
Tidak semua orang di dunia ini mudah jatuh cinta. Namun, sekalinya ia benar-benar jatuh cinta, maka ia akan sulit melupakannya, walau hatinya telah dibuat patah dan berdarah. Seperti Angkasa, meski Gantari telah lama terikat janji pernikahan bersama Nevan, ia sesekali masih memikirkannya juga.
Hubungannya dengan Shanessa telah lama kandas. Ia tidak ingin mengikat wanita manja itu tanpa cinta. Namun begitu, Shanessa masih memilih menjadi teman baik yang selalu ada di kala Angkasa butuhkan. Ya, teman. Klise sekali.
Kadang Angkasa dengan sengaja memanggilnya "teman." Seolah mempertegas status hubungan mereka. Ia tidak tahu saja, tidak mudah bagi Shanessa untuk tetap berada di sampingnya setelah putus dengan perasaan yang masih sama.
Angkasa memeriksa ponsel pribadinya yang hari ini senyap sekali. Biasanya si cerewet Shanessa kerap merecokinya dengan berbagai pertanyaan tidak penting.
Angkasa memijit pelan pelipisnya saat kepalanya terasa sedikit pening, sembari terus mengetikkan sebuah pesan untuk Shanessa.
Angkasa
Hai, teman
14.55 WIB
Cukup lama centang dua berwarna abu-abu. Sembari menunggu, Angkasa membuka laptop dan memeriksa beberapa pekerjaannya. Kepalanya masih saja terasa pusing.
Saat terdengar suara notifikasi ponsel, Angkasa dengan sigap meraihnya.
Shanessa Ardiwinata
Apa?
15.14 WIB
Angkasa
Tumben
15.15 WIB
Shanessa Ardiwinata
Kenapa?
15.21 WIB
Benar-benar tumben. Membalas pesannya saja selisih enam menit. Biasanya sat set sat set.
Angkasa
Tumben ga muncul?
15.22 WIB
Shanessa Ardiwinata
Aku sibuk
15.22 WIB
Angkasa tertawa hambar, lalu mendecih. Ingin membalasnya lagi, tapi ia mau pura-pura sibuk saja. Kemudian, melempar ponselnya ke atas meja dan berteriak memanggil Leo.
"Ada apa, Pak Ang?"
Angkasa mengikat rambutnya asal, lalu meraih map di atas meja. "Jam berapa meetingnya?"
"Pukul 4 sore." Leo melihat jam dipergelangan tangannya, lalu melanjutkan, "Masih ada sisa waktu 38 menit lagi."
__ADS_1
"Sekarang saja!" perintah Angkasa, lalu beranjak keluar ruangan. Meninggalkan Leo yang menatapnya sambil garuk-garuk kepala.
Di ruang rapat, Angkasa memperhatikan dengan setengah hati. Ia mengutak-atik ponsel kerjanya sebentar, lalu meletakkannya kembali ke meja. Kemudian, mencondongkan tubuhnya ke arah Leo dan berbisik, "Ambilkan hp ku di ruangan."
Leo menatap Angkasa sebentar, lalu langsung berdiri saat Angkasa melotot ke arahnya. Kemudian, dengan sigap berjalan dari ruang rapat, menuju ruang kerja Angkasa demi mengambil ponsel pribadi si Bos Besar.
"Aku penasaran. Dia sibuk apa?" Setelah menerima ponselnya dari Leo, Angkasa kembali memeriksa aplikasi Whatsapp.
Angkasa
Sibuk apa, ha?!
15.51 WIB
Shanessa Ardiwinata
Kencan buta
15.52 WIB
Mata Angkasa dibuat melebar menerima balasan seperti itu. Ia menggebrak meja, hingga sesi presentasi terjeda. Kemudian, tanpa pamit keluar ruangan dengan menggenggam ponsel.
Angkasa menyentuh cepat icon panggil, lalu dengan tidak sabar menunggu Shanessa menjawab panggilannya.
"Halo?"
"Umur kamu berapa?" sembur Angkasa. "Kencan buta apa yang kamu maksud? Kenalan lewat aplikasi? Nggak semua orang di dunia ini orang baik, Shanes!"
"Dikenalin temen."
"Emang ada jaminan kalau dikenalin teman, pasti baik? Batalin!"
"Kenapa?"
Shanessa yakin, Angkasa pasti tahu jika ucapan seperti itu pasti menyakiti hatinya. Angkasa memang selalu dengan sengaja membuat hatinya terluka.
"Halo, Shanes?"
"Aku nggak peduli."
Sambungan terputus dan Angkasa hanya menatap layar ponselnya dengan pandangan tidak percaya.
Bagi Shanessa, Angkasa adalah sosok yang tulus dan kesepian. Tetapi, pemuda gondrong itu terlalu keras kepala untuk membuka hati dan memberinya kesempatan. Kini, Shanessa akan mencoba pergi dan tidak akan peduli lagi.
