lagi di pakaian suaminya, bahkan cuci bajupun menggunakan sabun cair pencuci piring dengan ekstrak lemon. Semua jadi terasa aneh, bahkan yang tadinya tak suka dengan buah jambu air mendadak sangat suka.


Awalnya Qodir masih berusaha bersabar dengan tingkah istrinya yang berubah drastis itu. Tapi setelah dua Minggu, akhirnya dia gak sabar juga.


" Kamu ini kenapa sih dek, aku perhatikan belakangan ini tingkahmu semakin aku diamkan kamu semakin menjadi-jadi saja. Mau kamu itu apa?!" ucap Qodir dengan suara yang cukup tinggi.


Habibah hanya diam mendengar pertanyaan dari suaminya itu.


" Kamu itu kalau ditanya ya coba dijawab dek, bukan hanya diam saja. Apakah kamu merasa gak betah disini atau kamu mau pulang ke rumah orang tuamu...!?" ucap Qodir dengan suara yang meninggi.


" Saya mau tidur, saya capek.." jawab Habibah sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


" Oh... jadi begini ya sifat asli kamu yang sebenarnya? Gak usah sok ja'im lagi di depanku, keluarkan aja semua sifat aslimu yang buruk itu. Aku mau lihat seberapa buruknya sifatmu itu." kata-kata Qodir begitu menyakitkan dihati Habibah. Habibah hanya diam dan menangis dalam diam. Dia tak membalas semua ucapan suaminya, dia hanya meringkuk kan tubuhnya dibalik selimut tebal miliknya. Fikirannya jadi kacau seketika, dia tak bermaksud membuat suaminya itu marah tapi dia juga tak tau kenapa suaminya bisa semarah itu padanya.


Setiap pagi Habibah rutin mengikuti program pengajian di sebuah pondok pesantren yang berada dekat dengan rumahnya. Rumah sewa Habibah berada di lereng sebuah bukit, sementara pondok pesantren itu berada di atas bukitnya. Jadi setiap hari Habibah harus menaiki berpuluh-puluh anak tangga untuk mencapai pondok pesantren. Belum sampai satu bulan Habibah menjalani rutinitas itu, tiba-tiba dia merasa perutnya sangat sakit. Dia sudah merasakan perutnya sakit sejak dua Minggu sebelumnya, hanya saja dia mengira itu tak masalah karena sakitnya hanya sedikit. Tapi hari itu perutnya benar-benar terasa sangat sakit, seperti ada sesuatu yang mengaduk-aduk di dalam perutnya. Awalnya dia berusaha menahan rasa sakitnya itu, tapi semakin lama rasa sakitnya itu semakin menjadi. Hingga memaksanya untuk merintih dan menangis.


Qodir yang masih belum memperhatikan keadaan istrinya itu. Dia pergi meninggalkan rumahnya untuk bekerja seperti biasa. Untungnya ada tetangga mereka Nelly datang berkunjung ke rumah mereka untuk berbagi makanan, karena Habibah juga biasa berbagai makanan pada tetangganya jika Habibah memasak lebih.

__ADS_1


" Assalamu'alaykum..." salam Nelly seraya mengetuk pintu, karena masih tak ada jawaban setelah diketuk dan mengucap salam. Nelly pun mulai gelisah, akhirnya Nelly memanggil seorang tetangga lainnya yang kebetulan memang akrab dengan Habibah.


" Assalamu'alaykum... Kak Muti'ah.... Kak... kakak..." seru Nelly panik sambil mengetuk pintu rumah Muti'ah.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah... Ada pa Nell..?" sahut Muti'ah yang tergopoh-gopoh membukakan pintu begitu mendengar kepanikan Nelly.


" Kak, ayo temani Nelly kerumah Kak Habibah. Nelly mau antar makanan tapi kak Habibah di panggil-panggil gak menyahut juga. Ayo kita periksa kak, takut ada apa-apa.." ucap Nelly sambil menarik lengan Muti'ah keluar rumah dan menuju rumah Habibah. Sesampainya di rumah Habibah, mereka kembali mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Karena masih tak ada jawaban, akhirnya mereka memberanikan diri membuka pintu rumah itu yang kebetulan tak dikunci. Saat di cari, ternyata Habibah tergeletak tak bergerak ditempat tidurnya dengan wajah yang sangat pucat. Melihat kondisi itu, Nelly dan Muti'ah semakin panik. Namun mereka sedikit lega setelah mereka memeriksa tubuh Habibah, ternyata habibah hanya pingsan saja. Segera mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Habibah langsung masuk ke ruang UGD untuk pemeriksaan awal. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dokter memanggil Nelly dan Muti'ah.


