Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Delapan Puluh Lima


__ADS_3

Gantari dengan cepat membuka laman pencarian. Kemudian, mengetikkan nama Nevan disana dan hatinya seketika perih karena lagi-lagi Nevan masuk berita online dengan cerita dan wanita yang sama.


Nevan-Mariah, Pelukan di Jogja. Lamaran?


Batal Nikah, Akhirnya Nevandra Ardiona Kembali Menjalin Cinta.


Dikonfirmasi! Hubungan para pewaris memang benar adanya.


Tubuh Gantari menegang ketika membaca deretan judul berita dengan keyword yang sama. Hatinya seakan diremas, hingga membuat dadanya sesak. Bahkan, untuk bernapas saja rasanya begitu sulit. Sebulir air mata menetes dari mata Gantari, meski ia tidak ingin. Dia mau mendengar penjelasan dari Nevan dulu, tapi hatinya terlanjur terluka.


***


Maghrib baru saja usai dan Nevan melangkah keluar kamar hotel dengan gaya casual. Ia membuka pintu kamar hotel setelah memberikan instruksi pada Fikri dan sang teman yang belakangan merangkap jadi asisten pribadi itu setia mengekori.


"Gantari masih belum bisa dihubungi," tanya Fikri ketika melihat wajah Nevan makin muram yang hanya disambut gelengan dari Nevan.


"Gue langsung samperin, deh. Biar malam juga."


"Kali aja diajak nginap, ya, kan?" goda Fikri yang langsung dihadiahi jitakan di kepala oleh Nevan, hingga membuat Fikri meringis dan mengusap kepalanya sendiri.


"Pak Nevan?"


Nevan yang masih menatap puas penderitaan Fikri tersebut segera menoleh dan mendapati Mariah telah berdiri di balik pintu.


"Ma-maaf," ucap Mariah terbata. Dia masih saja menunduk, tidak berani menatap Nevan.


Nevan menghela napasnya pendek. Tadi dia memang sempat kesal pada Gadis itu, tapi kini tidak lagi. Ia justru merasa iba.


"Relasi kita tidak akan terputus hanya karena masalah pribadi, tenang saja," ucap Nevan. Ia memandang Mariah yang masih saja menunduk. Sedangkan, Fikri hanya diam saja di ambang pintu.


Mariah menggeleng. Tampak air matanya menetes-netes meski ia menunduk.


"Aku mohon, biarkan kesalah pahaman ini," ujar Mariah sembari merapatkan mata, membuat Nevan melongo tidak percaya.


"Aku tau, ini keterlaluan, tapi ...." Mariah mengangkat kepalanya dan benar, wajahnya basah oleh air mata. Ia tampak berusaha kuat ketika melanjutkan, "Kami butuh itu."

__ADS_1


Nevan mendengkus, lalu membuang pandang menahan kesal. "Dunia macam apa ini," sungutnya kesal.


"Terserah. Lagi pula saya tidak peduli," balas Nevan dingin.


Mariah menunduk lagi. Harga dirinya sudah tidak lagi tersisa di hadapan pemuda itu.


"Apapun itu lakukan hal yang tidak akan kamu sesali dikemudian hari. Karena penyesalan, jauh lebih berat ketimbang melepaskan."


Diam-diam Fikri mendecak kagum. Kalimat yang diucapkan Nevan barusan akan ia jadikan caption di unggah foto Instragram-nya nanti.


"Jodoh itu kita yang cari, Tuhan yang restui. Begitu kata seseorang padaku," ucap Nevan lagi, lantas beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Mariah yang masih mematung di tempatnya.


***


"Loh, Pak Ang mau kemana?"


Leo yang tiba di kediaman Angkasa dan berniat menekan bel terkejut karena si bos keburu membuka pintu dan keluar rumah dengan tergesa.


"Kalian ngapain di sini? Sudah malam masih mau bekerja juga?" Angkasa menatap secara bergantian Leo dan juga Shanessa yang rupanya berdiri di belakang sang asisten pribadi dengan tangan menjinjing tas laptop.


Kalau perusahaan lain dia mungkin bisa saja mangkir, tapi kalau Infinite Corp itu namanya menyia-nyiakan kesempatan emas.


