Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Luar Biasa


__ADS_3

Mendekati Hari Perkiraan Lahir, Gantari menjadi semakin sulit tidur. Segala posisi sudah ia coba, tapi tetap saja serba salah. Nevan bahkan sudah mengorbankan bantalnya untuk dijadikan sandaran punggung Gantari, tapi belum juga berhasil membuat Sang Istri merasa nyaman.


"Jadi anak baik, ya, Sayang. Mama kasihan tuh, udah ngantuk." Nevan mendekatkan wajahnya ke perut Gantari, lalu mengusapnya pelan. Sedangkan, Gantari memilih diam mendengarkan sambil duduk bersandar.


Kontraksi palsu juga mulai sering terasa, meski durasinya tidak lama. Membuat wajah Gantari semakin terlihat pucat setiap harinya.


Setelah melakukan negosiasi, Nevan menegakkan tubuhnya dan duduk di dekat kaki Gantari yang terlihat bengkak. Kemudian, memijitnya.


"Coba berbaring, ya, Dihyan. Biar tidurnya lebih nyenyak."


Gantari menatap Nevan sebentar, lalu menggeleng. "Nggak enak."


Tak lama lagi azan subuh akan berkumandang, tapi Gantari belum juga bisa terlelap, meski segala tips yang ia tanyakan pada mama sudah dicoba. Membuat Nevan semakin menatapnya tak tega.


Nevan menarik tangannya dari kaki Gantari, lalu menggeser tubuh ke dekat Sang Istri. Mengecup dahi Gantari dalam, lalu menariknya pelan ke dalam pelukan.


Gantari pasrah saja. Ia menyenderkan punggungnya ke dada Nevan dan membiarkan Nevan memeluknya dari belakang sambil terus mengusap perut buncitnya yang sudah terlihat turun.


Sesekali ia merasakan perut Gantari bergerak dan hal itu membuat Gantari terlihat sedikit tersentak. Sepertinya anak mereka memang lebih aktif bergerak di malam hari.


Gantari memiringkan tubuhnya, lantas menenggelamkan wajahnya ke dada Nevan. Membuat Nevan bisa merasakan bajunya yang mendadak terasa hangat. Tanpa bertanya pun, ia tahu Gantari sedang menangis.


Dalam diam, Nevan kembali mengecup kening Gantari lagi, lalu mengusap rambutnya sayang. Kemudian, mulai membaca Surat Alfatihah, surat-surat pendek dan beberapa sholawat dengan suara pelan.


Nampaknya, Nevan berhasil karena kini mulai terdengar dengkuran halus milik Gantari. Nevan tersenyum, lalu pelan-pelan membaringkan tubuh Gantari ke tempat tidur. Kemudian, mengecup sekali lagi dahi Sang Istri, baru setelah itu menuju kamar mandi karena azan subuh sudah berkumandang.


Subuh ini, Nevan memutuskan salat di rumah. Diakhiri dengan mendoakan kebaikan untuk Gantari dengan teramat sangat. Sejujurnya, ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Entah kenapa, ia semakin takut dan khawatir setiap kali melihat wajah tak berdaya Gantari.


Ketakutan itu semakin besar setiap harinya.


***


"Fik, hari ini gue nggak ngantor, ya."


"Kenapa? Gantari ada tanda-tanda mau lahiran? Gue ke rumah kalian sekarang, deh."


Nevan butuh menarik napasnya beberapa saat, mencoba menambah stok kesabaran sebelum membalas. "Nggak usah. Makasih perhatiannya, tapi Dihyan cuma butuh gue!"


Nevan bisa melihat dengan jelas ekspresi kesal Fikri dari layar ponselnya. "Jagain dia baik-baik, ya. Gue doain dari sini, soalnya lakinya galak."


"Lakinya nggak cuma galak, tapi bisa mecat orang."


"Astagfirullah, Pak Nevan. Kok bisa Gantari yang manis itu dapat suami sesadis Bapak?"


Nevan ingin tertawa, tapi kali ini ia lebih memilih memasang ekspresi datar. "Kerjaan kirim via email aja, ya, Pak Fikri. Kalau ada masalah, segera laporkan pada saya."


Meski tampak tersungut-sungut, Fikri tetap mengiyakan perintah Nevan. "Tolong kabarin juga perkembangan Gantari, ya, Van. Gue beneran khawatir."


"Iya."


"Pokoknya kalau loe ngazanin, gue harus ada di situ juga."


"Dih!"


"Anak kalian, anak gu ...."


Tut!


Panggilan terputus. Untung saja Fikri sayang dengan Nevan kalau tidak mungkin ia sudah lama baku hantam dengan bosnya itu. Eh?


***


"Mas?" Gantari yang baru bangun dibuat kaget oleh keberadaan Nevan di sampingnya. "Nggak kerja?"