" Siapa keluarganya?" tanya dokter itu.


" Kalau begitu, bisakah suami pasien di panggil kemari?" tanya dokter itu lagi.


" Bisa dok,.. Tapi apakah teman saya itu sakit parah dok?" tanya Muti'ah lagi karena tak bisa menahan rasa penasarannya dengan kondisi Habibah.


" karena itu saya harus bicara dengan suaminya. karena kondisi pasien saat ini sangat lemah." ucap dokter itu dengan sedikit terlihat kesal.

__ADS_1


" Baik dok, akan kami usahakan secepatnya memanggil suaminya kesini." jawab Nelly. Muti'ah hanya terdiam, namun dia memikirkan sesuatu tentang ekspresi wajah kesal dokter itu mengganggunya. Apa sebenarnya yang terjadi pada Habibah? Kenapa dokter itu terlihat jengkel? Apakah KDRT? Astaghfirullah, aku ini mikir apa sih...


Nelly menelpon kakaknya dan Muti'ah menelpon suaminya dan meminta mereka memanggil suami Habibah dan membawanya ke rumah sakit secepatnya. Tak sampai satu jam, mereka pun tiba di rumah sakit. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa dengan sejuta pertanyaan dalam benak mereka. Sesampainya di ruangan UGD, mereka melihat Habibah yang masih berbaring di tempat tidur pasien. Namun sudah sadar dari pingsannya. Tak lama dokter yang memeriksa Habibah tadi pun masuk.


" Apakah suami pasien sudah datang?" tanya dokter.


" Iya saya dok." sahut Qodir.


" Begini pak, terkait dengan kondisi istri bapak. Bagaimana bisa istri bapak sampai seperti itu?" tanya dokter pada Qodir.


" Istri saya kenapa dok?" tanya Qodir tak mengerti.


" Memangnya bapak tidak tau kalau istri bapak itu tak boleh stress? Seharusnya bapak lebih menjaga perasaannya jangan sampai mengalami stress. Karena kalau sampai istri bapak terus-terusan stress begini maka bisa saja istri bapak mengalami keguguran kapan saja. Jadi tolong anda lebih memperhatikan lagi kondisi mental istri bapak." ucap dokter itu.


" Istri saya hamil dok?"tanya Qodir tak percaya. Selain Qodir, Nelly dan Muti'ah serta suami mereka juga terkejut dengan apa yang mereka dengar itu. Bahkan mereka tak mengerti bagaimana bisa seorang suami sampai tak tau istrinya sendiri hamil.


" Memangnya bapak tidak tau kalau istri bapak hamil? Istri bapak sudah hamil tiga bulan lho pak, bagaimana bisa anda sebagai suaminya sampai tidak tau itu. Apakah anda tak pernah melihat perubahan pada istri Anda? Sudah tiga bulan lho ini, bukan baru satu bulan. Berarti bapak tak pernah memberi perhatian anda pada istri Anda sendiri." ucap dokter itu dengan nada kesal yang sangat jelas.

__ADS_1


Qodir sendiri baru menyadari, jika perubahan sikap istrinya itu dikarenakan kehamilannya. Bahkan dia sudah menyakiti hati istrinya itu setiap hari sebab mengira bahwa perubahan sikap istrinya itu karena memang sifat asli istrinya yang seperti itu. Ternyata dia salah sangka pada istrinya, dan dia hampir saja membuat istrinya itu keguguran karena dirinya. Setelah mendapatkan ceramah panjang lebar dari dokter. Qodirpun mulai mengerti apa saja yang harus dia lakukan pada istrinya. Dia berusaha untuk bisa bersabar menghadapi istrinya. Bahkan dia berusaha memberikan toleransi setinggi mungkin pada istrinya, agar tak ada lagi kejadian seperti itu.


jangan lupa like dan komennya ya, juga vote nya🥰🥰 terimakasih..


__ADS_2