Rapat berlanjut tanpa Angkasa dan Leo. Ada asisten-asisten Angkasa lainnya yang menggantikan memimpin rapat. Suka-suka Angkasa sajalah.
"Jam berapa?"
"Reservasi jam 7 malam di Namaaz Dining," lapor Leo.
Angkasa yang duduk dengan santai di jok belakang mobil, tampak memegang dagunya. Kemudian, mengangguk pelan dan bergumam, "Tidak bercanda rupanya."
"Hentikan mobilnya!" perintah Angkasa tiba-tiba.
Perlahan mobil menepi dan berhenti. Angkasa membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Kemudian, berjalan menuju pintu kemudi.
"Keluar!"
Leo dibuat bingung. Namun, ia tetap menurut dan keluar dari sana.
__ADS_1
"Loe pulang naik taksi. Gue mau nyetir sendiri." Tanpa menunggu persetujuan Leo, Angkasa menggeser tubuh Leo dan duduk di kursi kemudi, lalu menutup pintunya kembali. Kemudian, meluncur membelah jalanan Kota Jakarta tanpa menoleh pada Leo. Ckckck!
Rupanya tujuan Angkasa adalah ke kediaman keluarga Ardiwinata. Saat ia sampai, ada sebuah mobil sedan hitam mewah telah terparkir di sana.
Angkasa menarik ikat rambutnya, membiarkan rambut halusnya tergerai dengan indah ke pundak. Kemudian, berjalan memasuki perkarangan rumah.
Shanessa yang baru saja keluar rumah dengan seorang laki-laki tampak terkejut. Wanita itu sama seperti hari biasanya, tampil cantik dengan stelan anggunnya.
"Ada apa?" Shanessa berjalan medekati Angkasa, meninggalkan laki-laki tadi tertinggal di belakang.
"Aku lapar. Ayo makan!"
Kening Shanessa berkerut. "Aku ada janji."
"Batalkan!"
Shanessa mendengkus. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap pasangan kencannya yang tampak bingung. "Ayo, kita pergi sekarang."
Lelaki berpenampilan borjuis tersebut dengan perhatian membukakan pintu mobil untuk Shanessa. Namun, pintu itu kembali tertutup oleh dorongan tangan Angkasa.
"Aku sakit. Kamu juga nggak peduli?" Angkasa berjalan mendekati Shanessa, lalu berdiri tepat di hadapannya.
"Ke rumah sakit," balas Shanessa ringan.
Angkasa menarik tangan Shanessa, lalu meletakkan punggung tangan Shanessa ke dahinya. "Aku nggak bohong."
Angkasa memang tidak bohong. Suhu tubuh pemuda gondrong itu memang terasa lebih hangat. Namun, Shanessa tidak boleh berubah pikiran lagi.
"Angkasa, jangan seperti ini." Shanessa mencoba melelaskan tangannya dari Angkasa, tetapi pemuda itu menahannya.
"Seperti ini gimana? Aku suka begini," balas Angkasa hangat.
Shanessa membuang pandangannya. Kerogkorongannya terasa pedih.
"Lebih baik Anda pergi dulu." Angkasa menolehkan kepalanya pada teman kencan Shanessa. Namun, Shanessa justru melepaskan genggaman tangannya dan beralih memegang lengan pria itu.
"Kita pergi sekarang!"
"Shanes?" Angkasa memegang lengan Shanessa. Sebenarnya, ia benci dengan drama seperti ini. "Jangan berkencan dengannya."
Shanessa memejamkan matanya sejenak, lalu menatap Angkasa tajam. "Kenapa?"
"Ada aku," jawab Angkasa pelan.
Shanessa ingin tertawa, tetapi tidak bisa. justru kini air matanya yang menetes. Ia menggelengkan kepalanya, lalu menghapus air matanya. "Aku nggak bisa lagi, Ang. Aku nggak bisa."
"Walau aku mencintaimu. Itu juga nggak bisa?" balas Angkasa. Ia melepaskan tangan Shanessa dari lengan pria tadi. Kemudian, menggenggamnya. "Bukan mulai, tapi sudah. Aku sudah mencintaimu dan takut kamu hilang dariku."
"Terus ngapain manggil-manggil aku teman?" Shanessa memukul dada Angkasa pelan. Air matanya masih saja menetes, hingga membuat Angkasa tergelak dan menangkap tangannya.
"Biar kamu marah," bisik Angkasa, lalu memeluk Shanessa, hangat.
***
AIH! PAK ANG. Jadi merinding Jika tuh liat Pak Ang sweet begini 😂
Mampir ke novel baru Jika Laudia, dong. Judulnya SUPERBIA ❤
__ADS_1
Oh, iya ... mampir dan baca juga novel kece ini yukk~