
"Hah! Kucing baru lagi?"
Gantari yang sedang berjongkok menoleh, lalu nyengir lebar pada Nevan yang baru saja pulang.
"Dia datang sendiri," balas Gantari sembari mengedikkan dagunya pada kucing kecil berwarna hitam pekat.
Nevan jalan mendekat, lalu ikut berjongkok memperhatikan kucing kurus yang sedang lahap tersebut. Dia baru pulang kerja dan langsung menemui sang istri tengah khidmat memperhatikan kucing makan sore-sore begini.
"Lama-lama orang satu kampung buang kucing ke rumah kita," keluh Nevan kemudian.
Gantari terkekeh sebentar, lalu mengelus belakang kepala Nevan. "Nggak apa-apa, Sayang. Mungkin mereka akan jadi salah satu pintu rezeki buat kita."
Nevan mengatup bibirnya, tampak berpikir. Kemudian menatap wajah istrinya lekat. "Kamu memang aura positifku," ujarnya sambil mengulum senyum, lantas mencium kilat pipi Gantari.
"Aku mandi dulu. Dah, Sayang," teriaknya sambil lari memasuki rumah, lalu melambaikan tangan berkali-kali pada Gantari yang tampak tersipu malu.
Setelah memastikan si kucing menghabiskan makanannya, Gantari kembali masuk rumah dan mendapati Nevan sedang menatap ponselnya lama sekali.
"Katanya mau mandi," ujar Gantari yang sontak membuat Nevan tersentak kaget.
Gantari terkikik. "Kamu kaget?" Namun, tiba-tiba rautnya berubah serius, sembari memicingkan mata dia kembali bersuara, "Kamu nggak lagi lihat foto wanita lain, kan?"
"Hus! Jangan ngomong sembarangan," sergah Nevan, lalu meletakkan ponselnya ke atas meja kayu yang terletak di samping lemari. Kemudian, berjalan mendekati pintu dan mengambil handuk yang tergantung disana.
Gantari mengerucutkan bibirnya, terlebih melihat Nevan yang melangkah keluar kamar dan hilang di balik pintu. Ia akan melipat pakaian yang baru diangkatnya dari jemuran ketika kepala Nevan menyembul di pintu. "Perempuan yang fotonya aku simpan di hati itu, ya, cuma kamu," katanya, lalu menghilang lagi.
Meninggalkan Gantari yang wajahnya mendadak berubah menjadi merah tomat.
Ia kembali melanjutkan melipat pakaian dengan senyum malu-malu yang masih betah terukir di bibirnya, namun kemudian rasa penasarannya tiba-tiba menyeruak. Ia menoleh pada meja yang di atasnya terdapat ponsel Nevan, lalu berdiri dan berjalan mendekat. Tampak berpikir, akhirnya ia mengambil ponsel tersebut dan menekan tombol power, lantas segera menyentuh tombol recent dan seketika hatinya mencelos.
Benar dugaannya tadi. Nevan memang sedang melihat foto wanita lain, foto ... ibunya.
Semenjak memutuskan untuk menikahi Gantari, Sang Ibu memang menolak untuk menemui Nevan. Mengingat fakta tersebut, membuat air mata Gantari menetes begitu saja.
***
Tak seperti biasa, Gantari susah sekali dibangunkan subuh ini.
"Aku lagi nggak salat," kata Gantari tanpa membuka mata, lalu kembali meringkuk di bawah selimut.
Bahkan ketika Nevan selesai mandi pun, Gantari belum juga bangun. Pada hal, biasanya sang istri akan sibuk di dapur menyiapkan bekal untuknya.
"Aku berangkat kerja dulu, Sayang," pamit Nevan, lalu mengecup singkat pipi Gantari dan berjalan ke luar kamar.
Ia terus berjalan menyusuri jalan setapak juga gang sempit, hingga ke jalan raya. Beruntung pagi tadi Ahmad menawarkan tumpangan dan Nevan tidak sungkan-sungkan menerima. Hemat ongkos, pikir Nevan.
Ahmad datang dengan sepeda motor matic tahun 2000-an dengan helm kusam yang langsung disambut senyum lebar oleh Nevan.
__ADS_1
"Dari tadi?" tanya Ahmad setelah membuka kaca helmnya.
"Barusan," jawab Nevan sembari mengambil posisi di belakang Ahmad, lalu keduanya meluncur, mengabaikan udara dingin yang menusuk kulit.
Ahmad memilih memakirkan motornya di luar proyek karena banyak alat berat di dalam sana. Dua orang siswi SMA yang berjalan kaki di trotoar lewat dan berbisik-bisik sambil tersenyum malu-malu ketika melewati Nevan. Meski hanya memakai kaos oblong longgar berwarna abu-abu tua, namun pesona Nevan memang tidak terbantahkan.
"Ya, ampun alisnya kayak ulat bulu," pekik salah satu wanita, setelah berhasil melewati Nevan beberapa langkah.
Bukannya Nevan tidak mendengarnya, namun ia memang tidak mau ambil pusing, apa lagi ambil hati, karena hatinya hanya milik Gantari. Uhuk.
Nevan termasuk buruh yang rajin. Sejak datang ada saja yang ia kerjakan, mulai dari mengaduk semen, mengangkat batu bata, hingga membantu Erik mengangkat besi. Tidak heran, jika Ahmad si mandor begitu menghormatinya.
Tepat pukul 11.00 WIB, semua buruh beristirahat dan memilih posisi nyaman masing-masing. Nevan memilih duduk di bawah pohon ketapang yang rimbun dan menenggak air mineral dalam botol yang dibawanya dari rumah hingga tandas. Ahmad menghampiri dan ikut duduk di sana.
