Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tiga Puluh Lima


__ADS_3

Ada perkembangan baru dalam hidup Nevan. Sekarang, dia tidak perlu tidur untuk bermimpi. Bahkan, dengan mata terbuka pun Nevan sudah hanyut dalam mimpi masa lalunya.


Besok, genap sudah seminggu ia tidak melihat Gantari. Tak tahu kabar, namun tidak pernah berhenti memikirkannya.


Obat tidur yang biasanya selalu bisa menyelesaikan masalah, kini hanya mampu membuatnya terlelap setengah jam saja. Dia sudah hampir gila sepertinya.


"Oy!"


Teriakan Fikri sama sekali tidak membuat Nevan terkejut. Mengalihkan pandang pun tidak.


"Cie, yang besok mau nikah ngelamun aja," goda Fikri. Ia melangkah dan menghenyakkan tubuhnya di samping Nevan dengan senyum terkembang.


Namun, tak lama karena ia segera menyadari sesuatu.


"Lo ragu, ya?"


Nevan masih enggan menjawab. Ia tetap menatap layar televisi yang tidak pernah menyala seperti biasa.


"Lo idiot atau gila?" Suara Fikri meninggi. "Kalau nggak mau nikah, ngapain nikah?"


Ia membuang napasnya kasar. Menatap tak habis pikir dengan tindakan sang sahabat.


"Jangan jadi pengecut, Dion!"


Fikri lupa, kapan terakhir ia memanggil Nevan dengan nama masa kecilnya itu.


"Kalau kayak gini, lo nggak cuma ngancurin hidup lo aja, tapi hidup Shaness juga!" sembur Fikri murka. Ia berdiri dan mengusap kasar wajahnya.


"Siapa?"


Nevan akhirnya menoleh, menatap Fikri yang kini sedang berkacak pinggang padanya. Namun, Fikri tersentak. Meski ia tahu Nevan memiliki warna kulit terang, tapi ia baru menyadari jika Nevan tampak begitu pucat hari ini.


"Siapa cewek yang buat lo ragu gini?" lanjut Fikri pelan.


"Dihyan," jawab Nevan tak kalah pelan. Ia kembali menatap televisi di hadapannya. Kelopak matanya terasa berat sekali, namun otaknya tidak mengizinkan ia untuk tidur.


Fikri menganga. Tak mengerti dengan apa yang baru didengarnya.

__ADS_1


"Dia muncul lagi?" Fikri cepat-cepat duduk kembali di samping Nevan dengan mata melebar.


"Ceritanya panjang. Gue nggak punya tenaga buat cerita," balas Nevan malas. Kepalanya berdenyut, makanya ia memijit dahinya sebentar.


Terdengar Fikri menghela napasnya lagi. "Ini bukan pacaran loh, Nevan. Ini, pernikahan! Jangka panjang. Seumur hidup," tekan Fikri.


"Terus, sekarang gue harus gimana?" tanya Nevan lemah.


"Ya, harus egois lah!" jawab Fikri menggebu-gebu. "Batalin pernikahan ini."


"Dan setelah itu Shaness akan hancur sendirian," balas Nevan datar. Pandangannya menerawang, lalu dengan lirih melanjutkan, "Dia juga pasti akan ikut benci sama gue."


Fikri paham betul siapa "dia" yang dimaksud Nevan; si mantan, siapa lagi emang? Namun, kemudian dia mengangguk setuju.


"Gimana kalau lo pergi yang jauh dulu. Ninggalin Shaness sama si dia. Adil, kan?" saran Fikri lagi.


Nevan menoleh, lalu menatap Fikri datar. "Siapa tadi yang bilang kalau gue nggak boleh jadi pengecut?"


Fikri nyengir kuda. "Emang buah si malakama, sih, masalah lo." Ia diam sejenak, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. "Yaudah, deh. Jalanin aja kalau gitu."


"Makasih atas ide lo yang nggak membantu itu," hardik Nevan.


"Hei! Mau kemana lo?" teriak Fikri.


"Tidur," balas Nevan tanpa mau repot-repot menoleh.


***


Sudah setengah jam Nevan berdiam diri di dalam mobil. Tidak ada yang dia lakukan, selain termenung. Di dekatnya ada sebuah gang sempit yang sesekali tampak sepeda motor keluar masuk dari sana.


