Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Bonchap: Panik


__ADS_3

Nevan sedang memimpin rapat siang ini, saat Gantari datang dan dengan santainya mengintip ke ruang rapat. Gantari bahkan tampak tidak peduli ketika melihat mata suaminya terbelalak saat menyadari kedatangannya. Wanita itu justru melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.


"Dihyan?"


Semua peserta rapat sontak ikut menoleh, mengikuti arah pandang Nevan, hingga membuat Gantari tertangkap basah dan berakhir mengumbar senyum canggung. Ia memilih membalikkan badan dan kabur dari sana, tapi Nevan sudah mengejarnya setelah memberi instruksi kilat pada Fikri.


"Fik, ambil alih!"


"Kok gu ... Kok saya, Pak?"


Nevan tidak peduli. Ia melangkah keluar ruangan rapat, menyusul Gantari yang sudah berjalan menjauh.


"Dihyan!"


Mau tidak mau Gantari menghentikan langkah dan membalikkan badan karena Nevan sudah menahan lengannya. "Loh, kok Mas keluar? Aku cuma ngintip aja."


Nevan menatap Gantari ngeri. Wanita dengan perut buncit ini benar-benar memasang tampang polos bak malaikat.


"Kamu sama siapa ke sini?"


"Sendiri."


Mata Nevan terbuka lebih lebar lagi. "Nyetir sendiri?"


"Huum."


"Dihyan ...." Nevan mengacak rambutnya sendiri, lalu memasang tampang frustasi. "Kamu lagi hamil besar, loh."


"Terus?" Gantari memegang perutnya. Kemudian, melanjutkan, "Anak kita yang mau, kok. Katanya mau ngintip Papa sebentar."


Nevan menghela napasnya pasrah. Tidak tahu lagi harus bicara apa dan bagaimana. Istrinya itu benar-benar ajaib.


"Terus habis ini kamu mau pulang?"


"Iya. Kan udah siap ngintipnya. Pamit pulang dulu, ya, Papa." Gantari berjinjit, lantas mengecup pipi Nevan sekilas. Seolah tidak tahu, jika Sang Suami hampir meledak melihat tingkahnya.


"Aku antar!"


Gantari menggeleng, lalu melangkah pergi dengan gaya santai khasnya.


"Aw!"


Nevan sigap berlari menyusul Gantari, lalu membungkuk melihat keadaan Sang Istri yang tiba-tiba terdiam. "Kenapa?" tanya Nevan panik.

__ADS_1


"Sakit."


"Ya Allah!" Nevan mondar-mandir sambil menarik rambutnya sendiri, lalu bersiap menggendong Gantari. Namun, tiba-tiba seseorang berlari dari belakang dan membuat semuanya bertambah panik.


"Kenapa, Van? Kenapa?" Fikri si cowok keriting keren datang dan bertanya heboh. "Tar, kamu mau lahiran?"


"Hah?" Nevan melotot, lalu menatap Gantari yang masih diam sambil menggigit bibir bawahnya. "Gimana, Fik?"


"Panggil Dokter!"


"Oh, iya! Panggil Dokter." Nevan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, tapi kemudian ia menatap Fikri lagi. "Masa lahiran di kantor?"


"Bawa ke rumah sakit!" cetus Fikri lagi sambil memegangi Gantari. Sedangkan, Gantari masih menggigit bibir bawahnya sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


Nevan mengangguk mendengar ide Fikri, lantas berjongkok cepat di depan Gantari. "Naik, Sayang."


"Mana bisa!" protes Fikri. "Loe nggak lihat perut Gantari gede?!"


Benar juga! Nevan menepuk keningnya sendiri, lantas beralih dengan mengusap kasar wajahnya. "Terus gimana?


"Kita gendong berdua."


"Gila!" Nevan langsung melotot ke arah Fikri dan hampir menggeplak kepalanya. Namun, tidak jadi karena Gantari kembali merintih.


"Aw! Sakit, Mas."


"Sayang! Sayang! Hati-hati."


"Hati-hati, Tari!"


Gantari hanya memasang tampang datar, meski nyatanya perutnya makin terasa melilit. Kemudian, menekan tombol di samping pintu lift dan menunggunya terbuka. Ia lebih memilih mengatur napas, ketimbang memperhatikan tingkah heboh kedua laki-laki di sampingnya.


Nevan mulai bisa memenangkan diri. Ia membantu Gantari masuk ke dalam lift, lalu merangkul pundaknya saat keluar dan memasuki mobil. Sedangkan, Fikri masih sibuk menanyakan keadaan Gantari.


"Loe mau nyetir, Van?"


"Terus?!" Kali ini Nevan lupa bagaimana caranya bicara baik-baik. Semua dia gas.


"Ya, udah. Kalau gitu, gue yang jagain Gantari di belakang." Fikri sudah membuka pintu penumpang dan hendak masuk, tapi Nevan menarik kerah bajunya.


"Mau mati, loe?!"


Akhirnya, Fikri yang menyetir dan Nevan yang menjaga Gantari di belakang. Sebenarnya, kata menjaga kurang tepat karena dari tadi Nevan hanya meminta Gantari mengatur napas seperti dokter profesional, lalu menelpon ke sana kemari.

__ADS_1


"Utami, bikin jadwal dengan dokter kandungan Gantari, sekarang!"


"Ma, Gantari mau lahiran!"


"Mas?" Gantari mencoba menahan Nevan, tapi Nevan terus saja menelpon.


"Kakek, Gantari mau lahiran."


"Mas!"


Sudahlah, akhirnya Gantari pasrah saja sambil mengatur napasnya sendiri. Sekadar mencoba mengurangi sakit yang membuatnya sesekali merintih.


Sesampainya di rumah sakit, Fikri langsung berlari ke IGD dan meminta perawat menyiapkan brankar.


"Pakai kursi roda saja ya, Pak?" tawar perawat.


"Emang aman?"


Perawat tersebut tersenyum, lalu mengangguk. "Aman."


Gantari sudah berada di kursi roda dan didorong ke ruang poli kandungan. Fikri sudah meluncur masuk, tapi Nevan mendorongnya lagi ke luar.


"Bener-bener cari mati?!"


Fikri memasang wajah cemberut. Namun, kemudian ia memilih duduk dengan manis di kursi tunggu. "Kan gue khawatir juga."


Di dalam, Gantari sedang ditangani dengan sangat baik. Ia kini sudah berbaring di ranjang dengan Dokter wanita yang melakukan beberapa pemeriksaan dan mengajukan beberapa pertanyaan.


"HPL nya tiga minggu lagi, kan?"


"Iya, Dok." Nevan menjawab antusias.


Dokter paham, lalu tersenyum dan merapikan kembali baju Gantari. "Ini baru kontraksi palsu."


"Hah? Gimana, Dok?" Kali ini masih Nevan yang menjawab.


"Kontraksi palsu," ulang Dokter. ia kembali tersenyum, lalu menjelaskan dengan sabar. "Hal ini normal terjadi pada wanita hamil. Kontraksi semacam ini merupakan persiapan rahim untuk menghadapi persalinan dan akan muncul lebih sering sebagai tanda melahirkan semakin dekat."


"Jadi Dihyan belum mau melahirkan?"


"Belum," jawab Sang Dokter dengan senyum terkulum.


"Mas, klarifikasi deh sama warga yang pasti udah pada nunggu di luar." Gantari yang sudah duduk menimpali, membuat Nevan menoleh ke arahnya, lalu tersenyum garing.

__ADS_1


***


Kangen Bang Nevan, akutuh. Kamu kangen aku, nggak? 🙄🤣


__ADS_2