Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Shanessa dan Gantari duduk berhadapan. Untuk pertama kalinya mereka bicara berdua setelah insiden terbongkarnya status Gantari sebagai mantan istri Nevan.


"Maaf ...." Shanessa menjeda ucapannya sebentar. Rasanya masih begitu sulit untuk bicara normal dengan Gantari. "Maaf untuk kejadian terakhir."


Gantari mendongak. Ya, dari tadi ia menunduk saja. Merasa seperti pendosa yang menghancurkan masa depan seseorang. "Aku ngerti dan udah ngelupain kejadian itu."


Shanessa mengangguk. Suasana kembali hening, hingga Shanessa kembali bersuara. "Aku mau kuliah lagi. Kali ini mau ngambil Jurusan Manajemen Keuangan."


Gantari mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Bukannya cita-citamu jadi seniman?"


Shanessa menggeleng pelan. Mungkin, sudah saatnya ia berbagi keresahan dengan Gantari agar hubungan mereka bisa lebih manusiawi.


"Aku ngambil seni sebagai bentuk pemberontakan pada Kakek," aku Shanessa, yang langsung membuat Gantari terkejut mendengarnya.


"Sejak awal, perusahaan memang disiapkan untuk menunggu kamu." Shanessa tampak berkaca-kaca, namun ia tetap melanjutkan isi hatinya, "Untuk putri Om Awan."


Gantari mendadak merasakan hatinya sesak. Ia selama ini tertawa dan memberikan semangat pada Shanessa agar segera menyelesaikan kuliahnya, tanpa tahu perasaan sang sepupu yang sebenarnya.


"Tapi sekarang, aku akan bersaing denganmu untuk menjadi yang terbaik di mata kakek." Shanessa mendongak dan menatap Gantari dengan senyum tipis.


Mendengarnya membuat Gantari mengangguk lega. "Perjuangkan yang ingin kamu perjuangan Shaness, karena terkadang dunia nggak begitu peduli pada kita," katanya lirih.


"Bagaimana denganmu?" Shanessa mengerling, "Sepertinya kamu nggak memperjuangkan Nevan," lanjutnya.


Ucapan Shanessa barusan membuat Gantari gelagapan. Ia ingin bicara, namun Shanessa keburu menyela, "Jangan mengalah lagi. Kadang aku malas berjuang, karena kamu terlalu pengalah."


Shanessa tersenyum. Senyumnya kini sudah mulai menghangat.


"Aku cantik, pintar, dan mudah bergaul. Mencari orang seperti Nevan nggak akan susah untukku," katanya dengan suara gemetar.


Gantari bangkit dan memeluk sepupunya itu erat. Shanessa balas memeluknya. Mereka akhirnya menagis bersama, meski pengunjung kafe menatap penasaran ke arah mereka.


***


Gantari baru saja keluar dari taksi dan sedang jalan kaki menuju rumahnya. Ia berpikir akan membeli sepeda motor saja agar lebih leluasa kemana-mana.


Dari jauh ia melihat sesosok pria sedang berdiri di teras rumahnya. Itu bukan Nevan, karena tingginya normal, tidak seperti Nevan yang terlalu menjulang.


"Farez?"


Si pria membalikkan tubuhnya dan membalas sapaan itu dengan ceria. "Hai."


Mereka duduk di kursi teras, setelah Gantari membuatkan secangkir teh untuknya.

__ADS_1


"Aku dengar pernikahan Shanes batal," mulai Farez.


Gantari menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk singkat.


"Apa kamu sudah memutuskan untuk kembali pada Nevan?"


"Belum," jawab Gantari.


Jawaban Gantari barusan membuka ruang kecewa di hati Farez, namun ia tetap melanjutkan, "Belum, bukan berarti tidak, kan?"


Gantari kembali diam. Dia menunduk, menatap tangannya yang bertaut di pangkuan.


"Beri tau aku Dihyan ..." Farez menjeda ucapannya, menunggu Gantari membalas tatapannya. "Apa aku harus tetap maju atau lebih baik mundur saja?"


Gantari tidak menjawab lagi. Ia hanya diam. Baginya, jasa Farez pada sang ibu tidak akan bisa ia bayar selamanya. Rasa terima kasihnya pada dokter muda itu membuatnya bingung mengambil sikap. Bukannya ia tak tahu tentang perasaan Farez padanya selama ini.


