Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Extra Part : Malam Pertama


__ADS_3

Jero melihat akad nikah Nevan dan Gantari dari jauh. Air matanya menetes pelan ketika akhirnya ia menjadi saksi penyatuan cucu kesayangannya itu dalam ikatan yang di ridhoi Tuhan. Ia memilih duduk di sudut paling belakang. Mencoba menyembunyikan diri agar tidak dikenali.


Biarlah begini. Biarlah dia memperhatikan semuanya diam-diam seperti yang dulu ia lakukan pada Bulan. Jero berdiri dan beranjak pergi ketika melihat Nevan dan Gantari mulai melakukan prosesi sungkeman pada orang tua mereka.


"Seenggaknya berikan dulu doa untuk mereka."


Langkah Jero terhenti. Ia berbalik dan melihat Edo sedang berdiri di belakangnya. Buru-buru Jero menghapus air mata.


"Kadang, kasih sayang itu butuh ditunjukkan. Jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi, Jero."


Jero terperangah. Ia terdiam menatap detektif swasta itu lama.


"Aku nggak punya orang tua dan berharap orang tuaku segera muncul. Apapun keadaan mereka."


Perlahan, tangis Jero pecah. Pundaknya bergetar dan seseorang menariknya dalam pelukan. Mendekapnya dengan begitu erat dan hangat.


"Nggak ada rasa benci yang tersisa untuk Nenek. Jadi, jangan sedih lagi."


Jero membalas pelukan tersebut setelah tahu jika itu Gantari. Ia memeluk cucunya dengan begitu berani untuk pertama kalinya. Nevan yang berdiri di samping Gantari tersenyum dan mengusap pundak Jero.


"Ikut dan tinggallah bersama kami," ucap Nevan, membuat Gantari menoleh padanya. Dia begitu terharu dengan ucapan suaminya barusan.


Jero melepaskan pelukannya, lantas menghapus air matanya lagi. Kemudian, menggeleng.


"Ayo, Nek. Aku akan sangat senang kalau Nenek mau."


Lagi-lagi Jero menggeleng. "Nenek sudah merasa tenang tinggal disana."


"Dimana?"

__ADS_1


"Di panti asuhan tempat Bulan dulu dititipkan. Walaupun nggak bisa berbuat banyak, tapi melihat anak-anak itu tumbuh dan berbicara dengan mereka benar-benar membuat Nenek merasa lebih baik."


Gantari mengangguk paham, lantas memeluk Jero sekali lagi. "Segera hubungi kami kalau Nenek bersedia tinggal bersama kami."


Jero tersenyum dengan wajahnya yang basah, lalu mengangguk.


...****************...


Setelah resepsi yang melelahkan, Nevan dan Gantari memutuskan untuk langsung pulang. Mereka harus melewati banyak cie karena menolak untuk tinggal di rumah orang tua dulu. Nevan dan Gantari ingin langsung tinggal di rumah sendiri.


"Bi Murni mana?"


"Aku suruh libur," jawab Nevan sambil nyengir.


"Kenapa? Bi Murni sakit?"


Mendengar jawaban tersebut, Gantari spontan menoyor pelan kepala Nevan, hingga membuat Nevan menyembunyikan kepalanya dengan cepat di perut Gantari. Kemudian, pura-pura cemberut.


"Jangan disiksa lagi. Mulai sekarang aku harus disayang."


Astaga!


Gantari tergelak, lantas mengusap kepala Nevan lembut.


"Begini?"


Sebuah anggukan Nevan berikan, lalu ia mendongakkan kepalanya menatap Gantari dengan dagu yang ia topangkan di perut sang istri. "Kayak gitu udah benar, tapi coba cara lain."


Gantari menautkan alisnya. Menatap Nevan bingung, lantas mengacak pelan rambut Nevan. "Begitu?"

__ADS_1


"Yang lain."


Kali ini Gantari sampai memasang tampang berpikir cukup lama, hingga membuat Nevan mendecak sebal.


"Kamu pura-pura nggak tau, kan?"


"Emang nggak tau," balas Gantari polos.


Nevan sudah merajuk. Ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Gantari dan bersiap untuk berdiri. Namun, Gantari justru bergerak, lantas duduk di pangkuan Nevan.


Kemudian, dengan cepat Gantari mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Menatap Nevan dengan begitu dalam dan hangat. "Kamu udah terjebak dan jangan harap bisa melepaskan diri lagi."


Argh!


Nevan mendadak linglung. Bahkan, untuk meneguk ludahnya saja dia sudah ingat lagi caranya.


Melihat ekspresi yang Nevan berikan, sukses menciptakan sebuah senyum geli di bibir Gantari, namun cepat-cepat ia tahan. Pelan-pelan Gantari mendekatkan wajahnya ke wajah Nevan, hingga rasanya hembusan napas mereka saling bertabrakan.


Semakin lama, wajah mereka semakin dekat. Posisi terbaik untuk melihat lebih dalam dan menikmati manik mata berwarna kopi milik Nevan. Perlahan, Gantari mengarahkan pandangannya dari mata ke bibir Nevan. Kemudian, mengecupnya singkat bibir itu. Ya, terlalu singkat, hingga tanpa sadar Nevan memasang raut kecewa.


Nevan mengerang ketika melihat Gantari justru terkikik geli melihat reaksinya. Begitu saja mana cukup untuk Nevan, lantas tanpa perlu aba-aba lagi ia menyusupkan tangannya ke leher Gantari dan menariknya mendekat dengan cepat. Melakukannya sekali lagi hingga puas.


Kemudian ....


...****************...



__ADS_1


__ADS_2