
Mobil yang ditumpangi Shanessa sudah bergerak pelan ke luar perkarangan rumah, lalu mulai meluncur membelah jalanan kompleks. Namun, Angkasa masih bergeming. Tatapannya masih tertuju pada kediaman Ardiwinata.
Harusnya, ia datang untuk menjemput Shanessa karena pacarnya itu kemarin sedang merajuk padanya. Nyatanya, ia justru masih berdiam diri karena hatinya bilang dia harus tetap di sana.
Angkasa mulai tampak tertarik ketika akhirnya seorang wanita keluar dengan menggunakan sweater berwana mustard. Sama seperti pagi kemarin, hari ini Angkasa masih melihat Gantari sedang duduk di kursi taman dan memperhatikan tanaman dalam diam.
Tanpa sadar, Angkasa menarik handel pintu dan keluar dari mobilnya. Ia berjalan pelan dan menyebarangi jalan, hingga masuk ke dalam perkarangan. Beruntung pagar rumah belum ditutup, sehingga Angkasa bisa masuk dengan mudah.
Semakin dekat dengan Gantari, Angkasa merasakan hatinya semakin sesak. Sweater warna cerah yang dikenakan Gantari justru membuat wajah pucatnya semakin terlihat.
Angkasa meneguk pelan ludahnya. Ia bingung harus menyapa atau tetap diam saja mengamati. Namun, ketika Gantari mengulurkan tangan kurusnya dan menyentuh pelan dedaunan, Angkasa semakin tidak bisa mengendalikan diri. Sumpah demi apa, ia bisa melihat tangan Gantari bergetar.
"Pantai mungkin bisa membuatmu lebih baik, Gantari."
Gantari tersentak, lalu menoleh cepat pada Angkasa. Dilihat dari matanya yang melebar, Angkasa tahu, jika Gantari sangat terkejut dengan kehadirannya.
Oh, Gantari ingat. Angkasa memiliki hubungan dengan Shanessa, jadi wajar saja dia ada di sana. Gantari mencoba menenangkan diri.
"Shanessa udah berangkat."
__ADS_1
Hati Angkasa koyak lagi. Suara Gantari di telinganya terdengar begitu lemah. Kemana Gantari yang dulu? Nevan apakan Gantari-nya hingga jadi begini?
"Kalau ada hal yang membuatku gila, bisanya aku melarikan diri ke gunung. Tapi ... kamu bisa mencoba pantai dulu karena biasanya wanita lebih suka pantai."
Gantari mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti dengan arah pembicaraan mantan atasan yang pernah hampir melecehkannya itu.
"Aku nggak butuh pantai," balas Gantari dingin.
Angkasa bergeming. Ia masih berdiri menatap Gantari dengan tatapan tidak terbaca dan tatapan itu justru membuat Gantari semakin merasa tidak nyaman.
"Harusnya kamu jangan kembali," ucap Angkasa nyaris bergumam.
"Harusnya kamu pilih jalan lain, Gantari."
"Pak Ang!"
Napas Gantari memburu. Ia bangkit dari duduknya, lantas menatap Angkasa tajam.
"Jangan mengganggu hidupku lagi!"
__ADS_1
Angkasa mendecak muak. Ia membuang pandang sebentar, lantas menatap Gantari lagi. "Bukan aku! Nevan ... Nevan yang sudah menghancurkan hidupmu. Dua kali."
Gantari tercekat. Amarahnya sudah menjalar, hingga kepala dan itu membuatnya kehilangan kata-kata. Akhirnya, Gantari memilih pergi dari sana. Kondisinya saat ini tidak sedang dalam keadaan siap perang dengan Angkasa. Namun, Angkasa menahan tangan Gantari, hingga wanita itu kembali melayangkan tatapan penuh amarah.
"Aku sudah pernah menyerah, Gantari. Tapi, kalian yang membuatku berubah pikiran."
Tatapan ini ... Tatapan yang sama ketika Angkasa menatapnya dulu. Tatapan ketika Angkasa bersikap kurang ajar padanya.
Gantari mulai ketakutan. Ia mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman tangan Angkasa dari lengannya. Namun, kondisinya saatnya ini membuatnya tidak berdaya.
"Berbalik arahlah, Gantari. Aku masih ada di belakangmu."
Bruak!
Sebuah hantaman keras tepat di wajah Angkasa sukses melepaskan cengkraman tangannya di lengan Gantari. Angkasa terhuyung ke belakang. Ia menyentuh rahangnya sebentar, lalu mengertakkan giginya ketika melihat siapa pelakunya.
Nevandra Ardiona.
...****************...
__ADS_1
Go! Go! Go! Bang Nevan! Jangan mau *dibilang lembek kayak adonan roti *ngakak*