Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh Enam


__ADS_3

Laki-laki memang begitu, setelah membiasakan perempuan dengan perhatiannya, lalu kemudian dia akan pergi begitu saja, hingga membuat si perempuan merasa kehilangan.


Seperti Gantari yang dari tadi mondar-mandir melihat pintu. Biasanya, setiap pulang kerja Nevan akan mampir untuk stor muka padanya, tapi kali ini hingga menjelang petang pun masih belum nampak batang hidungnya.


Gantari melirik ponsel di atas meja, lalu mendengkus lagi. Pandangannya lantas ia lempar pada televisi yang menayangkan iklan sampo anti ketombe, membuat dia mulai tidak menghargai status penganggurannya.


Sudah bela-belain mandi lebih cepat, eh ... yang ditunggu malah tumben-tumbenannya tidak datang. Gantari bangkit dan memilih mengambil salah satu novel di rak buku.


Fokus bacanya yang belum khatam satu bab terganggu ketika ponselnya berdenting, menandakan sebuah pesan masuk. Gantari dengan cepat meraih ponsel dan membuka aplikasi WhatsApp, mengabaikan novel yang kini tergeletak di pangkuan.


Nevandra Ardiona


Hari ini aku nggak ke rumah, ya.


17.03 WIB Read


Entah, kenapa Gantari tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesah kecewa. Sedikit, malas ia membalas pesan Nevan.


Gantari Dihyan Irawan


Tumben


17.04 WIB Read


Nevandra Ardiona


Habis ini ada pertemuan. Mau langsung ke sana habis mandi.


17.05 WIB Read


Belum sempat Gantari membalasnya, sebuah pesan masuk lagi.


Nevandra Ardiona


Eh, nungguin, ya?


17.05 WIB Read


Ya, nungguin lah, Bambang. Biasanya udah kayak minum obat ketemuan, eh ... hari ini malah ngilang.


Tidak, Gantari tidak membalas begitu karena gengsi tetap harus dijaga. Gantari tersungut-sungut sendiri dulu hingga puas, baru kemudian membalas.


Gantari Dihyan Irawan


Nggak juga, sih. Lagian hari ini aku juga agak sibuk.


17.07 WIB Read


Sibuk nonton iklan, baca novel, sama nungguin Nevan, maksud Gantari kali, ya.


Gantari melempar ponselnya ke atas sofa, lantas menindihnya dengan bantal, kesal.


Alasan yang diutarakan Nevan memang benar. Sekarang, dia lagi sibuk-sibuknya untuk menjalin relasi dan menggaet mitra baru demi kemajuan Rawikara Retail.


Seperti malam ini. Dia rela pulang kerja dan mampir ke rumah hanya untuk mandi saja, lalu langsung pergi lagi bersama Fikri untuk menepati janji makan malam bersama Pak Huda, target mitra barunya.

__ADS_1


"Kok saya, sih, Pak? Ini kan harusnya kerjaan Utami," keluh Fikri yang baru saja menghenyakkan tubuhnya ke jok samping mobil. Pada hal barusan dia sedang asik-asiknya streaming Naruto.


Nevan melirik sebentar, lalu menggeser persneling agar mobil kembali melaju.


"Utami itu perempuan, masa iya aku bawa malam-malam begini," kilah Nevan.


"Kan ini memang kerjaan sekretaris, Pak," protes Fikri masih tidak terima. Belakangan, Nevan memang lebih sering mengajak Fikri kemana-mana jika ada urusan bisnis di luar kantor. Namun, untung saja pekerjaan Fikri tidak pernah keteteran. Fikri itu profesional, ngomong-ngomong.


"Udah, deh. Semuanya pasti masuk hitungan lembur, kok," jelas Nevan mencoba mengakhiri keluh kesah sahabat lamanya itu. "Lagian, ini demi menjaga perasaan Dihyan. Bisa cemburu dia kalau aku bawa-bawa Utami."


Penjelasan Nevan barusan sontak menciptakan ekspresi penuh cibiran di wajah Fikri.


"Bapak yakin? Sejauh ini, saya belum pernah melihat Gantari cemburu, tuh," balas Fikri sembari tertawa mengejek yang sontak membuat Nevan mendelik tajam padanya.


Namun, hanya sebatas mendelik saja, karena ucapan Fikri barusan tidak sepenuhnya salah. Gantari memang tidak pernah cemburu sepertinya.