"Kerja dari rumah aja," balas Nevan sembari mengusap pelan rambut Gantari.


"Kenapa? Kan ada Bi Murni."

__ADS_1


"Kerjaan lagi nggak banyak juga. Kasian Fikri nge-gabut kalau Mas yang handle semua."


Gantari tergelak, lalu bangkit dari duduknya. Kemudian, mencari ikat rambut dan mengikat rambutnya secara asal. Belakangan, jangankan berdandan, untuk menyisir rambut saja Gantari rasanya malas sekali.


"Rambut kamu bisa kusut, loh, Sayang." Nevan menarik kembali ikat rambut itu dengan pelan, hingga rambut Gantari kembali tergerai. Kemudian, membantunya mengikat rambut dengan rapi. Namun, akhirnya ia nyengir sendiri. "Ternyata sama aja. Aku nggak bisa ngikat rambut."


Gantari terkekeh, lalu menatap Nevan manja. "Aku laper."


"Ayo makan. Makanya Mas tungguin."


"Lah, Mas belum makan?"


"Belum."


Setetes air mata Gantari jatuh begitu saja. Perasaannya memang jadi makin sensitif. "Gara-gara aku bangunnya lama Mas jadi telat makan."


Nevan yang terkejut dengan reaksi Gantari langsung menariknya ke dalam pelukan. "Kenapa malah nangis? Mas emang mau makan bareng kamu."


"Mas juga nggak kerja pasti gara-gara aku."


Nevan melonggarkan pelukannya, menatap Gantari dalam. "Kamu jauh lebih penting. Mas cuma mau kita hadapi semua ini bersama."


Gantari menangis lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya, hingga membuat Nevan kalang kabut.


***


Setelah lelah menangis, Gantari jadi semangat melahap makanannya, hingga diam-diam membuat Nevan tersenyum senang. Tidak hanya Nevan karena Bi Murni yang juga memperhatikan ikut mengembangkan senyum.


"Tambah, Mbak. Bibi masak banyak."


"Enak, Bi, capcainya."


Bi Murni menyendokkan capcai ke dalam piring Gantari. "Spesial buat Mbak Gantari. Biar makin kuat."


Gantari mengangguk, lalu kembali melanjutkan makan dengan lahap. Namun, ketika ia sedang mengunyah suapan terakhir, keningnya tampak berkerut menahan sakit.


"Aw!"


"Kenapa, Mbak?"


Nevan dan Bi Murni kompak berdiri. Mereka bangkit dan mendekati Gantari dengan tampang khawatir.


"Sakit."


"Kita ke rumah sakit sekarang." Nevan sudah akan membimbing Gantari berdiri, tapi Gantari menggelengkan kepalanya.


"Mungkin kontraksi palsu, Mas. HPL kan seminggu lagi."


Nevan mengusap wajahnya gusar. Ia selalu tidak tahan melihat kondisi Gantari yang seperti ini.


"Mas ...."


"Kenapa?" Nevan mendekati Gantari lagi. Wajah sang istri benar-benar sudah terlihat pucat.


"Basah."


"Air ketuban Mbak Gantari merembes." Bi Murni menunduk, lalu menatap Nevan lagi.


"Kita ke Rumah Sakit sekarang," ucap Nevan mencoba tetap tenang.


Persiapan bersalin sudah jauh-jauh hari Gantari kemas, sehingga sekarang mereka tinggal berangkat saja dengan diantar oleh Pak Sarif. Percayalah, bersikap tenang disaat-saat seperti ini tidaklah mudah. Tidak bagi Nevan, tidak bagi Bi Murni, juga tidak bagi Pak Sarif.


Meski sudah memiliki tiga orang anak, tapi Pak Sarif tetap merasa risau melihat kondisi Gantari. Di kursi penumpang, Nevan masih membimbing Gantari untuk terus menyebut nama Allah. Sedangkan, di kursi depan Bi Murni terus memperhatikan jalan dan berdoa agar tidak terjebak macet.


Bukan wajah Gantari yang satu-satunya memucat karena semua penumpang di mobil sudah seperti kehilangan darah di wajahnya. Gantari sesekali merintih dengan menggenggam erat tangan Nevan. Sesekali ia tampak mengadu pada Sang Suami tentang betapa sakitnya yang ia rasakan.


Nevan hanya berani mengangguk, sambil mengecup puncak kepala Gantari. Kemudian, kembali membisikkan surat-surat pendek yang masih bisa dihafal olehnya disaat panik begini.

__ADS_1


"Hanya Engkau sumber dari setiap kekuatan, ya, Allah. Aku mohon beri istriku kekuatan dan kemudahan untuk melewati semua ini."


