
"Tiket pesawat aman, kan?" tanya Gantari sesampainya di dalam taksi.
Fikri mengangguk kuat. "Dari kemarin sore udah mulai gue cek semua website, sampai bela-belain menghubungi call center maskapai. Kalau dadakan gini emang rada mahal, Tar, tapi dapat juga, kok," jelas Fikri panjang lebar.
Gantari tak banyak bereaksi. Dia kembali membaca rentetan email yang dikirim Fikrinya malam tadi. Email tentang seluk beluk Angkasa Grup, saingan baru mereka.
Fikri yang duduk di samping sopir, mengintip lewat spion dalam dan tidak berani mengganggu konsentrasi Gantari, jadi dia diam saja sepanjang perjalanan. Hanya terdengar samar-samar lagu Judika yang diputar pelan oleh pak sopir.
Bagi Fikri, Gantari adalah tipe perempuan luar biasa. Meski belum mengenal lama, namun Fikri sudah bisa menilai, jika Gantari adalah orang yang bisa diandalkan. Seorang perempuan mandiri, percaya diri, dan kuat. Namun, terkadang terbesit kerapuhan dari sorot matanya dan itu tak pernah bertahan lama. Sorot itu akan segera menghilang hanya dalam hitungan detik dan Fikri pernah tidak sengaja melihat sorot itu ketika Gantari menatap Nevan.
Tidak sampai satu setengah jam, mereka telah tiba di Semarang. Sasongko tidak menyambut mereka dengan cukup ramah dan tampak sibuk mengerjakan pekerjaan sepele.
"Beri kami waktu 15 menit, lalu kami akan pergi," ucap Gantari tegas.
Sasongko setuju. Dia mempersilakan Fikri dan Gantari untuk duduk dan menjamunya dengan beberapa camilan dan teh hangat.
"Saya dengar, Bapak memutuskan kontrak dengan kami," mulai Gantari.
"Saya rasa itu hak saya. Lagi pula, saya tidak keberatan untuk membayar denda," balas Sasongko tajam.
Gantari mengangguk paham. "Perlu bapak ketahui, kami juga tidak keberatan dengan pemutusan kontrak ini. Asal saingan kami memang lebih baik."
Sasongko mengangkat sebelah alisnya. "Maksud Anda?"
"Sebagai pengusaha, selain untung dan rugi masih banyak yang perlu dipertimbangkan untuk kelanjutan jangka panjang," Gantari tersenyum, lalu mengulurkan tangan pada Fikri dan Fikri yang paham maksudnya langsung sigap menyerahkan sebuah berkas bermap kuning pada Gantari.
"Terjerat hukum dampaknya tidak sepele, Pak. Jangka panjang," tekan Gantari sembari menyodorkan berkas tersebut pada Sasongko, masih dengan senyum ramahnya.
"Tidak semua yang manis itu baik," tutupnya.
"Alangkah baiknya Bapak cari tau dulu bagaimana harga bahan baku Angkasa grup bisa begitu sangat murah," timpal Fikri.
Lama, Sasongko tercenung. Ia menatap berkas di tangannya. Mebalik-balik halamannya dengan ekspresi serius.
"Semua keputusan ada di tangan Bapak. Kami tunggu konfirmasinya hingga sore ini. Jika masih tidak, sekali lagi saya katakan, kami juga tidak keberatan dengan pemutusan kontrak ini. Terima kasih atas waktu dan jamuannya. Permisi," Gantari mengulurkan tangannya hormat yang disambut oleh Sasongko dengan kikuk. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan galeri.
Fikri mengejarnya dengan senyum terkembang. Ia mengambil foto Gantari dari belakang, kemudian tersenyum lagi setelah melihat hasilnya. Optimismenya kembali meningkat.
__ADS_1
"Kita mau kemana lagi?" teriak Fikri, lantas lari menyusul Gantari.
"Makan," jawab Gantari singkat.
Restoran Kampung Laut menjadi pilihan mereka. Gantari menghirup napasnya panjang sembari memejamkan mata. Udara segar yang sangat ia rindukan.
Selagi menunggu pesanan, Fikri memeriksa ponselnya dan ia menemukan beberapa pesan bernada khawatir dari Nevan, tapi bukan khawatir pada bisnisnya melainkan pada .... dirinya?
Nevandra Ardiona
10.21 AM
Bagaimana? Kapan kalian pulang?
