Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh Empat


__ADS_3

Jika : Huweeee 😭 Makasih yang udah vote, like, dan komen. Sampai shock Jika, tuh 🤧


Bang Nevan : *clingak-clinguk lagi*


Iklan di awal gini, aku boleh nongol kagak Jika?


Jika : Kagak!


Bang Nevan : Dih!


***


"Gantari, aku membutuhkanmu." Setetes air mata lolos dari mata seorang Angkasa dan hal itu sukses membuat Gantari terhenyak.


"Aku benar-benar membutuhkanmu," ulang Angkasa dengan suara bergetar. Terdengar kepahitan dan juga nada keputus asaan di sana.


Gantari tertegun menyaksikan secara langsung sisi lain Angkasa, hingga rautnya perlahan mulai melunak. Sejujurnya, dia prihatin dengan keadaan mantan bosnya itu, terlebih ketika pengakuan Farez tentang Angkasa semalam, membuatnya semakin menaruh peduli.


Angkasa pernah berkali-kali mencoba menghabisi nyawanya sendiri.


Gantari menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir rasa ngeri yang tiba-tiba terbersit di benaknya. Tatapannya melembut ketika mengatakan, "Aku yakin, kamu kuat menghadapi kebenaran masa lalumu, Asa."


Asa.


Hati Angkasa yang beberapa hari ini membeku, mulai dijalari rasa hangat. Ya, semudah itu.


Semudah Gantari masuk dan menyelinap ke dalam hati seorang Angkasa Wiraguna dan menetap di sana.


Asa.


Dia begitu merindukan panggilan itu.


Sorot mata Angkasa yang awalnya terlihat begitu lemah dan rapuh, kini muncul binar di sana. Dia merasa memiliki secercah harapan ketika menatap Gantari.


"Temani aku menghadapinya. Sekali ini saja."


Dan, jawaban Gantari adalah ...


Tidak!


***


Hari ini Leo izin lantaran ingin mengantar adik bungsunya untuk mendaftar di pesantren. Jika itu sudah masalah sang adik, maka Angkasa tidak akan pernah mengatakan tidak.


"Saya sudah menghubungi Shanessa untuk menghandle pekerjaan saya hari ini."


"Hm."


"Untuk pekerjaan yang bisa saya kerjakan lewat email, akan saya selesaikan sendiri."


"Hm."


Ya, hanya gumaman saja yang sedari tadi Angkasa berikan pada titah Yang Mulia Leo. Selain karena dia sedang patah hati untuk meresponnya dengan kaidah yang baik dan benar, Angkasa juga memang selalu patuh-patuh saja dengan kecerewetan sang asisten pribadi.


"Oh, iya, Pak Ang. Nanti ada pertemuan jam 9 dan Shanessa ...."


"Kamu lebih memilih berhenti bicara, atau berhenti bekerja?"

__ADS_1


"Oh, baik, baik. Selamat pagi, Pak. Tolong kendalikan emosi anda selagi saya tidak ada."


Tut!


Sambungan diputus sepihak secepat mungkin oleh Leo. Jadi, begitulah taktik Leo untuk bertahan selama tiga tahun ini bersama Angkasa.


Angkasa mendengkus jengkel menatap ponselnya yang kini sudah menampakkan wallpaper berwarna hitam polos, lantas meletakkan ponsel tersebut ke atas meja dengan gaya tidak kalah jengkel.


Sibuk melamun rupanya cukup ampuh untuk memangkas waktu. Angkasa melirik arloji mahal yang melingkar di tangan kanannya dan pertemuan yang dimaksud Leo langsung ter-alarm begitu saja di otaknya.


Dia menatap pintu yang masih tetutup rapat, lantas mendengkus lagi.


Mana sekretaris sementaranya?


Angkasa memakai jas yang tadi dilemparkannya di sofa, lantas keluar ruangan dengan tampang garang. Dia siap rapat meski hatinya sedang patah arang.


Tampang garangnya berubah datar ketika melihat Shanessa yang rupanya sudah berdiri di depan pintu, menunggunya.


"Harusnya kamu mengingatkan saya, bukan malah menunggu di sini," ujar Angkasa sinis.


"Maaf, Pak."


Entah kenapa Shanessa merasa jauh lebih tegang ketika menghadapi Angkasa ketimbang dosen penguji skripsinya dulu. Rasanya seperti sedang berada di tepi jurang dan di hadapannya ada serigala yang siap menerkam.


Hayo, pernah ngerasain nggak?


"Pe-pertemuan ada di hotel Lu-luna, Pak."


Angkasa melongo, lalu mendesah kesal, hingga membuat Shanessa tersentak kaget.


