Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Delapan Puluh Tujuh


__ADS_3

"Mariah gila! Dia bilang, dia hamil!"


Nevan tidak mendengar lagi apa yang dikatakan Fikri selanjutnya. Pikirannya kacau. Dia butuh tahu keberadaan Gantari secepatnya.


Dia beranjak cepat dari ranjang menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya disana. Pagi ini air terasa begitu sejuk, namun tetap saja tidak berhasil membekukan kegelisahannya yang terlanjur menjalar.


"Aku butuh bertemu denganmu sekarang, Dihyan," gumam Nevan dengan tatapan kosong memandang pantulan dirinya sendiri di cermin.


Belum apa-apa, rasa pahit lima tahun yang lalu kembali ia rasakan. Nevan pernah begitu menderita karena kehilangan sekeping hatinya. Dia pernah begitu putus asa karena tidak hanya rumah tangga orang tuanya saja yang berantakan, tapi juga rumah tangganya. Dia pernah begitu hancur ketika kehilangan, Gantari, tujuan hidup satu-satunya dulu.


Nevan keluar kamar mandi dengan wajah basah. Dia menoleh sebentar ke arah jam dinding, lantas melangkah keluar rumah. Dia akan menyusul Edo ke Sila Hospital.


***


"Dokter Farez?"


Dokter muda idaman para pasien dan perawat itu menoleh. Wajahnya terlihat begitu lelah dengan mata yang sedikit merah. Namun, ketika disapa oleh Edo barusan spontan senyum tercetak di bibirnya. Farez memang memiliki postif respons.


"Ya?" tanyanya ramah. Farez dengan sabar menunggu Edo berjalan ke arahnya.


"Maaf mengganggu. Boleh bicara sebentar?"


Farez tampak menimbang. Semalaman dia berada di ruang operasi dan pagi ini niat tidurnya begitu kuat.


"Ini tentang Gantari Dihyan Irawan," lanjut Edo ketika membaca raut bimbang di wajah sang dokter.


Farez menatap Edo dengan kening berkerut. "Dihyan?" ulangnya.


Edo mengangguk. Dia membiarkan Farez menatapnya dari atas sampai bawah. Waspada itu perlu dan wajar.


"Anda siapa?"


***


Akan aku jawab nanti, setelah aku menemukan Dihyan.


Kalimat Nevan semalam masih berputar-putar di kepala Shanessa. Melihat raut kacau Nevan, Shanessa yakin jika mantan tunangannya itu tidak sedang bercanda.

__ADS_1


Gantari hilang?


Shanessa memukul pelan kepalanya sendiri. Karena rasa bingung dan penasarannya itu, laporan yang sedang dia kerjakan tidak juga berhasil ia selesaikan.


Dia mengintip ponselnya sebentar, sekadar memastikan Nevan sudah memberi kabar. Tadi malam Nevan berjanji akan mengabarinya jika Gantari pulang, namun nihil.


Ia meletakkan ponselnya kembali ke samping keyboard yang sedang ia tekan setelah mendesah kecewa terlebih dahulu. Kalau sampai tengah hari Gantari belum ada kabar, Shanessa bertekad akan memberitahukan pada sang kakek.


"Susah sekali, ya? sampai mendesah begitu."


Shanessa terlonjak kaget karena wajah Angkasa sudah terpampang dekat sekali dengan wajahnya.


"Pak Ang ... kasa?" Fiuh, kambuh lagi gagap Shanessa. Mata bulatnya menatap Angkasa dengan kedipan lambat, membuat Angkasa terkikik.


"Kamu menggemaskan juga, ya," ucap Angkasa masih terkikik, lantas menegapkan tubuhnya.


Hah?


Tubuh Shanessa membeku. Dia tidak salah dengar, kan? Mendadak ada gelitik di dada yang membuat Shanessa mau tidak mau mengukir senyum malu-malu.


"Aku tunggu laporannya di ruangan, ya," putus Angkasa dengan mata mengerling.


