
Mereka memilih kembali melanjutkan perjalanan dan kini sudah berada tepat di depan sebuah restoran dengan nuansa Eropa.
"Masih ingat?" Nevan mengerling, sembari melepaskan helm, sedangkan yang ditanya tampak mendongakkan kepala, menatap papan nama restoran yang bertuliskan Le Quartier.
"Dulu, ada yang pernah berharap bisa makan berdua denganku di sini, tapi aku lupa. Siapa, ya?" lanjut Nevan yang langsung membuat Gantari menoleh ke arahnya.
"Aku," jawab Gantari pelan. Ia ingat betul, dulu pernah merengek pada Nevan agar bisa makan di rumah makan mewah itu, namun lagi-lagi terkendala keuangan. Kini, setiap kali mengingat masa itu, entah kenapa Gantari selalu merasakan matanya berembun.
Gantari cukup tertegun karena ternyata Nevan masih mengingat keinginan lamanya. Ia berdeham pelan, mencoba menguasai diri. Kemudian, tangannya bergerak mencoba membuka helm, namun dengan cepat Nevan melangkahkan kakinya mendekat. Nevan langsung menahan tangan Gantari, setelah merapikan kilat rambutnya sendiri dengan telapak tangan.
"Aku memang nggak suka perempuan manja, kecuali kamu," ucap Nevan sembari mencoba membukakan pengait helm Gantari.
"Siapa tadi yang bilang nggak boleh menggoda?" sindir Gantari pada Nevan yang tampak begitu khidmat menyelesaikan misinya.
"Kamu memang nggak boleh, menggoda itu bagianku," jawab Nevan santai, lantas mengedipkan sebelah matanya. Dia sudah selesai dan kini sedang menarik pelan helm tersebut dari kepala Gantari dan meletakkannya di atas jok motor.
Nevan membalikkan badannya lagi, lalu merapikan rambut Gantari yang sedikit berantakan dengan jarinya.
Meleleh.
Gantari menolehkan kepalanya, mencoba menyamarkan rona merah di pipi akibat terlalu malu dengan adegan picisan yang dilakukan Nevan. Namun, rautnya sedikit terganggu ketika melihat dua orang perempuan tengah cekikikan genit sembari menatap ke arah Nevan.
Sesekali dua wanita itu tertawa kecil dan dengan terang-terangan memaku pandang pada Nevan ketika berjalan melewati mereka dengan kaki jenjang terbuka.
Gantari yang mengikuti arah pandang mereka, tiba-tiba merasa kesal. Sedangkan, Nevan justru memandang Gantari dengan tatapan polos. Dia tidak tahu, jika hati Gantari tengah berkecamuk.
Perlahan, Gantari menelisik setiap inci wajah Nevan. Lihat saja alis tebal yang mirip ulat bulu itu, serta tatapan teduh dengan bola mata berwarna senada dengan kopi hitam kesukaannya, membuat Gantari makin kesal saja. Duh! Hidung mancung Nevan yang selalu mengemaskan minta dicubit tidak lepas dari penelisikan Gantari.
"Kenapa?" Nevan tertawa kecil karena menyadari Gantari sedang menatapnya intens.
Pakai ketawa segala lagi! Kelihatan, deh, kan lesung pipinya. Gantari ngedumel lagi.
Arah pandang Gantari turun ke bawah, tepat pada dada bidang, pundak tegap, dan tubuh berotot Nevan yang tampak semakin mencolok ketika ia memakai jaket kulit begini. Ditambah dengan rambut Nevan yang sedikit acak-acakan. Siapa coba yang bisa menahan godaan?
"Besok nggak usah pakai jaket kulit," gerutu Gantari akhirnya. "Apalagi warna hitam. Jangan!"
Nevan tampak kebingungan. Ia menunduk, melihat jaket yang dikenakannya. "Kenapa? Kan keren."
__ADS_1
"Pokoknya nggak boleh!"
Terimakasih, jawabannya Gantari. Nevan memilih mengangguk paham, meski sebenarnya tidak paham. Cemburu memang tidak perlu pemahaman, kan?
Uhuk!
Masih tersenyum usil, Nevan menggenggam tangan Gantari dan mengajaknya masuk ke Le Quartier. Interior restauran yang kental dengan nuansa Eropa begitu menarik perhatian Gantari, hingga ia lupa dengan rasa cemburunya tadi. Seorang pelayan datang menyapa dan menunjukkan meja untuk mereka.