Tidak mau menambah kadar emosi, Angkasa berjalan cepat menuju lift, diikuti Shanessa di belakangnya dengan langkah tergesa. Sudah dalam hitungan ke tiga Angkasa menghitung dalam hati, tapi Shanessa belum juga sampai ke dalam lift, membuat Angkasa menghujamnya dengan tatapan datar lagi.


"Kamu jalan di depan," titah Angkasa ketika pintu lift terbuka.


Meski bingung, namun Shanessa tetap menurutinya. Dia berjalan secepat yang ia bisa, tapi tetap saja terdengar dengkusan sebal Angkasa dari belakang.


Huwe! Mau nangis, Shanessa meringis dalam hati sembari tetap mengayun langkah, hingga naas kaki kanan mengandung kaki kirinya sendiri.


"Eh! Eh! AAAA."


Tenang, tidak ada adegan jatuh, bertubrukan, dan terjerembab di lantai dalam posisi tindih-menindih, karena Angkasa sangat cekatan menarik kerah baju Shanessa, hingga si gadis tidak perlu mencium lantai.


"Terima kasih, Pak." Shanessa menuduk, lantas mengutuki dirinya sendiri.


Malu-maluin, ya, Allah. Huwe!


***


Utami sedang memijit kepalanya sendiri. Hati dan pikirannya sedang tidak akur, jadi dia sudah galau sesiang ini.


"Kenapa, sih, Ut? Pusing banget kayaknya." Elma yang baru saja memesan makanan ikut duduk di samping Utami yang sebenarnya sudah terlihat kusut sejak kemarin.


"Aku ngerasa lagi ngebohongin diri sendiri, Kak," curhat Utami.


Elma yang sudah mulai menyuap menu makan siangnya, menatap Utami penasaran. "Kamu lagi naksir orang?"


Utami hanya menjawab dengan gelengan lesu. Mendadak nafsunya terhadap pria menurun semenjak ....

__ADS_1


"Kamu ditolak?"


"Bukan, Kak."


"Terus apa, dong? Giliran jiwa kepo gue udah meronta-ronta, loe malah main kucing-kucingan," ucap Elma gemas.


Utami tampak menimbang-nimbang. Sebenarnya, menceritakan aib orang bukan gaya dirinya, apa lagi aib bosnya sendiri, tapi belakangan menyimpan rahasia itu membuatnya jadi tertekan.


"Kakak janji, ya, jangan ngasih tau orang lain."


"Janji."


"Cukup kita aja yang tau."


"Hooh. Buruan."


Utami menolehkan kepalanya dulu, sekadar memastikan jika situasi benar-benar kondusif. Kemudian, beralih lagi menatap Elma yang duduk di hadapannya dengan tangan terlipat serius, melupakan nasi padangnya sejenak.


"Pak Nevan ...."


"Huum."


"Sama Fikri ...."


Elma menggebrak meja tak sabaran, lalu menutup mulutnya sendiri ketika menyadari tindakan tidak sabarannya.


"Loe niat cerita nggak? Kalau enggak gue lanjut makan, nih."


"Pacaran. Pak Nevan sama Fikri pacaran, Kak!" Utami menyelesaikannya kalimatnya dengan sekali tarikan napas, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, frustrasi.


Bahkan, Utami menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Dia benar-benar tampak terkekan dengan fakta versi dirinya sendiri.


"Ut?"


"Aku nggak kuat nengok mereka, Kak," ucap Utami dengan suara yang teredam permukaan kerja, nyaris menangis.


"Loe sehat?"


Rupanya, bukan nyaris menangis, melainkan memang sudah menangis. Karena ketika Utami mengangkat kepalanya, air matanya sudah meleleh kemana-mana, membuat Elma menatapnya prihatin.


"Kalau sakit, mending istirahat, Ut."


"Mereka terang-terangan di depan aku nunjukin ke ...."


"Gantari. Pak Nevan pacaran sama Gantari."


"Hah? Mereka cinta segitiga?"


Ya, Tuhan.


***


Bang Nevan : Yey! Iklan dong, ya. Loh, Jika mana? Jika? Jika? Astaga, kamu nggak mau pakai jasa Abang lagi?


Jika : Kagak, ah. Viewers novel Jika udah lumayan, Bang. Jadi, Abang nggak diperluin lagi.


Bang Nevan : Astaghfirullah, Jika. Kamu kira Abang tebu? Habis manis sepah dibuang.

__ADS_1


Jika : Kumenangis membayangkan .... Betapa kejamnya dirimu atas diriku. HOAKAKAAK.


__ADS_2