Apa ini artinya lampu sudah hijau?


Shanessa mencoba menahan pekikannya dengan membekap mulutnya sendiri. Ini seperti mimpi. Ya, mimpi yang terlampau indah.


Tiba-tiba dia teringat dengan kabar menghilangkannya Gantari.


Apa hilangnya Gantari ... ada hubungannya dengan Angkasa? Senyum Shanessa sirna lagi.


***


Setelah memastikan identitas Edo, akhirnya Farez menceritakan semua hal yang persis sama seperti yang ia ceritakan pada Gantari kemarin. Tidak ada yang terlewat.


"Jero?" tanya Edo memastikan. "Orang Bali?"


Farez terdiam karena dia sendiri tidak yakin. "Mungkin," jawabnya ragu.

__ADS_1


Bodohnya, Farez memang tidak pernah memastikan asal-usul Jero dan memilih percaya pada wajah sendu sang wanita senja begitu saja.


Farez memang selalu lemah pada wanita, terutama seorang ibu. Dia pernah menjadi anak yang tidak berguna dan tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan sang ibu dulu.


"Tapi, Jero bilang ... dia nggak bisa menemui Dihyan," lanjut Farez gamang. Dia jadi takut sendiri dengan jawaban yang ia berikan barusan.


Jadi Dihyan kemana?


"Boleh aku minta nomor ponselnya?"


Kali ini Farez tidak ragu lagi. Dia mengangguk kuat dan dengan yakin akan memberikan segala akses yang ia punya untuk menghubungi Jero.


Menunggu Farez mencari nomor ponsel Jero, Edo menolehkan kepalanya ke arah televisi kantin rumah sakit dan seketika ia mengembuskan napas jengkel ketika menonton berita yang disuguhkan acara gosip tersebut.


Mariah, pewaris Insani Grup akhirnya mengaku jika dirinya sedang hamil. Dengan air mata berderai, dia mengungkapkan, besar harapannya agar ayah dari calon bayinya tersebut dapat segera bertanggung jawab. Nevandra Ardiona kah Ayah dari calon bayi Mariah tersebut? Kita tunggu saja kemana kisah ini akan bergulir.


Setelah kepingan acara gosip itu selesai ditayangkan, Edo tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa hambar. Sedangkan, Farez yang tadi menunduk fokus pada ponselnya, rupanya juga memperhatikan acara gosip tersebut dengan begitu serius.


Edo menoleh menatap Farez, lalu tertawa lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tawanya baru reda ketika melihat sosok Nevan sedang berjalan mendekat.


"Loe nysusul?" sambut Edo ketika teman lamanya itu sudah mengambil posisi duduk di sampingnya.


"Gimana?" tanya Nevan tidak peduli. Suasana hatinya sedang tidak mengizinkannya untuk basa-basi.


"Itu berita apa-apaan, sih, Van?" Edo memutar tubuhnya hendak mengintrogasi, namun sesi interogasi ringan itu terintrupsi oleh suara si dokter muda.


"Jangan-jangan, Dihyan bukan menghilang."


Senyum mengejek Edo berangsur sirna dan kini ia memilih menoleh ke arah Farez dengan sebelah alis terangkat, begitu juga Nevan. Nevan akhirnya mengangkat wajahnya dengan malas, lantas memandang Farez tajam.


Ucapan Farez barusan entah mengapa terkesan begitu provokatif untuk didengar dan lagi sepertinya, Nevan ataupun Edo sudah tahu kelanjutannya.


Farez yang duduk di seberang meja dan ditatap dengan begitu tajam justru tampak masa bodoh. Tumben-tumbenannya dokter idaman ini memasang wajah menjengkelkan. Ia bahkan menarik sebelah ujung bibirnya, hingga menciptakan senyum miring. Baru kemudian, ia melanjutkan dengan tak kalah santai.


"Tapi ... melarikan diri darimu."


***

__ADS_1


Update demi kamu.


__ADS_2