"Harus sekarang?" tanya Angkasa akhirnya, setelah mengacak kasar rambutnya yang kini sudah tidak panjang lagi.


"Iya. Supaya nggak terlambat, harus berangkat sekarang," balas Leo bingung. Ia merasa bosnya itu sedang tergesa-gesa ingin pergi ke suatu tempat, jadi ia kembali bertanya, "Memang Pak Ang mau kemana?"


"Menemui Gantari," jawab Angkasa cepat, lantas memutar tubuhnya memasuki rumah untuk berganti pakaian dengan kesal.


Shanessa tidak bereaksi. Mendengar nama Gantari disebut Angkasa sudah bukan lagi hal yang mengejutkan baginya. Ia hanya bisa merapatkan bibirnya, mencoba mehanan sesak di dada.


***


Nevan memesan taksi dan mendesak sang sopir agar memacu mobilnya lebih laju. Andai dia yang menyetir, mungkin tidak akan segelisah ini.


Gantari tidak juga menjawab panggilannya sejak tadi. Bahkan, kini nomor sang kekasih tidak lagi bisa dihubungi, membuat Nevan kalang kabut saja.

__ADS_1


Pikirannya melayang pada kejadian lima tahun yang lalu, ketika Gantari pergi dan menghilang tanpa kabar dan alasan. Kemudian, hanya kembali dengan berita gugatan perceraian.


Nevan mengerang dan menarik rambutnya, membuat sopir yang sedang mengemudi di sampingnya bergidik ngeri.


Nevan mengeluarkan dompetnya dan memberikan setumpuk uang pada sang sopir yang makin menatapnya bingung.


"Biar saya yang bawa. Saya punya SIM," yakin Nevan. Dia tidak ingin mendesak sopir taksi yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi itu. Jadi, biar saja dia yang mengemudi dari pada menambah dosa medesak orang tua.


Meski awalnya ragu, namun akhirnya sopir menepikan mobilnya juga. Kemudian, menatap uang yang disodorkan Nevan dengan mata bundar.


"Apa ini nggak masalah, Pak?" tanyanya ragu.


Nevan mengeluarkan KTP-nya dan menunjukkan pada si bapak, lantas memintanya untuk memfoto KTP-nya sebagai jaminan. Akhirnya negosiasi dimenangkan Nevan. Sekarang, ia mengendarai taksi ke kediaman Gantari dengan laju kendaraan yang mampu membuat bapak sopir selalu memejamkan mata di sepanjang perjalanan.


Baru setelah Nevan menginjak rem, hingga mobil berhenti, Pak sopir berani membuka mata. Ia menoleh dan melihat Nevan membuka sabuk pengaman dengan cepat.


"Terimakasih, Pak. Hati-hati di jalan," ucap Nevan sebelum membanting pintu. Sedangkan, Pak sopir hanya bisa memegang dada sembari mengembuskan napas lega.


Nevan berlari kencang menyusuri jalan setapak menuju rumah Gantari. Melewati gelapnya malam yang hanya diterangi lampu neon. Terlebih bulan malam ini tidak begitu terlihat, akibat memilih menyembunyikan dirinya di balik tebalnya awan.


Napas Nevan terengah ketika akhirnya sampai di depan rumah Gantari dengan pintu yang tertutup rapat. Ia baru saja akan mengetuk pintu dan memanggil nama Gantari, ketika tiba-tiba Anwar memanggilnya dari seberang.


"Bang Nevan!"


Nevan menoleh. "Dihyan mana?" tanya Nevan cepat.


Anwar yang sedang bermain gitar di teras rumahnya, meletakkan gitar tersebut ke atas meja, lantas berjalan mendekati Nevan.


"Pergi dari isya. Sampai sekarang belum balik. Ini lagi aku tungguin."


Wajah Nevan berubah pias. Dia semakin gelisah saja.


"Kemana?"


Anwar menatap Nevan ikut khawatir. "Nggak tau. Emang kenapa, Bang?"

__ADS_1


Nevan tidak lagi menjawab pertanyaan Anwar. Tidak ada nama yang terlintas di benaknya, kecuali nama Shanessa.


__ADS_2