Malam ini begitu sepi. Setidaknya, itulah yang dirasakan Nevan. Ia menggerakkan tangannya untuk membuka pintu dan perlahan keluar dari sana, lantas dengan langkah gontai ia berjalan menyusuri gang sempit tersebut. Beruntung, ada lampu pijar yang memancarkan cahaya keemasan yang menerangi langkah kakinya.


Langkahnya terhenti tepat di dekat pohon mahoni. Di seberang sana, ia dengan jelas dapat melihat sebuah rumah putih dengan rak berisi macam-macam bunga di depannya.


Hatinya menghangat ketika melihat seseorang yang ingin sekali ia lihat, Gantari.


Perempuan itu sedang duduk di kursi kayu teras dengan memakai baju rajut berwarna maroon. Di telinga terpasang handsfree berwarna putih, sepertinya ia sedang mendengarkan lagu.

__ADS_1


Tanpa sadar Nevan kembali melanjutkan langkah. Semakin dekat, semakin jelas ia melihat Gantari yang sedang menatap kosong ujung meja di depannya.


Berniat melihat diam-diam dari jauh, nyatanya kaki Nevan begitu kurang ajar, sehingga kini ia sudah berdiri tepat di hadapan Gantari dan membuat wanita itu mendongak kaget, lantas menatapnya dengan mata lebar.


Gantari sontak menarik handsfree-nya dan entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan darahnya berdesir ketika melihat Nevan di hadapannya.


Baru seminggu tidak melihatnya, Nevan tampak begitu kurus, meski kini wajahnya sudah kembali bersih tanpa jambang.


"Ada apa?" tanya Gantari setelah berhasil mengatur degup jantungnya.


Nevan diam saja. Ia masih betah menatap lekat Gantari, lama sekali.


"Aku tanya, ada perlu a ...," ucapnya terpotong karena Nevan menyela.


"Besok aku akan menikah."


Gantari menelan ludahnya susah payah. "Aku tau," katanya getir.


Nevan tersenyum pahit. Ia memajukan kakinya selangkah dan mengambil posisi duduk di samping Gantari. Kemudian, dengan gerakan cepat ia membaringkan tubuh dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Gantari, hingga membuat tubuh Gantari menegang. Refleks, ia menjauhkan tangannya dari Nevan.


Baru saja ia akan mendorong kepala Nevan, ketika Nevan dengan mata terpejam berkata, "Sudah beberapa hari ini aku nggak tidur. Biarkan aku tidur sebentar saja."


Gantari masih merasakan seluruh tubuhnya menegang, ketika Nevan melanjutkan, "Agar besok pagi aku kuat mengucapkan akad."


Dasar, Nevan! Dia tidak tahu jika raut Gantari sontak berubah terluka. Ia bahkan membuang pandang dan mengatup kuat bibirnya. Wajahnya sudah memerah. Ada perih di dalam sana yang mati-matian ia tahan.


Kali ini, Gantari memilih diam dan membiarkan Nevan meringkuk di pangkuannya. Ia tahu, ini tidak hanya berat bagi dirinya, tapi juga bagi Nevan.


Sebenarnya, Nevan tidak sepenuhnya terlelap. Ia hanya sedang menutup mata dan membiarkan dirinya merasa nyaman. Ritme napasnya tampak begitu teratur. Ia merasa beban di hatinya seolah terangkat, meski mungkin hanya sementara.


Sepuluh menit, ya, hanya sepuluh menit Nevan berbaring karena perlahan ia bangkit dan menegakkan tubuhnya, lantas menatap Gantari sendu.


"Sudah cukup," katanya. "Kalau terlalu lama, aku takut berubah pikiran," lanjutnya kemudian.


Nevan perlahan berdiri dan melangkah pergi tanpa menoleh sekali pun karena hari ini semua harus berakhir. Semuanya.


"Hai! Aku, Nevandra Ardiona. Orang yang paling aku sayang adalah Gantari Dihyan Irawan dan selamanya akan begitu. Kalau sampai suatu saat aku mengingkarinya, siapa saja diantara kalian boleh memukuliku sampai babak belur dan kupastiakan aku tidak akan menuntut."

__ADS_1


Gantari memasang handsfree-nya lagi dan rekaman suara Nevan tersebut berputar berulang-ulang di ponselnya.


__ADS_2