"Udah makan?" tanyanya sembari membuka kotak bekal.
"Bentar, Bang. Nyari dulu."
Ahmad menoleh cepat. "Loh? Tumben istri loe nggak nyiapin? Biasanya pakai kotak makan lope lope warna merah."
Mendengar penuturan Ahmad barusan membuat Nevan mau tidak mau terkekeh juga.
"Kayaknya hari ini dia kecapean, Bang. Nanti, deh, dicari bentar di ampera depan."
"Udah, makan bareng aja sini," ajak Ahmad. "Tapi lauk seadanya, ya," lanjutnya serba salah.
Ucapan Nevan barusan tidak digubris Ahmad, karena si mandor justru sedang terpaku melihat sesuatu. Nevan mengikuti arah pandang Ahmad dan menemukan seorang wanita tengah berjalan mendekat. Sebelah tangannya menenteng rantang tiga susun dan sebelah lagi melamabai ke arahnya.
"Itu istri loe bukan?" tanya Ahmad.
Nevan menoleh sebentar, lalu kembali lagi pada wanita yang dimaksud. Matanya seketika melebar ketika menyadari ucapan Ahmad benar. Itu, Gantari!
Nevan langsung menyongsong kedatangan Gantari yang tidak biasa-biasanya. Matanya masih melebar dengan mulut yang sedikit menganga ia bertanya, "Ada apa?"
Tidak ada jawaban yang diberikan Gantari selain senyum super manis. Ia menatap wajah suaminya sebentar, lalu beralih menatap Ahmad. "Hai! Bang."
Ahmad gelagapan, lalu membalas sapaan Gantari kikuk. Di tambah lagi, Gantari jalan mendekat dan dengan santainya ikut duduk di bawah pohon ketapang.
"Kenalin, aku Di ...."
"Gantari," sela Nevan. Membuat Gantari menoleh dan mengerut keningnya.
"Cukup aku aja yang manggil kamu, Dihyan," bisik Nevan.
Gantari terseyum kecil, lalu kembali melanjutkan, "Aku bawa makanan agak banyak. Ada untuk Bang Ahmad dan kawan-kawan lain juga," ucap Gantari sambil membuka rantangnya satu persatu.
Nevan berjalan cepat dan duduk di samping Gantari. Otaknya masih berputar-putar tak mengerti.
__ADS_1
Namun, fokusnya segera diambil alih ketika sebuah aroma familiar menguar dan menggoda indera penciumannya. Ia menunduk dan melihat cumi asam manis kesukaannya serantang penuh.
Gantari mengerling, lalu mengulum senyum. "Ayo, Bang. Panggil teman-teman yang lain juga."
Ahmad tidak mau membuang waktu lagi. Dalam hitungan menit, ia sudah bisa mengumpulkan sekitar lima orang teman sejawatnya, lalu mengantri untuk mengambil cumi asam manis tersebut.
Nevan juga tidak mau kalah. Ia mengambil rantang berisi nasi yang sudah ia kurangi porsinya dengan memberikannya pada rekan lain, lalu menimpanya dengan cumi asam manis yang sudah tujuh bulan ini tidak dimakannya. Kemudian, dengan lahap memakannya.
Rekan lain sudah kembali ke tempatnya masing-masing setelah mengucapkan terima kasih dan puluhan pujian pada Gantari. Tinggallah Ahmad yang masih begitu lahap makan bersama mereka.
"Kamu udah makan?" tanya Nevan pada Gantari.
Gantari menggeleng, lalu setengah berbisik berkata, "Nungguin kamu."
Nevan tersenyum malu-malu, lalu menyuapi Gantari dengan tangannya sendiri. Membuat Ahmad memasang ekspresi datar. Kemudian, bersikap seolah-olah dia tidak bisa melihat apapun kecuali cumi asam manis di kotak makannya.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Tetap jadi sumber kebahagiaanku, ya," bisik Gantari lagi.
Kali ini Nevan menoleh cepat. Ada air tipis yang menyelimuti bola matanya, lalu ia mengangguk dan tersenyum hangat.
Setelah selesai makan, Gantari pamit pada Ahmad dan teman-teman lain untuk segera pulang.
"Antar Gantari dulu, gih," perintah Ahmad.
"Nggak usah, Bang. Nanti naik angkot aja," tolak Gantari.
Ahmad menggeleng. "Denger, ya, Dion. Gantari ini mulai sekarang adek gue. Sana antar dulu," titah Ahmad, lalu melemparkan kunci motornya pada Nevan.
Nevan menyambutnya dengan senyum terkembang. "Ayo."
Gantari ikut tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih pada Ahmad, baru kemudian berjalan menuju tempat motor Ahmad terparkir.
"Itu bensinnya full. Nggak usah diisi. Awas loe isi," teriak Ahmad.
Nevan menyetater motornya dan Gantari mengambil tempat di belakang. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nevan yang langsung membuat Nevan senyum-senyum tidak jelas.
Motor dipacu dengan laju sedang. Jarang-jarang mereka bisa naik motor berdua begini.
"Doain, ya, Sayang. Mudah-mudahan kita bisa beli motor secepatnya," ucap Nevan di sela terpaan angin di wajahnya.
Gantari mengeratkan pelukan dan meletakkan dagunya di pundak kiri Nevan.
" Aamiin," balasnya.
Kemudian, mereka tak lagi bicara. Mereka begitu asik menikmati angin yang menampar wajahnya masing-masing.
Hari itu Nevan begitu bahagia. Dadanya terasa lapang sekali. Semua beban, semua lelah, hilang begitu saja. Sekali lagi, ia sangat bahagia.
__ADS_1