Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Marahan


__ADS_3

"Kamu sengaja ngundang aku ke kantor buat ngumumin semuanya, kan?"


Nevan yang baru saja selesai mandi dan masih menggosok-gosok rambutnya dengan handuk langsung menghela napas pelan. Ia meletakkan handuk itu ke tempatnya, lantas ikut naik ke atas ranjang dan duduk di samping Gantari yang masih saja cemberut setelah insiden makan siang tadi.


Istri keras kepalanya itu, tadi memang tetap memaksa pulang sendiri dan mengabaikan tawaran Nevan untuk mengantarnya. Jujur saja, Nevan sempat kecewa pada sikap egois Gantari tersebut.


"Kamu salah paham, Dihyan."


"Salah paham apa? Semua ngetawain aku." Gantari kembali menekuk wajah. Kali ini tangannya ia sedekapkan ke dada.


Nevan menatap Gantari dalam, lantas mengusap pelan rambutnya. "Mereka nggak ngetawain. Nggak ada yang ngetawain kamu." Ia diam sejenak, lantas kembali melanjutkan, "Kalau kamu mau ini jadi rahasia. Oke, ini akan jadi rahasia."


Gantari menoleh, membalas tatapan Nevan dalam diam, hingga sang suami kembali berbicara. "Tapi seenggaknya, jangan nekat bawa mobil dulu dalam waktu dekat ini."


"Kenapa?"


"Kamu hamil dan usianya masih muda."


Gantari mendengkus, lalu menurunkan tangan Nevan dari kepalanya dengan sebal.


"Apa salah anak kita?" tanya Nevan tiba-tiba.


Deg!


Gantari menoleh cepat. Menatap Nevan dengan mata yang siap-siap berembun. Pertanyaan Nevan barusan membuat dia merasa dipojokkan. "Kamu kira aku nggak senang dengan kabar ini? Aku senang!"


"Terus?"


"Kamu nggak ngerti, Dion." Gantari menggeser cepat tubuhnya, lalu turun dari ranjang. Kemudian, bergegas melangkah keluar kamar.

__ADS_1


Nevan menghela napasnya gusar, lalu megusap kasar wajahnya sendiri. "Kalau kamu memang mengharapkan dia, kenapa tadi kamu membuatnya dalam keadaan bahaya?"


Langkah kaki Gantari terhenti. Ia memutar tubuhnya cepat, lalu menatap Nevan lagi tajam. "Nyetir? Hanya karena nyetir kamu anggap aku membahayakan dia?"


Air mata itu akhirnya luruh juga. "Kamu kira ini cuma anakmu? Ini juga anakku, Dion."


Gantari mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya, lantas membuang pandang. Terlebih ketika Nevan ikut turun dari ranjang dan mulai jalan mendekat. Kemudian, memegang pundak Gantari.


"Jangan nangis, Dihyan."


"Kamu yang buat aku nangis," balas Gantari, lantas menurunkan tangan Nevan dari pundaknya.


"Aku nggak ngerti. Kenapa kabar baik justru membuat kita bertengkar begini?" ucap Nevan frustasi.


Dia juga sama bingungnya. Dia bingung dengan Gantari. Dia bingung dengan sikap sang istri yang sama sekali tidak bisa dicerna oleh akal sehatnya.


"Bukan begitu, Dihyan." Nevan makin frustasi. Bahkan, kini calon ayah itu mengacak rambutnya sendiri.


"Oke kalau kamu maunya gitu."


"Astaga. Bukan gitu."


"Tapi aku nggak mau tidur di kamar yang sama denganmu."


...****************...


Fikri sedang menatap Nevan dengan tampang bodoh. Otaknya belum bisa memproses cerita yang baru saja Nevan sampaikan.


"Maksud loe ... Kalian pisah ranjang?"

__ADS_1


"Nggak gitu juga."


"Baru sebulan nikah lagian udah pisah ranjang?" ulang Fikri tak peduli. Ia bahkan meletakkan tangannya di pinggang. Kemudian, tertawa keras. Terlihat puas sekali.


Nevan melotot, lalu menutup cepat mulut Fikri dengan tangannya. "Loe lagi ngasih pengumuman?!"


Pintu terbuka dan Utami muncul dengan mata dan mulut yang membulat sempurna. "Istighfar, Pak. Istighfar!"


Nevan dan Fikri yang sama-sama menoleh akibat teriakan Utami, langsung saling bertatapan. Kemudian, sama-sama melangkah mundur dengan cepat untuk menciptakan jarak di antara mereka.


"Loe jangan mulai lagi, deh, Ut!" cegah Fikri cepat.


"Kalian yang jangan kambuh lagi! Kasihan Gantari." Utami menggeleng tak habis pikir, lalu memutar tubuhnya keluar ruangan dengan membanting pintu.


...****************...


"Udah marahnya?"


Meski sedang merajuk, namun Gantari tidak pernah absen menyiapkan makan untuk sang suami. Seperti malam ini, mereka makan bersama dengan aura dingin yang menusuk tengkuk Nevan. Dia merinding.


"Nanti aku pindah kamar lagi, ya? Nggak enak tidur sendiri," lanjut Nevan cengengesan ketika Gantari tidak menjawab pertanyaannya.


"Nggak usah. Aku belum siap marahnya," cetus Gantari, lalu berdiri membawa piringnya yang sudah kosong dan meletakkannya ke wastafel.


"Kamu cuci piring, ya. Bi Murni sakit dan aku nggak mau terlalu capek."


Nevan mengerucutkan lucu bibirnya, menatap kepergian Gantari yang melewatinya, lalu menuju kamar mereka. Ya, kamar mereka yang kini terlarang untuknya.


"Aku kangen kamu, Dihyan."

__ADS_1


__ADS_2