
Mungkin, kita memang harus kehilangan dulu untuk tahu artinya menjaga. Mungkin, kita memang harus merasa hambar dulu untuk bisa menghargai rasa pahit.
Gantari sedang menyiapkan sarapan ketika Nevan datang dan langsung memeluknya dari belakang. Ia sedikit tersentak, lalu menoleh dan mendapati Nevan dengan mata terpejam menopangkan dagunya di bahu Gantari.
"Ada Bi Murni, Dion," bisik Gantari sambil melirik ke arah pintu belakang. Tadi asisten rumah tetangganya itu tampak sedang menjemur pakaian di luar.
"Biarin aja," balas Nevan ringan, lantas semakin mengeratkan pelukan. Anehnya matanya masih saja terpejam ketika melanjutkan, "Nanti kita ungsiin aja Bi Murni ke pos security."
Gantari melebarkan matanya, lalu cepat-cepat melepaskan diri dari pelukan Nevan, hingga membuat sang suami hampir terjatuh. Beruntung Nevan masih punya cukup kesadaran untuk membuat tubuhnya tetap seimbang.
"Orang tua jangan dibecandain," hardik Gantari tak suka.
"Aku hampir jatuh, Dihyan!" protes Nevan sambil cemberut. Ia bahkan seperti tidak peduli dengan ucapan Gantari, lantas mencoba mendekat lagi bersiap menempel seperti tadi. Namun, sang istri kembali menghindar.
Nevan menatap Gantari dengan tatapan datar. "Nggak lucu, Dihyan."
"Aku emang nggak lagi ngelawak. Mandi sana!"
__ADS_1
"Aku mau pelukan dulu."
"Dih! Nggak mau."
"Sebentar. Aku mau peluk."
"Nggak mau!"
"Sebentar aja." Nevan terus merengek, lalu melangkah maju dan kembali mencoba memeluk Gantari. Kali ini dia berhasil, hingga membuat Gantari tertawa geli.
"Astagfirullah!"
"Parah! Parah!" Satu lagi si pembuat onar datang. Fikri langsung menerobos ke pantry dan langsung merangkul pundak Bi Murni sok akrab. "Nggak sopan kalian sama orang tua. Sabar, ya, Bi."
Bi Murni yang kaget karena di rangkul Fikri langsung menggeser tubuhnya dengan tatapan datar. "Mas Fikri kira kita Teletubbies harus pelukan segala."
Fikri melongo, tapi Bi Murni sudah keburu pergi menjauh duluan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tadinya Bi Murni mau laporan kedatangan Fikri pada Nevan, tapi justru melihat pemandangan kurang akhlak.
__ADS_1
"Itu rangkulan, Bi, bukan pelukan," ralat Fikri terkikik geli. Namun, Bi Murni tidak peduli. Ia terus melanjutkan langkahnya menjauh.
"Baikan, sih, baikan, tapi nggak gitu juga," gumam Bi Murni, lalu istighfar lagi.
"Bi Murni terguncang, tuh! Kalian habis ngapain?" Fikri kembali menolehkan wajahnya pada Nevan dan Gantari ketika Bi Murni benar-benar telah menghilang.
"Lo yang ngapain? Pagi-pagi ngerocokin suami istri aja!" balas Nevan tersungut-sungut.
"Jemput Pak Nevan. Saya tahu kalian lagi hangat-hangatnya, jadi dari pada Pak Nevan terlambat terus dan perusahaan kita bangkrut, lebih baik saya mengalah menjemput Bapak ke rumah."
Nevan mendengkus kuat. Terlalu kesal dengan asalan mengada-ada sang asisten pribadi.
"Gue udah bangun. Sana loe duluan aja ke kantor!"
"Tapi Bapak belum mandi." Fikri mengatur intonasinya seformal mungkin, lalu melanjutkan, "Selagi menunggu Bapak mandi, saya akan mencicipi nasi goreng Gantari dulu."
Nevan melotot, lalu meraih serbet yang ada di dekatnya dan melemparkannya kuat pada Fikri, hingga Fikri meledakkan tawanya. Tak puas sampai di situ, Nevan langsung mengejar Fikri untuk membuat sang asisten pribadi sadar jika jitakannya lumayan juga kalau sudah sampai ke kepala.
__ADS_1
"Kayaknya aku harus mulai cemburu sama mereka," gumam Gantari, lalu mendengkus pelan menatap Fikri yang sudah berhasil ditangkap Nevan.