
Tidak semua hal yang diinginkan di dunia ini harus terwujud. Contohnya saja Gantari. Padahal pagi ini ia ingin sekali melanjutkan tidur setelah salat subuh, tapi Nevan malah mendorongnya ke halaman belakang.
"Aku ngantuk, Mas."
Nevan menggeleng tegas. Dia sudah konsultasi ke dokter kandungan dan tidur pagi bukan kebiasaan yang baik. Terlebih kandungan Gantari yang sudah masuk trimester ketiga.
"Harus banyak gerak, Sayang."
"Aku nggak pernah tidur sambil diem," cibir Gantari, lantas melepas caping yang tadi dikenakan paksa oleh Nevan ke kepalanya. Membuat Nevan diam-diam mengiyakan pernyataan Gantari tersebut.
Sekali lagi Nevan menggelengkan kepalanya, mencoba menghindar dari modus ngeles sang Istri. Untuk mengantisipasi Gantari kabur, Nevan bergerak maju. Kemudian, meraih caping dan mengenakannya kembali ke kepala Gantari, mengabaikan tatapan memelas sang istri.
"Aku udah beli bibit stoberi, tomat, ca ...."
"Kamu beneran mau jadiin aku petani?" potong Gantari dengan tatapan sengit.
"Bukan petani, Sayang, tapi berkebun. Kita lagi berkebun dengan menyenangkan."
"Menyenangkan apanya?" tatapan Gantari berubah ngeri. "Terus kamu ngapain?"
"Aku ... aku kan nggak hamil."
"Dion!"
"Hahaha."
***
Pada akhirnya suami memang ditakdirkan banyak-banyak mengalah. Caping yang Nevan beli di pasar tradisional kemarin sore, kini sudah bertengger di kepalanya sendiri. Tangan kanannya sedang menggaruk tanah dengan pacul arit, sedangkan tangan kirinya memegang pot yang harus diisi tanah.
Gantari? Gantari sedang duduk dengan meminum jus alpukat di kursi lipat yang dibawakan Bi Murni barusan.
__ADS_1
"Itu akar-akarnya dibuangin, dong, Mas."
Nevan menoleh, lantas mendelik tajam pada Gantari. Ia menggigit bibir bawahnya geram, tapi kemudian tetap membersihkan tanah-tanah dalam pot dari sisa-sisa akar yang dimaksud Gantari.
Gantari cekikikan, lalu turun dari kursi lipatnya dan melepas sandal. Kemudian, dengan pelan duduk di samping Nevan dan menjadikan sendal tersebut sebagai alas duduk.
"Minum dulu." Gantari mendekatkan jus alpukat miliknya ke arah bibir Nevan yang langsung diseruput tanpa jeda dengan tampang cemberut. Hingga membuat Gantari mencubit pipi Nevan gemas.
Ia meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas kursi lipat, lantas memasang sarung tangan. Kemudian, menarik pot yang sudah terisi tanah. Sekarang gilirannya beraksi.
Gantari merobek pollybag dengan cutter, lalu memindahkan bibit stroberi ke dalam pot. Tidak ada gestur canggung ketika Gantari melakukan itu. Berkebun sudah jadi rutinitasnya bersama ayah dan ibunya ketika kecil dulu.
Nevan menatapnya takjub, lantas melanjutkan menggaruk tanah untuk mengisi pot dengan semangat membara. Begini saja sudah mesra.
***
Malam ini Gantari berlama-lama di depan cermin sembari memutar-mutar tubuh. Sedangkan, Nevan sedang duduk berselonjor kaki di atas tempat tidur dengan sebuah buku yang terbuka di tangan. Kacamata baca bahkan sudah bertengger di hidung mancungnya, pertanda ia sedang serius. Namun, fokusnya terganggu setiap kali mendengar Gantari menghela napasnya berat.
"Aku gemuk, kan, Mas?"
Kening Nevan berkerut, lantas dengan pelan menutup buku di tangannya.
"Enggak. Kata siapa?"
"Kata cermin."
Hampir saja Nevan tergelak, tapi ia tahan karena biasanya masalah berat badan adalah masalah serius bagi kaum wanita. Ia kembali bersuara ketika Gantari lagi-lagi memutar tubuhnya di depan cermin.
"Enggak, Sayang. Kamu nggak gemuk."
Senyum hangat Nevan seketika membeku ketika Gantari menatapnya dingin. "Aku lebih percaya sama timbangan ketimbang kamu, btw."
__ADS_1
Skak mat! Nevan mengatup bibirnya erat. Terus untuk apa tadi Gantari bertanya padanya?
Sabar, Nevan! Sabar. Ingat, perempuan selalu benar.
Nevan meletakkan buku yang kini berada di pangkuannya ke atas nakas, lantas beranjak dari sana. Ia melangkah mendekati Gantari dan memeluknya dari belakang.
Ia meletakkan dagunya ke pundak kiri Gantari, lantas dengan lembut mengusap perut sang istri yang tampak kian membesar.
"Wajar, kan, kalau berat badan kamu naik? Itu tandanya dia semakin sehat di dalam sana," ujarnya lembut dan ucapan Nevan tersebut sukses melunakkan hati Gantari.
"Tapi kamu nggak malu punya istri jelek?"
Mendengar pertanyaan Gantari kali ini membuat Nevan sedikit terkejut. Ia memutar pelan tubuh Gantari agar mata mereka bisa bertatapan.
"Jelek? Malu?" Nevan menaikkan sebelah alisnya, lalu melanjutkan, "Apa hubungan kita masih ada di tahap remeh seperti itu, Dihyan?"
Gantari tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya dan memilih menatap perutnya sendiri. Beberapa hari ini ia merasa khawatir dan tidak percaya diri. Belakangan, ia merasa takut jika Nevan akan berpaling darinya.
Melihat Gantari yang tidak mau membalas tatapannya, membuat Nevan memegang dagu Gantari, lalu mendekatkan wajah mereka. Kemudian, dengan cepat mengecup bibir Gantari dan dengan lembut berkata, "Sayangnya aku ke kamu itu nggak main-main."
Gantari yang tampak terkejut mendapat serangan kilat, perlahan mulai membalas tatapan Nevan. Sorot mata itu terlihat begitu lembut dan hangat ketika melanjutkan,
"Cintanya aku cuma terkunci di kamu."
Ia menghela napasnya pelan, lalu mengusap lembut puncak kepala Gantari sebelum melanjutkan lagi. "Dan ... anak-anak kita akan jadi kunci-kunci lain yang semakin membuat aku nggak bisa lepas dari kamu."
Setetes air mata Gantari perlahan meluncur membasahi pipi. Tetapi, itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan karena sebuah senyum ikut terbit bersamaan dengan lolosnya air mata tersebut.
Gantari membiarkan dirinya terengkuh ke dalam pelukan Nevan. Kemudian, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang calon papa tersebut.
Terserah takdir akan mengukir kisah seperti apa, yang jelas masa kini tetap harus dinikmati. Gantari menengadahkan wajahnya menatap Nevan, lalu berbisik, "Terimakasih juru kunci."
__ADS_1