Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Seratus Sepuluh


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Sarif berbelok pelan memasuki pelataran parkir Kantor Polisi Sektor Ciracas. Gantari menoleh keluar jendela memandang gedung itu lama. Semangat menggebu-gebunya tadi goyah sudah.


Untuk apa dia ke sini? Buat apa juga dia harus melihat wajah si pelaku?


"Mbak?"


Gantari sedikit tersentak, lantas menoleh menatap Sarif. "Pak Ardiman udah di dalam," lapor Sarif.


Gantari tampak menimbang, lalu mengangguk yakin. Dia ingin melihat wajah orang yang membuat Nevan menghindarinya. Dia ingin mendengar alasan orang yang berniat menghilangkan nyawanya. Akhirnya, Gantari membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


...****************...


"Baik. Akan aku lakukan semua maumu."


Tidak ada raut puas yang Nevan tunjukkan dari pernyataan Wiratha barusan karena baginya, keputusan Wiratha memang seperti seharusnya. Omongan Nevan tadi bukan hanya ancaman saja. Dia memang sedang tidak bisa memakai akal sehatnya.


Nevan memutar tubuhnya dan keluar dari ruang kunjungan, membiarkan Wiratha menatapnya dengan dada naik turun. Di luar ada Edo yang bersiap menyambut Nevan.


Sejujurnya, tadi Edo sedikit merasa khawatir juga pada pertemuan Nevan dan Wiratha. Edo takut akan ada kekacauan yang dibuat Nevan, tapi syukurlah temannya itu rupanya masih punya stok kewarasan.


"Siapa saksinya?" tanya Nevan ketika melihat Edo mencoba mengimbangi langkahnya, namun Edo tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia terdiam sejenak, hingga Nevan menolehkan kepala padanya.


"Jero."


Seketika langkah kaki Nevan terhenti dan ada raut marah yang tersirat di wajahnya. Nada suara Nevan pun terdengar dingin. "Dia bilang, Wiratha nggak ada hubungannya dengan kecelakaan ibu Dihyan!"


Edo sudah menduga ini. Ia sudah menduga kalau Nevan pasti akan murka dengan kebohongan Jero.


"Tapi dia seorang ibu!" sembur Edo.


Edo mengalihkan pandangannya dari Nevan, mencoba mengatur napas, lalu menatap Nevan lagi untuk melanjutkannya, "Dia udah kehilangan dua orang anak dan Wiratha jadi anak satu-satunya yang tersisa. Menurut loe, apa dia salah kalau mau ngelindungin anaknya?"


Nevan sudah hampir membantah, namun Edo tidak memberinya cela. Edo belum selesai bicara. "Loe tau beban apa yang Jero tanggung untuk jadi saksi Gantari? Dia harus siap dibenci anak satu-satunya yang masih hidup. Dia harus siap melihat putra semata wayangnya mendekam di penjara dan dia harus siap ... bercerai dari suaminya."


Nevan tertegun. Ia tidak lagi ingat ingin berkata apa tadi. Nevan membuang napasnya pelan, lantas melanjutkan langkahnya lagi, meninggalkan Edo yang kali ini tidak berniat mengejarnya.

__ADS_1


Seorang wanita baru saja melangkah masuk dan pandangannya langsung bertubrukan dengan pandangan Nevan. Seorang wanita yang entah kenapa membuat Nevan merasakan dadanya kian sesak. Seorang wanita yang meski Nevan merasa sesak, tapi dia tetap masih ingin menatapinya lebih lama.


"Dion?"


Wanita itu ... Gantari Dihyan Irawan.


Langkah Nevan sontak terhenti karena Gantari sudah menghadangnya dengan mata berkaca-kaca. Senyum lega Gantari guratkan, namun sang pemuda justru dingin-dingin saja.


"Kamu baik-baik aja, kan?"


Nevan diam lagi. Dia masih betah membisu, meski matanya masih berani menatap mata Gantari. Tangan Gantari sontak terulur ingin menyentuh Nevan, tapi laki-laki itu justru mundur selangkah, membuat uluran tangan Gantari mengambang di udara.


