Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Menangis lagi


__ADS_3

Satu tahun berlalu sejak Purnomo menikahi Ririn, tak ada hal istimewa terjadi dalam hidup Habibah selain hari-hari yang dilalui dengan drama perdebatan sang Asisten lapangan Muhammad Zelly Nur Rahman yang selalu mencari alasan agar bisa menang dan saling menunjukan kekeras kepalaan mereka masing-masing.Tak ada yang mau mengalah, walau sebenarnya sejak lama Zelly sudah tak galak pada karyawan lain, sudah mulai banyak bercanda dengan bawahannya. Hanya pada Habibah dia masih bertahan dengan sikapnya itu. Walaupun sebenarnya dia selalu perhatian. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa dia telah jatuh hati pada seorang gadis yang usianya jauh dibawahnya. Tapi itulah kenyataannya, dia benar-benar tak bisa mengingkarinya lagi.


Sore itu di hari Sabtu, gadis itu pulang kerumah untuk mengemas perlengkapannya selama dia tinggal di Kamp yang sudah disediakan perusahaan. Dia merasa lelah jika harus pulang pergi setiap hari. Akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di Kamp yang tak jauh dari kantor divisinya. Jaraknya hanya sekitar seratus lima puluh meter saja dari kantor divisi. Saat sedang berkemas, Tiba-tiba datang tamu yang tak diundang mengetuk pintu rumahnya dengan sangat kerasnya.


Duk..Duk..Duk...


" Bibah.. Habibah...!" Serunya memanggil namanya dengan sangat keras dan penuh emosi. Gadis itupun segera membukakan pintu rumahnya yang digedor orang dengan tak sabaran.


Plak...!


Sebuah tamparan mendarat keras di pipi kirinya begitu pintu rumahnya terbuka. Betapa terkejutnya dia yang tiba-tiba mendapatkan sebuah tamparan. Tangannya ditarik paksa hingga dia hampir terjerembab karena tak ada kesiapan dari tubuhnya untuk menahan tarikan orang itu. Belum lagi hilang rasa terkejutnya karena ditampar dan ditarik, dia lebih terkejut lagi saat tau siapa yang telah melakukan itu padanya.


" Ri.. Ririn..!" Habibah tergagap tak percaya jika yang berdiri di hadapannya itu adalah temannya Ririn yang sudah dia anggap sebagai saudara. Dia tak tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu, tapi satu yang pasti adalah Ririn dalam keadaan yang sangat marah.

__ADS_1


" Kamu masih ingat juga sama aku hah..!? Kenapa baru sekarang kamu ingat aku, kenapa kau gak ingat aku saat kamu berusaha menggoda suamiku? Apa kamu saat itu amnesia?" Tuduhan yang dilontarkan oleh Ririn bagaikan Guntur yang menghantam jantungnya. Dia nyaris pingsan mendengar ucapan Ririn itu, dia terduduk lemas mendengar tuduhan yang tanpa bukti apapun itu.


" Bagaimana bisa kamu bilang begitu Rin? Kamu itu teman yang sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri. Mana mungkin saya mau merebut suamimu" jawab Habibah mencoba menenangkan Ririn yang terlanjur dikuasai amarah.


" Kamu gak usah pura-pura lagi di depanku. Kamu itu temanku yang paling munafik yang aku punya. Masih banyak laki-laki yang bisa kamu pilih, kenapa kamu pilih suamiku untuk kamu jadikan target ? Masih banyak yang bujang kenapa kamu mau dengan yang sudah menikah? Dan asal kamu tau, aku sudah punya anak sekarang dan kamu gak bisa lakukan ini sama aku.." Ririn terus mengucapkan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan di hati Habibah. Tak lama Purnomo pun datang meraih tangan Ririn agar menjauh dari kediaman keluarga Habibah.


" Sekarang kamu bicara mas, selagi ada dia disini dan banyak orang yang akan jadi saksinya. Kau bicara sekarang mas, kamu sudah berapa lama berhubungan dengan dia..!" telunjuknya tepat menunjuk wajah Habibah yang bersimpuh di tanah.


" Ayolah dek, jangan buat malu begini. Malu dilihat banyak orang dek." bujuk Purnomo pada Ririn, namun sepertinya Ririn masih belum puas juga dengan marahnya itu.


" Tunggu mas..!" akhirnya Habibah pun buka suara seraya bangun dari duduknya.