Ada sekali, Gantari cemburu pada Zaskia si wanita merah, tapi sekarang Nevan tidak yakin apa itu bisa dikategorikan cemburu atau tidak.


Fiuh!


***


"Kamu anak Fauzan, kan?"


Nevan tampak terkejut, namun kemudian ia memilih mengangguk sungkan. Sedangkan, Fikri tampak sedang sibuk membuka laptop dan menghidupkannya, setelah tadi mengangguk hormat pada Huda terlebih dahulu.


"Kenapa tidak bekerja di Zanev Corp?" Sebuah pertanyaan yang hampir selalu Nevan dapatkan ketika mulai menjalin relasi. Membuat Nevan hafal betul harus menjawabnya apa.


Meski cukup bosan dengan pertanyaan demikian, namun Nevan tetap mengulas senyum, lalu menjawab dengan diplomatis. "Selagi muda dan sanggup berdiri sendiri, pengalaman harus diperluas kan, Pak?"


Huda tergelak. Laki-laki paruh baya itu mengangguk-anggukkan kepalanya setuju, lantas menyeruput kopinya sedikit.


"Kadang jalan terjal membuat kita lebih bersemangat dan tidak mengantuk," seloroh Nevan yang lagi-lagi disambut gelak tawa Huda. Entah, mengapa tercetak raut bangga di wajah calon mitra Nevan tersebut setiap mendengar Nevan menjawab pertanyaannya.


"Aku iri pada Fauzan. Dia memiliki anak yang tampan, cerdas dan mandiri sepertimu," ucap Huda setelah berdeham kecil dan dibalas Nevan dengan ucapan terima kasih singkat.


Sejujurnya, dari tadi Huda memang tak hentinya memuji Nevan, hingga Fikri menaruh curiga dan melirik ke arahnya sekilas.


"Aku cuma punya anak perempuan dan akan menyenangkan kalau punya anak laki-laki sepertimu."


O, ow!


Fikri mendecih kecil. Dia sudah bisa menebak ke mana arahnya kalau begini.


"Aku sudah mendengar berita pernikahanmu yang batal. Jangan lama-lama patah hati, ya." Huda tersenyum, mencoba membesarkan hati Nevan.


Sedangkan, Nevan memilih tertawa saja. Sama seperti Fikri, dia juga sudah tau kemana arahnya.


"Cinta yang hilang, harus diganti dengan cinta yang baru. Begitu obatnya," lanjut Huda masih mencoba masuk ke sesi inti.


"Kalau mau, aku bisa mengenalkan putriku padamu."


NAH!


***

__ADS_1


Sudah hampir pukul 21.00 WIB, namun belum ada kabar lanjutan dari Nevan. Tumben-tumbenannya, pesan Gantari diabaikan.


"Sibuk banget, ya?"


Gantari merapikan ranjangnya, lalu duduk di sudut.


"Pertemuan sampai selama ini, ngomongin apaan emang?" Gantari memilih bermonolog, ketimbang melihat acara televisi yang membuat dirinya ngantuk. Membaca novel rupanya juga bukan ide bagus untuk mengusir kegundahannya.


"Pergi sama Utami atau Fikri, ya?"


Gantari menghela napasnya pendek, lalu memilih berbaring dan mengubur tubuhnya dalam selimut. Namun, kemudian dia kembali duduk dan meraih ponselnya.


Membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak Nevan dan mulai mengetik sesuatu.


Udah pulang?


Hapus.


Lagi sibuk?


Hapus.


Kamu pergi sama siapa?


Hapus.


Utami dicariin mamanya tuh.


Hapus.


Aku kangen.


Terkirim.


Huwaaaaa!


Gantari memekik kaget, lalu buru-buru menarik pesan WhatsApp yang baru dikirimnya, lantas mengembuskan napas lega karena centang belum berubah biru.


Terima kasih fitur tarik pesannya, WhatsApp.


***


Angkasa : Huda siapa?


Jika : Loh, kok Pak Ang?


Angkasa : Aku tanya, Huda siapa?


Jika : Galak amat, ya Allah. Bang Nevan, Jika takut 🤧 Nggak tau, Pak, nggak tau. Emang kenapa?


Angkasa : Mau aku kasih saham kalau berhasil nikahin Nevan sama anaknya.


Jika : Dih! AVA-AVAAN? Jika nggak mau.


Angkasa : Kenapa? Kan, Nevan bisa buat kamu.

__ADS_1


Jika : Eh, iya bener.


*kabooooorrrr*


__ADS_2