"Kalau ingin berkunjung silakan, Gantari."


Deg!


Nevan menggeser tubuhnya ke samping, lantas kembali melanjutkan langkah melewati Gantari dan keluar dari kantor polisi. Pelan-pelan Gantari membalikkan badannya, menatap punggung Nevan yang kian menjauh.


Gantari?


Tadi Nevan bilang ... Gantari?


Mendengar itu Gantari langsung mendelik tajam pada Edo, membuat Edo gelagapan. Edo lupa kalau mereka sama saja gilanya dalam hal cinta.


"Mau masuk, kan? Silakan daftar dulu," ujar Edo sembari nyengir garing.


"Jero ... udah berapa hari nggak kelihatan. Kamu tau dia di mana?" Seingat Gantari, dia sempat melihat mobil Jero berhenti ketika kecelakaan itu. Bahkan, neneknya itu berlari ke arahnya, tapi kenapa Jero tidak pernah terlihat datang untuk mengunjunginya?


Edo tercenung. Awalnya ia tidak yakin untuk memberitahukannya pada Gantari, namun akhirnya Edo memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu. "Beberapa hari ini Jero sedikit sibuk menjawab pertanyaan penyidik dan lagi ... dia malu bertemu denganmu."


"Maksud kamu?"


"Kamu akan tau setelah melihat siapa pelakunya."


Gantari terhenyak. Ia tidak tahu harus memberi respons seperti apa. Hatinya kembali hancur. Tanpa perlu melihat pelakunya, Gantari tahu siapa yang Edo maksud.

__ADS_1


...****************...


Hari-hari berjalan lambat sekali dan Gantari sudah mulai bisa menata hati. Ia sudah merenung dan mulai bisa memaklumi kebohongan Jero. Gantari sudah mendengar semuanya dari Edo, termasuk hal yang Jero pertaruhkan untuk menebus kesalahan sang putra.


Gantari menguatkan tekadnya untuk menghubungi Jero. Ia yakin neneknya itu pasti tidak kalah terluka, namun hingga panggilan kedua, telepon Gantari tetap tidak dijawab.


Sebuah pesan masuk ketika Gantari baru saja akan meletakkan ponselnya. Pesan dari Jero.


Aku akan bicara padamu, setelah aku merasa pantas. Biarkan nenekmu ini menebus dosa pada kalian.


Gantari merasakan matanya berembun ketika membaca pesan itu. Sejujurnya, rasa benci itu sudah tak lagi ada. Gantari kembali akan meletakkan ponselnya ke atas meja, namun ia urungkan. Masih ada satu orang lagi yang sangat ia khawatirkan keadaannya.


Gantari memainkan jemarinya untuk mencari sebuah nama di daftar kontak dan menyentuh icon panggil. Menunggu sebentar, hingga panggilannya dijawab.


"Hai! Gantari." Seperti biasa Fikri selalu menyapanya dengan begitu hangat, membuat Gantari tersenyum tipis.


"Hai, Fikri."


"Ada apa? Kamu udah memantapkan diri untuk selingkuh sama aku?"


Gantari mendecak. Karyawan kesayangan Nevan ini memang susah sekali serius. "Gimana kabar Nevan?"


"Nevan? Nevan siapa?"


"Fikri."


Terdengar suara cekikikan dari seberang telepon. "Oh, bos gila itu. Dia sekarang jadi vampir."


"Vampir?"


"Iya. Si brengs*k itu nggak mau makan. Bedanya, kalau vampir yang ini menghisap kopi bukan darah." Meski terdengar bercanda, tapi Gantari bisa merasakan nada khawatir di sana.


Raut wajah Gantari berubah sendu. Nevan hancur dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Fikri, bisa bantu aku?"

__ADS_1


"Tentu."


"Tolong laporkan schedule Nevan mulai hari ini padaku."


__ADS_2