"Saya gak tau kalian ada masalah apa sebenarnya. Tapi yang saya gak habis fikir adalah saya dituduh merayu mas dan mencoba merusak rumah tangga kalian. Darimana datangnya isu ini? Gak mungkin isu ini datang tiba-tiba.." lanjutnya dengan suara bergetar menahan tangisnya.

__ADS_1


" Aihh.. Gak usah sok-sokan gak tau apa-apa kamu, dimana-mana maling mana mau ngaku." pungkas Ririn cepat.


" Rin, biarkan saya bicara dulu.. setelah saya bicara nanti baru kamu yang bicara. Sekarang biarkan saya bicara dengan tenang dengan suamimu ini." pinta Habibah dengan mata yang tak lepas dari wajah Purnomo yang terlihat begitu panik dengan kondisi saat itu.


" Mas, bisakah mas jelaskan sama saya ini ada masalah apa? Apa yang terjadi dengan kalian? Kasih saya jawaban mas, saat ini yang saya butuhkan adalah jawaban bukan sikap diamnya mas Pur.." Desak Habibah pada Purnomo.


" Maaf Nur, aku sudah kasih tau kalau semua itu masa lalu. Dimasa lalu pun kita hanya berteman tak pernah lebih dari itu tapi dia gak pernah percaya itu. Sebab itu juga kesalahanku, dia menemukan buku diary kamu yang dulu itu Nur. Aku sudah jelaskan tapi dia gak percaya dan menuduh kita sudah berselingkuh di belakang dia. Karena aku kesal dituduh begitu terus, akhirnya aku bilang padanya kalau benar aku sudah selingkuh dengan kamu selama ini. Dan jadilah seperti ini.. Maafkan aku Nur.." Purnomo akhirnya menjelaskan dengan menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah gadis itu yang kini sedang menatapnya dengan sangat tajam. Bahkan selama dia mengenal gadis itu tak sekalipun melihat tatapan yang setajam saat ini. Tatapannya seakan langsung menembus keulu hatinya.


" Rin, kamu adalah teman saya dan selamanya kamu itu teman saya. Kalau saya mau mas Pur, maka saya gak akan pernah melepaskan perasaan saya hanya demi kamu. Saya relakan orang yang saya cintai yang saya sayangi itu untuk bisa hidup dengan kamu. Kalau saya mau, tak perlu menunggu setelah jadi suami kamu, kalau saya mau mungkin sekarang kamu bukanlah siapa-siapanya. Tapi demi kamu saya lepaskan semua perasaan saya, demi kamu saya tega melukai hatinya. Dan hanya untuk kamu saya rela kehilangan persahabatan kami. Apakah itu belum cukup untukmu? Saya sudah cukup senang mendengar kamu bisa bersama dengan mas Pur, saya hanya ingin kalian bahagia tanpa ada bayang-bayang saya lagi. Lagi pula saya sudah bertunangan, saya gak mungkin mengganggu rumah tangga orang lain. Perasaan saya itu adalah masa lalu maka lupakanlah dan berbahagialah.." ucap Habibah panjang lebar.


" Nur.." Suara Purnomo tersekat dikerongkongan saat mendengar penuturan gadis yang selama ini mendiami hatinya. Dia tak bisa lagi menahan rasa malunya diapun segera membawa Ririn pulang ke rumah orang tuanya. Dia tak bisa lagi berkata-kata walau hanya sekedar kata maaf sekalipun dia sudah tak mampu. Maafkan aku Nur, karena satu kalimat yang aku ucapakan karena kesal telah menyakitimu dengan begitu parahnya. Mungkin aku tak layak mendapatkan maaf darimu bahkan mungkin aku pun tak pantas untuk mengatakannya. Purnomo sangat menyesali kejadian sore itu. Sementara Habibah langsung mengurung diri dikamarnya, dia bahkan telah mengajukan izin sakit pada atasannya agar esok harinya dia tak perlu bekerja.


Tangisannya tak bisa meredakan rasa sakit dalam hatinya. Air matanya itu tak bisa menjawab semua pertanyaan yang ingin dia dengar jawabannya. " Mas Pur, andai saya tau bila jatuh cinta itu begitu menyakitkan seperti ini, mungkin alangkah baiknya jika saya tak pernah merasakannya. Jika boleh saya meminta pada Allah agar rasa cinta ini menghilang dari dalam hati saya selamanya agar kalian bisa hidup bahagia maka saya rela untuk itu."

__ADS_1


***


berkorban demi sahabat yang tak tau arti persahabatan😢😢


__ADS_2