Furniture kayu yang disusun secara cantik, lampu gantung chandilier mini yang bergantung di setiap meja, hingga suasananya yang sedikit temaram membuat restauran ini seperti layaknya makan malam di Perancis sungguhan.
Nevan menarikkan kursi untuk Gantari, hingga membuat Gantari salah tingkah dan menggumamkan terimakasih. Sedangkan, Nevan memilih duduk di seberang Gantari dengan senyum yang terus terkulum.
"Kita nggak salah kostum, ya?" bisik Gantari sembari melihat pakaianya.
Nevan jadi ikut-ikutan mengintip pakaiannya sendiri. "Emang kenapa?"
"Kita nggak formal banget, Dion." Gantari kembali berbisik.
"Tapi kamu cantik," balas Nevan ikut berbisik, membuat Gantari mendecak, lantas akhirnya tersenyum juga.
Nevan dan Gantari tidak begitu peduli. Mereka terlihat asik sedang berbagi dan saling mencicipi makanan di piring masing-masing.
"Harusnya tadi kamu pesan steak, biar bisa aku potongkan," sungut Nevan sembari menarik potongan Stone Baked Pizza, lalu memberikannya pada Gantari.
Gantari tertawa, lantas menerima potongan pizza yang disodorkan Nevan. "Buat apa coba?"
"Biar romantis kayak film-film," balas Nevan enteng. Dia beralih ke piringnya sendiri, lantas memotong Grilled salmon pesanannya dan mencicipinya.
"Enak, Sayang. Coba." Nevan mengulurkan garpu yang berisi potongan Grilled salmon dan menyuapinya pada Gantari.
Gantari buru-buru menyelesaikan kunyahan pizza-nya dan melahap Grilled salmon yang disodorkan Nevan. Kemudian, ia menganggukkan kepala setuju.
"Udah ah, nggak enak dilihat orang," bisik Gantari.
Nevan mengedarkan pandangan dan hanya melihat wanita tua tadi yang kebetulan bersitatap dengannya. Cuma dia.
Lagi pula sejak kapan dia peduli?
__ADS_1
"Lihat tangan kamu kotor." Nevan mengambil serbet, lantas menarik tangan Gantari. Kemudian membersihkan tangan pacarnya itu dengan serbet secara lembut.
Gantari mengerutkan dahi karena ini tergolong anehnya aneh. Makan pizza ya jelas harus rela mengotori tangan. Lagi pula dia belum selesai makan.
Gantari berusaha menarik tangannya, namun Nevan tidak membiarkan.
"Meski aku tau, kamu bisa membuat nyaman tanpa kepastian, tapi tetap saja aku ingin ada sebuah ikatan."
Nevan memulai dan entah kenapa Gantari merasakan tubuhnya menegang.
"Aku pernah kehilanganmu sekali dan demi apapun aku nggak mau merasakannya lagi."
"Dion ..." Gantari tidak bisa melanjutkan ucapannya dan hanya berakhir mengigit bibir bawahnya saja.
"Dihyan ... jadilah matahariku lagi."
Gantari menunduk. Bulir bening itu kembali mengalir tanpa izin. Namun, sebuah telapak tangan hangat langsung mengusap pipi Gantari. Menghapus lembut jejak air mata itu, hingga membuatnya Gantari mendongak.
Nevan mengangkat telapak tangannya dan menyejajarkan di samping wajahnya sendiri. Memamerkan sebuah cicin berlian yang sudah tersemat di jari kelingkingnya, lantas nyengir lebar.
Gantari yang melihatnya langsung tertawa, meski air matanya kian deras mengalir. Kemudian, mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Nevan ikut tertawa, lantas berdiri dan berjalan cepat mendekati Gantari, memeluknya erat.
Tidak lama karena Nevan segera mengendurkan pelukan dan bersimpuh di hadapan Gantari. Pelan, dia mulai melepaskan cincin dari jari kelingking kirinya dan memasangkannya ke jari manis sang pujaan hati.
Air mata Gantari luruh lagi. Ia menarik Nevan dalam pelukan, mendekapnya begitu erat. Kali ini tolong izinkan mereka bersama, Tuhan.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika sebuah nama yang dilontarkan entah oleh siapa.
"Bulan?"
Gantari mengendurkan pelukan dan menoleh pada seseorang yang sedang menatapnya dalam.
***
Catatan :
Bab ini tidak ada iklan karena Jika sedang patah hati.
__ADS_1