"Kalau kamu ingin aku terus maju, tolong katakan," pinta Farez, "Kalau nggak, berarti aku memang harus mundur" lanjut Farez lirih. Ia ikut menunduk. Menatap secangkir teh yang masih utuh.


"Maaf."


Farez mendongak, menatap Gantari yang akhirnya bersuara, meski satu kata. Pada hal, ia berharap agar Gantari tetap diam, sehingga masih ada alasan baginya untuk tetap berjuang mendapatkan hati Gantari.


Farez menghela napasnya panjang, lantas tersenyum hambar.


"Ok, aku harus kembali ke rumah sakit sekarang," ujar Farez setelah berhasil meminum tehnya sampai habis.


"Kalau kamu merasa nggak nyaman dengan kehadiranku, aku nggak akan muncul. Tapi, kalau kamu nggak keberatan, sesekali aku akan menanyakan kabarmu," ucap Gantari.


Farez menatap Gantari dalam, lalu mengangguk setuju. Ia akan bangkit ketika sesuatu teringat olehnya.


"Oh, iya. Masalah tawaranku tempo hari. Itu tetap nggak akan berubah. Angkasa Grup .... Kapan saja kamu boleh bekerja disana."


***


Sepertinya Farez akan semakin merasa canggung kalau Gantari menolak tawarannya, jadi hari ini ia pergi ke Angkasa Grup untuk melamar pekerjaan.


"Nona Gantari Dihyan Irawan?" sapa seorang serepsionis.


Gantari terkejut, namun kemudian ia cepat-cepat menjawab.


"Iya?"


"Pak Angkasa sudah menunggu anda. Silakan lewat sini," kata si resepsionis ramah.

__ADS_1


Gantari kaget lagi. Dia ditunggu?


Akhirnya Gantari dibawa ke lantai tiga, tepatnya ke sebuah ruangan luas khas mimpinan perusahaan.


"Ah! Gantari Dihyan Irawan. Aku sudah lama menunggumu."


Seorang pria tegap dengan kulit kuning langsat langsung berdiri menyambutnya, tapi bukan itu yang menggangu Gantari, melainkan rambut si CEO yang panjang alis gondrong hingga sepundak.


Resepsionis cantik tadi pamit dan langsung keluar dari sana. Meninggalkan Gantari dan si gondrong, eh, Angkasa.


"Selamat pagi, Pak Angkasa," sapa Gantari. Dalam hati ia mulai membanding-bandingkan Farez dengan si Angkasa ini.


"Selamat pagi. Ayo silakan duduk."


Gantari menurut dan mengansurkan berkas lamaran pekerjaannya pada Angkasa.


"Tidak perlu. Aku sudah membaca semua tentangmu." Sebuah seringai muncul di bibir Angkasa.


Gantari mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.


"Ternyata ingatanmu buruk juga, ya," cibir Angkasa.


Ia menumpukan sikunya ke pegangan kursi, lantas memutar-mutar jari telunjuknya di dekat dahi sebelah kanan sembari pelan-pelan berkata, "Angkasa Grup ... Sasongko ... ilegal ...."


Oh, sial!


Gantari langsung berdiri dan menatap Angkasa tajam. Ia ingat betul dengan kejadian di Semarang bersama Fikri untuk menyelesaikan masalah dengan Pak Sasongko yang mendadak memutuskan kontrak.


"Jadi itu anda?"


Angkasa tertawa. "Santai ... santai. Dunia ini sempit, Sayang."


Gantari mendecih. Sekarang ia tidak peduli jika Angkasa ini adalah sepupu Farez sekali pun.


"Benar kata orang, karismamu tak terbantahkan," ucap Angkasa salut.


Gantari tertawa hambar. "Tentu saja. Dan, orang tidak berkarisma seperti anda sama sekali tidak cocok denganku," semburnya, lalu Gantari keluar dari sana dengan langkah cepat.


*Persetan dengan pengangguran.


Persetan dengan berat badan*!


Gantari mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Nevan, namun ia urungkan.

__ADS_1


Buat apa juga?


__ADS_2