Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Jalan Itu Bernama Shanessa


__ADS_3

Angkasa tidak bercanda. Ia langsung melamar Shanessa pada sang ayah, namun justru mendapat masa percobaan selama tiga bulan.


"Bagaimana aku bisa mempercayakan putriku padamu? Kalau hubungan dengan ayahmu saja, aku dengar tidak terlalu baik."


Wajah Shanessa langsung menegang. Ia menolehkan kepalanya pada Angkasa yang luar biasanya justru tampak tertunduk. Sebuah sikap yang jarang kali Shanessa lihat dari seorang Angkasa.


Shanessa kira, ia akan mendapat kendala restu dari sang kakek. Namun, rupanya justru Papa-lah yang pasang badan untuk menjegal niat baik mereka ke pelaminan.


"Saya ...." Angkasa bersuara. Pemuda berambut gondrong itu malam ini tampak rapi dengan kemeja batik dan rambut dikuncir. "Akan segera membawa Papa untuk melamar Shanessa secara benar."


Sekali lagi, Shanessa dibuat tidak percaya. Ia cukup tahu bagaimana buruk dan kakunya komunikasi Angkasa dengan orang tua tunggalnya tersebut. Namun, kali ini bukan Shanessa saja yang dibuat terkejut. Leo dan keluarganya yang diboyong Angkasa juga dibuat kaget.


Ya, malam ini Angkasa tidak datang sendiri. Ia membawa serta Leo, asisten yang sudah ia anggap keluarga sendiri untuk datang menemani. Ia juga membawa keluarga besar Leo untuk menyemarakkan acara lamaran tersebut.


Papa berdeham. Ia bisa merasakan keseriusan pemuda di hadapannya itu. "Tiga bulan. Lebih dari tiga bulan, saya anggap Anda tidak serius."


Wajah Shanessa sudah berubah pucat. Ia pernah gagal menapaki pernikahan sebelumnya dan sekarang jangan sampai gagal lagi.


"Pa?"


Angkasa menoleh pada Shanessa, lalu menggelengkan pelan kepalanya. "Saya berjanji."


***


Angkasa memang berbeda dengan petinggi-petinggi perusahaan lainnya. Ia tidak terlalu memikirkan etika dan kerap melakukan apapun yang ia suka.


Seperti sore ini, pria gondrong itu tampak fokus dengan laptopnya. Bukan di meja kerjanya, melainkan di atas karpet dengan punggung yang bersandar di pinggiran sofa. Sedangkan, di belakangnya sang pacar justru sejak tadi tampak kalem memainkan rambut Angkasa.

__ADS_1


"Shaness?"


"Hm?"


Angkasa menolehkan kepalanya menatap Shanessa yang duduk di atas sofa yang ia sandari. "Aku ini laki-laki, loh."


Kening Shanessa berkerut. "Iya, tau."


"Terus kenapa kamu mainin rambut aku dari tadi?"


Kali ini Shanessa mengulum senyum. Ia bahkan mendekatkan hidungnya ke rambut Angkasa.


"Rambut kamu halus. Wangi lagi," jawabnya polos, hingga membuat mata Angkasa melebar, kaget.


"Kamu tau nggak?" tanya Angksa menggantung.


"Aku merinding kalau kamu pegang rambutku!"


Shanessa tidak menjawab, tapi ekspresi wajahnya tampak tidak mengerti.


"Merindingnya itu beda!" tegas Angksa.


"Beda gimana?" Shaness makin tidak paham, hingga membuat Angkasa mengembuskan napasnya pelan.


Pemuda gondrong itu meletakkan laptopnya secara asal ke atas karpet. Kemudian, bergerak pelan mendekati Shanessa. Gerakannya begitu pelan dan tidak terbaca, hingga tanpa sadar pemuda itu kini telah duduk di sampingnya.


"A-apa?" tanya Shanessa gugup.

__ADS_1


Angkasa tersenyum lembut. Jika sudah begini, Angkasa terasa begitu hangat dan mudah membuat dada wanita berdebar.


Perlahan, Angkasa menyingkirkan untaian rambut dari pundak Shanessa, hingga membuat tubuh gadis cantik itu menegang. Belum sempat Shanessa protes, Angkasa sudah mencondongkan tubuhnya dan mengecup lembut leher Shanessa, lantas pelan-pelan naik ke daun telinga.


Shanessa terpaksa menahan napasnya dan tanpa sadar menutup mata. Entah perasaan apa itu, yang jelas ....


"Merindingnya beda, kan? Itu yang aku rasain," bisik Angkasa, hingga membuat Shanessa salah tingkah dan mencoba beranjak dari sana. Namun, Angkasa keburu menahan pergelangan tangannya dan tersenyum menggoda.


"Kamu lulusan luar negeri, kan?"


"Hah?" Shanessa mulai waspada. "Emang, tapi aku nggak ...."


"Bagus!" potong Angkasa. "Kamu cocok sama pria baik-baik kayak aku."


Iuh!


Angkasa tertawa sendiri dengan ucapannya, lalu dengan gemas mengacak rambut Shanessa. "Ayo, pergi sekarang! Kita ada janji sama Papa."


"Kamu yakin?" tanya Shanessa hati-hati.


Senyum di wajah Angkasa perlahan memudar. Ia menatap wajah Shanessa serius, lalu berkata, "Udah saatnya perang dingin aku sama Papa selesai dan kamu yang jadi jalannya."


Sekarang Shanessa tahu, kenapa ia bisa sampai cinta sejatuh-jatuhnya pada pemuda gondrong tidak beretika bernama Angkasa.


***


Banyak yang request Angksa - Shanessa dibuat di novel terpisah, tapi ya ... kalian tau Jika Laudia, kan? 🙄

__ADS_1


__ADS_2