
Ungkapan kebahagiaan dan senyum Gantari setelah mendapat kabar memenangkan tender itu segera menghilang ketika tiba-tiba Angkasa ... memeluknya.
Gantari yang terkejut langsung mendorong tubuh Angkasa, hingga terjungkal.
Astaga.
Gantari kaget. Ia menatap Angkasa yang kini terhenyak di lantai lobi dengan pandangan tidak percaya.
"Bapak menyentuh saya?"
Angkasa menggeleng. "Tidak. Aku memeluk kamu," ucapnya polos.
Kontan saja, Gantari melebarkan matanya murka, lalu memutar tubuhnya cepat dan melangkahkan kakinya menjauh sembari mengibas-ngibaskan baju bagian depannya.
"Emang aku kotor," desis Angkasa.
Angkasa bangkit, lalu mengejar Gantari hingga ke depan lift.
"Gantari!"
Gantari yang tidak sabar menunggu pintu lift terbuka langsung memutar kasar tubuhnya menghadap Angkasa, lalu mengarahkan tunjuknya tepat di depan wajah Angkasa. Terlalu dekat, hingga membuat mata Angkasa juling.
"Dengar, ya, Pak Angkasa. Saya masih menjaga wibawa bapak tadi. Kalau tidak, rambut bapak udah saya jambak."
Entah mengapa, Angkasa justru terkekeh. Dia suka cara Gantari memperlakukan dirinya. "Ada yang mau aku bicarakan denganmu. Ini serius."
Sejak kapan pula mereka terlibat hubungan aku-kamu?
"Masalah pekerjaan?" tanya Gantari memastikan.
"Ikut saja."
Setelah mengucapkan dua kata itu, Angkasa langsung berbalik dan pergi. Mau tidak mau Gantari mengekori. Karena mau bagaimana pun, dia masih punya tanggung jawab. Ya, masih.
"Nah! Ini cafe kesukaanku," terang Angkasa ketika sampai di Kafe Batavia. Sebuah kafe yang terletak di kawasan Kota Tua.
Gantari menyisir pandangannya ke sekeliling penjuru kafe. Dekorasi dan nuansa kafe ini seakan-akan membawanya kembali ke zaman kolonial Belanda.
__ADS_1
"Tapi kafe ini sama sekali nggak cocok dengan style Bapak," cetus Gantari. Ia sudah selesai menelisik isi kafe, jadi sekarang ia menatap Angkasa lagi.
Wajah Angkasa berangsur sendu. Namun, tidak lama karena kini ia kembali menarik sudut bibirnya. Tersenyum kaku seperti biasa.
"Sebenarnya ini tempat kesukaan ibuku," jelas Angkasa, lalu ia menunduk dan tampak menghela napasnya dalam.
Gantari jadi merasa bersalah. Ia tahu sedikit cerita tentang ibu Angkasa sudah meninggal dan Gantari paham betul perasaannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud ...."
"Makanan di sini enak-enak, aku jamin kamu ketagihan," potong Angkasa. Wajah muram Angkasa tadi sudah menghilang begitu saja.
Membuat Gantari menyadari sesuatu, Angkasa punya luka.
Pelayan kafe datang dan meletakkan pesanan dengan begitu sopan ke atas meja. Gantari melirik nasi bebek Bali dan perutnya langsung bergejolak. Pada hal belum lama tadi dia sudah makan bersama kakek.
Perut macam apa ini?
"Recommended," bisik Angkasa.
Gantari jadi salah tingkah karena merasa tertangkap basah, tapi apa pedulinya. Setelah menggumamkan Basmalah, dia langsung mencicipi makanan penggugah selera itu dan ... empuk.
Tak mau ketinggalan, Angkasa ikut mengeksekusi makanannya, soto betawi. Argh!
Sesekali ia melirik Gantari, lalu tersenyum lagi.
"Ayo kita mulai hidup bersama."
Uhuk!
Gantari tersedak. Ia merasakan kerongkongannya perih, lantas buru-buru menenggak jus jeruknya.
Barusan apa yang didengarnya?
"Aku serius." Angkasa mengangkat kepalanya, lalu menyandarkan sendok ke pinggiran mangkuk dan memandang Gantari lekat.
__ADS_1
Mendadak nasi bebek Bali jadi tidak menarik lagi. Akhirnya, Gantari membalas tatapan Angkasa.
"Maksud Bapak?"
"Kita sama-sama terluka dan akan bisa saling menyembuhkan," tutur Angkasa.
Gantari berdeham. "Sepertinya Bapak salah paham. Saya ...."
"Jangan terlalu percaya diri. Shanessa tidak akan sembuh semudah itu. Apa lagi jika dia melihat kamu hidup bahagia dengan Nevan."
Ada perih yang tiba-tiba menyayat hati Gantari. Rasa yang sudah ia mulai lupakan, namun dibuka kembali hari ini.
"Siapa yang bisa menjamin kalau kamu tokoh utama dalam cerita ini? Bisa saja orang itu adalah Shanessa, kan?" cecar Angkasa bertubi-tubi. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Gantari untuk menata hati.
"Sekarang aku sedang mengulurkan tangan padamu. Ayo, kita mulai di lembar baru, tanpa akan ada hati yang terluka."
Gantari gamang. Dia merasa sedang berdiri di ujung tebing dan di bawahnya ada laut lepas dengan ombak ganas.
Haruskah ia melompat atau memilih tertangkap oleh mafia?
"Aku jamin kita akan hidup bahagia."
"Tidak ada kebahagiaan yang bisa dijamin, Pak," balas Gantari tajam.
"Aku juga tidak tau, aku ini tokoh utama atau bukan." Gantari menatap Angkasa tepat ke dalam manik matanya. "Aku juga tidak tau cerita ini akan berakhir seperti apa, tapi hidup itu harus diperjuangkan, kan?"
"Dan, aku memilih untuk memperjuangkan Nevan," tutup Gantari.
Ia berdiri dan meraih sling bag-nya hendak pergi dari sana.
"Sekarang kamu bisa percaya diri berkata seperti itu, tapi nanti ketika kamu melihat ada orang yang terluka demi kamu, kamu juga tetap tidak akan bisa bahagia," balas Angkasa.
Gantari menghela napasnya dalam, lalu membuangnya perlahan. Ia memandang ke arah jendela sebentar, lalu menatap Angkasa lagi yang masih terduduk di kursinya.
"Jangan menilai orang lain dengan standar yang anda miliki. Aku pernah melarikan diri untuk menghindari kemungkinan- kemungkinan yang bahkan entah terjadi atau tidak dan aku tidak mau seperti itu lagi. Aku pernah hancur bukan karena orang lain, tapi karena diriku sendiri." Gantari berbalik dan melangkah menjauh, namun kemudian ia menghentikan langkahnya.
"Aku harap Anda juga segera bisa keluar dari bayangan itu," tukas Gantari tajam sebelum akhirnya ia benar-benar berlalu.
__ADS_1