Nevandra Ardiona
11.55
Tidak sampai menginap, kan?
Fikri bergidik ngeri. Ada apa dengan bosnya itu? Kenapa tiba-tiba sampai sebegitunya mengkhawatirkan dirinya?
Kalau ada dia semua jadi aman dan nyaman, begitu caption yang ia buat.
Fikri terlonjak, karena ponselnya berdering dan memunculkan nama "Bos Besar" disana. Ia segera menjawabnya, setelah berdeham beberapa kali.
"Halo?"
"Sejak kapan pesanku jadi Mading yang cuma dibaca aja?" sembur Nevan.
Fikri yang mendengarnya justru cekikikan, membuat Gantari yang asik menikmati embusan angin laut menoleh.
"Aman, kok, Bos. Aman," ucap Fikri, lalu melanjutkan, "Sekarang tinggal nunggu konfirmasi Pak Sasongko aja."
"Langsung pulang aja. Nggak usah ditunggu," titah Nevan.
Fikri mengangguk, kemudian baru menjawab, "Siap! Laksanakan."
"Eh, Bos mau ngomong sama Gantari nggak?"
__ADS_1
"Nggak usah."
"Nggak usah."
Jawab Gantari dan Nevan bersamaan, membuat Fikri menggaruk kepalanya.
***
Sepanjangan perjalanan pulang, Fikri uring-uringan terus, padahal sebelum masuk pesawat tadi Pak Sasongko sudah menghubungi dan menyatakan akan melanjutkan kerjasama mereka.
"Sayang banget, kan? Udah sampai Semarang tapi nggak bisa ke Brown Canyon," keluh Fikri.
"Di sana loh view fotonya keren," lanjutnya kemudian. Emang dasar hobinya fotografi, melihat kesempatan eksis hilang, uring-uringannya seharian.
"Seenggaknya ke Pantai Baruna, kek. Atau ke kampung tematik Jawa," lanjutnya tak putus-putus.
Gantari tersenyum geli mendengar rengekan Fikri. Dia memang menolak mampir dan memilih untuk cepat pulang. Dia merindukan ibu.
Dari pada mendengarkan keluhan Fikri, Gantari memilih memejamkan mata, istirahat sejenak. Baru saja terlelap, bahunya sudah digoncang-goncangkan Fikri. Gantari membuka matanya kembali dan mendapati rekan kerjanya itu menatap khawatir padanya.
"Lo nggak apa-apa, kan?"
Gantari mengernyit mendengar pertanyaan Fikri. "Kenapa?" tanyanya parau.
"Lo ngingo," jawab Fikri, lantas menyodorkan tisu pada Gantari. "Lo mimpi buruk, ya? Keringat Lo banyak," lanjutnya sembari menunjuk kening Gantari.
Gantari menerima tisu tersebut dan mengelap dahinya. Dia diam saja, tak menjawab kekhawatiran Fikri barusan.
"Ngomong-ngomong, Tar," Fikri menggantung kalimatnya, kemudian hati-hati melanjutkan, "Lo nyebut nama Dion."
Gantari tertegun. Ia membuka botol air mineral yang ada di sampingnya, kemudian menenggaknya hingga separuh. Sedangkan, Fikri belum juga mengalihkan tatapannya pada Gantari.
"Nggak usah salah tingkah gitu, deh," Fikri tersenyum menggoda, lalu melanjutkan, "Walaupun gue patah hati karena ada cowok lain di hidup lo, tapi dari hati yang paling dalam gue doain lo bahagia."
Fikri memegang dadanya sendiri pura-pura sakit sati, kemudian menyandarkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Dia tidur pulas setelah berhasil membuat Gantari berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Dia cuma sedang terpengaruh saja. Dia terpengaruh oleh ucapan Farez tadi pagi. Tentang teman Shanessa, ucap Gantari dalam hati.
Gantari menolehkan kepalanya ke jendela. Menatap hamparan awan putih yang menggantung dengan apiknya. Tak ada yang dia pikirkan, ia memang hanya sedang menikmati kekosongan itu. Hanya ada awan, tak ada yang lain. Mungkin.
__ADS_1
Hingga sampai kembali ke Jakarta Gantari tidak berani memejamkan mata. Takut jika rahasia yang keluar semakin banyak dan tak terbendung. Ia sedang mewanti-wanti dirinya agar mengingatkan Fikri agar tidak menyinggung masalah nama Dion pada siapapun.