Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh Dua


__ADS_3

Aku serius, semangat kalian di kolom komentar, benar-benar membuatku mencintai kembali dunia ini.


Terima kasih untuk kamu yang selalu hadir dan menyempatkan diri menyapaku, lovelovelove.


💋💋💋


Setelah sesaat melakukan adegan berbicara dengan diri sendiri, akhirnya Farez berhasil menyampaikan maksud dan tujuannya pada Gantari.


Farez mau meminta maaf atas tindakan sang sepupu yang kelewat batas dan menjelaskan sesuatu tentang Angkasa yang membuat Gantari sedikit menaruh peduli padanya.


Entahlah, terkadang yang terlihat buruk belum tentu buruk.


"Farez?"


"Huum." Gantari menghidupkan mode loud speaker, lalu meletakkan ponselnya di atas meja pantry selagi dia memasak.


"Ngapain?"


"Bahas tentang Angkasa."


"Heleh, modus."


Gantari melirik sekilas ponselnya, lalu tersenyum membayangkan Nevan sedang cemberut di seberang telepon. Kemudian, ia kembali melanjutkan mengupas kentang.


"Awalnya memang ngomongin Angkasa, tapi lama-lama ngomongin per-ASA-an dia," cerocos Nevan sengaja memberi penekanan pada satu kata.


Terdengar suara air dituang ke dalam gelas. Sepertinya si pacar sedang berniat mau minum saking panasnya.


"Emang sesusah itu ya buat move on?" lanjut Nevan setelah jeda beberapa saat.


Gantari mencibir dalam diam. Merasa geli saja dengan pertanyaan retoris Nevan barusan.


"Kalau masalah itu coba tanya sama cermin. Kayaknya cermin yang lebih paham."


Gleg!


"I-itu beda, Dihyan."


Gantari mengulum senyum sejenak, lalu kembali bersuara. "Bedanya?"


"Kalau aku sama kamu kan terikat kontrak cinta sejati."


Dan, tawa langsung tersembur dari mulut Gantari. Sudah Gantari duga kalau Nevan memang sedang bucin-bucinnya.


***


"Cari tau juga alasan nyokap loe ... bunuh diri."


Ucapan Nevan tesebut masih terngiang di telinga Angkasa, meski matanya sudah termat berat. Angkasa berdiri dan dengan langkah terhuyung memanggil bartender untuk meminta minum tambahan.


"Anda sudah terlalu banyak minum, Tuan," ucap bartender muda mengingatkan.


Angkasa menatap bartender itu dengan mata memerah, lantas melempar kuat gelas kecil yang tadi digenggamnya ke sembarang arah, hingga pecah berderai.


"Jangan mengaturku! Jangan pernah mengaturku!" teriak Angkasa murka, bersaing dengan dentuman keras musik yang memekak telinga.


Angkasa terus saja berjalan mendekati si bartender, meski tubuhnya sudah tampak sangat limbung.

__ADS_1


"Kau bukan ibuku!"


Angkasa mengarahkan tangannya ke leher si bartender mencoba menggapai kerah baju dan ingin mencekiknya, namun si bartender terus berusaha menghindar dengan tenang.


"Bahkan ibuku saja mati karenaku! Kau tau?!"


***


Hari ini Shanessa datang lagi, meski tidak sesemangat hari kemarin. Bahkan, untuk posisinya di Angkasa Grup saja belum jelas. Belum ada pembagian tugas untuknya, kecuali Leo yang berinisiatif memberikannya pekerjaan.


"Tenang. Hari ini pasti lebih baik," hibur Leo. Ia kembali memberikan pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa Shanessa kerjakan ketimbang menganggur.


Shanessa memadang Leo penuh syukur karena berkat sekretaris Angkasa tersebut, dia tidak merasa sendirian di sana. Namun, tetap saja dia merasa tak nyaman lantaran ruang kerja Leo tepat berada di depan ruang Angkasa. Bagiamana kalau si bos besar mengusirnya lagi?


Nah! Itu dia datang.


Leo yang sedang memberi instruksi pada Shanessa, menoleh ketika melihat gadis itu tiba-tiba berdiri dengan kepala tertunduk dan mendapati Angkasa sudah berdiri di dekat mereka.


"Kenapa dia masih di sini?" tanya Angkasa dingin. Tatapannya bahkan hanya mengarah pada Leo saja.


Sedangkan, Shanessa tetap memilih menundukkan kepala. Kerongkongannya tercekat saking pahitnya.


Leo berjalan mendekati Angkasa dan berkata dengan pelan, meski Shanessa masih dapat mendengarnya.


"Ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak, sebentar."


Akhirnya, mereka masuk ke ruangan Angkasa. Meninggalkan Shanessa yang langsung terduduk lemas, lantaran lututnya sudah tidak dapat menahan beban saking lunglai.


