
"Nah! kan bener. Aku nggak kebagian," protes Gantari ketika Nevan terus saja menyeruput kopinya. Sedangkan, Nevan hanya nyengir saja sembari mengintip wajah kesal Gantari dari balik mug motif panda.
"Aku buat sendiri aja, deh." Gantari berdiri dan ingin beranjak pergi, namun Nevan menahannya.
"Iya, iya. Ngambek terus," goda Nevan sembari tersenyum jail dan dengan bibir mengerucut akhirnya Gantari duduk lagi.
Nevan menyodorkan mugnya pada Gantari dan ketika Gantari bersiap mengambilnya, Nevan menariknya lagi. Kemudian, dengan tatapan polos berkata, "Kamu mau nyoba minum dengan cara lain nggak, Dihyan?"
"DION!"
***
Setengah jam berlalu dan Angkasa kembali lagi dengan mobilnya. Ia masih mendapati Shanessa berdiri di tempat yang sama sedang mengatap ke arahnya.
Diam-diam Shanessa merasakan hatinya menghangat. Setidaknya Angkasa kembali dan mengkhawatirkan dirinya.
"Masuk," pinta Angkasa setelah kaca jendela terbuka.
Shanessa patuh. Ia masuk dan duduk di samping Angkasa tanpa suara, namun sesekali ia menoleh pada pacar seharinya itu.
"Nggak usah besar kepala. Aku kembali karena sebentar lagi kita ada pertemuan," jelas Angkasa tanpa diminta. Bukannya ia tidak tahu Shanessa mencuri lihat padanya terus.
"Baik, Pak," balas Shanessa, lantas melirik Angkasa lagi.
Aih!
"Jangan ngeliat saya terus!" sergah Angkasa jengkel. Entahlah, entah memang benar dia merasa jengkel atau justru malah grogi.
"Baik, Pak."
Angkasa menghela napas, lantas melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada banyak waktu, jadi tidak perlu terlalu terburu-buru.
"Kita santai saja, masih ada waktu."
"Baik, Pak."
__ADS_1
Angkasa mendecak sebal, lalu menoleh cepat pada Shanessa siap protes.
"Apa kamu nggak bisa ngobrol selain 'baik pak baik pak' terus?"
Shanessa membulatkan matanya takjub. Ngobrol, ya?
"Bapak udah makan?"
"Astaga!" Angkasa mengacak rambutnya frustasi. "Bukannya tadi kita makan bersama. Kenapa tanya lagi?"
"Baik, Pak."
Angkasa mendengkus, namun kali ini ia memilih pasrah. Sepertinya menikmati perjalanan tanpa obrolan menjadi pilihan paling tepat.
Sesampainya di Kembang Lawang, Angkasa langsung keluar mobil dan Shanessa dengan cekatan mengikuti, layaknya sekretaris profesional.
"Hai, Ang!" Seorang laki-laki dengan kaca mata hitam langsung menyambut kehadiran Angkasa. Ia membuka kaca matanya ketika melihat Shanessa yang berdiri di balik punggung Angkasa. Tatapannya benar-benar liar, hingga membuat Shanessa menggeser tubuhnya tak nyaman.
"Sekretaris loe? Leo mana?" tanyanya terang-terangan.
"Mau nawarin proyek apa loe?"
Jika Shanessa perhatikan, sepertinya Angkasa cukup mengenal rekan bisnisnya kali ini karena mereka terlihat begitu santai ketika berbicara. Bahkan, laki-laki yang rupanya bernama Fergian itu sesekali membicarakan masalah pribadi.
Angkasa tidak banyak merespons, namun dia tetap mendengarkan sembari mengaduk minuman yang baru diantar oleh salah seorang pelayan.
"Cewek cantik buat apaan kalau nggak buat dimanfaatin? Toh, kita udah ngeluarin modal gede buat dia."
Shanessa sedikit mengerutkan dahinya. Ia merasa terganggu dengan pernyataan yang dilontarkan Fergian barusan.
"Modal cantik doang mau sok-sokan jadi ratu dengan tameng status istri." Fergian mendecih, lantas menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Gue yakin sekretaris cantik loe ini juga nggak bisa masak." Fergian menatap Shanessa dari atas sampai bawah, lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cewek sekarang emang nggak ada bisanya, selain dandan."
"Loe nyari istri atau nyari babu?" cetus Angkasa tanpa menatap Fergian. Ia masih tampak asik mengaduk-aduk kopinya.
__ADS_1
"Gue juga berani bertaruh loe nggak bisa ngaduk semen." Angkasa mengangkat kepalanya, menatap Fergian tajam. "Nggak bisa ngaduk semen buat bikin rumah aja, loe belagu nuntut cewek buat bisa masak."
Wajah Fergian merah padam. Ia mencengkram lengan kursi dengan kuat.
"Cewek yang loe liat dari tadi dengan mata jelalatan loe itu ... pacar gue!"
Angkasa menggebrak meja, hingga membuat Fergian terlonjak kaget. Meski begitu mulutnya tetap bungkam.
Angkasa berdiri, lalu menarik tangan Shanessa agar ikut berdiri bersamanya.
"Ini peringatan pertama buat loe. Seperti yang loe tau, gue nggak pernah ngasih peringatan kedua," ucap Angkasa tajam, lantas pergi dari sana dengan tetap menarik Shanessa bersamanya.
***
Nevan akhirnya pulang dengan bersenandung di sepanjang jalan setelah diusir oleh Gantari. Jalan macet, panas terik, dan suara pengamen yang tidak bagus-bagus amat sama sekali tidak merusak suasana hatinya. Hari ini dia sedang bahagia.
Alisnya sedikit bertaut ketika melihat kehadiran Edo di depan rumahnya. Efek terlalu bahagia membuat Nevan jadi lupa untuk memberitahu Edo, jika Gantari telah kembali.
"Sorry, Do. Gue lupa bilang kalau ...."
"Jero itu nenek kandung Gantari," sela Edo ketika Nevan berjalan mendekat ke arahnya.
Langkah kaki Nevan terhenti begitu saja. Wajahnya berubah serius.
"Jadi, tadi malam Dihyan ketemu neneknya?"
"Kayaknya enggak. Soalnya Jero masih ada di Bali."
Nevan terdiam. Seketika ia ingat raut wajah Gantari tadi pagi. Wajah yang begitu kacau dan terluka.
"Jadi tadi malam Dihyan ... kemana?"
Edo bergeming. Masih ada hal yang menggangu pikirannya. "Satu lagi. Menurut gue, Gantari dalam posisi yang ... berbahaya."
***
__ADS_1
Jika : Ihiiirrr detik-detik mau tamat, nih. Btw, aku lagi galau. Mau lanjut cerita Bulan - Awan di Perempuan Penghibur Tuan Muda atau mulai cerita baru dengan Angkasa. Kayaknya Angkasa lebih menggoda, kabooorrrr