
Ternyata semua tidak sesederhana yang dipikirkan Gantari. Tadi, dia memang tidak merindukan Nevan, tapi detik ini dia sedang uring-uringan karena belum melihat Nevan seharian.
Gantari meraih ponselnya hendak menghubungi sang suami, namun ia urungkan. Gengsi, dong.
"Bi Murni mau pulang?" sapa Gantari ketika asisten rumah tangganya itu lewat setelah mengecek seluruh pintu rumah seperti biasa.
Ya, Bi Murni memang tidak tidur di sana, meski Nevan sudah menyediakan kamar untuknya. Biasanya ia akan datang dan pulang diantar jemput sang anak, tapi di waktu-waktu tertentu kadang dia menginap juga.
"Malam ini Bibi tidur di sini. Nemenin Mbak Gantari," jawabnya kalem, lalu berjalan mendekati Gantari yang sedang duduk di depan televisi. Kemudian, ikut duduk di sana.
Wanita paruh baya itu segera menambahkan ketika melihat raut bingung di wajah Gantari. "Tadi Mas Nevan nelpon."
"Loh, katanya dia pulang," sahut Gantari cepat yang dibumbui sedikit aroma protes di sana.
"Pulang, Mbak, tapi malem banget. Katanya, jam duaan."
"Itu mah pagi, bukan malam," celetuk Gantari sambil cemberut.
Bi Murni terkekeh. "Jangan banyak-banyak cemberut. Nanti anaknya ngikut, loh."
Gantari memutar tubuhnya antusias menghadap Bi Murni. "Yang bener, Bi?"
"Iya, kalau mau punya anak ceria, ibunya harus ceria juga," jelas Bi Murni sabar.
Gantari mengangguk paham. Ia jadi memikirkan sikapnya yang selalu membuat Nevan serba salah. Tentu Gantari tidak mau anaknya kelak jadi anak yang pembangkang pada Nevan.
"Bibi dulu hamil anak pertama umur berapa?"
__ADS_1
"Umur 16 tahun," jawab Bi Murni kalem.
Gantari melotot kaget. Umur segitu dia masih SMA dan sedang semangat-semangatnya mengerjakan banyaknya tugas sekolah. Namun, kemudian Gantari mengangguk paham. Pantas saja Bi Murni sudah punya cucu berusia remaja.
"Aku ... takut, Bi," aku Gantari akhirnya.
"Takut apa?"
"Takut nggak bisa menjaga dia. Takut nggak bisa jadi ibu yang baik untuk dia," jawab Gantari dengan kepala tertunduk. Terselip nada getir di sana.
"Tapi Allah percaya sama Mbak Gantari. Apa itu belum cukup?"
Deg!
Gantari tertegun. Ucapan Bi Murni benar-benar menamparnya. Tangan keriput Bi Murni terulur, lantas mengusap lembut kepala Gantari. "Baru nikah, langsung dikasih kepercayaan. Itu harus disyukuri, Mbak."
"Allah tau yang terbaik dan ini pasti jadi yang terbaik untuk Mbak Gantari dan Mas Nevan."
Pundak Gantari bergetar. Ia mulai terisak dalam tangisan, hingga Bi Murni menariknya ke dalam pelukan.
"Jalani aja, sisanya biar Allah yang atur."
...****************...
Kadang, kita butuh bicara untuk dimengerti. Kadang, kita butuh mendengar untuk paham. Seperti Gantari yang merasa jauh lebih baik setelah bicara dengan Bi Murni.
Gantari tidur dengan begitu tenang dan nyenyak, meski Nevan belum juga pulang ketika ia menutup mata.
__ADS_1
"Bangun, sayang. Udah siang."
Gantari membuka paksa kelopak matanya cepat dan langsung menemukan Nevan sedang tersenyum hangat padanya. Laki-laki itu sedang menumpu kepalanya dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk membelai rambut Gantari.
"Kamu kapan pulang?" tanya Gantari serak, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Nevan.
"Tadi jam 4."
"Semalam, kata Bi Murni pulang jam dua," rajuk Gantari.
Alis Nevan bertaut. Namun, tangannya masih saja membelai rambut sang istri. "Kenapa harus kata Bi Murni? Kenapa nggak tanya aku langsung?"
"Takut kamunya sibuk."
Nevan mencibir, lalu mencubit gemas hidung Gantari. "Udah marahnya?"
Gantari mengangguk kepalanya beberapa kali, lalu merangsek masuk ke dalam pelukan Nevan. Menyenderkan kepalanya di dada sang suami.
"Maaf, ya, Sayang. Maaf aku udah nyebelin banget."
Dada Nevan mengembang, lalu mengempis lagi akibat tarikan napasnya yang dalam. Namun, kemudian didekapnya Gantari dengan kedua lengannya. "Emang nyebelin, tapi lucunya aku sayang."
Gantari terkikik sebentar, lalu mendongakkan kepalanya untuk dapat melihat wajah Nevan. "Hari ini kita ke Dokter, ya."
Wajah Nevan berubah siaga. "Kamu sakit?"
Gantari tersenyum, lalu menggeleng. "Mau periksa anak kita."
__ADS_1