Dokter dan perawat yang sudah mendapat kabar dengan sigap menyambut Gantari. Mereka langsung membawa Gantari ke ruang bersalin untuk melakukan beberapa pemeriksaan.


"Ada peluang untuk lahir secara normal karena kondisi bayi dan air ketuban baik. Pembukaannya juga bagus."


"Caesar saja," putus Nevan yakin. Ia kini sedang berdiri di samping Gantari yang tengah berbaring di ranjang.


Nevan menolehkan kepalanya saat merasakan Gantari menggenggam tangannya. "Kita coba normal, ya, Mas."


"Dihyan ...." Nevan membungkuk ke arah Gantari, lalu mengecup punggung tangannya. "Caesar aja. Mas nggak sanggup ngeliat kamu kayak gini."


Gantari mengulas senyum. Kemudian, menyentuh pipi Nevan dengan tangan pucatnya. "Aku kuat kalau kamu yang nemenin."


***


Akhirnya persalinan dilakukan secara normal. Di ruang bersalin hanya diizinkan Nevan untuk mendampingi, sedangkan di luar sudah ada Papa dan Mama Nevan. Disusul oleh kedatangan Kakek, Shanessa, dan Ardiman.


Fikri jangan ditanya. Dia sudah hampir melubangi lantai rumah sakit karena dari tadi mondar-mandir terus.


Perlu saksi betapa dahsyatnya perjuangan seorang ibu? Tanyakan pada Nevandra Ardiona karena selama di ruang bersalin sudah tidak terhitung berapa kali ia menangis.


Tidak sekali pun ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Gantari yang sedang berjuang. Tidak sedetik pun, ia membiarkan bibirnya berhenti menyebut nama Tuhan.


Lutut Nevan langsung kehilangan tenaganya, sehingga ia terjatuh ke lantai saat suara tangis bayi akhirnya terdengar. Bayi dengan kulit kemerah-merahan itu diperlihatkan padanya dan seketika tangis Nevan kembali pecah. Ia mencoba berdiri dan mencium kening Gantari bertubi-tubi.


"Terima kasih, Dihyan. Terima kasih."


Gantari memegang pipi Nevan, lalu tersenyum lemah. Ia juga sedang menangis bahagia.


***


Nevan dengan hati-hati meraih bayi mungil yang diserahkan dokter padanya. Senyum sejak tadi belum juga hengkang dari bibirnya. Untuk kedua kalinya ia merasa jatuh cinta.


"Laki-laki," ujar Dokter dan Nevan masih belum mengalihkan pandang dari wajah mungil yang masih betah memejamkan mata itu. Ia mendekatkan bibirnya, lalu mengumandangkan adzan di telinga kanan si bayi. Sontak bayi laki-laki itu menangis keras, hingga membuat Gantari yang melihatnya mengulas senyum haru.


Setelah azan dikumandangkan, Nevan beralih ke telinga kiri dan melantunkan iqamat. Kemudian, mengecup kedua pipi bayi itu, sayang.


Tidak lama setelah iqamat yang dikumandangkan Nevan selesai, terdengar gema takbir di luar sana. Putranya hadir di hari istimewa, Hari Raya Idul Adha. Nevan tersenyum hangat, lalu membawa bayi tersebut ke dekat Gantari yang masih berbaring.


"Kaelandra Adha, udah datang, Ma."


- Selesai


***


Untuk kesekian kalinya Cinta Tertinggal tamat. Season pertama tamat, season kedua tamat, dan sekarang bonus chapter juga pake ada tamatnya segala, wkwkwk.


Nggak apa-apa, deh. Anggap hadiah Hari Raya Idul Adha. Taqabalallahu Minna Wa Minkum, semuaaaaa ....


Udah, ya... Semua udah lunas, semua udah bahagia dan aku udah lega.


Btw, aku sama sekali nggak bermaksud mengecilkan para pejuang caesar. Aku percaya, setiap ibu selalu luar biasa bagaimana pun caranya. Sehat selalu untuk semua ibu di dunia.


Harusnya sekarang aku lagi kejar target di lapak sebelah, tapi ini malah nyangkut di sini 🤧


Bang Nevan: Makasih, ya, Jika. Sehat-sehat kamu.


Jika: Sama-sama, Bang. Abang rawat baik-baik baby Kael ya...


Bang Nevan: Insha Allah. Titip salam buat Shaka sama Alsaki, ya. Ingat, sekeren-kerennya mereka, tetap Bang Nevan cinta pertama kamu.


Jika: Dih, Abang 🤧


Bang Nevan: Mau peluk?


Jika: Nggak usah, Bang. Bukan mahram.

__ADS_1


Bang Nevan: Udah pinter *elus-elus kepala Jika


Jika: Maunya di halalin aja. Kabooorrrr


__ADS_2