
"Leo mana?"
"Pak Leo izin tidak bisa hadir, Pak."
Angkasa merapikan kemejanya dengan geram. "Bahkan, Leo saja bisa menolak hadir," ketusnya.
Shanessa tidak membalas. Ia hanya terus berjalan mencoba mengiringi langkah Angkasa yang semakin lebar.
Kali ini pertemuan terkesan lebih santai karena diadakan di sebuah cafe rooftop salah satu hotel di Tanah Abang. Angkasa masuk terlebih dahulu dan disusul Shanessa di belakangnya.
Angkasa menyisir hampir seluruh isi cafe dengan pandangannya dan sedikit terusik oleh salah peraturan nyeleneh cafe yang terbilang sederhana itu.
Dilarang memakai sendal jepit?
Angkasa mendengkus, lantas melanjutkan langkah menuju rekan bisnisnya yang sudah berdiri menyambut.
"Selamat pagi, Pak Angkasa," sapanya ramah sembari mengulurkan tangan. Sejujurnya, semenjak identitas Angkasa terbongkar sebagai putra seorang Wardana, Angkasa tidak kepalang susah untuk menjalin relasi. Ya, si Rahman ini salah satunya.
"Selamat pagi, Pak Rahman." Angkasa menjabat tangannya lantas balas tersenyum.
"Saya cukup kaget karena tiba-tiba pertemuan dimajukan begini," aku Rahman sembari tertawa basa-basi. Kemudian, kembali duduk setelah melihat Angkasa telah mengambil posisi di kursinya.
Mendengar penuturan Rahman barusan, sontak saja membuat sebuah senyum miring terukir di bibir Angkasa. Kemudian, dia menolehkan kepalanya ke arah Shanessa dan menatap wanita itu dengan pandangan mengerikan.
"Memulai pekerjaan lebih pagi, lebih baik," ucap Angkasa dengan gigi rapat. Ketimbang, menoleh pada Rahman ketika mengucapkan kalimat itu, ia justru memilih tetap memaku pandang pada Shanessa yang tidak berani membalas tatapannya.
***
"Katanya mau minum kopi?" protes Gantari ketika Nevan menarik tangannya.
"Di rumah aja," balas Nevan ringan. Kemudian, ia meraih tas selempang milik Gantari dan membawanya menuju mobil dengan sebelah tangannya yang masih bebas.
Rumah? Emang sekarang lagi di mana? Ini, kan, rumahnya?
Gantari pasrah saja. Terlebih ketika Nevan membukakan pintu mobil dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Untung saja jantung Gantari tidak copot.
"Retic gimana?" cetus Gantari gusar ketika Nevan mulai melajukan mobilnya.
"Kayak nggak akan balik kesini aja sih, Sayang."
"Dih! Sayang." Rona merah sontak menjalar di wajah Gantari, hingga membuatnya terpaksa membuang pandang ke luar jendela. Kemudian, sebuah usapan lembut mendarat di puncak kepalanya. Nevan. Siapa lagi?
Pemuda itu bahkan menyetir dengan sebelah tangan sambil mengulum senyum sepanjang jalan.
__ADS_1
"Masalah ... Mariah. Kamu percaya?" Nevan menurunkan tangannya, lantas beralih memegang kemudi.
"Enggak."
Nevan menoleh cepat, lalu tersenyum. "Terus tadi pagi kenapa ngomong ngelantur gitu?"
Untuk pertanyaan kali ini, Gantari tidak langsung menjawab. Menceritakan pertemuan pahitnya dengan sang paman belum sanggup ia lakukan.
"Ada masalah?"
Gantari tersentak, lantas menggeleng. Namun, kemudian ia meralatnya lagi. "Nanti pasti aku ceritakan, tapi nggak sekarang."
Kerutan samar tercetak di dahi Nevan, namun ia tidak ingin mendesak. Nevan yakin pasti ada hal besar yang terjadi, hingga mengganggu suasana hati Gantari. Akhirnya, ia memilih untuk mengangguk setuju.
Hening.
"Ngomong-ngomong soal Mariah. Emang pernah?"
Uhuk!
Dasar Gantari.
"Ya, enggak lah!" tampik Nevan sengit. Terlalu sengit, hingga membuat Gantari menyipitkan matanya sok curiga.
"Emang pernah apa? Aku nggak mikir yang iya-iya, kok," balas Gantari ringan.
Nevan menoleh dengan pandangan ngeri pada Gantari yang sedang tersenyum usil padanya, lalu menggeram gemas.
"Aku nggak mau tau. Ayo, kita nikah!"
"Dih!"
"Siapa suruh mancing."
"Siapa yang mancing?" Gantari melengos untuk mencoba menahan tawa, namun gagal. Ia terlanjur meledakkan tawanya, membuat Nevan mau tidak mau ikut tersenyum geli.
"Nunggu apa lagi, sih? Kata Bi Murni, niat baik nggak boleh ditunda-tunda." Nevan meraih tangan Gantari, lantas menggenggamnya.
Berangsur tawa Gantari reda, bahkan ia tampak terdiam sejenak. Menundukkan kepalanya sebentar, lantas menatap Nevan lagi.
"Nunggu restu orang tuamu."
Jawaban Gantari itu sontak saja membuat raut wajah Nevan berubah getir.
__ADS_1
***
"Jadi pertemuan sengaja dimajukan oleh pihak kita?" Angkasa memutar tubuhnya, menatap Shanessa yang membeku di hadapannya. "Ralat. Olehmu?"
Mobil tampak lalu lalang keluar masuk area hotel, namun Angkasa tidak peduli dan justru menjadikan tempat itu sebagai ruang interogasi.
"Kenapa?"
Shanessa bergeming. Ia hanya menundukkan pandangan. Tidak membiarkan sorot tajam mata Angkasa menghujam netranya.
"Saya tanya, kenapa?" sentak Angkasa tidak sabaran, membuat Shanessa sedikit terlonjak kaget dan memejamkan matanya.
Angkasa memutar tubuhnya lagi, lantas menggeram kesal. Ia bahkan menendang bebatuan tak berdosa yang kebetulan berada di dekat kakinya.
Niatnya menjumpai Gantari memang segaja digagalkan Shanessa. Ulangi, sengaja.
"Karena aku nggak mau kamu ketemu Gantari."
Angkasa melongo, lantas mendengkus keras. Ia membalikkan badannya lagi dan mendapati Shanessa yang kini sudah berani menatapnya.
"Buat apa? Kenapa? Siapa yang nyuruh? Nevan?"
Shanessa diam lagi. Ia hanya mempertahankan tatapan matanya agar tidak kalah dari intimidasi seorang Angkasa.
"Harusnya kamu mendukung saya. Kalau saja dengan Gantari, kamu bisa kembali pada mantan tunangan kamu."
"Tapi, aku maunya kamu. Angkasa Wardana."
***
Jika : Hai, hai, hai! Monmaap menghilang agak lama, soalnya alat perang kemarin lagi bermasalah sedikit.
Bang Nevan : Hilih
Jika : Apaan? 😒
Bang Nevan : Gapapa, sih. Aku malah seneng kamu lama nggak up, jadi aku bisa lama mesra-mesraan sama Gantari. Cium pipi, cium bi ....
Jika : Dih! Penghapus mana penghapus?
Bang Nevan : Buat apa?
Jika : Mau ngapus Bang Nevan dari hati aku!
__ADS_1
Bang Nevan : HOAKAKAKAK