"Sejak kapan aku harus mengulang perintah, Leo?" sembur Angkasa tajam. Pada hal pintu belum sepenuhnya tertutup.


"Saya paham, Pak. Tapi, kita kekurangan karyawan semenjak ...." Leo tampak menimbang, lalu dengan hati-hati melanjutkan, "Gantari mengundurkan diri."


Kursi kebanggaan didorong Angkasa dengan kuat, hingga membentur dinding. Namun, hal itu tidak membuat Leo gentar. Dia masih terlihat tetap tenang, seolah sudah menjadi makanan sehari-hari melihat Angkasa murka.


"Perempuan itu cuma sebulan kerja di sini! Kenapa sebelumnya kita nggak kekurangan karyawan?"


Ya, hanya sebulan, namun mampu membuat Angkasa merasakan hatinya sedikit kosong akibat kepergiannya. Angkasa memejamkan mata, mencoba mengusir sisi lemahnya.


Gantari harus dibenci.


Gantari tidak boleh bertengger di hatinya.


"Hah?!"


Leo tersentak. Pada hal dia baru saja mau menjawab. Dasar tidak sabaran.


"Karena ada karyawan yang cuti, Pak. Dua orang," jelas Leo lugas.


Angkasa ingat beberapa hari yang lalu dia memang menandatangani surat pengajuan cuti.


Kenapa juga coba mereka bisa hamil dan melahirkan barengan? Memang melahirkan ada musimnya?


Angkasa mengacak rambutnya kasar, hingga terlihat kusut. Kemudian, mengempaskan dirinya di kursi yang tadi dia dorong.


"Lalu?"


"Karena itu, Shanessa sangat berguna untuk kita." Leo mulai masuk ke sesi mempengaruhi Angkasa. "Hanya sampai Vivi dan Wulan kembali bekerja," tambahnya.

__ADS_1


"Kamu yakin dia berguna?"


Nah! Gol, kan?


Tanpa pikir panjang, Leo mengangguk begitu yakin. "Tentu saja. Dia sepupu Gantari."


Leo keluar ruangan penuh kemenangan dengan senyum sumringah yang menghiasi bibirnya dan langsung menemui Shanessa.


"Gimana, Pak?" tanya Shanessa khawatir.


"Beres. Nggak usah khawatir," balas Leo dengan dada terbusung bangga.


Jadi seperti ini rasanya bisa menjadi pahlawan? Leo kegirangan.


Akhirnya, Leo mengajak Shanessa ke kubikel milik Vivian. Memberikan beberapa penjelasan ringan dan terkesan tahu segalanya. Bahkan sempat-sempatnya dia mengomentari kubikel Vivian yang tidak dihiasi bunga. Tidak indah, begitu pendapat Yang Mulia Leo.


Shanessa mendengarkan dengan tak kalah khidmat dan mengangguk patuh ketika Leo memintanya menganggap kubikel sementaranya itu seperti miliknya sendiri.


Memiliki kubikel sendiri bagi Shanessa merupakan sebuah fakta terbaik hari ini. Akhirnya, dia tidak perlu menumpang di sudut meja Leo lagi.


"Kerja kamu mudah, kok. Hanya butuh ketelitian, karena data yang di input harus akurat," terang Leo sekeren mungkin.


Shanessa mengangguk paham. Kalau soal memasukkan data rasanya bukan perkara sulit.


"Oh, iya! Selagi memasukkan data, kamu harus jeli menganalisis mana produsen kita yang bermasalah dan mana yang potensial."


Nah, kalau yang ini ....


"Maksudnya gimana, Pak?" tanya Shanessa bingung. Wajar, karena baru sebulan ini dia menyandang status sebagai mahasiswi Jurusan Ekonomi.


Leo terperangah sebentar. Namun, kemudian menipiskan bibirnya. Wajar, Shanessa pemula, wajar, kok. Maka, Leo kembali tersenyum penuh wibawa.


"Nanti aku ajari, ya. Sekarang coba buka Excel dulu."


"Harus pakai Excel, Pak?"


"Hah?"


***


Jreng, jreng, jreng!



Bang Nevan : Seneng banget, sih, Jika.


Jika : Iya dung. Jika up lagi, tuh.


Bang Nevan : Hehehe. Itu tolong Farez nggak usah dibahas-bahas lagi, ya, Dek.


Jika : Takut amat, Bang.


Bang Nevan : Bukan takut, tapi khawatir aja kalau kamu berubah pikiran, Dek.


Jika : Kagak, Bang. Tenang aja.


Bang Nevan : Fiuh! Jika memang adek Abang yang terbaik.

__ADS_1


Jika : Soalnya Jika mau comblangin Kak Gantari sama Pak Angkasa.


Bang Nevan : JIKAAA!


__ADS_2